Pengalaman Tes Beasiswa LPDP BPI Magister Luar Negeri
Menulis ini karena lagi mood nulis dan karena beberapa hari terakhir ada beberapa yang bertanya mengenai kiat saya dalam mengikuti tes LPDP. Jadi saya mau nulis pengalaman saya saja walopun belum tentu kiat-kiatnya bermanfaat, tapi supaya kalau ada yang tanya saya bisa kasih link ini aja.
Oya, yang saya ikuti adalah tes Beasiswa LPDP BPI Magister Luar Negeri ya. Untuk tau detail jenis beasiswa yang diberikan LPDP bisa dilihat di web atau buku panduannya ya. Tapi intinya BPI adalah jalur regular dari seleksi beasiswa LPDP lah, karena ada juga seleksi dengan jalur afirmasi untuk mereka yang sudah berprestasi di bidang seni/olahraga sampai skala internasional dan yang dari bidik misi, serta ada jalur seleksi untuk mereka yang berasal dari daerah-daerah terdepan Indonesia. Nah kumulai saja, jadi begini ceritanya:
Nah yang pertama dari proses seleksi beasiswa LPDP adalah seleksi adminitrasi di mana kita harus menyerahkan beberapa dokumen seperti esai kontribusiku untuk Indonesia, esai prestasi terbesar dalam hidup saya, esai mengenai rencana studi, surat rekomendasi dari dosen (aku lupa bisa dari atasan di tempat kerja atau engga), surat keterangan sehat, surat bebas TBC dan Narkoba, sertifikat Bahasa (bisa dilihat di buku panduan apa aja persyaratan bahasanya, karena beda negara bisa berbeda persyaratannya), lalu surat izin mengikuti tes dari atasan di tempat kerja (kalau sedang bekerja saat mengikuti seleksi), dan surat pernyataan.
Beberapa kiat yang saya lakukan di tahap seleksi ini:
· Menyiapkan dokumen - Jujur saya sebenernya sudah menyiapkan dari jauh-jauh hari esainya karena emang udah pengen banget ikut tes LPDP. Tapi nyatanya saya juga baru selesai mengerjakan esai di Jumat Pagi 7 Juli 2017 yang mana hari deadline pendaftaran beasiswa LPDP. Karena menurut saya bikin esai itu sesuatu yang ga pernah selesai kalau ga ada deadlinenya. Walaupun sudah bikin beberapa draft rasanya ada aja yang kurang.
Menurutku penting untuk nyiapin dokumen-dokumen eksternal jauh-jauh hari karena banyak factor X yang mempengaruhinya wkwkw Saya minta surat rekomendasi dari dosen bulan April dan baru jadi bulan Juni, karena ya dosen itu sibuk di pekerjaan dan keluarganya, jadi musti spare time untuk kemungkinan ini. Lalu saat saya tes TBC masa iya dahak saya diilangin rumah sakitnya jadi saya harus ngasi dahak ulang. Nah in case ada hal-hal kaya ini, better untuk menyiapkan dokumen dari jauh-jauh hari biar kalo ada yang ga sesuai rencana bisa terantisipasi dengan baik.
· Menggunakan Bahasa Inggris dalam esai - Nah dulu saat mau daftar beasiswa LPDP, saya diberi tau teman saya kalau untuk yang ikut seleksi BPI Magister Luar Negeri, esainya harus dalam Bahasa Inggris. Tapi berita ini simpang siur sih, jadi saya cari aman dengan nulis esainya dalam Bahasa Inggris saja. Walau ternyata setelah keterima, ada juga teman-teman saya yang bisa keterima dengan esai yang menggunakan Bahasa Indonesia. Well mungkin, LPDP lebih memperhatikan konten esai kita ya daripada teknis bahasanya, menggunakan Bahasa Inggris mungkin hanya menambahkan informasi ke assessor bahwa kita bisa Bahasa Inggris.
