Not today Justin

Kiana Khansmith

tannertan36

No title available

izzy's playlists!

Discoholic 🪩
hello vonnie

Andulka

@theartofmadeline
ojovivo
RMH
Sade Olutola
Show & Tell

祝日 / Permanent Vacation
NASA

❣ Chile in a Photography ❣
🪼

seen from Japan

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from Hungary
seen from Ukraine
seen from Ukraine
seen from Ukraine
seen from Ukraine
seen from Ukraine

seen from South Korea

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
@enzerinme
camillelenore
Baby, know that when I write about you, I'm crazy in love with you.
Cy // 1 of million things I wished I could tell you
To love endlessly. – Lukas W.
undefiled love
Y: What’s the simplest yet most powerful proof of you loving someone? X: It’s simply when I kneel for him day and night.
— 2 am thoughts // i love you and i never expect you loving me back
Semesta Sudah Tahu
Sudah lama aku tak menulis. Tepatnya, menulis tentang dirimu.
Suatu hari seorang pujangga hebat berkata, bahwa kasihmu akan ia yang berarti dalam hidupmu akan benar-benar terbukti ketika kau mulai menulis tentangnya. Dan, sadar atau tidak sadar, ternyata selama ini sudah berlembar-lembar kertas yang kuhabiskan sebagai saranaku bercerita tentang dirimu -- kepada Semesta, yang ialah Pemilik utuh ragamu.
Sejak saat itu, aku mulai menulis tentang kamu; tentang setiap hal baik yang kulalui bersamamu. Aku mencoretkan tinta di buku harianku; setiap kali kita usai bertemu. Menulis setiap katanya dengan segenap hati; dengan segenap kasih yang ada kala itu.
Namun, pada akhirnya kuputuskan untuk tidak melanjutkannya; untuk tidak menulis lagi -- menulis tentang kamu. Karena setelah kubaca ulang goresan tinta berisi hari-hari kita di buku sakuku, perasaan itu semakin besar dan menjadi. Dan aku tahu -- engkau sendiri pun dengan baik memahami, bahwa untuk saat ini hal itu jangan dulu terjadi.
Tetapi pada akhirnya aku gagal. Ya, kau tahu sendiri, kali ini aku menulis tentangmu lagi; setelah sekian lama aku berupaya tak menggubris hasrat mendalamku. Kali ini egoku kalah telak; dilemahkan oleh kemagisan pesonamu yang tak pernah lekang oleh jarak dan waktu. Hati dan tutur katamu yang lembut, pun selalu berhasil menyihirku tuk terjatuh lebih lagi.
Aku jatuh hati padamu.
Kukatakan sekali lagi,
aku jatuh hati padamu.
Fiuh, akhirnya kutuliskan juga. Empat kata yang kurasa paling tepat tuk menggambarkan kegelisahan yang selama ini kuterka dan kuartikan sendiri. Akan sukacita kecil yang muncul setiap kali kau menjadi bunga tidurku; akan kehangatan dan kebebasan hati yang tak bisa kusangkal ketika kau ada dekatku.
Namun, kembali pada apa yang telah kusampaikan sebelumnya. Biarlah kumenunggu. Biarlah kunanti tiba waktu yang tepat untuk menyampaikannya langsung padamu. Dan biarlah kuambil penaku lagi sembari kumembunuh waktu.
Karena yang terpenting di atas segalanya, Semesta sudah tahu bahwa aku mencintaimu.
Kalau kau dapat melihat ke dalam jiwaku,
kau akan melihat sungai mengalir
Anak-anak sungai itu berhilir di mataku,
dan bermuara di hatimu.
-- Ayah, Andrea Hirata
What If
What if
Two broken souls a l i g n
Will they be even more broken
Or instead
Miraculously mend and convalescent?
Mengapa Sulit Meminta Maaf?
Sudah lama saya ingin berbagi pemikiran saya mengenai hal ini, namun baru sekarang saya membulatkan tekad untuk benar-benar menulis.
