Hari itu waktu pulang kerja sudah tiba, pukul 17.00 sore tepatnya, ah namun tentu saja aku belum bisa bergegas pulang, setumpuk kerjaan hari ini memaksaku untuk pulang lebih dari jam operasional kantor. Iya, aku harus menyelesaikannya hari itu juga. Walaupun badanku rasa-rasanya sudah tidak karuan, demam sepertinya. Namun akhirnya seluruh tugas dapat terselesaikan, menjelang waktu sholat isya tiba. Aku putuskan untuk menunggu waktu sholat tiba saja, karena perjalanan menuju tempat kos ku cukup jauh, sekitar 45 menit sampai 1 jam lamanya untuk bisa ditempuh dengan kendaraan umum, maklum, karena kantorku terletak di pusat kota, sehingga kemacetan sudah seperti sarapan pagiku dan makan malamku, tiap harinya. Sedangkan aku masih belum terfikirkan untuk pindah kos dari sana, mencari yang jauh lebih dekat dari kantor. Aku sudah terlalu nyaman dengan tempat kos ku ini, tempat kos yang sudah menemaniku selama kurang lebih 4 tahun, terhitung dari sejak masih berstatus sebagai mahasiswa.
Kumandang adzan terdengar, aku bergegas menuju lift untuk bersegera menuju masjid kantor. Salah satu tempat favoritku, sekaligus juga salah satu alasan mengapa aku mau bekerja disini. Masjid kantor yang selalu ramai pagi, siang,sore, bahkan malam. Sebuah pemandangan yang selalu menyejukkan bagiku, ditengah setumpuk aktivitas kantor. Selesai sholat, dzikir dan berdo'a. Aku lekas menuju ke luar masjid, ingin segera pulang. Aku duduk di pelataran masjid, untuk kemudian memakai sepatu. Kepalaku pusing bukan main saat itu, aku menundukkan kepala sesaat. Tiba-tiba dari arah belakang ada yang menepuk pundakku, aku menoleh ke belakang, Bu Dira ternyata, senior ku yang selalu menyapaku dengan hangat saat bertemu, walaupun kita berbeda divisi.
“Zah, kamu gapapa neng ?”, Tanya Bu dira.
“Emm, gapapa bu, zahra cuma sedikit pusing kepala kok”, jawabku.
“Udah makan belum zah ? mungkin karena belum makan ”, tanya Bu Dira kembali.
“Udah bu tadi siang, udah makan”, jawabku lagi.
“Yeee kamu ini ya, gimana engga pusing, ngerjain setumpuk kerjaan, tapi engga sesuai dengan asupan makanan yang masuk, mana porsi makanmu itu dikit banget neng, pasti pusing lah. Gini deh kamu sekarang pulang bareng ibu, tapi nanti kita beli makan dulu, kerjaannya kalo belum beres dilanjut besok aja”. Jawab Bu Dira, sedikit panjang.
“Iya bu, makasih, alhamdulillah kerjaan zahra udah selesai semua bu. Zahra mau ikut pulang sama ibu, tapi zahra pengen langsung pulang aja ya bu, zahra beneran sama sekali engga laper bu”, timpalku.
“Hm, kamu tuh ya disuruh makan aja susah neng, yaudah kalo gitu nanti kita beli roti dulu di depan, kamu makan dulu, biar bisa minum obat”.
“Iya bu, makasih banyak ya bu”.
Singkat cerita, aku sudah sampai di tempat kos ku, sekitar jam 20.00 kira-kira waktu itu.
Saat hendak membuka pintu kos, tiba-tiba ibu kos memanggilku,
“ Neng zahra, ini ada paket buat neng zahra”.
“Buat saya ya bu ?” Tanyaku sedikit keheranan.
“Iya neng zahra, tadi ada kurir yang anter”
“Oh, makasih ya bu, aku masuk dulu ya bu”.
Aku sedikit heran, karena sepertinya aku tidak sedang membeli barang apapun, kalau kiriman dari ibu, pasti ibu sebelumnya bilang jika mau mengirim sesuatu. Aku pun tak lantas mengecek siapa pengirimnya di paket itu. Kepalaku pusing, aku ingin segera menjatuhkan diri saja di kasur, pikirku saat itu. Aku duduk sebentar menyimpan semua barang yang kubawa, tas dan termasuk paket itu, aku tak kunjung penasaran, dala pikiranku saat itu, aku hanya ingin istirahat saja sejenak. Aku duduk sebentar, memakan roti yang bu dira belikan, lalu meminum obat yang juga ibu dira belikan tadi untukku. Aku duduk, sambil memijit kepalaku, 20 menit kemudian cucuran keringat mengaliri tubuhku, iya badanku sudah mulai enakan, pusing kepalaku pun berangsur hilang. Aku pun beranjak, memanaskan air untuk mandi, tubuhku terasa lengket sekali, sisa beraktivitas seharian ini.