· Second Opinion pada Esai - Lalu saya juga minta second opinion teman saya, walau baru minta juga beberapa hari sebelum deadline juga. Tapi second opinion teman saya bermanfaat banget untuk memperdalam konten esai saya, memberikan saran cara penyampaian saya, bahkan ada saran teknis mengenai grammatical error yang saya buat di esai saya. Jadi kalau kalian ada teman yang bisa diminta tolongi untuk ngasi second opinion dalam esai yang kalian buat ini mungkin akan lebih baik untuk memastikan kualitas esai.
· Be Real, Detailed but Compact, and Personal – Nah dalam esai itu, yang saya tulis bukan hal atau cita-cita yang muluk-muluk. Di setiap premis yang saya ajukan, saya berusaha memberikan bukti di track record saya bahwa ini memang benar kontribusi saya dan ini memang benar prestasi saya. Satu waktu ada teman saya yang curhat merasa prestasinya dan kontribusinya kurang OK, tapi satu keyakinan saya, bahwa prestasi dan kontribusi itu tidak hanya tentang apa yang kita lakukan, tapi juga bagaimana kita memaknai apa yang kita lakukan. Seorang anak yang berasal dari kondisi ekonomi pas pasan atau yang berasal dari kota kecil tentu saja memiliki perjuangan dan kontribusi yang berbeda dengan mereka yang berasal dari keluarga berkecukupan atau kota besar. Jadi ngga usah dibanding-bandingkan dengan teman yang lain, karena pun sepertinya LPDP juga menghargai dan melihat personalitas dari esai yang kita tulis, yang penting yang kita tulis bukan omong kosong, udah itu aja.
Oya untuk rencana studi buat sedetail mungkin kenapa mau belajar di universitas itu, kalau ada silabusnya masukin silabus kuliahnya tapi kalau gaada bikin sendiri aja dengan berdasarkan kelas-kelas yang ada di universitasnya dan spesifikasi yang ingin kalian dalami. Nah saya kan daftar London School of Economics and Political Science, kebetulan memang gaada silabus fixnya yang di satu dokumen gitu tapi bisa dilihat di websitenya mana mata kuliah yang compulsory dan mana yang optional, lalu ada berapa semester dan tanggalnya kapan aja, jadi saya bikin sendiri berdasarkan ini.
· Selalu cross check dengan buku panduan atau customer service LPDP bila diperlukan – Jadi sebenernya buku panduan LPDP itu udah lengkap banget, kita bisa daftar LPDP tanpa ikut seminar-seminar dan kelas persiapan LPDP de el el. Ikuti aja panduan dokumen-dokumennya formatnya seperti apa. Tapi kalau ada yang ga yakin silahkan tanya ke Customer Service saja biar infonya ngga simpang siur, soalnya kalau tanya ke grup-grup LPDP gitu infonya macem-macem (kebetulan di tahap ini saya juga belum gabung ke tahap LPDP apapun).
· DAFTAR AJA!!! – Saya ada beberapa teman yang sudah menyiapkan kelengkapan dokumen tapi akhirnya tidak daftar karena tidak yakin dengan apa yang disiapkannya. Saran saya daftar aja, siapa tau rejeki, toh yang menilai dokumen kita juga bukan kita sendiri. Karena kalau ga daftar ya tentu aja ga akan terproses. Sebenernya ini juga modal saya waktu itu, nekat daftar, walaupun akhirnya saya baru terdaftar jam setengah 12 malam di hari deadline (sebelum diumumin kalau deadlinenya diundur), karena saya baru ngurus surat izin atasan di hari itu juga (sebelumnya gatau kalau harus ada surat izin atasan, karena saya mikirnya resign aja kalau udah mau berangkat sekolah, tapi setelah telpon ke customer service ternyata tetep butuh, untuk manager saya baik mau ngasi tanda tangan walaupun waktu itu saya baru 3 hari kenal sama manager saya yang kebetulan baru) dan karena saya baru pulang dari kantor jam 9 malam, selesai scan dokumen setengah 10-an, lalu website LPDPnya agak agak error juga karena traffic yang tinggi. Tapi ya Alhamdulillah terdaftar.