Sampai saat ini, sudah sangat sering saya mendengar petuah/ajaran dari para orangtua maupun orang dewasa lainnya, serta membaca banyak buku self-help yang mengatakan bahwa satu dari sekian banyak hal yang paling krusial di dunia ini untuk dilakukan adalah untuk senantiasa mengucapkan kata "tolong", "maaf", dan "terima kasih" pada waktunya.
Dalam hal ini, berdasarkan pengamatan saya, yang paling sulit/menantang untuk dilakukan bagi kebanyakan orang -- termasuk saya sendiri -- adalah mengucapkan kata "maaf". Betul tidak?
Adik saya, contohnya. Dia masih berumur lima tahun, yang artinya masih kanak-kanak; masih belum tahu benar arti dan makna ketiga kata tsb. Di sini peran dan kewajiban saya sebagai seorang kakak adalah terus mengajarkan dan mengingatkan dia akan pentingnya berani mengatakan ketiga kata tsb pada konteks-konteks tertentu.
Sejauh ini, secara bersamaan saya bersyukur dan bertanya-tanya mengenai praktiknya. Di satu sisi, adik saya sudah semakin terbiasa mengucapkan kata "tolong" dan "terima kasih" setiap kali ia butuh bantuan orang lain dan saat sudah menerima bantuan tsb tanpa harus saya ingatkan lagi. Tetapi, di sisi lain, masih terasa sangat berat baginya untuk mengucapkan kata "maaf" setiap kali ia melakukan kesalahan/hal yang tidak seharusnya ia lakukan.
Saya bertanya-tanya, kenapa ya kok kata "maaf" itu yang paling sulit diucapkan dibanding dua kata lainnya? Bahkan pada anak kecil sekalipun, yang belum paham benar maknanya, lho. Setiap kali saya menyuruhnya meminta maaf, selalu saja ada alasan untuk membela diri. Anak kecil ini, anak kecil, hehe.
Ya, karena belum menemukan jawaban yang scientific, saya asumsikan bahwa pada hakekatnya kita -- manusia ini punya kecenderungan untuk "memberi makan" ego kita; untuk menjadi tinggi hati; untuk selalu menjadi yang nomor satu dan merasa bahwa diri kita ini yang paling benar, benar, dan benar. Bibit yang kurang baik tsb sudah ada sejak manusia lahir; sejak kita masih bayi, yang sangat berpotensi untuk tumbuh semakin besar kalau tidak kita babat sedini mungkin.
Maka dari itu, sbg orangtua, kakak, saudara, teman, penting bagi kita untuk selalu menanamkan prinsip kepada adik-adik kecil di sekitar kita agar mereka berani & terbiasa berkata "maaf", "tolong", dan "terima kasih" sesuai konteks penggunaanya. Kalau sejak kecil mereka sudah terbiasa melakukan hal-hal terpuji, niscaya mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang gemilang & berpengaruh kelak di masa depan!
Sidoarjo, 21 Desember 2017
I always do when my heart misses the warmth of your presence.
What’s Coming from Within
Common sense, empathy, compassion... they do not have any relation with our degree, mates.
We do not study them at school.
..they simply come from within.
I'm sorry if sometimes I become so quiet
I’m not mad, or sad, or anything
I just need some time with myself alone
I'm just.. simply the kind of person who excessively appreciates solitude.
what really on my mind is
Bersua dengan Ari-Reda
Saya telah jatuh cinta kepada vokalis duo Ari-Reda sejak pertama membaca profil dan mendengar alunan musik mereka yang syahdu di YouTube. Bagi saya, perkenalan dengan mereka dapat dibilang singkat. Saya tidak akan bertemu dengan mereka dan bahkan jatuh hati jika departemen jurusan saya di kampus tidak mengundangnya dalam penutupan suatu acara tahunan kami. Saya berhutang budi.
