Lewat
Oh, ternyata hampir genap 3 tahun berlalu dari postingan terakhir. Mulai lagi

pixel skylines
Monterey Bay Aquarium
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
NASA
No title available
🪼

No title available

Kaledo Art
trying on a metaphor

Love Begins

No title available
tumblr dot com

JBB: An Artblog!

oozey mess

JVL
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

No title available
Claire Keane
No title available
Alisa U Zemlji Chuda
seen from United States
seen from Germany

seen from Switzerland
seen from Brazil
seen from Russia
seen from Canada
seen from South Korea
seen from Indonesia

seen from Taiwan

seen from United States
seen from United States

seen from France
seen from Türkiye
seen from Indonesia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
@emluthfi
Lewat
Oh, ternyata hampir genap 3 tahun berlalu dari postingan terakhir. Mulai lagi
Kaum pria jadi termotivasi dan bersemangat kala mereka merasa dibutuhkan...Kaum wanita jadi termotivasi dan bersemangat kala mereka merasa dicintai
John Gray
Apartment in London
Follow Gravity Home: Instagram - Pinterest - Facebook - Bloglovin
“My dear heart, never think you are better than others. Listen to their sorrows with compassion. If you want peace, do not harbor bad thoughts, do not gossip and do not teach what you do not know.”
— Rumi
Hedon?
Bisa jadi sih. Belakangan ini kadang mikir, kok kayanya setelah diberikan kesempatan kerja dan memiliki penghasilan, hidup kayanya justru semakin hedon(?).
Tapi setelah dipikir lagi, ga juga sih (pembenaran). He he. Kok dibilang ga juga? Ya selama masih dalam koridor yang ga melenceng, sebenernya ga segitunya dibilang hedon, walaupun terkesan seperti itu.
Tapi satu waktu Bunda pernah bilang, "Selama itu baik, ya manfaatin aja (penghasilan) untuk membahagiakan diri, toh hasil kerja abang juga".
Jadilah (baru) setelah kerja bisa merasakan hype-nya ikut event lari, nonton konser, nonton bola di stadion, nongkrong, dsj yang kayanya sempet hilang, semangat dan hype-nya kaya 5-8 tahun lalu, tapi lebih bertanggungjawab dan terkendali.
Yap, terkendali karena sadar kalo nyari kerja itu susah, bersaing di dunia kerja ga kalah susah, kerjaan tiap hari yang nyatanya ga selalu mudah. Semua hal ini jadi kontrol efektif, apalagi masih sendirian.
Ciao
Depok, 2 Maret 2018
“Know that if people are impressed with you, in reality they are impressed with the beauty of Allah’s covering of your sins.”
— Ibn al-Jawzi
Modern townhouse in Sweden | architecture by Elding Oscarson & photos by Åke E:son Lindman
Follow Gravity Home: Instagram - Pinterest - Facebook - Bloglovin
Scandinavian apartment
Follow Gravity Home: Instagram - Pinterest - Facebook - Bloglovin
Scandinavian studio apartment | photos by Anders Bergstedt
Follow Gravity Home: Instagram - Pinterest - Facebook - Bloglovin
Jarak hati dan pikiran ini terbilang jauh. Bukan karena ia terpisah laut, samudera, atau benua, tapi sebab ia tak kasat mata. Entah bagaimana, jarak ini bisa semakin terasa jauh ketika kita sulit untuk menerima dan memercayai semua ketetapan-Nya: akal terlalu merasionalisasikan banyak hal hingga bertanya-tanya mengapa begini dan begitu yang tak sesuai dengan harapan, padahal hati sedang merenda keyakinan dan belajar menerima ketetapan.
Ah, betapa terkadang hati dan pemikiran kita ini bisa berubah menjadi begitu menyeramkan! Mungkin inilah juga sebabnya kita perlu berlindung kepada-Nya atas diri kita sendiri, yang seringnya sulit terkendali.
_____
#Bertumbuh InsyaAllah akan mulai pre-order 7 hari lagi. Bersiap, ya! 😃