2. Tes Psikologi VMI dan 15FQ
Hmm Sejujurnya saya ngga bisa ngomong banyak di bagian ini. Karena mulai tahap ini saya modal ngerjainnya bondo nekat saja hehehe.. Kebetulan pas bulan Agustus itu saya pas sakit-sakitan jadi beberapa kali ke dokter. Plus kerjaan juga lagi banyak jadi ga sempat untuk nyiapin banyak. Waktu itu yang saya lakukan adalah
· Minta tips and triks ke teman yang udah ikut Tes Psikologi VMI dan 15FQ LPDP – Jadi yang pertama ngerasain seleksi ini adalah peserta seleksi Beasiswa LPDP Dalam Negeri, jadi saya ngontak teman saya yang sudah mengikuti seleksi ini. Sambil nunggu antrian ketemu dokter, saya ngobrol sama dia yang alhamdulillah masukannya ngasi pencerahan. Pencerahannya adalah, jadi LPDP itu kan punya jiwa, semangat, dan kepentingan tertentu yang pengen dia bawa melalui beasiswanya, jadipun LPDP juga mencari kandidat dengan kesesuaian jiwa, semangat, dan kepentingan itu. Tapi ya saya bukan anak psikologi atau sosiologi yang paham dengan teknis hal ini, tapi prinsip saya ya jujur aja ngerjainnya, karena kalau kita buat-buat saat ngerjain akan beda saat seleksi substansi dan justru bisa ngejatuhin kita.
· Nyari Info tentang VMI dan 15FQ – Jadi karena waktu itu saya bener-bener gatau ini tes psikologi macem apa, soalnya belum pernah ngerjain. Jadi ya saya coba-coba nyari di google kirakira ini makanan macem apa hahaha lalu saya baca oh ini tujuannya ini (jujur sekarang saya udah lupa detailnya, jadi kalau pengen tau silahkan cari di google aja)
· KERJAIN AJAA!! – Jadi waktu tes ini itu diundur dari jadwal semestinya, dan karena diundur saya kebetulan pas lagi repot banget kerjaan di kantor. Rencananya ngerjain sebelum berangkat ke kantor karena kalau udah di kantor pasti ga kepegang, tapi ternyata ga sempat juga ngerjain sebelum berangkat. Waktu itu saya masih meeting sampai malam di kantor untuk ngerjain laporan riset, lalu sekitar jam setengah 9 malam gitu, ketika Direktur saya minta break bentar biar kepala ga panas, saya bilang ke temen saya kalau hari ini saya ada tes psikologi LPDP dan belum ngerjain. Lalu temen saya langsung marahin saya karena saya ga boleh ngelupain cita-cita saya hanya karena kesibukan kerjaan (Makasih Kak Dhila dan Kak Kara heuheu :*). Jadilah saya izin bentar ke meja saya, ngerjain tesnya, ga sempat untuk teliti banget sih tapi setiap pertanyaan saya baca sebaik mungkin. Saya nyelesainnya kalau ga salah dalam 30 menit, setelah selesai lalu saya meeting lagi. Hahaha. Pokoknya seperti empat kali empat sama dengan enam belas, sempat tidak sempat harus dibalas (lheeeeee hahahahaa), intinya kerjain ajaa wkwkwk
Nah LOL momentnya saat di seleksi tahap ini, saya bener-bener pasrah banget karena ngerti saya ga melakukan banyak persiapan dan saya belum gabung ke grup-grup persiapan LPDP. Sengaja belum pengen gabung karena ga pengen nervous aja. Jadi saya gatau kapan pengumuman tesnya, lalu tiba-tiba suatu hari temen saya yang ikutan tes juga tanya gimana hasil tes saya, lalu saya tanya “lhah emang udah keluar?” “udah maaaa” lalu saya lihat hasil tes saya Alhamdulillah masih diberi kesempatan melanjutkan ke tahap selanjutnya. The perks gatau kapan pengumumannya adalah jadi ga begitu nervous hihihi, dan saat buka udah ga error websitenya soalnya orang-orang udah pada selesai lihat aku baru lihat wkwkwk
