Mendengar Lawang Sewu, pasti langsung ingat kota loenpia, Semarang. Gedung berarsitektur Eropa ini, mempunyai banyak kisah untuk dikulik. Jadi akan kita mulai darimana berkeliling di dalamnya? Asal jangan dimulai dengan cerita mistis yah… TAKUT SAYA 🙂
Untung Dinda bawa kameranya, jadi bisa inframe juga di Lawang Sewu 💗😍
Credit to Dinda
Langit begitu ceria ketika siang itu, Alett (Backpacker Semarang), Dinda (BPI Jabodetabek) dan saya, menapakkan kaki di Lawang Sewu. Sebuah gedung yang menjadi ikon bagi Kota Semarang, Jawa Tengah.
Cuaca panas di luar, tetapi begitu memasuki halaman Lawang Sewu yang luas, udara sejuk terasa. Angin sepoi-sepoi, membuat saya menghirup udara segar di sekitar. Sebuah pohon rindang yang besar menjadi titik duduk bersantai. Mungkin sekalian tempat bertemu bagi para pengunjung yang membuat janji dengan teman-temannya untuk mengeksplor Lawang Sewu ini.
Inframe: Dinda dan Alett. Doc pribadi
Tempat janji temu. Doc pribadi.
Musik akustik dari pemusik lokal. Doc pribadi.
Apik, gedung tua yang berdiri ratusan tahun lalu ini, tetap terjaga kebersihannya. Gaya arsitekturnya yang merupakan perpaduan Eropa dan tropis, mempunyai pesona berbeda.
Di dalam gedungnya, terdapat lorong-lorong, pintu utama, sumur tua, lorong penjara, ruang utama, serta lorong penyiksaan. Tidak heran jika banyak cerita berkembang terkait gedung ini.
Gedung yang dibangun selama tiga tahun sejak tahun 1904 ini, merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Bangunan kuno berlantai dua ini terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein.
Sejarah mencatat kejadian di gedung ini pada masa perjuangan pertempuran lima hari di Semarang (14-19 Oktober 1945). Gedung ini menjadi lokasi pertempuran hebat antara pemuka Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang.
Sambil menunggu Rivai, salah satu teman Backpacker Semarang, kami berkeliling di sekitar halaman luas Lawang Sewu. Memperhatikan pintu-pintu lebar yang terdapat di gedung berjendela tinggi itu, masuk ke gedung-gedung yang terlihat jelas dari arah masuk.
Gedung yang dirancang dengan arsitek Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delfit) dan B. J. Quendag, seluruh perancangannya dilakukan di Belanda. Dua lantainya membentang di sayap kanan dan kiri gedung dengan bangunan utama mengapit kedua sayap.
Bentangan bangunan sayap yang mengapit. Diambil dari arah santai dekat pohon rindang.
Doc pribadi.
Lawang Sewu disebut juga dengan Gedung Seribu Pintu. Disebut demikian, karena pada bangunan tersebut terdapat jendela-jendela yang tinggi dan lebar, sehingga dianggap pintu (lawang). Gedung ini merupakan salah satu wisata favorit di Semarang.
Pintu yang ada di gedung kuno tersebut tidaklah mencapai seribu. Pada tahun 2010, Lawang Sewu mengalami pemugaran dan dilakukan penghitungan jumlah pintu sebanyak 928 daun pintu (Kompas.com). Gedung ini dibuka untuk umum di tahun berikutnya, 2011.
Alett dan bumper lokomotif.
Doc pribadi
Lantunan lagu-lagu kekinian dari para pemusik akustik di tengah halaman, menambah suasana semakin asik. Masih terdengar irama musiknya ketika langkah kaki kami memasuki ruang dimana terdapat banyak peralatan perkereta-apian zaman dahulu. Mataku tak henti-hentinya menelisik tiap sudut terlihat.
Salah satu ruangnya, memuat bagian dalam isi kereta. Ruangan ini cukup menarik minat saya untuk berlama-lama di dalamnya. Tak heran, karena Lawang Sewu pun pernah dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI), setelah kemerdekaan. DKARI sekarang dikenal dengan PT Kereta Api Indonesia.
Pada ruangan tersebut, ada bagian depan lokomotif yang terlihat seperti bumper. Di depannya berjajar deretan pintu yang sering saya lihat di sosial media. Alett saya suruh bergaya disana.