dan selain Bertumbuh, akan ada 6 judul lainnya yang juga bisa dipesan bersamaan. Kira-kira apa ya? Lansung cek di instagram @langitlangit.yk ya untuk tahu pembaruan informasinya :)
“To completely trust in God is to be like a child who knows deeply that even if he does not call for the mother, the mother is totally aware of his condition and is looking after him.”
— Abu Hamid al-Ghazali
ini koma
Ini koma, bukan titik. Kalau memang sedang terhenti, biarkan saja menjadi jeda. Bukan berhenti selamanya.
Ini koma, bukan titik.
Gimana cara jemput jodoh yang baik dan benar kak?
CARA MENJEMPUT JODOH YANG BAIK DAN BENARJawabannya, ada pada pertanyaannya.
Yang pertama, yaitu menjadi diri yang Benar
Benarkan terlebih dahulu niat kita dalam menjemput jodoh. Apakah benar, kita sudah meniatkan hati kita untuk beribadah? Apakah benar, kita mencoba menjemput jodoh itu demi kebaikan?
Yang kedua, yaitu menjadi diri yang Baik
Baik ahklaknya, baik perilakunya. Ia yang kita sukai, belum tentu menyukai kita. Namun, siapapun orang yang kau sukai, tentu ia suka dengan orang-orang yang baik hati, serta akhlaknya. Menjaga tutur kata, serta tingkah lakunya, serta baik dalam menjaga keimanannya.
Yang terakhir, yaitu menjemputnya
Jemput (calon) jodohmu dengan cara-cara yang baik. Dengan istikharahmu, dengan doa-doamu, dengan menanyakan dirinya kepada orang-orang yang menjaga dirinya.
Jika kita sudah membenarkan niat kita, dan memperbaiki akhlak dan perilaku kita. Bisa jadi, jodoh itu datang, tak perlu dijemput. Mungkin, orangtuanya sendiri yang mengantarkan ke hadapanmu.
Percaya saya, orang-orang baik itu, akan diberikan yang baik juga.
negative vibes part 2
tulisan ini merupakan bagian kedua dari tulisan Negative Vibes, supaya nyambung, silakan baca bagian pertamanya di sini
Poppy si pollyanna dan Branch si negativis dalam film Trolls (2016) “Life is not only about rainbow and cupcakes”- Branch
source
dengan bantuan negative vibes alias bad vibes dalam diri saya, saya pun belajar memahami soal apa yang terjadi pada diri saya. kenapa saya mengalami masalah emosi yang begitu parah, kenapa saya merasa malu menceritakannya, kenapa saya merasa takut merusak hidup orang kalau saya ungkapkan ke orang lain, ke orang terdekat sekali pun. dan pikiran saya mengarah ke….
kecenderungan untuk sering menolak kejadian-kejadian negatif dan emosi negatif dan menutupinya karena merasa itu sebagai perusak suasana atau sekadar merasa gengsi, kayaknya jadi masalah bagi mayoritas orang di dunia ini. termasuk saya.
disadari atau tidak, kita sering diajari untuk terus merasa positif, sayangnya, tidak diimbangi dengan pemahaman yang benar. tentu merasa positif itu penting untuk kesejahteraan mental, tapi bukan berarti kita harus terus memaksa hidup kita dalam suasana positif, dan mengabaikan kejadian-kejadian susah dan menyakitkan yang nyata-nyata kita alami.
imbasnya, kita jadi sering lari dari kejadian-kejadian yang buruk karena itu menimbulkan emosi yang ngga kita sukai: sedih, marah, kecewa, cemas, dll, atau mengingatkan kita pada kejadian-kejadian buruk. kita juga terdorong untuk memanipulasi perasaan kita sendiri, bahwa kita baik-baik saja. media sosial juga mendorong kita untuk menampilkan sisi-sisi positif saja dalam hidup, menyembunyikan rapat-rapat apa yang menjadi kesedihan, kegelisahan, kemarahan, dan permasalahan lain yang kita alami dengan berbagai alasan. beberapa alasan yang sering saya dengar: saya lagi menguatkan diri sendiri, saya tidak ingin orang lain ikut merasa sedih, orang yang share hal negatif itu toxic! orang-orang lebih senang pada orang-orang yang menyebarkan positive vibes.