Persiapan saya untuk seleksi ini mirip-mirip dengan tes psikologi jadi waktu itu 2 minggu sebelum tes, saya opname dan harus pulang ke kampung halaman untuk cek-cek kesehatan lebih jauh supaya kalo perlu opname lama saya ada yang jagain. Tapi alhamdulillah ternyata sakit saya ga separah itu ga sampe butuh istirahat lama dan bisa langsung balik kerja ke kantor. Kebetulan pas minggu itu saya juga hectic banget, yang bahkan saya harus kerja di weekend karena ada fieldwork riset, dan harus business trip ke Medan selama 4 hari. Udah ngeprint essay buat dipelajari tapi akhirnya ga bener-bener kebaca karena setiap pulang kerja udah capek banget. Bahkan di weekend sebelum tespun saya udah niat belajar tapi nyatanya malah nonton drama korea The Heirs episode 1 sampai 20 wkwkwkwk (I was crazy, I knew it) karena saya bener-bener ngerasa physically dan emotionally drained banget, bener-bener lagi butuh me time. Tapi hal-hal yang saya lakukan untuk mempersiapkan diri adalah
· Gabung ke grup persiapan LPDP : Jadi karena kebetulan temen saya yang selalu ngasi info penting dari grup ini sudah keterima beasiswa AAS (dari pemerintah Australia) dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari proses seleksi beasiswa LPDP, jadi mau gamau saya perlu gabung biar ga ketinggalan info-info penting. Dan Grup ini sangat sangat PARADOKS. Di satu sisi bermanfaat banget karena banyak yang share info-info penting dan bermanfaat tapi di satu sisi bikin jiper ngelihat persiapan yang lain sementara saya seadanya banget. Tapi kalau kalian merasa perlu latihan bareng-bareng untuk wawancara, LGD, dan essay on the spot, grupnya memang sangat bermanfaat gaes.
· Minta Tips & Trik ke temen yang udah ikut tes Substansi LPDP : Nah karena saya gabisa buka laptop pribadi tapi masih bisa dong buka hp di sela-sela kesibukan kerjaa, saya kontak temen saya yang udah ikutan tes ini dan minta tips and trik mereka (Makasih ya Mba Liya dan Dikaa lovelove). Tips and trik mereka intinya sama ini, ini kira-kira isinya:
o Jangan Mendominasi saat LGD, cukup ngomong maksimal 2 kali saja yang penting pendapatnya substantive
o Harus Paham dengan LPDP dan tujuan-tujuannya, karena tentu aja mereka akan cari penerima beasiswa yang mau menjadi agen dalam mewujudkan cita-cita LPDP
o Banyak-banyak keep up dengan berita nasional maupun internasional terbaru supaya bisa punya substansi bagus di esai dan LGD.
o Banyak baca esai yang kita buat karena akan dilihat kesesuaiannya dan akan banyak digali dan dichallenge tentang apa yang udah kita tulis.
· Mikirin kira-kira pertanyaan apa yang ditanyain dan coba draft jawaban kita – Ini bukan untuk mengada-ada jawaban, tapi agar penyampaian kalimat kita lebih terstruktur. Saya sendiri memang orang yang sering butuh nulis dulu sebelum ngomong biar omongannya ngga ngemeng dan muter-muter. Saya ga bikin banyak sih tapi ya lumayanlah ngebantu, karena kebetulan pertanyaan yang diajukan pewawancara ada yang sama dan ada yang beda dengan yang saya siapkan.
