Halo sodara-sodara. Jadi sekarang saya mau ngikutin kerjaan Kang Soleh Solihun. Bikin sesi interview. Sebetulnya awalnya pengen ngikutin Mas Adriano Qalbi, bikin podcast, tapi saya sadar kalo saya bikin podcast sendirian, artinya ngomong sendiri tanpa ada lawan bicara, hasilnya membosankan.
Maka dari itu saya mulai hobi merekam percakapan-percakapan ketika lagi nongkrong. Sejauh ini sudah ada dua percakapan nongkrong yang saya rekam dan lalu upload di soundcloud. Nah, bersama Ghani ini rencananya jadi episode ketiga.
Kamis malam, 14 September 2017, saya mampir ke Warung Sosial di Jalan Gakgak. Di situ lah akang Ghani bersemayam, di warung nongkrong yang ia kelola bersama empat kawannya yang soleh-soleh (anak-anak DKM).
Ini nih penampakan Ghani Ruhman di Warung Sosialnya.
Jadi si Akang ini ceritanya mau melanjutkan kuliah di belahan bumi lain. Terus yaudah, sebelum dia pergi, saya sebagai kawan menyempatkan diri bersilaturahim sambil cari konten.
Sebagai sama-sama mahluk yang sudah melepaskan status mahasiswa kurang lebih setahun, pertanyaan pertama saya kepada Ghani adalah: “S2 deui teh meh naon, Ghan?”
Kemudian Ghani menjawab. Menjelaskan bahwasanya ini sudah rencananya dari sejak SMA. Tapi, kalau untuk S2 jurusan apa dan di mana, Ghani baru mulai serius cari-cari pas tingkat tiga.
Gilak ya, visioner sekali memang. Obrolan pun berlanjut. Saya bertanya lagi sama dia, “kenapa mau masuk STI (Sistem dan Teknologi Informasi) ? dan ambil S2 dengan jurusan yang sama?”
Dengan mantap Ghani menjawab pertanyaan ini. Jawaban yang sebenarnya gagal saya pahami. Wkwk. Intinya begini dia bilang: “Di Indonesia ini kan teknologi masih baru banget berkembang. Dan ke depannya perlu ada regulasi-regulasi yang mengatur itu. Mengatur bagaimana manusia berinteraksi dengan manusia lainnya melalui teknologi. Aing pengen suatu hari ikut terlibat dalam membuat aturan-aturan tersebut.”
Bener gini gak sih, @ghanir jawabannya? paling tidak itu yang saya tangkap sih. Terus saya mikir sebentar. Mungkin ini apa yang membuat Ghani bisa melangkah jauh. Dia punya tujuan yang jauh ke depan dan cita-cita yang cukup besar.
Ketika saya ingat lagi, apa cita-cita saya? Saya ingat dulu waktu osjur setiap ditanya cita-cita saya apa jawabannya selalu konsisten: Tukang Martabak. Dan sampai hari ini belum ada tanda-tanda mimpi itu hendak terwujud.
Oke, kembali ke ngobrol-ngobrol. Jujur saya penasaran, dulu saya waktu masih sekolah nggak kepikiran lho mau jadi apa atau kalau udah gede mau ngapain. “Kenapa maneh [Ghani] bisa kepikiran mau jadi apa yang tadi udah disebutin? Maksudnya kenapa anak SMA bisa mikir ke sana gitu?”
“Karena ada sosok panutan sih, yang juga membukakan pikiran ketika masih SMA, bisa dibilang ada yang mengarahkan, dan pas urangnya juga minat.”
Hmm, setuju. Mungkin gak semua orang punya sosok panutan gitu. Tapi sesungguhnya itu penting, sebagai pengingat ketika kalau-kalau kita anak muda hilang arah, gak tahu mau ngapain.
Pembicaraan berlanjut, topiknya tentang LPDP. Program beasiswa dari Kementrian Keuangan. Sesungguhnya jika tanpa beasiswa, sekolah di Eropa tentu terlalu mewah bagi kami kaum menengah. “Seleksi LPDP ngapain aja, Ghan?”
Terdengar awam sekali memang pertanyaan saya, tapi yasudahlah. Ghani menjawab pertanyaan saya dengan sabar. “Selain seleksi berkas, ada seleksi esai sama wawancara.”