kalau diperhatikan, memang orang-orang lebih menyukai konten di media sosial yang bernuansa positive vibes seperti foto makanan enak dan liburan alih-alih konten yang bernuansa negative vibes seperti kesusahan hidup yang dialami. jadi masuk akal kalau kita bekerja dengan hukum aksi reaksi. ngejar likes itu emang ngga penting, tapi kalau dapet banyak likes tetep aja seneng, ya ngga? pemahaman bahwa negative vibes itu toxic, bahwa pengalaman atau perasaan negatif yang kita alami adalah yang harus disembunyikan apakah karena gengsi atau takut memberi pengaruh buruk ke orang lain, bahwa kita hanya boleh menceritakan hal yang hepi-hepi aja, dalam perspektif saya saat ini (bukan saya di masa lalu), semua itu justru adalah pemahaman yang toxic. kita ngga bisa tumbuh kuat kalau pertama-tama kita ngga menerima perasaan dan pengalaman negatif itu atau malah menutup-nutupinya dengan sesuatu yang positif. kita ngga akan dapat pertolongan kalau kita ngga membiarkan orang tahu perasaan dan pengalaman negatif yang kita alami. menolak untuk mengakui adanya perasaan dan pengalaman negatif mungkin berguna untuk jangka pendek, tapi bisa menimbulkan efek destruktif untuk jangka panjangnya, misalnya gini (contoh aja):
saya merasa sedih karena ditinggal seseorang, tapi saya menolak untuk mengakuinya. saya menguatkan diri bahwa saya baik-baik saja. saya mencari hal lain di luar saya yang bisa membuat saya senang, yang menutupi kesedihan saya. lalu, saya menemukan caranya: belanja! tiap kali saya merasa sedih, saya belanja untuk tetap merasa senang. belanja menjadi pelarian dari perasaan sedih saya. dan itu berhasil. so far so good, untuk sementara. iya, sementara, karena jangka panjangnya, saya jadi kena adiksi alias kecanduan belanja. yang tentu menimbulkan efek ngga sehat untuk kesejahteraan saya sendiri. bayangkan kalau yang jadi candu bukan belanja: it could be alcohol or drugs! di masa depan, saya bakal dapet tambahan kesibukan untuk menyelesaikan masalah kecanduan saya, selain masalah emosi yang saya hindari sebelumnya.
pelarian dan adiksi yang paling umum kayaknya sih hape ya. bosen, bete, sedih, cek hp, cek timeline. kali aja ada notifikasi penting yang terlewatkan, kali aja ada postingan yang bikin mood bagus balik lagi. tapi, yang tadinya mau senang-senang, eh malah jadi makin parah karena ngelihat pesona orang lain yang hidupnya enak-enak aja. udah tahu gitu, anehnya, tetep aja dilakuin, tetep aja scrolling, tetep aja stalking. namanya juga udah kecanduan.
source
sebenarnya, menurut pengalaman dan pengamatan, kebiasaan menghindari atau ngga mau mengakui adanya pengalaman dan perasaan negatif, apapun alasannya, bisa menimbulkan dampak ini: 1. melahirkan lingkaran setan negativistik. kita lari dari kejadian-kejadian yang engga menyenangkan, ngga mengakui adanya perasaan negatif, tapi itu malah bikin situasi kita semakin negatif. karena kita jadi takut menghadapi kejadian-kejadian seperti itu, kita jadi cemas, hiper-waspada sama ‘ancaman’ itu, pikiran kita jadi susah tenang karena selalu takut pada apa yang akan terjadi. which is sama aja jadinya, kita lari dari pengalaman negatif yang satu, tapi malah menimbulkan pengalaman negatif lainnya. lari lagi, lari lagi, tapi tetap saja bertemu. ngga ke mana-mana.
2. di mana kita bisa hidup kalau bukan dalam realita? pengalaman buruk adalah hal yang alami yang dihadapi semua makhluk. ngga ada hidup yang sempurna, yang tanpa masalah. menolaknya berarti menolak hidup dalam realita. menolak keserasian dan keseimbangan alam semesta. alam semestanya tetap baik-baik saja, tapi kita engga.