· Latihan Wawancara dengan teman – Nah Alhamdulillah ada teman saya yang mau bantu berakting jadi pewawancara. Saya ngasi mereka list pertanyaan yang mungkin ditanyakan (saya dapet dari grup telegram LPDP Jakarta dan Luar Negeri 2017) lalu mereka nyoba tanya itu ke saya. Dan saat latihan ternyata benar, saya ngomongnya muter-muter njelimet dan kurang diplomatis. Kebetulan temen saya ini yang lolos beasiswa AAS itu dan satu lagi yang baru saja lolos seleksi pekerjaan di NGO ter-oce di Indonesia, jadi masukan mereka bermanfaat banget untuk develop saya
Nah kebetulan saya dapat jadwal 2 hari, hari pertama LGD dan Essay On the Spot. Lalu hari kedua verifikasi dokumen dan wawancara. Kita bisa tau kelompok Essay dan LGD kita sebelumnya kayanya, tapi saya baru tau di hari H.
· Waktu itu Alhamdulillah saya dapat pertanyaan essai yang lebih filosofis dibandingkan yang issue-based gitu jadi lebih aman untuk diakali lah ya kalau pengetahuan kita pas-pasan di topiknya. Saat itu saya milih topik tentang bagaimana di setiap pergantian kepemimpinan itu muncul potensi konflik di dalam masyarakat. Lalu argumen saya adalah potensi konflik ini muncul karena kita belum bisa menilai dengan baik tentang apa yang sebenarnya kita perjuangkan. Pemilihan pemimpin baru bukan tentang siapa yang akan jadi pemimpin, bukan tentang dia golonganku atau golonganmu, bukan tentang menang atau kalah, tapi tentang satu wilayah atau tujuan yang kita perjuangkan bersama-sama dan hasilnya seharusnya adalah kemenangan semuanya. Waktu itu saya memberi contoh tentang pemilihan di DKI Jakarta, saya menulis seperti ini, ‘This is not about Ahok or Anies, This is about the prosperity and welfare of millions of people who live in Jakarta and many more millions that commutes in and out of Jakarta everyday to make a living’
· Nah saat itu kelompok kami dapat topik tentang rencana perubahan peraturan mobil yang dapat digunakan di Indonesia dalam rangka mengurangi emisi karbon sebagai bentuk komitmen menepati kesepakatan pengurangan emisi di dunia. Saat itu kelompok saya tidak ada janjian sebelumnya siapa mau ngomong duluan siapa jadi moderator, jadi saat kita di dalam kerasa agak bingung dan orang cari kesempatannya untuk ngomong harus siap-siap nyela gitu biar ga keduluan yang lain. Tapi waktu itu saya milih untuk diem dulu aja dengerin pendapat yang lain sambal ngecek mana draft argument saya yang sudah disebutkan dan mana yang belum disebutkan biar ga ngulang, sambal take notes tentang pendapat mereka biar saya bisa kasi feedback ke pendapat orang juga. Ngelihat dinamika groupnya, sebenernya saya pengen ngomong terakhir aja, tapi yang duduk di sebelah saya kayanya nervous lalu setelah dia selesai menyampaikan pendapatnya dia bilang gini “Okay that’s my opinion, now my partner will also convey her opinion” sambil lihat saya padahal yang di sebelah doi udah keliatan mau ngomong gitu dan rada sebel sama doi karena gitu. Saya sendiri juga kaget tapi saya senyum aja sambil ngomong “well okay, thanks for the chance” lalu saya ngerekap sedikit pendapat orang-orang (karena saya rencana pengen ngomong terakhir lheee) dan point out apa yang saya sepakati dan menambahkan poin saya yang belum disampaikan orang-orang. Lalu setelah saya menyampaikan pendapat, ada diskusi-diskusi lagi.. ketika suasana agak tenang gitu, saya ambil kesempatan untuk menyampaikan pendapat lagi dan saya juga nge-challenge pendapat orang lain yang menurut saya kurang tepat tapi tentu aja dengan saya kasih solusi di argumen saya, tanpa ada satupun niat untuk ngejatuhin dia. Lalu fasilitatornya bilang waktunya hamper selesai dan 1 orang gitu take a conclusion on our discussion.