Ada pula ruang dimana banyak tuas-tuas yang biasanya terdapat di dalam ruang kendali mesin kereta api. Saya ingat, seperti film-film aksi laga yang kadang pemerannya ada di kendali mesin gitu soalnya 😀 .
Tuas Wesel Alkmaar. Doc Pribadi.
Tuas-tuas itu berfungsi untuk mengontrol pengoperasian kereta api sebagai isyarat tertentu melalui sinyal. Nah, sinyal ini sama seperti traffic light yang ada pada jalan. Sinyal itu memberi tanda dan berita tentang keadaan jalan kereta api dan bagi petugas kereta api.
Kereta api zaman dulu, memakai tuas manual dengan tenaga manusia. Salah satunya tuas wesel Alkmaar yang ada di Lawang Sewu.
Tuas Wesel Alkmaar ini dihubungkan dengan kawat atau rantai pada tuas penggerak dan palang sinyal. Ciri stasiun yang menggunakan persinyalan wesel ini, menggunakan tuas wesel yang digerakkan secara manual dan tidak dioperasionalkan secara terpusat. Artinya tidak dapat dipergunakan pada stasiun lain yang menggunakan peralatan sinyal elektrik.
Tuas manual. Doc pribadi.
Keterangan pada tuas wesel Alkmaar. Doc pribadi.
Sampel pelepah pisang. Doc pribadi.
Keterangan pengawetan kayu di ruang kereta api. Doc pribadi.
Sampel lain yang tampak di box kaca. Doc pribadi.
Candid Dinda. Doc pribadi.
Banyak hal yang bisa dilihat dalam Lawang Sewu tersebut. Sejarahnya, berkeliling di setiap ruangannya, melihat jajaran pintu-pintu yang banyak, kisah yang tertuang dalam box kaca dalam ruangan, system drainasenya yang baik, ruang bawah tanah, serta lainnya. Selain cerita mistis tentunya. Ehh, di samping itu, kita juga bisa puas berfoto-foto pastinya.
Pada halaman luar gedung, kita juga bisa melihat gerbong kereta api yang di cat berwarna biru. Sayang, saya tidak melihat seorangpun yang bisa ditanyakan mengenai gerbong itu. Lain kali mungkin yaaa…
Jajaran pintu, Lawang Sewu. Credit to @nyokmlaku
Malam yang adem ya? Credit to @nyokmlaku
Suasana malam di Lawang Sewu. Credit to @nyokmlaku
Jika Anda bermaksud mengeksplor semua ruangan di Lawang Sewu, sebaiknya datang sejak jam dibuka, yakni pukul 07.00 Wib. Jam operasionalnya sendiri dimulai sejak pukul 07.00-21.00 Wib.
Agar mendapatkan suasana berbeda dengan lampu-lampu indahnya diantara matahari terbenam, malam mungkin waktu yang tepat untuk berkunjung. Bisa memotret dengan warna syahdu juga, seperti Katom (@nyokmlaku), teman saya.
Diambil dari gedung bagian luar depan. Doc pribadi.
Lawang Sewu, di foto dari luar. Doc pribadi.
Keren juga ini kalau diambil agak jauh deh. Tapi ini terlalu dekat. Hheheh Doc pribadi.
Dan kalau Anda berkeliling di luar gedungnya, ada kereta zaman dulu juga di depan. Masih bagus dan bersih. Boleh dipakai untuk berfoto juga. Tapi sejauh itu, saya tidak mencoba untuk masuk ke dalamnya. Karena menurut saya, tidak semua hal bisa dijejakkan. Melihat, memotretnya saja, mungkin sudah cukup.
Oh iya, di luar juga asik buat foto kalau cuaca cerah. Seperti candid Dinda nih. Lucu.
Wohoooo… kece bet kece Dinda mah yaaak? ❤ Doc pribadi
Dinda saat sesi foto. Doc pribadi.
Tiketnya juga standar kok masuk ke Lawang Sewu. Cukup membayar dewasa sebesar 10 K, anak-anak sebesar 5 K dan pelajar, 5 K.
Jangan lupa tetap menjaga kebersihan lingkungan dimana pun Anda berwisata yaaaaaa… (jie)
Yeay! Akhirnya Rivai datang.
Credit to Dinda
Wesel Alkmaar, (Bukan) Kirim Sinyal (Mistis) dari Lawang Sewu Mendengar Lawang Sewu, pasti langsung ingat kota loenpia, Semarang. Gedung berarsitektur Eropa ini, mempunyai banyak kisah untuk dikulik.