3. bikin kita gagap dalam mengatasi masalah. kalau seseorang, apalagi sedari kecil, terbiasa dijauhkan dari pengalaman sedih, kesal, jatuh, dsb, dia ngga punya memori otak dan memori otot untuk mengatasi permasalahannya di masa depan. akhirnya jadi terus menerus flight (menghindar), alih-alih fight (menghadapinya).
jadi harus bagaimana?
source
E M O S I pada dasarnya berfungsi untuk membantu kita mengevaluasi kejadian yang kita hadapi. emosi membuat kita tahu apa yang terjadi pada diri kita dan pada orang lain. singkatnya, emosi memberikan kita informasi. kalau kita merasakan emosi marah, artinya ada sesuatu yang ngga sesuai dengan keyakinan atau value kita, kalau kita merasakan emosi sedih, artinya ada sesuatu yang berjalan di luar rencana atau kehendak kita. dan seterusnya. Begitu pun dengan pengalaman-pengalaman negatif yang kita alami, mereka itu sama-sama merupakan informasi. paling tidak, itu menunjukkan bahwa kita masih menjadi manusia, dan bagian terpentingnya: masih hidup.
lalu, pendekatan seperti apa yang bisa kita pakai agar bisa melihat emosi maupun pengalaman negatif itu secara wajar?
penerimaan yang disadari terhadap keduanya merupakan langkah awal yang tepat.
penerimaan di sini bermakna: kita bersedia untuk merasakan semua yang negatif itu, membiarkannya menggulung kita dalam pusarannya, mengenalinya, dan menyebut namanya. toh semua perasaan itu ngga abadi. perasaan yang kita hindari itu, kalau kita hadapi, ujungnya juga akan berlalu.
dengan menerimanya, kita tidak perlu menghabiskan banyak tenaga untuk menutup-nutupi atau mengusir-usir perasaan itu. setelah itu, kita mulai bisa mempelajarinya: mengapa saya merasa begini, apa pencetusnya. sehingga di kemudian hari, ketika kita merasakan perasaan yang sama, kita bisa terbiasa. jika kita lari darinya, misalnya kita berusaha tetap senang dan ceria padahal kita baru saja mengalami kejadian menyedihkan, kita ngga sempat belajar. kita ngga bisa kan mempelajari sesuatu dengan menghindarinya.
selain itu, keberanian kita untuk merasakan semua perasaan negatif itu akan membuat kita sadar bahwa merasakan hal negatif dalam hidup bukanlah sesuatu yang buruk atau memalukan. perasaan-perasaan itu ngga bikin seseorang jadi lemah atau buruk. it’s just, we are human and we are alive. we’re broken, life is broken. why? karena emang begitu desainnya.
hidup itu semangkuk penuh berisi ketidaksempurnaan. meski pun kelihatannya banyak, tetap saja tidak sempurna, tetap saja tidak memuaskan ego. kalau kata Allah di Surat Almaidah ayat 3, nih Allah sudah menyempurnakan nikmat-Nya untukmu. nah, tapi kita salah memahami maksud “menyempurnakan” nya itu. dikira kita kita bakal menjalani hidup yang sempurna karena udah dijamin, padahal engga gitu. dari pendekatan linguistik, ayat tersebut punya tafsir yang keren.
untuk menyebutkan bagaimana Allah menyempurnakan nikmat-Nya buat hamba-Nya, digunakan kata “Atmamtu,” kalau diartikan ke bahasa Indonesia ya artinya menyempurnakan. tapi, dalam bahasa Arab Atmamtu itu maknanya: mengumpulkan beberapa hal yang tidak sempurna ke dalam satu wadah. jadi, kalau saya ngerasa kenapa saya ngga punya yang orang lain punya, itu karena ‘mangkuk’ yang dikasih Allah ke saya emang beda isinya. mungkin ada yang dikasih kesehatan paripurna, tapi ngga dikasih kekayaan berlimpah. ada juga yang dikasih kekayaan, tapi juga sakit-sakitan. karena yang Allah kasih ke mangkuk kita itu ya memang hal-hal yang tidak sempurna. tapi Allah kumpulkan jadi satu sehingga menjadi komplit. tapi, untuk menyebut bagaimana Allah menyempurnakan agama sebagai petunjuk buat kita, Allah menggunakan kata “Akmaltu.” yang maknanya: mengumpulkan beberapa hal yang sempurna ke dalam satu wadah. kesimpulannya silakan dicerap sendiri..