Nah ini sebenernya saya deg-degan banget sebelum wawancara, nyesel ga belajar banyak (penyesalan selalu datang belakangan), mau baca esai juga rasanya detak jantung makin ga karuan. Jadi apa yang saya lakukan? Saya muter lagu I’tiraf dan memang sangat calming gaes. Nginget ini bukan apa-apa, ada lebih dari sekedar LPDP. Nah karena saya datangnya sesuai jadwal, sementara jalannya wawancara ternyata ga sesuai jadwal banget karena ada yang ga dateng wawancara, saya jadi terkesan telat gitu dan jadi dapet kesempatan wawancara paling terakhir di hari itu. Baru mulai jam setengah 6 dan selesai 6.15 kalo ga salah. Wawancara saya full dilakukan dalam Bahasa Inggris, dan pewawancara saya adalah dosen dari Universitas Airlangga, Universitas Indonesia, dan Universitas Dr. Moestopo.
Nah sebelum wawancara mulai, mereka cerita dulu mereka capek banget karena udah wawancara orang banyak banget dan aku yang terakhir. Lalu aku menyampaikan simpati aja untuk yang mereka lakukan, “wah begitu saya, ngga papa pak bu, terima kasih masih bersedia mewawancarai saya.” Lalu mereka izin untuk baca resume dan esai saya sebentar dulu untuk warm up ingatan mereka, dan saya memanfaatkan waktu ini untuk baca Al Fatihah sebanyak-banyaknya. Melihat mulut saya komat-kamit mereka bilangin “Rahma kamu jangan nervous santai aja” lalu saya senyum senyum “iya bu saya ngga nervous kok” tapi saya gabilang kalo lagi komat-kamit baca Al Fatihah dan saya lanjutin aja baca Al Fatihah terus (soalnya inget banget dulu guru ngaji saya ngajarin banyakin Al Fatihah kalau lagi tes sesuatu gituu)
Kira kira pertanyaan dan jawaban saya seperti ini (berdasarkan ingatan saya yang banyak lupanya)
Q : Rahma, you haven’t got Letter of Acceptance right, tell me how you will get that?
A: Well, I have to submit my application. Currently my academic qualification has fulfilled their minimum requirement but I know that still doesn’t ensure that I will be accepted so I will strive in making best essay and get recommendation letter to be accepted.
Q: Rahma, tell me why do you choose this university, why in this country, why not other region?
A: I have several reasons why I want to study in LSE, first this department applies critical perspective on studying development that will enable me to talk about the perspective of developing country like ours, it has many implementative courses so that I won’t be trapped in theoretical debate but also learn the practical skill that help me being expert in the field I want ..
(lalu mereka motong argument saya)
Q: Rahma you speak English so fluently but it’s too fast I can’t clearly comprehend your points; can you please speak slowly?
A: I’m sorry it’s out of my habit, I tend to speak in rather faster pace than others, but I’ll try to speak slowly sir
(lalu dia langsung move on ke pertanyaan yang lain)
Q: Rahma, tell me what is your contribution to Indonesia?
A: I have started contributing ever since I was in high school, I was giving free English courses to my neighbor and I tutor some students in the area to do better at their study. Upon entering university, I was active in promoting higher education for students in Kediri in which the awareness of higher education still low. I was also active in advocating students in UI to solve financial issue that may hamper their study by promoting scholarships and advocating for school fee reduction in the university. Even when I was in Korea for student exchange I was active promoting Indonesian Culture to Korean Children and Society and I taught Bahasa Indonesia to Korean College Students. Currently I also found a youth organization in my hometown to spread literacy in Kediri (Koreksi dari diri saya sendiri: bagi saya cara saya menjawab ini masih jelek, seharusnya saya bisa menjawab lebih ringkas dengan mengelompokkan kontribusi saya)
Lalu satu pewawancara itu pergi ke toilet dan ga balik balik (agak suuzdzon jangan-jangan jawaban saya se ga menarik itu sampe bapanya ga mau dengerin saya huhu), lalu ganti ibunya yang tanya
Q: Rahma, what do you think about Indonesia?