“Seleksi esai ngapain?” Lagi-lagi pertanyaan super awam. Untung Ghani paham maksudnya.
“Ada tiga esai yang mesti dibuat. 1. Cerita tentang kesuksesan terbesar dalam hidup, 2. Kontribusi untuk Indonesia, sama yang terakhir, 3. Rencana studi.”
Saya diam sebentar, mikir. Andai kata harus membuat esai tersebut, apa yang akan saya tulis ya? Rasanya saya belum pernah merasakan kesuksesan. “Terus maneh tulis kesuksesan terbesar maneh apa? Secara maneh kan banyak banget nih prestasi selama kuliah.”
“Kesuksesan terbesar aing? Aing tulis masuk ITB lah.”
Saya praktis tertawa. Bukan karena jawabannya lucu atau gimana, tapi saya jadi tahu apa yang bisa saya tulis nanti kalau harus menulis esai serupa. Dari sederet prestasi yang dia dapat waktu kuliah, dia memilih untuk menulis masuk ITB sebagai kesuksesan terbesarnya. Sejujurnya itu membesarkan hati saya yang selama kuliah hidupnya minim prestasi. Pertanyaan selanjutnya terkait esai kedua. “Kalo kontribusi sama negara? Maneh nulis apa? Bayar pajak gitu?”
“Nggak lah. Aing nulis tentang Beet.”
Satu kalimat tapi saya paham yang dimaksud Ghani. Jadi Beet itu adalah sebuah, apa ya? Grup berisikan Ghani dan beberapa orang lain dari jurusan yang sama (Hidup STI!), lintas angkatan. Semacam grup konsultan begitu. Karena sudah cita-cita Ghani untuk suatu hari membuat grup konsultan sendiri, jadi dia menginisiasi dari sejak masih kuliah.
Sebenernya kami ngobrol cukup banyak. Kesana kemari, ngaler ngidul. Sampai nggak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Kurang lebih sudah 2,5 jam kami mengobrol.
Pertanyaan terakhir dari saya adalah, “Maneh pergi ke Inggris, gak ada cewe yang baper, Ghan?”
Ghani cuman ketawa. “Nggaklah harusnya. Selama kuliah aing fokus ke kuliah sama kegiatan lain. Sengaja nggak nyari gebetan atau semacamnya.”
“Tapi kalo ada anak farmasi naksir tahu, Ghan?”
Dia ketawa lagi, agak keras. “Tahu kalo itu.”
“Tahu dari? Aing gak pernah cerita apa-apa kan?” Saya mengonfirmasi. Karena saya merasa tidak pernah menyinggung hal ini sebelumnya.
“Dari Monik. Sekosan sama Monik, pan?”
Meledaklah tawa kami berdua malam itu. @monikasembiring memang suka ember. Wkwkwk. Habis pertanyaan itu, saya kemudian mengecek hape. Dan ketika itu saya sadar. Percakapan dua jam setengah tadi gak kerekam. Fak! Hari ini gagal dapat konten buat podcast episode ketiga.
Akhirnya pas sampai di rumah saya memutuskan untuk menulis saja hasil ngobrol-ngobrol tadi. Ternyata menulis itu butuh effort lebih ya. Oh ya, sekarang tanggal 25, harusnya Ghani hari ini sudah terbang ke Inggris. Maaf Ghan saya tidak bisa mengantar ke bandara.
Hari jum’at kemarin secara tidak sengaja ketemu lagi sama Ghani di gelap nyawang. Seperti kebiasaan kami semasa kuliah dulu, kalau ke nyawang belinya soto betawi. Di situ ada Chops yang habis sidang, plus @almuwahidan yang insya Allah segera sidang. Gosip terakhir sih katanyai Ghani lagi deket sama anak FKG. Benar atau tidak? Wallahua’lam. Bagi para penggemar Ghani, sebenarnya inti dari postingan ini adalah kalimat barusan.
Sepertinya sudah dulu ya. Nanti kalau Ghani sudah pulang dari Inggris tahun depan insya Allah saya ajak ngobrol-ngobrol lagi deh, dan saya pastikan kerekam dengan baik.