Di bulan November 2017 ini Ari-Reda sedang mengadakan tur, yaitu Tur Menunggu Kemarau. Beruntung dan spesialnya, kota pertama dari rangkaian tur mereka ialah Surabaya, tepatnya di kampus saya, Universitas Negeri Surabaya.
Sukacita sekali rasanya, dapat bertemu dan mengenal mereka. Pribadi yang hangat, friendly, dan sederhana. Ketulusan hati mereka dapat saya dan teman-teman rasakan saat mendengar mereka bersenandung, terlebih saat mereka melayani kami di sesi meet and greet di akhir acara. Padahal kami baru saja bertemu, namun rasanya seperti sudah berkawan karib. Senyum tiga jari dan pelukan hangat dari mereka saat kami berfoto bersama benar-benar membuat jiwa kami meleleh. Jatuh hati.
Singkatnya, saya sungguh berterima kasih kepada departemen jurusan saya yang sudah bekerja keras menggarap rangkaian acara yang diadakan dalam beberapa minggu di bulan November ini. Terima kasih juga telah mengundang Ari-Reda sebagai penutup acara yang indah dan tak terlupakan. Tak merugi kami menanti kehadiran dua seniman ajaib tersebut sejak sebelum senja menyapa hingga sang purnama hampir bermohon diri. Manis dan magisnya kolaborasi antara petikan gitar akustik, suara Mas Ari, dan suara Mbak Reda saat memusikalisasi puisi-puisi termahsyur para pujangga nusantara akan selalu terkenang dalam relung hati. Hujan Bulan Juni dan Di Restoran merupakan dua di antara sekian banyak lagu mereka yang menjadi favorit saya.
Sabtu, 18 November malam itu, saya berbahagia luar biasa.
secuil kisah di English Week XXII
Istimewa
X: Apa? Ia mencintaiku? Tidak, kau pasti salah mendengar.
Y: Hei, mengapa kau tak percaya? Di antara banyak wanita yang mengejarnya, ia telah memilihmu; dan ia bertekad untuk menyerahkan seluruh jiwa, raga, dan kasihnya, hanya untukmu. Selamanya.
Aku mendengar pengakuannya dengan telingaku sendiri. Apakah itu masih membuatmu sulit untuk percaya?
X: Kau tak mengerti. Tak semudah itu memercayai sesuatu yang tak kudengar sendiri, apalagi perihal cinta.
Ia mencintaiku, katamu? Ah, itu mustahil.
Ia, yang dipuja oleh setiap wanita karena segala yang ada padanya ialah indah dan sempurna, tak seharusnya memilihku; dan tak seharusnya mencintaiku.
Berapalah nilaiku dibanding nilainya? Aku, yang hanyalah setangkai bunga matahari yang tak lagi cerah dan memberi harapan, dan yang telah layu karena musim semi tak kunjung bertamu; tak layak bersanding dengannya, sang mawar merah yang agung, yang dicintai dan diingini oleh sejuta umat manusia di luar sana.
Mengenalnya dan dapat merasakan hangat hadirnya setiap hari, bagiku, pun sudah jauh lebih dari cukup. Apalagi mendapati diri yang serba kurang ini dicintai olehnya.
Namun, jika memang benar begitu adanya, aku merasa istimewa.
Kontemplasi perihal Cinta
Berbicara perihal cinta memang tidak akan ada habisnya. Kompleks.
Selama kurang lebih 2 dekade hidup dunia, lambat laun saya semakin memahami apa arti dari hal itu. Ah, tidak juga, sih. Sampai saat ini saya masih sering dibuat pusing tujuh keliling ketika memikirkannya, hehe. Tapi, di sini saya akan coba membagikan sedikit komtemplasi saya mengenai hal tersebut.
