Dari sebuah penjelasan yang sudah kau sampaikan, bagian kalimat mana yang bisa ku percaya? tidak ada.
$LAYYYTER
Alisa U Zemlji Chuda
No title available
Keni

blake kathryn

Andulka
Mike Driver
Today's Document

ellievsbear

Product Placement
Stranger Things
Game of Thrones Daily

roma★
Show & Tell

oozey mess
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
ojovivo
tumblr dot com
No title available

No title available
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from United States

seen from Germany
seen from Brazil
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Angola

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
@ekaalestarii
Dari sebuah penjelasan yang sudah kau sampaikan, bagian kalimat mana yang bisa ku percaya? tidak ada.
Sedang berada di fase letih, namun harus kembali sadar diri bahwa siapa lagi yang dapat mewujudkan segala mimpi di kepala ini selain diri sendiri.
Panjang umur dik, bayi yang dulu tangisnya begitu keras terdengar, kini telah beranjak semakin tumbuh besar. Menjadi obat yang hanya lewat peluk sandar, lelahku kerja dari pagi hingga petang seketika lunas terbayar.
Hari ini adik usia tujuh. Bangga dan haru setiap kali melihat senyum si bungsu. Selama hidupmu, doaku tak pernah lepas setiap waktu. Semoga kelak jadi anak yang hormat dan sayang ayah ibu.
Dewasa nanti, semoga tidak lupa ada kakak perempuan yang selalu sayang padamu.
Dari aku untuk kamu
Hari ini, masih sama seperti hari biasanya, tapi tidak bagi dirimu. Hari ini istimewa, dimana segala cita dan harapan melambung tinggi dalam doa.
Selamat ulang tahun teman terbaik. Dua puluh lima hanyalah sebuah angka. Kuatkan lagi bahumu, sebab beban hidup akan semakin kian terasa. Tentang hari dimana kamu dituntut menjadi lebih dewasa, mencari sebuah kebahagiaan, dan melapangkan hati dengan keikhlasan bercampur dalam satu waktu yang sama.
Jangan pernah berpikir bahwa “mengapa aku berbeda” disaat orang lain memiliki segalanya. Jangan pernah berpikir bahwa “mengapa aku tidak bisa” disaat orang lain berhasil menggapai kesuksesannya. Kamu pun memiliki kesempatan yang sama, hanya saja Tuhan meminta kamu untuk lebih keras lagi berusaha.
Sekali lagi, selamat menua dan mendewasa. Semoga dirimu panjang usia, agar kelak tetap menjadi teman terbaik yang aku punya.
- Dini hari di 23 Juni 2021
Tentang sebuah kepastian yang masih dalam angan, aku percaya bahwa kamu tak sampai hati mengecewakan. Tentang sebuah hari yang kita nantikan, aku percaya bahwa takdir tuhan pasti menyertakan.
Adalah ayah, yang menjadi cinta pertama dan tetap yang utama. Tentang segudang ilmu sabar dan syukur yang ia punya, ayah menjadi manusia terhebat di dunia.
Adalah ayah, sebuah nama yang ku sebut dengan bangga, setiap kali banyak dari mereka yang bertanya siapa lelaki yang paling aku cinta.
Hari ini, usia Ayah bertambah tua. Rambut hitamnya semakin pudar berganti warna. Dan untuk hari ini, esok dan seterusnya, ku harap Tuhan masih memberi kesempatan untuk aku melukis bibirmu dengan sebuah senyum bahagia. Mengisi hari-hari mu dengan penuh cerita, dan mendoakan mu dalam segala panjatan ku kepada-Nya.
Berkisah #Part 5
Hari terus berganti, aku berkelana kesana kemari. Singgah disatu titik, lalu pindah dilain titik. Ternyata, bahagia yang aku cari belum juga aku temui.
Entah, bahagia yang sesungguhnya ada pada siapa. Ada yang datang membawa cinta, tapi aku balas dengan rasa kecewa. Ada yang datang lengkap dengan harta, tapi aku balas dengan rasa tidak percaya. Jadi, mauku ini apa ?
Aku ingin dirimu yang jelas bukan takdirku. Terlalu banyak merayu waktu agar kita menjadi satu. Tak tahu hingga kapan, namun namamu selalu aku sebut tanpa jeda tanpa bosan.
Entah, berapa banyak waktu terbuang. Hingga pada akhirnya, aku pun jatuh tumbang. Lelah akibat pekerjaan yang stress bukan kepayang. Entah, bagaimana ceritanya, lagi lagi sahabatku lah menjadi perantara. Malam itu disaat aku sedang lemah-lemahnya, wajahmu muncul dilayar ponselku jelas nyata.
Riang tak tertahan, senyummu seolah menjadi obat kerinduan. Ingin rasanya aku bangun dari tempat tidurku lalu segera menujumu. Karena menatap lewat media saja tidak cukup, aku inginnya peluk. Sadarlah duhai aku, dia bukan milikmu.
Sejarah mungkin berulang. Lewat penantian panjang, aku ingin kamu segera pulang, ke hati yang sudah aku siapkan. Cukuplah aku dihukum oleh sebuah kehilangan, yang mungkin kamu juga rasakan. Kita yang telah menjadi asing cukup lama, kini bersua ketika kita sama sama telah mendewasa.
Terlampau Jarak
Aku tidak punya banyak cara untuk menyampaikan kerinduan. Selain pada sebuah doa serta pengharapan kepada Tuhan. Jarak yang memisahkan cukup mengikis sebuah kehangatan. Ingin bertemu, tapi jarak teramat jauh untuk kita tempuh. Ingin berkeluh kesah, tapi terhalang oleh jarak yang terpisah.