Selesai mandi, rasanya segar sekali. Aku pun lantas melentangkan tubuhku diatas kasur. Aku teringat, belum mengucapkan terimakasih pada bu dira, aku lantas mengambil handphone ku, namun ketika hendak mencari kontak bu dira, aku urungkan niatku, karena sudah malam, takut mengganggu, besok saja dalam hatiku. Saat hendak menaruh handphone, mataku tertuju pada bingkisan paket yang entah dari siapa itu, penasaranku kini muncul. Lalu, aku putuskan mengambil paket itu, aku ingin tahu siapa pengirimnya. Cap pos bertuliskan TURKIYE, hmm dari turki, dari siapa ya ? Aku semakin penasaran. Aku lantas membalikkan sisi lainnya untuk mencari nama pengirimnya, tepat di sisi belakang, tertera nama pengirim a.n Haidar Al Ghifari, diikuti sebuah alamat di turki. Aku berhenti sejenak, nama itu, nama yang dulu pernah hadir dalam kehidupanku, nama yang tak asing untukku. Entah, bagaimana perasaanku pada saat itu, rasanya sulit aku deskripsikan.
Haidar Al Ghifari, sesosok yang pernah dulu aku kagumi. Laki-laki yang pernah membuatku berharap. Seseorang yang pernah membuatku menghilang beberapa waktu dari sebuah organisasi yang aku dan dia terlibat di dalamnya, karena ketidakmampuanku menjaga hatiku kala itu. Aku putuskan menjauh beberapa waktu untuk mencoba menetralkan hatiku, menjaga jarak, karena ketidakmampuanku untuk menjaga perasaan padanya, khawatir niatku berubah, dan sangat mungkin mengganggu keterlibatanku di organisasi ini. khawatir zinah hati fikirku waktu itu :’( Iya, dia satu organisasi denganku saat di kampus dulu. Sosok baik,humble, cerdas, dan penyabar, itu lah kurang lebih, yang cocok untuk menggambarkannya. Kebaikannya, terlalu aku salah artikan, sampai aku terjebak pada perasaan rumit seperti itu. Namun, aku bersyukur, teman-temanku sering mensupportku agar dapat mengendalikan perasaanku. Dengan mencoba mengalihkan pada hal lain, mencoba untuk bersikap seperti biasanya bila kebetulan ada tugas yang mengharuskan aku terlibat langsung dengannya. Bagiku, saat itu adalah ujian, namun ada hikmah besar yang aku ambil dari sana, aku belajar mengendalikan hatiku sendiri. Hingga akhirnya alhamdulillah aku bisa melewati semuanya dengan baik-baik saja, dan dapat menyelesaikan segala amanahku hingga akhir kepengurusan tiba.
Sampai akhirnya, di akhir masa perkuliahan lah yang membantu membuat semua perasaan itu perlahan pudar, menghilang. Terlebih keputusannya untuk melanjutkan studi ke luar negeri, membuatku merasa lebih tenang saat itu, karena otomatis kita tidak akan pernah bertatap muka lagi, berarti dia pun tidak akan ada saat diadakan acara gathering dan semacamnya nanti, fikirku waktu itu. Namun, hatiku pun tak bisa memungkiri bahwa ada rasa sedih disana. Rasa sedih yang seharusnya tak pernah ada. Setelah beberapa menit otakku seperti memutar kembali masa lalu, aku pun bertanya-tanya. Apa benar ini darinya ? Tapi ini apa ? Untuk apa dia memberikan ini ? Aku langsung membuka paket itu, didalamnya terdapat sebuah kotak, kubuka kotak itu, di dalamnya terdapat sebuah surat dan beberapa bungkus minuman seduh khas turki. Kemudian tanyaku semakin menjadi-jadi, aku putuskan langsung membuka surat itu dan membacanya.