A: I think Indonesia is a country with a big heart, where else would you find a country where people will delightly go do their work even with knowledge that they are not going to get much, I see teacher going to school happily, clerical worker do their work diligently, sellers in the traditional market goes in the early morning, my heart feels bigger and touched seeing that. Well even though having too big heart is a bit problematic since we forgive people too easily, see how our country forgive Japan and Netherland for their colonial sin to us, and see how South Korea are still angered with the colonial crime, we can reap more if we are angry toward Japan and Netherland, but well where else would you find people who still feel blessed and smile happily despite the hard reality they face everyday. In addition, as currently I work as researcher, I met youngsters in Jakarta and got to understand them deeper. I saw there is positive change in our youth especially for higher economic classes, more people want to be entrepreneur, more people want to work harder, the nationalism spirit is on the rise, thus if there is someone who says our country will be big in the next 10 years I absolutely believe that.
Q : And how do you see yourself contributing to Indonesia after you graduate from your master study?
A: I will be become expert practitionaire in NGO and I will become scholar in the discourse of International Development. I see this role as critical considering abundance of national and international NGOs operate in Indonesia while their contribution is still yet to be known whilst these organization don’t operate in vacuum of interest, I want to help national NGO to get more funding so they can have more empowerment activities whilst guarding the interest of international NGO to clash with Indonesia interest
Q: Which NGO that you mean? Give real example on that
A: For national NGO, I’d say like _____ (saya sembunyikan namanya ya) their main funders are private companies but there are a lot of opportunities to get funding from Official Aid too but many local NGOs aren’t capable enough in fulfilling abundance requirement set by official aid. Meanwhile for the international NGO, I’d say it ___ . They have operated in Indonesia for 50 years but have we looked into their influence to Indonesia? Not yet, so I want to be pioneer on that.
Q: You said you want to be expert in NGO, but currently you are working in market research agency, this is unconnected right?
A: No mam, this is actually connected. Before I entered my current company, I have had strong interest on NGO and International Development Issue. I entered this company because I could learn about research, translating research into practical recommendation, and I could meet many Indonesian people to understand them closer. This is actually what I want to do as expert in NGO and Scholars. I want to also empower NGO with research to ensure all activities are well-targeted and develop literature regarding NGO from Indonesian point of view
Q: Say if you are offered to be government workers, would you like to do that?
A: If you mean it is as PNS, then may be not for now. I want to contribute to Indonesia through empowering NGO and research as I am more interested in this
Q: But you can also contribute by being government worker right?
A: Well mam, I don’t deny that, but if I become government worker I will have to spend a lot of time walking the administration ladder to actually make my opinion heard and contributing on decision making, but now even I am still fresh graduate I can influence decision making process via research. May be some day later when I have become expert and say I am offered a position in the government that fits my expertise then I will consider that
Q; So you are a big fish in small ponds, you don’t go for bigger sea for challenge?
A: Well at least this is how I start, from smaller ponds
Q: Now tell me about your family?
A: (cukup saya, pewawancara, dan Allah yang tau :P)
Q: How do you feel about your family?
