Hari ini akhirnya saya menonton film yang sepertinya disambut dengan gegap gempita tepat hari Natal 2012 lalu. Memang sudah ada banyak film Les Miserables, namun hanya ini yang diadaptasi dari musikal panggungnya. Sebagai salah satu penggemar musikalnya, saya tentu dengan senang hati menyambut kesempatan untuk menonton sekali lagi meski dalam medium yang berbeda (dan harga yang lebih murah. Hehehe).
Di zaman social media yang semua orang bisa melontarkan pendapatnya kepada banyak orang dengan mudah, saya tidak bebas dari sekian banyak review baik dari sumber yang kredibel maupun opini awam. Review itu sedikit banyak memberi semacam peringatan kepada saya tentang apa yang menanti waktu saya nanti menonton film ini. Mereka bilang Anne Hathaway memukau dan mampu meremukkan hati penonton dengan akting dan suaranya. Mereka bilang Russell Crowe tidak bagus dan sangat disayangkan film ini mengambil banyak close-up dirinya. Mereka bilang Hugh Jackman bisa diandalkan. Mereka juga bilang Samantha Barks dan Eddie Redmayne adalah dua pendatang baru yang patut diperhitungkan sementara Amanda Seyfried tidak terlalu mengesankan. Tapi saya berniat mengesampingkan semua ulasan itu ketika menonton dan menilainya sendiri. Dan berikut adalah pendapat saya tentang film ini.
Pertama-tama, film ini menurut saya adalah adaptasi yang baik dan setia. Karena musikalnya sendiri berbentuk operetta yang berarti hampir tak ada kata-kata selain yang dilagukan, film ini pun tidak punya banyak dialog selain lewat lagu-lagunya. Pastilah ada tambahan dialog agar cerita bisa lebih masuk akal dan berjalan lancar sebagai suatu film, tapi tambahan itu tidak mengganggu.
Adegan-adegan awal film ini menjanjikan gambar-gambar indah, mulai dari adegan kolosal para narapidana di galangan kapal, perjalanan Valjean (Jackman) mencari pekerjaan dan kehidupan baru setelah dibebaskan bersyarat dari penjara, hingga ketika ia melemparkan sobekan-sobekan surat lapor dirinya dari atas puncak bukit dan bertekad menjadi manusia baru. Visual yang menarik hadir di beberapa bagian lain seperti ketika Javert (Crowe) menatap langit sambil bersumpah akan menangkap Valjean, area markas para pemuda pejuang revolusi tempat mereka mendirikan barikade nantinya, dan adegan ketika Javert melemparkan dirinya dari atas jembatan. Sering nuansa hyper-reality muncul di gambar-gambarnya. Memang secara visual, apalagi yang berhubungan dengan alam, film ini tidak mengecewakan, meski tidak bisa dibandingkan dengan katakanlah Life of Pi.
Saya pikir film ini memilih untuk mengambil gambar secara close-up untuk sebagian besar lagu yang ada, terutama yang dibawakan secara solo. Meski ada orang-orang yang sepertinya keberatan dengan pilihan artistik ini, saya sendiri melihatnya sebagai sesuatu yang menarik. Dengan teknik ini, pihak pembuat film seakan berusaha menghadirkan sejelas-jelasnya emosi para tokoh ketika bernyanyi, sesuatu yang tidak bisa dilakukan ketika kita menonton pertunjukan di panggung. Di versi panggung, kita melihat aksi dan akting mereka sebadan, suatu kesatuan. Jadi saya memandang teknik close-up ini sebagai pendekatan yang lain dan unik, yang membedakan dengan versi panggungnya. Dan bagi saya ini juga cara jitu menguji kemampuan para aktornya membawakan karakter dan lagu-lagu mereka. Yang bagus akan menjadi penguasa adegan-adegan close-up ini, sedangkan yang buruk akan terlihat oh sungguh tak mampu. Hehe.