jadi kalau ngerasa broken, dapet pengalaman yang ngga menyenangkan, itu memang karena desainnya gitu. dan karena memang desainnya demikian, kenapa harus dihindari atau dianggap memalukan? it’s something normal, dude.
yang terakhir, ketika kita menerimanya dengan lapang dada, tanpa perlawanan atau penolakan, perasaan dan pengalaman negatif itu akan kehilangan dayanya untuk mengacaukan hidup kita. bagaimana bisa? maksudnya menyerah? bukan menyerah, tapi berserah.
“You cannot beat a river into submission. You surrender to it…” - The Ancient One (Dr Strange, 2016)
source
seorang perenang yang terjebak di arus bawah laut dan merasa bahwa ia akan terseret ke tengah laut seringkali panik sehingga ia berenang melawan arus ombak dengan semua kekuatannya.dan seringkali juga, jika itu terjadi, ia akan tenggelam karena kelelahan dan kehabisan energi. tapi ada juga perenang lain yang melakukan hal sebaliknya. menenangkan diri, dan membiarkan sang ombak membawanya ke laut. kemudian tak lama, ketika arus mulai melemah, sang perenang bisa berenang kembali ke pantai.
sama halnya dengan emosi yang kita alami: melawannya bisa membahayakan, tapi ketika kita menerimanya, ia akan berjalan dan akhirnya pun berlalu dengan sendirinya, kemudian kita mendapatkan kesempatan untuk juga melanjutkan perjalanan kita.
tulisan ini akan saya tutup dengan kisah akhir dari pengalaman negatif yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya.
saya ngga merasa menyesal telah mengalami pengalaman dan perasaan yang intensitas negatifnya besar seperti itu. tapi, saya menyesal karena dulu sekali, saya terlalu sering menutup-nutupi bahkan menolak perasaan negatif, menganggap itu harus disimpan sendiri, menganggap itu akan tergantikan dengan perasaan senang secara otomatis, menganggap sebuah kehinaan untuk mengakui bahwa saya stres, cemas, depresi, dan sebagainya, karena orang lain hidupnya terlihat baik-baik saja. menurut saya, itulah penyebab kenapa gunungan perasaan negatif itu tiba-tiba longsor menimpa saya: karena terlalu lama ditolak keberadaannya. mereka kembali dalam bentuk yang lebih buruk!
mungkin masalahnya, tipikal, saat kecil kurang diberi ruang untuk mengeksplorasi berbagai emosi. dijauhkan dari negative vibes, disuruh untuk berhenti menangis sebelum merasa lega, diminta untuk jadi anak penurut sebelum diberi ruang untuk kesal, marah, dan protes. tapi ya sudahlah, kita juga paham jadi orang tua itu ngga mudah. yang penting saat ini saya sudah lebih paham.
saya belajar untuk biasa saja mengakui bahwa hidup saya lagi ada masalah. bahwa saya sedih, marah, kecewa. sebagaimana saya belajar untuk biasa-biasa aja ketika merasa senang–ngga berlebihan. tidak menganaktirikan salah satunya.
saya menyukai bagaimana positive vibes membuat kita menjadi bersemangat dan optiimis, dan saya juga menyukai bagaimana negative vibes membuat kita lebih menapak tanah: realistis melihat suatu permasalahan dan membuat kita seutuhnya menjadi manusia. I love them both <3
kolom ‘Reply’ terbuka untuk diskusi dan sharing
negative vibes part 1
source
“To become a good swimmer, first you have to trust the wave.”