" Assalamu'alaikum teh Zahra, apa kabar ? Semoga teh zahra selalu dilingkupi kebaikan dan kebarokahan Allah SWT. Teh, mungkin teteh bertanya-tanya, kenapa saya tiba-tiba memberikan ini semua. Bismillah, ternyata keberanian dan kesiapan saya, telah Allah hadirkan saat ini. Teh, jika berkenan, saya ingin menemui kedua orang tua teteh, untuk meminta teteh menjadi pendamping hidup saya, menyempurnakan separuh agama saya, membantu saya untuk menyelesaikan visi hidup saya, membantu mewujudkan mimpi-mimpi saya, dan menemani perjalanan kehidupan saya. Saya dengar dari orang yang bisa saya percaya, jika teteh saat ini belum terikat dengan siapapun. Karena itu saya memberanikan diri menyampaikan niat baik saya ini. Mohon maaf, jika terlihat kurang sopan, karena saya memulainya lewat surat ini. Jika teh zahra menerima niat baik saya ini, tolong kirimkan alamat rumah teteh ke nomor hp saya, InsyaAllah dalam waktu dekat saya akan pulang ke Indonesia, untuk bisa segera menemui kedua orang tua teteh, namun jika teteh tidak menerima niatan saya ini, cukup kirimkan kata tidak saja. Terimakasih banyak, maaf mengganggu. Wassalamu'alaikum."
Air mataku tumpah deras membaca pesan itu, ada perasaan bingung bercampur bahagia haru. Pesan yang sangat singkat namun jelas itu. Pesan yang tidak dibumbui dengan kata-kata gombal sedikitpun, sebuah cara yang dilakukan oleh laki-laki yang paham, yang mengerti, bahwa niatan baik itu harus dimulai dengan cara yang baik pula, yang Allah ridhoi. Aku menangis karena bahagia, karena ternyata orang yang pernah aku kagumi dalam diamku, datang menghampiri. Seseorang yang pernah aku mengambil jarak dengannya, kini menyatakan perasaannya padaku dengan sebaik-baik cara. Tapi tetiba muncul juga kecemasan, apa ini benar darinya ?
Aku putuskan langsung menghubunginya via whatsapp
“ Assalamu’alaikum, maaf menganggu waktunya, apa betul kamu mengirimkan sesuatu untuk saya ?” Tanyaku saat itu. 20 menit berlalu, belum kunjung ada balasan darinya. Sampai akhirnya aku putuskan untuk tidur saja.
Malam itu, rasa-rasanya aku tak tertidur. Aku terus bertanya-tanya. Mataku mungkin terpejam,namun tidak dengan hati,fikiran serta ragaku. Aku bangunkan diriku, tepat pukul 02.00 saat itu. Aku mengambil air wudhu. Ku adukan segala Nya pada yang menguasai hatiku. Air mataku tak bisa kutahan, aku tumpahkan segala Nya.
Singkat cerita, keesokan harinya, sampai pukul 08.00 tak ada jawaban darinya. Aku lihat, tanda pesan telah terbaca. Hatiku semakin tak karuan, mengapa dia tak membalas pesanku ? fikiranku berlari kesana kemari, apa ini hanya kiriman dari seseorang yang ingin mengerjaiku ? tapi siapa ? mengapa tega sekali. Tapi yang tau kisahku dulu hanya sahabat terdekatku. itupun hanya beberapa saja. Mana mungkin mereka tega mengerjaiku seperti ini atau memberitahukan pada orang lain tentang kisahku dulu. Mereka bukan tipe orang seperti itu.
Hatiku seperti terhempas saat itu, aku coba menenangkan diriku. Aku putuskan pergi untuk berkeliling ke tempat yang ramai, agar fikiranku teralihkan. Saat di jalan, sebuah pesan whatsapp muncul, pesan darinya, dia menjawab pesanku. Aku ragu membaca pesannya, aku takut pesannya mengecewakanku, tapi berarti bila pesannya membuatku kecewa, selama ini aku masih menggantungkan harap pada seorang manusia, ah perempuan macam apa aku ini, fikirku saat itu. Kemudian, aku pun putuskan segera membacanya.
“ Wa’alaykumussalam, betul teh, saya mengirimkan surat dan sedikit minuman khas disini. Maaf saya baru membalas, saya fikir di Indonesia sudah larut malam, jadi saya urungkan untuk membalasnya nanti. Maaf, bagaimana teh, apa saya sudah bisa mendapatkan jawabannya ? “
Air mataku kembali mengalir, ada perasaan lega disana, juga senang rasanya. Aku berucap syukur. Saat itu juga aku membalas pesannya.
“ Bismillah, saya terima maksud baiknya. Silahkan bertemu dengan ayah saya ......” diikuti dengan alamat tempat tinggal orang tuaku.
Rasa suka, cinta pada lawan jenis itu fitrah, namun bagaimana kita bisa mengendalikannya. Jika memang cinta, tempuhlah dengan jalan yang Allah suka, yang Allah ridhoi. Jangan sampai melampaui batas, mengkhianati apa yang Allah perintahkan untuk dijaga.
Semoga bisa diambil hikmahnya, cerpen ini dibuat setahun yang lalu. Jangan tanya kenapa baru diposting sekarang :)) *Menerima segala koreksi