Umm, langsung saja. Singkatnya, saat ini saya sedang berjuang untuk melupakan seseorang. Seseorang yang selama beberapa tahun terakhir ini menjadi salah satu kawan karib saya dalam suka maupun duka. Kenangan bersamanya sudah cukup mengakar di pikiran dan hati saya. Aduh.
Dalam hal ini, yang menjadi salah satu faktor utama mengapa saya hendak melupakannya adalah karena hal itu memang tidak seharusnya terjadi; tidak seharusnya saya rasakan. Ohya! Saya lupa mengatakannya di awal. Memang apa yang saya rasakan? Hmm, ini masalah utamanya. Perasaan saya terhadap dirinya tidak lagi hanya sebatas sahabat, namun sepertinya sudah mengembang, memekar, menjadi jauh lebih besar dari pada itu. Aduh, lagi. Untuk yang kedua kalinya.
Ah, sebenarnya masalahnya banyak sekali. Pada intinya, saya harus segera melupakan perasaan dan cinta kasih saya terhadapnya karena simply dia tidak menghargainya. Afeksi tulus saya terhadapnya sering kali dibalas dengan hal-hal yang menyakitkan.
Pada awalnya, saya berusaha menerima. Memaklumi, lebih tepatnya. Saya mencoba berdamai dengan perasaan-perasaan sakit itu dengan dalih, “ah, mungkin kali ini mood-nya sedang buruk. Besok dia pasti akan kembali baik-baik saja.” Begitu seterusnya, berminggu-minggu, berbulan-bulan, saya tetap memaafkan dan mau diajak berkompromi.
Namun, tidak lagi untuk kali ini.
Saya pikir sudah cukup, lah. Capai juga rasanya. Alasan saya sempat bertahan selama berbulan-bulan adalah karena saya sempat berpikir (dan merasakan) jika dia juga mempunyai perasaan yang sama terhadap saya. Segalanya, semuanya, terlihat benar saat itu. Tetapi, pada akhirnya segala hal berubah menjadi mengecewakan.
Well, saya memutuskan untuk tidak menuruti perasaan saya sejak saya menyadari bahwa cinta love, itu tidak seharusnya seperti itu. Cinta yang sesungguhnya atau saya lebih suka menyebutnya kasih itu bukan seperti itu.
Love should be good. Love should be beautiful.
Segalanya tentang kasih itu baik; indah; sedap di hati, mata, maupun telinga. Kasih itu tidak menyakiti. Kasih itu real. Nyata, bisa dilihat dan dirasakan.
Kasih itu memberikan kedamaian. Ia lemah lembut. Ia murah hati. Kasih itu tidak abstrak. Ia tidak membuat kita bertanya-tanya.
Bukan sebaliknya.
After all, things mentioned above adalah beberapa hal yang dapat saya simpulkan mengenai kasih, mengenai cinta sejati. Jika kita mengaku sedang jatuh cinta atau menjalin hubungan dengan orang lain, namun yang kita rasakan adalah sebaliknya, kita perlu cek dan bertanya pada diri kita sendiri whether or not itu benar-benar cinta, atau semata-mata hanya ego satu sama lain yang terbungkus rapi oleh alibi berupa “cinta”.
Well, untuk saat ini saya sedang berdoa agar kiranya pada saatnya nanti dipertemukan oleh semesta dengan pribadi yang tepat; yang kurang lebih sesuai dengan list kriteria pasangan hidup yang saya tulis di awal tahun 2017 ini. (Anyway, menulis kriteria pasangan hidup itu penting, lho! Tulislah secara detail, ini akan membantu kita mengetahui pribadi yang bagaimana dan seperti apa yang sesuai dengan kepribadian kita, yang sekiranya mampu mengisi kelemahan-kelemahan kita).
Last but not least, sembari berdoa untuk seseorang yang masih tak tahu siapa dan di mana, mari kita juga sibuk mengevaluasi dan memperbaiki diri. Agar ketika nanti sang separuh jiwa datang, semua sudah berada pada puncak terbaik dari versi diri masing-masing.
Good luck! :)