Keluarga Asing
âMbak Dina, kayaknya kerannya udah beres. Boleh dicoba dulu mbak?â, tanya Jojo, tukang servis andalan di seantero pasar.
âSebentar Joâ, jawab perempuan cantik yang wajahnya mirip bule itu. Ia mencoba membuka keran di wastafel. âWah mantab. Airnya udah nggak muncrat kemana-mana lagi. Makasih ya Joâ.
âSama-sama mbak. Kalau gitu saya pamit dulu ya mbakâ, balasnya tersenyum sambil membereskan perkakas miliknya.
Saat ini waktu menunjukkan pukul tujuh. Kios Lavender memang belum buka, tapi sepagi ini perempuan itu sudah menyiapkan bahan masakan untuk buka toko nanti siang.Â
Sejak pindah ke kota ini tujuh tahun lalu, Dina memutuskan untuk membuka kios makan khas Eropa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beserta anaknya, Sela.
âKerannya udah bener Mbak?â, tanya Mona yang tiba-tiba datang mengagetkan. Ia membawa keranjang yang penuh sayuran.
âUdahâ, jawabnya tersenyum.
Mona pun langsung meletakkan barang belanjaannya di atas meja. Dia segera membuka kulkas dan mengambil air minum, ditegaknya air itu dengan tergesa.
âMbak, mbak itu ya mau-maunya dikibulin sama Pak Mamadâ, kata Mona menggerutu. âMotor bekas yang kemarin mbak beli itu, harganya nggak sampai tujuh juta mbak. Tahun lalu Pak Mamad beli cuma empat juta. Rugi mbak, rugiâ.
Dina hanya merenges. âYa gimana Mon, udah terlanjur. Mbak cuma pengen kios kita ada layanan pesan antarnya, biar makin laris. Motornya bisa untuk nganter Sela sekolah juga kanâ, jelasnya panjang lebar.
Mona pun hanya geleng-geleng kepala. Hampir setahun ia bekerja untuk Dina, tetap saja ia tak habis pikir. Bagaimana orang sepolos Dina bisa menjalani hidup dengan selamat sampai saat ini.
Dina, Ibu satu anak ini memang terlampau polos. Dia ramah kepada semua orang. Meskipun begitu, terkadang keramahannya itu dimanfaatkan oleh banyak orang.
***
Mona sedang merokok di ujung gang saat gawainya berbunyi. Ia tak mau mengangkat telepon itu. Namun dering telpon tak kunjung berhenti, dia terpaksa mengangkatnya.
âHeh. Kamu dimana jalang?!â, seru seorang pria melalui telepon. âJangan kira kamu bisa kabur setelah mengambil uangku ya Mon. Kamu kira delapan puluh juta itu sedikit? Hah?!â
Mona langsung menutup telpon dan mematikan gawainya. Dia sudah tak berminat lagi untuk merokok. Diinjak-injaknya rokok miliknya yang masih tersisa setengah.
âIniâ, kata Dina yang tiba-tiba datang menyodorkan es krim.
Mona terkejut, namun ia tetap mengambil es krim itu dan memakannya tanpa basa-basi. Mereka berdua berjongkok di ujung gang sambil menjilati es krim. Selama beberapa saat, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari keduanya.
âHmm... Mbak, kenapa mbak nggak pernah tanya sama sekali?â, tanya Mona memulai pembicaraan..
Dina berhenti menjilati es krimnya. Ia memandang Mona lekat, âKenapa mbak harus tanya?â
âMbak nggak penasaran? Nggak pengen tau? Mbak sama sekali nggak pernah tanya asal-usulkuâ, kata Mona. âTahun lalu aku tiba-tiba datang ke mbak buat minta kerjaan dan mbak terima-terima aja! Mbak nggak takut sama aku? Mbak nggak pernah mikir aku tuh orang jahat?â.
Dina diam sejenak sebelum akhirnya menjawab, âSejujurnya Mon, mbak juga pengen tahu. Mbak juga penasaran tentang kehidupanmu, tapi kalau dipikir-pikir lagi, mbak nggak harus tau semuanya kan?â, jawab Dina. âYang mbak tau, kamu orang baik Mon. Selama kerja sama mbak, semuanya lancar-lancar aja. Walau kadang-kadang mbak repot juga kalau kamu bertengkar sama pelangganâ, tambah Dina sambil terkikik.
Mona hanya tersenyum simpul. Seumur hidupnya, ia tak pernah diperlakukan layaknya manusia. Selama ini, ia tak pernah merasa dimengerti tanpa banyak caci. Baginya, Dina memberikan kehangatan layaknya keluarga.
âKenapa kamu baik banget sih mbak?!â, kata Mona kesal sendiri.Â
***
âMbak, kalau kamu mandi, gelangnya kamu lepas nggak?â, tanya Nadia sambil menunjuk tangan milik Dina. Terkadang pertanyaan gadis berusia dua puluh tujuh itu sangat random.Â
Malam ini Nadia sedang mampir di Kios Lavender selepas pulang kerja. Senin malam begini biasanya tempat ini memang tidak terlalu ramai oleh pelanggan.
âKulepas Nad, kadang-kadang kucuci juga. Gelang makrame gini, kalau basah biasanya jadi bauâ, kata Dina menjelaskan.
âItu mbak bikin gelangnya sendiri? Aku mau dong dibuatinâ, kata Nadia manja. Dia sudah menganggap Dina sebagai kakaknya sendiri.
Mona yang sedang mengupas kentang pun menyahut. âBikin sendiri lah Nad. Gampang taukâ. Nadia hanya menggelengkan kepala. Dia merasa bahwa pekerjaan itu bukan hal cocok untuknya. Saat duduk di bangku SMA, dia pernah mendapatkan tugas merajut, pusing kepalanya berhadapan dengan benang-benang. Dia lebih memilih menghancurkan batu bata daripada bergelut dengan keruwetan benang.
âEnggak dek. Gelang ini dibeliin almarhum suamikuâ, jawab Dina tersenyum. âMungkin kapan-kapan kita bisa buat bareng Nad?â.
Nadia pun langsung menolak tawaran itu. âEnggak ah mbak, makasih. Baru bayangin aja, aku udah capek. Hahahaâ, jawab Nadia sambil merenges.Â
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dina segera mengunci pintu kios sebelum akhirnya berjalan pulang ditemani Mona dan Nadia. Mereka banyak bercengkrama di jalan pulang. Maklum, Kota Mulya ini kecil, sehingga semua warganya tinggal bersebelahan.