A: (cukup saya, pewawancara, dan Allah yang tau :P)
Q: okay that’s all Rahma. Thank you for today, I wish you go achieve your dream
Q: Rahma you feels like firework. You are small but I feel your energy is really big
Dan begitulan sesi wawancara saya selesai.. saya pulang dengan senyum sih, tapi waktu itu kebetulan saya pulang bareng dengan satu orang yang baru saya ketemu saat tes dan ada satu hal yang dia katakana dan bikin saya berkecil hati.. setelah saya evaluasi kayanya wawancara saya juga ga begitu bagus jadi bener-bener gamau mikir apa apaa
Pasca Seleksi dan Menunggu Pengumuman
Setiap saat ada yang tanya Rahma gimana tesnya, kirakira gimana hasilnya, saya cuman jawab “saya gatau, saya ga mau nebak-nebak” jujur saya takut banget berharap. Karena saya dulu itu anak yang sangat – sangat ambisius dan kalau ambisi saya ga tercapai saya sering ngerasa down banget. Jadi saya dari awal ikut tes LPDP sudah saya niati ikhlas apapun hasilnya, saya cuman usaha saja, menjalani porsi saya sebagai manusia yang memiliki kewajiban untuk berusaha, tapi saya tidak mau menarget diri saya hasilnya. Kalau keterima ya Alhamdulillah, kalau ngga ya berarti saya coba beasiswa lain. Saya juga berusaha banget mengatur ekspektasi dan menjaga hati, saya ga mau ekspektasi saya merusak persepsi saya atas hasil apapun itu yang sebenarnya lebih baik dari rencana saya. Saya benar-benar tidak mau memaksakan kehedak saya, dan percaya Allah sudah Maha Mengetahui mana yang terbaik. Dalam doapun saya juga tidak minta untuk diloloskan, saya hanya selalu meminta agar hati saya dikuatkan untuk menerima apapun hasilnya, untuk tetap berbesar hati saat tidak diterima dan tidak meninggi apabila diterima.
Selama menunggu saya banyakin saja nyebut “Hasbunallah wa ni’mal wakil, Ni’mal Maula wa ni’mal natsir” Cukuplah Allah untuk saya dan baca Hauqolah biar selalu yakin dengan kehadiran Allah di setiap langkah yang saya jalani dan hal yang saya usahakan.
Selain itu sebenarnya, saat itu saya juga sedang merasa malu sekali sama Allah karena iman saya sedang turun kualitasnya jadi saya ngerasa malu untuk minta macem-macem ketika saya bahkan belum menjadi hamba yang cukup baik. Jadi yasudah perjuangkan dengan ikhlas, sabar,dan syukur, sudah cukup itu saja.
Lalu datanglah hari pengumuman setelah diundur 5 hari.. dan saat itu saya lagi setting fieldwork di luar kantor, rasanya takut banget buka hasilnya. Lalu setelah sholat ashar dan minta kekuatan untuk Ikhlas apapun hasilnya, memberanikan diri untuk buka website, dan alhamdulillah diterima. Terus terang sampai PK rasanya masih surreal, karena saya merasa tidak cukup pantas untuk itu..
Bagaimana ya.. kalau orang baca cerita pengalaman saya, mungkin cukup keliatan bahwa sangat-sangat banyak orang yang lebih berusaha dibandingkan saya, lebih panjang doanya dibandingkan saya, yang jauh-jauh lebih baik dari saya secara personality dan achievement.. Jadi saya bener-bener ngerasa ini bukan karena saya cukup baik untuk dapat LPDP, tapi kasih sayang Allah yang mengizinkan saya mendapatkan beasiswa ini. Dan saya pun masih tidak pernah tau, kasih sayang Allah ini disebabkan oleh apa, apakah ibu saya yang setiap malamnya mengirimkan doa untuk saya, apakah tukang sapu di STAN yang saya sapa untuk bertanya dimana letak tesnya lalu setelah menjawab pertanyaan saya beliau mendoakan saya, atau karena Allah melihat perjuangan saya di hal-hal yang lain.
Well kita tidak pernah tau, usaha kita yang mana yang berhasil, doa kita yang mana yang akan dikabulkan, tapi keduanya sama, perbanyaklah.