Saya pernah mengalami masa-masa yang sulit bagi emosi saya selama berbulan-bulan. Dan saya tidak ragu untuk mengakuinya di sini. I felt so depressed and anxious that I wanted to have a long sleep but too afraid to close my eyes. Tapi di saat lain, saya bisa tidur seharian meski setelah bangun tetap merasa lelah. I cried like a baby. A lot. Jantung saya berdebar kencang tiap kali melihat jam, kalender, atau kapanpun ketika saya merasakan waktu berlari, hari berganti, dan mati bisa datang kapan saja. Saya enggan melihat foto-foto masa lalu, kenangan-kenangan yang diingatkan Facebook, atau kenangan yang saya simpan dalam memori sendiri karena semua itu bikin saya sedih. Karena itu bikin saya merasa hidup saya sia-sia. Tapi, saya juga tak mampu merencanakan apa yang harus saya lakukan esok pagi, dan esoknya, dan esoknya karena saya keburu cemas sebelum memikirkannya. Rasanya seperti terimpit di antara kandang naga dan medusa, bahkan lebih buruk karena keduanya hanya makhluk rekaan, meanwhile… my feelings were real.
Saya mengingat lagi pelajaran-pelajaran yang saya dapat tentang cara menenangkan diri, afirmasi positif, dan sebagainya. Berhasil….sebentar. Lalu mereka datang lagi.
Saya ngga bisa menjelaskan bagaimana semua ini bermula, kenapa saya merasakan hal-hal itu. rasanya ibarat tertimpa gunung yang longsor, runtuh begitu saja.
Saya cerita ke pasangan, dan itu malah bikin saya malu, karena merasa hidup saya terlalu negatif dan ngga layak menyusahkan hidupnya yang positif. I spread negative vibes, and I felt guilty for that. Cerita ke orang lain apalagi. I would be a shame.
Di penghujung masa sulit itu, saya berubah. My heart was numb. saya ngga lagi punya ketertarikan pada hal-hal bertagar positive vibes, saya sangsi pada kata-kata bernuansa optimisme, saya alergi pada motivasi-motivasi positif, saya ngga bisa lagi menikmati ide-ide tentang pikiran positif, bahkan jika itu pernah keluar dari mulut atau tangan saya sendiri–dalam bentuk tulisan atau perkataan. saya alergi pada status, caption, bahkan sosok (maya maupun nyata) yang extremely positive. sesuatu yang saat itu saya anggap sebagai bagian dari Pollyanna syndrome: kecenderungan untuk terus menerus merasa optimis, senang, positif, tapi seringkali tidak realistis.
I lost my connection with positive pole. I moved to negative pole. I lived there for weeks and met them: darkness, bad things, bad feelings, hatred, pessimism, depression, illness, and couple more things.
hal-hal yang sering dicampakkan. dianggap racun. dianggap sebagai penghalang kebahagiaan. dijauhkan dari anak-anak. diperkenalkan sebagai musuh bersama, tidak diterima, tak juga mendapat sekadar “Hello”.
poor negatron
dalam situasi yang demikian, saya merasakan empati yang luar biasa pada orang-orang di luar sana yang sedang mengalami ‘kekalahan’. mereka yang diasingkan karena berandal, mereka yang dihukum karena kriminal, mereka yang tak mendapat apa yang motivator janjikan: kemudahan hidup dan kebahagiaan sejati. sedangkan di sisi lainnya, orang-orang sibuk dengan ‘cahaya positifnya’ sendiri-sendiri, membangun menara ‘kesenangannya’ sendiri-sendiri, memoles ‘kemolekan’ dirinya sendiri-sendiri di media–yang seringkali palsu. apa artinya semua itu jika tak menjadikan kita lebih peduli?
hanya karena seseorang terlahir dari lingkungan buruk, dari keluarga yang pecah, dari pendidikan yang minim, dari kondisi keuangan yang melilit, or just simply mengalami nasib buruk dalam hidupnya, yang membuat hidupnya jauh dari jangkauan frekuensi positive vibes, yang membuat mereka berkawan dengan perjuangan yang keras, kesendirian, keperihan, depresi, pikiran negatif, bahkan keputusasaan, bukan berarti mereka kalah dan boleh ditinggalkan.
bad things happen to everyone, everyday, always. no requirement needed. no terms nor conditions applied. no algorithm can save anyone from it.