Mungkin... kita tidak bisa duduk berdua seperti mereka. Tapi aku tetap bahagia, karena kita bisa duduk melangitkan doa. Mungkin... kita tidak bisa bergandeng tangan mesra. Tapi aku tetap bahagia, karena kita bisa mengangkat kedua tangan kita dan saling sebut nama.
Untuk jarak yang menyekat kedua raga, Semoga rasa percaya tetap saling terjaga.
Berkisah #Part 4
Lewat sebuah pesan singkat, aku beranikan diri untuk mengawali. Tepat diharimu bertambah usia, aku kirimkan ucapan selamat. Kalimat yang baik-baik telah aku rangkai sedemikian rupa. Bukan untuk dianggap sebagai ucapan yang paling istimewa, melainkan semoga turut diaminkan oleh semesta.
Tentang tanggal lahir yang hanya beda satu hari. Seolah hukum timbal balik ikut terjadi, kiriman selamat juga ku dapati. Padahal dihari sebelumnya aku tidak berharap bahwa esok akan dapat kiriman selamat juga darimu sebagai bentuk rasa pamrih.
Dihari yang sedang bahagia, dipenuhi doa yang penuh makna. Semoga kebahagiaan turut serta untuk kita berdua, meski sekarang kita dalam keadaan yang sudah tak lagi bersama. Disisi dengan berandai-andai tahun depan aku dan kamu kembali menjadi bagian yang kita punya.
Ulang tahun telah usai, hari telah berganti pun percakapan kita yang juga tururt terhenti. Seperti kue tart yang hanya datang satu tahun sekali, setidaknya dengan diberi ucapan itu saja rinduku cukup terobati.
Tak sadar bahwa waktu telah memakan segalanya, termasuk perasaan yang belum sempat mengutara. Dihabiskan dengan kesibukan yang masing-masing kita punya, hingga untuk mengungkit rasa pun kita lupa. Lupa juga bahwa sudah tidak seharusnya kita bicara rasa, sebab ruang hatimu sudah dipenuhi dengan dia yang jauh lebih istimewa.
Merindu yang hanya mampu berpeluk dalam doa. Ditengah malam yang gulita, ada bisik lirih memohon dan meminta. Semoga bertemu meski lewat mimpi saja.
Teruntuk Nona yang katanya terluka
Sungguh, aku tidak paham apa yang bersarang dalam isi kepala. Tak peduli ada komitmen apa sebelumnya antara engkau dan dia. Aku hanya ingin meluruskan persoalan yang menyudutkan aku dan dirimu saja. Kita bukan lagi remaja yang sedang duduk dibangku SMA, usia kita pun terbilang sudah dewasa, tapi dimana letak kedewasaan mu coba aku ingin tanya ? Ketika pemuda yang kau puja lebih memilih aku bukan denganmu, haruskah aku yang kau salahkan juga ? Hanya karena masa laluku yang tidak sempurna, atau karena cerita tentangku yang kau dengar lewat telinga, lalu kau dengan mudahnya berujar seperti itu duhai nona ?
Aku tahu, dirimu mungkin lelah menjadi pengagum rahasia, hingga hilang arah memulihkannya harus dengan cara apa. Mari kita bicara, jika memang masih ada sesuatu yang mengganjal dalam dada.
Diujung jalan...
Barang kali langkah memang harus dihentikan. Melipir sejenak dari lelahnya sebuah perjalanan. Sungguh, apa yang membentang dihadapan, barang kali memang sudah jadi rencana Tuhan.
Segala ingin yang ada dikepala biar saja tinggal harapan. Semoga, kelak, segalanya akan terbayarkan sesuai dengan apa yang Tuhan janjikan.
Saat sunyi mendentingkan hening. Semakin hening semakin intim. Rasanya begitu asing, bahagia yang pernah menjadi tujuan bersama, kini mau tidak mau harus rela dalam pencarian masing - masing.
Aku hanya ingin melepas ikhlas, hingga tak menyisakan sedikitpun yang membekas. Tidak apa jika aku harus usaha lebih keras, asal semua luka dapat menghilang bebas.
Teruntuk Ayah
Hari ini usia ayah tepat empat puluh tujuh. Kelak panjang umur dan sehat selalu merupakan doa yang ku panjat setiap waktu.
Diusianya kini, rambut hitamnya tampak memutih, juga raga yang sekarang mudah letih. Namun ayah adalah ayah yang selalu sanggup mengasihi, dengan kedua tangan yang tak pernah lupa mendoakan putra putrinya ditengah sunyi.
Sekali lagi, semoga dengan bertambahnya usia bertambah pula nikmat yang Allah beri.
Tidak Pernah Mudah
Sanggup berdiri dan berjalan diatas tumpuan masa lalu yang menyakitkan itu tidak pernah mudah. Bibirnya mungkin tertawa, tapi ingatannya tidak akan pernah bisa melupa. Mulutnya mungkin bicara aku baik-baik saja, tapi ketakutan akan terulang disakiti kembali pasti terngiang juga.
“Salahkan aku yang katanya terlalu curiga, mempermasalahkan hal-hal kecil yang katanya mengada-ada, juga kecemburuan ku yang terlihat terlalu buta.”
Sekali lagi, aku tidak menghukum semua sama. Hanya saja rasa takut itu masih bersarang dikepala. Lalu, salahkah aku jika sebenarnya hanya ingin diyakinkan lebih agar dapat tetap percaya ? salahkah aku jika terlihat tidak dewasa padahal takut kehilangan adalah keadaan yang sebenarnya ?
Mulai disinggahi dengan keraguan. Hinggap rasa ingin mencari lain persinggahan. Waktu lalu, lama sudah terjebak dizona nyaman. Sekarang, tidak ingin terulang.