Marta vs Maria
Dari dulu aku selalu bertanya, apakah salah marta sehingga Tuhan menegur dia? Dia rajin, tulus dan peka terhadap kebutuhan tamu di rumahnya. Sedangkan maria, dia hanya seorang yg NATO, dekat Tuhan tp tak mau turun tangan. Setelah ak sadari, maria atau marta bukan pilihan. Kita harus menjadi marta DAN maria. Karena Tuhan berkenan thd keduanya. Hanya, teguran Tuhan karena marta melupakan satu hal: EXPERIENCING GOD. Bagaimana rasa durian? Bagaimana menjelaskan durian kepada orang yang belum pernah sama sekali makan durian? Sebaik2nya orang menjelaskan, akan lebih afdol kalau si orang tersebut membawa durian dan meminta org yg belum pernah tsb u mencoba memakannya. Agaknya spt itu juga dgn mengalami Tuhan. Kita mendengar ttg Tuhan sudah ribuan kali mungkin. Dr kotbah, buku, quotes2 dan sebagainya. Tapi yg lebih afdol adl duduk diam di bawah kaki Tuhan dan mengenal Tuhan secara pribadi. Seperti apa si sifatnya? Sebagaimana Dia mengasihi saya? Apa kata Dia ttg saya, (bukan spt yg selama ini dunia katakan)? Apa maksud Dia menciptakan saya? Apa maksud Dia kasih saya masalah ini? Dan sejuta pertanyaan dan kegalauan yg ada di kepala kita. Yang dilakukan marta bukannya salah, tp dia sibuk sampai melupakan esensinya: Inti dari hidup adalah melayani Tuhan yg hidup, bukan melayani pekerjaan Tuhan. *ilustrasi: by pnt. Renza