setelah itu, saya jadi berkawan dengan dunia di kutub negatif. melihat berbagai hal dari sudut negatifnya. saya merasakan negative vibes dalam diri saya.
apakah negative thinking itu selalu buruk? ternyata tidak juga.
berpikir negatif sebenarnya kan unsur penting dalam proses antisipasi masalah yang akan terjadi. kalau polisi bisa mencegah perampokan atau mengungkap pelaku pembunuhan, itu juga karena peran pikiran negatif.
tentu berpikir positif punya dampak baik terhadap kesejahteraan mental. tapi, terlalu ‘positif’ juga ternyata ngga selalu bagus. maksud saya, ya sudah, kita alamiah saja. hal buruk pasti terjadi, itu kenyataannya. kita ngga selamanya merasa happy, kita juga perlu merasa sedih, marah, jijik, takut. kita bakal kacau kalau menghindar dari pengalaman dan perasaan negatif. kita ngga bisa mengendalikan semua masalah.
terlalu ‘positif’ yang ekstrem, justru bikin kita susah hidup dalam realita. berpikir positif malah bisa kontraproduktif kalau itu membuat kita menolak mengakui hal-hal yang menyakitkan dalam hidup yang tak bisa dihindari (akan dibahas lebih lanjut di tulisan bagian 2).
selain itu, terlalu berlebihan dalam menampilkan sisi positif atau terlalu berlebihan dalam usaha meyakinkan diri bahwa ‘hidup akan baik-baik saja selama saya berpikir positif’, bisa menimbulkan ekses yang ngga kita duga: mereka yang sedang merasa gagal dalam menggapai hidup yang baik-baik saja akan semakin terpuruk dan menyalahkan diri mereka sendiri karena tidak bisa tampil seceria dan sepositif itu. alih-alih menyebarkan positive vibes, yang tersebar bisa jadi malah vibes seputar kompetisi, seperti, “Look, I’m positive, I’m the inspirator, my life is fruitful, what about yours?” sejujurnya, untuk orang-orang dengan self-esteem (penilaian tentang seberapa berharga diri sendiri) yang rendah, kalimat-kalimat sepositif apapun ngga bisa memperbaiki self-esteem mereka, malah bisa berbalik jadi bumerang buat mereka. itu malah bisa mengingatkan mereka soal kegagalan yang pernah mereka alami, berapa banyak tujuan yang tak tercapai, berapa banyak kekecewaan yang ia hadapi, dan berapa kali ia merasa dirinya tidak berharga.
tapi, yah. kita ngga punya kewajiban menyenangkan semua orang juga sih. menampilkan sisi positif yang berlebihan di media sosial maupun di hidup yang nyata adalah hak semua orang. perasaan iri, tertinggal, kalah, atau apapun namanya, yang dialami orang lain karena melihatnya bukan urusan kita lagi, toh kita kan ngga bermaksud bikin orang iri, ya? salah sendiri merasa iri dan tertinggal dan negatif dan terpuruk dan depresi dan putus asa. kita mah membangun menara ‘kesenangan’ kita sendiri-sendiri aja. hm, yang kalimat terakhir kayak pernah baca. di mana ya? de javu~
tulisan ini masih panjang, karena itu akan bersambung ke bagian 2: tentang cara pandang alternatif terhadap pengalaman dan emosi negatif juga terhadap negative vibes, tentang percaya pada ombak alih-alih memberontak dan tenggelam, dan tentang bagian akhir soal masa sulit yang saya ceritakan di awal tulisan.
Mewakili pikiran saya hingga akhirnya kala itu saya hanya bisa berkata,”Jadilah saja sebaik-baik dirimu. dengan segala sifat manusiawi di dalamnya. Bukan malaikat, apalagi setan.”
A sign of true repentance from a past sin is that remembering the sin only brings pangs of remorse, and not memories of pleasure.
Yasir Qadhi (via islamic-art-and-quotes)
No human is perfect; we all have our hidden sins. Hypocrisy is to delude yourself into denying your own sins and allow arrogance to grow within you.
Yasir Qadhi (via islamic-art-and-quotes)