Hari ini sy melakukan pengaduan akta sy perihal nama ayah sy yg salah, namun bukan itu inti pentingnya.
Karena ini adalah hari senin, begitu banyak manusia yg datang ke kantor sipil untuk mengurus dokumen-dokumen keluarganya.
Lagi-lagi bukan itu intinya.
Saking banyaknya antrian, ibu-ibu yg datang membawa anaknya pun "menitipkan" anaknya di arena bermain (yg memang disediakan kantor capil).
Disini muncul permasalahan yg tertangkap oleh penglihatan dan pendengaranku.
Rupanya karena terlalu lama anak-anak tersebut menunggu, membuat mereka merasa bosan, mulailah anak itu meminta untuk segera pulang pada ibunya.
Sayangnya respon ibu tersebut terhadap anaknya kurang begitu enak, anak tersebut dibentak oleh ibunya, dan dipaksa untuk bermain lagi.
Bahasannya, sy merasakan sedih karna ibu tersebut harus membentak anaknya.
Disini sy melihat dua sudut pandang.
Dari ibu. Mungkin ibu tersebut juga sudah merasa lelah menunggu terlalu lama, ditambah harus mengurus anak yg masih kecil, karena hal itu lah ibu tersebut meledak emosinya.
Dari anak. Tentu saja wajar dia bosan sebagai anak yg tidak tau apa tujuan dia harus menunggu, apalagi disana sy juga lihat tidak banyak yg bisa dimainkan, hanya ada perosotan, ayunan, mobil-mobilan.
Dari kedua sisi itu menyimpulkan tidak ada yg salah pada kejadian ini.
Sedikit pengetahuan terkait hal ini, yaitu, bisa jadi manajemen emosi dari ibu tersebut belum secara baik bisa ia praktikan.
Karna bagaimanapun anak tersebut tidak mengerti apa-apa, jadi adalah hal wajar bila anak tersebut merasa bosan dan meminta untuk pergi dari tempat tersebut (dalam hal ini kantor capil).
Sebagai orang yg sudah dewasa (re. Ibu) maka sudah sepatutnya segera evaluasi diri, apa yg salah, karena anak kecil belum mengerti konsep benar dan salah, maka orang dewasa lah yg musti belajar.
Kejadian kedua, seorang anak lain, bermain-main dekat pintu, maksud ibu tersebut mungkin baik, menegur agar tersebut tidak terjepit pintu, namun isi redaksi ibu tersebut terdengar risih oleh sy "awas, jangan main di pintu"
Ya, sy memang belum memiliki anak, pun menikah sy juga belun melewatinya.
Namun bagi sy yg sudah dewasa aja kesel dengernya.
Ibu tersebut menggunakan kata-kata negatif dan tidak memberikan penjelasan mengapa anak tersebut tidak boleh bermain di dekat pintu.
Berdasar yg saya tau kata-kata negatif membuat anak menjadi penasaran dan menambah rasa keingintahuannya.
Kemudian, Mengapa harus dijelaskan "kenapa tidak boleh bermain dekat pintu?". Jelas. Kembali lagi seorang anak belum mengerti konsep benar dan salah, sehingga dia haruslah mendapat penjelasan mengapa bermain di dekat pintu itu salah dan apa yg akan terjadi bila dia tetap bermain di dekat pintu. Sehingga anak itu akan belajar apa konsekuensi yg akan terjadi bila anak tetap kekeuh dengan pembenarannya.
Sehingga untuk selanjutnya ibu tidak perlu memberi tahu anak tersebut untuk berulang kali.
Saya memang bukan ahli parenting, hanya sy merasa perlu untuk berbagi hal yg sy tau, tentunya lebih banyak yg tidak sy tau, karena walaupun jaman sudah semakin canggih namun masih banyak perempuan yg abai dengan ilmu parenting, sehingga kesalahan-kesalahan dalam mengasuh anak sering terjadi terutama pada ibu-ibu yg masih muda.
Padahal, ilmu parenting adalah ilmu yg paling penting untuk seorang calon ibu, yaitu perempuan, karna bagaimanapun nasib anak nantinya adalah tergantung dari bagaimana pengasuhan dari orang tua terutama ibunya sebagai madrasah utama bagi seorang anak.
Sebagai seorang perempuan yg belum merasakan bagaimana mengasuh anak, sy berdoa semoga ibu-ibu disabarkan emosinya, dilunakkan lisannya, dibuka hatinya. Tentunya kejadian ini banyak memberi pembelajaran bagi sy sendiri sebagai calon ibu, bahwa tidak mudah menjadi ibu, semoga diberi waktu cukup untuk terus belajar menjadi ummu wa rabbatul bait. Aamiiinn.