Thank you for being survived
Aku kembali setelah mengalami beberapa hal yang berhasil mengubah hidupku. Not only in a good way but also vice versa. Selama perjalanannya, aku banyak menahan dan banyak bersabar, utamanya bersabar dengan diriku sendiri. Aku berusaha menerima diriku yang telah melakukan beberapa hal di masa lalu dan saat itu aku menuai apa yang kuperbuat. Aku juga berusaha menerima diriku yang buruk. Aku menjadi seburuk-buruknya manusia. Percayalah, siapapun yang tau kisahku, mereka akan mengeluarkan sumpah serapah kepadaku. Setidaknya itu yang kupercayai. Fase inilah fase terberat dan tergelapku.
Rasanya seperti ditikam berkali-kali. Tidak pernah satu haripun aku bangun pagi dengan nafas yang normal. Bernafas tanpa adanya beban. Banyak suara yang tiada hentinya berteriak di dalam kepalaku setiap harinya. Terkadang aku sampai tidak bisa mengontrol diriku. Hal tersebut pada akhirnya nampak pada raut wajah dan perilakuku.
Berkali-kali suara-suara tersebut mengatakan,
âkamu adalah seburuk-buruknya manusiaâ
âkamu ga pantes untuk hidupâ
âkamu udah ga punya hak lagi untuk tersenyumâ
âseharusnya kamu hidup dalam kesengsaraan sampai akhir hayatmuâ
Dan di fase itulah aku tidak berani melakukan apapun selain meratapi kesengsaraanku. Aku selalu berpijak ke bumi bahwa aku orang yang sudah tidak pantas untuk âhidupâ. Itulah harga yang harus kubayar atas apa yang kulakukan. Awalnya berat karena dalam sekejap hidupku berubah total seperti demikian. Namun lambat laun, aku mengakui dan menerima semuanya. Mencoba bersahabat dengan hidupku yang sekarang, yaitu hidup dengan kesengsaraan. Pada saat momen-momen bahagia pun, aku tidak bisa merasakan itu. Aku mati rasa. Dan aku makin tersiksa karenanya.
Pada kegiatan yang kuikuti, ada sebuah instruksi kepada audiens nya, yaitu âtulis hal-hal yang kamu senangiâ dan âDi kondisi saat ini apa positive affirmation yang mau kamu katakan kepada dirimu dan jg orang lain?â. Hahahaha. Betul sekali. Aku tidak bisa menjawab apapun. Aku tidak menemukan yang aku senangi. Aku tidak bisa menemukan kalimat-kalimat baik yang bisa kuucapkan kepada diriku sendiri. Kasihan ya diri ini. Aku terlalu dzalim karena beberapa bulan terakhir ini, hanya umpatan yang kuberikan pada diriku sendiri.
Di saat itu juga, orang-orang yang biasa bersamaku satu per satu pergi. Meninggalkanku dalam gelap. Kemudian salah satu dari mereka berkata, âkenapa kamu tidak datang meminta pertolongan di saat kamu sudah di titik kritis? Di saat sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sampingmu?. Aku hanya bisa menjawab, âkalo kamu berada di posisiku, tidak ada yang bisa kamu lakukan, selain diamâ. Diam karena aku tidak tahu apakah aku masih boleh bersuara. Diam karena aku tidak tahu apakah suaraku nanti didengar. Diam karena aku tidak tahu apakah mereka akan mendengar untuk memahami posisiku.
Sejujurnya saat itu, aku ingin sekali ada orang di dekatku datang kepadaku, memelukku, dan berkata, âkamu kemana saja? kenapa kamu berkeliling tidak tentu arah? Pulanglah. Tidak apa-apa. Pasti berat sekali perjalananmu membawa beban sebanyak ituâ. Ya.. Namun itu hanya harapan kecilku saja.Â
Tapi Allah masih baik. Allah maha baik. Dalam kondisi aku yang saat itu tidak bisa menerima diriku sendiri, Allah mengirimkan orang-orang yang masih mau menerimaku apa adanya. Orang-orang yang mau merangkulku tanpa perlu aku meminta pertolongan. Mereka yang sesekali menyelamatkanku hanya dengan sapaan ringan saja, âHai em, sarapan apa?â. Atau menepuk pundakku sambil tersenyum. Aku berterima kasih atas kehadiran mereka. Setidaknya, mereka menyelamatkanku dari pikiran yang mencoba membunuhku.
Postingan ini didorong oleh salah satu klip dari kegiatan yang kuikuti. Di sana, salah satu pembicara mengatakan, âThank you for being survivedâ. Ya Allah, aku baru menyadari kalau kalimat itu yang kubutuhkan. Aku juga baru menyadari bahwa selama fase itu, aku bertarung sendirian. Dalam sepi dan gelap. Yang pada akhirnya aku mulai terbiasa di dalamnya dan kabar baiknya bahkan muncul lilin-lilin kecil di sekitarku dan jendela itu sedikit terbuka. Hidup menjadi tidak terlalu gelap dan sesak.Â
Terima kasih Mba untuk kalimatnya.