Satu hal lagi yang menarik adalah bagaimana film ini dikatakan memakai sistem rekaman langsung, dalam artian para aktor harus bernyanyi live sekaligus berakting. Jadi tidak ada playback hasil rekaman di studio yang diputar untuk lipsync saat pengambilan gambar. Saya tidak bisa sunguh-sungguh membayangkan efeknya sampai saya mendengarnya sendiri. Yang didapat adalah suara yang lebih sarat emosi, yang benar-benar terkoneksi dengan apa yang terjadi di adegan tersebut. Dalam versi panggung, cara ini jelas tak punya kedudukan istimewa sebab itulah satu-satunya cara: para aktor di panggung harus berakting sekaligus bernyanyi dan menari (it’s a musical theatre, isn’t it?). Tapi untuk film, saya rasa cara ini membuat lagu-lagu yang ada lebih bermakna dan mengena. Tidak ada ruang antara emosi berakting dengan emosi lagu, keduanya jadi satu. Misalnya adegan Fantine (Hathaway) menyanyikan “I Dreamed A Dream” setelah pertama kalinya harus mengorbankan kehormatannya dengan menjadi pelacur. Saya sukar membayangkan rekaman suara di studio tanpa sambil melakukan adegan itu bisa memberikan emosi sedemikian rupa (dan adegan itu tidak akan menjadi salah satu adegan terbaik dalam film ini). Imajinasi saat rekaman bisa saja hebat, tapi tetap tak bisa mengalahkan emosi yang timbul ketika memainkan adegan tersebut dan apa yang dibayangkan saat rekaman di studio bisa jadi tidak cocok dengan emosi yang dibangun saat pengambilan gambar. Saya jadi berharap semua film musikal mulai sekarang akan menggunakan pendekatan rekaman langsung ini.
Beralih ke penampilan para pemain, ada yang saya suka dan ada yang tidak. Hathaway menurut saya sungguh memukau di film ini. My god, she seems to be doing everything amazingly. Dia berhasil menghadirkan Fantine miliknya sendiri, yang punya kemarahan, keberanian, cinta, serta mimpi, namun akhirnya tak mampu bertahan. All the raw emotions are in their right place. And she can sport any kind of hair style.
Fantine (Hathaway) ketika diusir dari pabrik (atas) dan ketika menyanyikan "I Dreamed A Dream" (bawah).
Valjean di tangan Jackman tidak mengecewakan. Saya suka versi “Valjean’s Soliloquy” miliknya dan dia mampu memberikan transisi yang baik dari Valjean mantan narapidana yang dendam terhadap dunia lalu merasa ditebus hidupnya hingga menjadi Valjean si walikota yang baik namun selalu berperang dengan hantu masa lalunya. Tapi jujur saya tidak terlalu suka “Bring Him Home” yang dia bawakan. Bagi saya, lagu itu adalah doa si Valjean supaya Marius dilindungi dan diselamatkan dari kematian dalam bentrokan melawan tentara Perancis. Karena itu, lagu ini menurut saya percakapan pribadi seseorang dengan Tuhannya, khusuk dan pilu namun juga yakin bahwa ia rela mengorbankan diri asal pemuda itu selamat. Namun yang terjadi di film adalah “Bring Him Home” yang bukan doa. Suara Jackman bagi saya jadi aneh di lagu ini, agak tinggi setengah memaksa dan serak, jenis suara yang tidak pernah hadir di lagu-lagunya yang lain. Selain itu Jackman terlalu banyak bergerak ke sana kemari, semakin menghilangkan nuansa doa dari lagu ini. Bahkan saya membayangkan bila saya Marius yang ceritanya sedang tidur, saya akan bangun dan meminta Valjean menghentikan keributan ini. Hehehe.
Valjean (Jackman) sebelum memutuskan mengubah identitasnya.
Bagaimana dengan Javert milik Crowe? Dengan menyesal saya setuju dengan pendapat yang bilang Crowe tidak bagus untuk peran ini. Menurut saya Javert yang ini terlalu ringan baik secara suara maupun emosi. Salah satu bukti paling kuat adalah di "Stars” yang merupakan lagu legendaris Javert yang sangat penting karena di sinilah kita mendapat informasi orang seperti apa si inspektur ini. Selain berisi ambisi, rasa pembenaran diri, dan sumpah untuk menangkap Valjean demi tanggung jawabnya sebagai penegak hukum dan umat Tuhan yang baik, lagu ini menerangkan bagaimana Javert memandang dirinya dan pekerjaannya bagai bintang di langit yang menjadi petunjuk jalan, yang tenang, teguh dan selalu ada untuk menjaga malam gelap. Sayang sekali, Crowe membuat lagu ini jadi tidak berbobot. Saya tidak bisa merasakan kekerasan tekad, prinsip hidup, maupun karakter si Javert baik di lagu ini maupun di keseluruhan film. Ini menjadikan Javert si Crowe lawan yang tak seimbang untuk Valjean. Dan ketika protagonis dan antagonis tak berimbang, suatu cerita jadi kehilangan salah satu pilar utamanya.
Javert (Crowe) dan Valjean (Jackman) ketika Javert menyampaikan kabar mereka telah menangkap seseorang yang mereka yakini sebagai Jean Valjean si buronan.
Ketakberbobotan Javert di film ini bahkan berpengaruh pada adegan dia bunuh diri, “Javert’s Suicide”. Semestinya ia bunuh diri karena tak tahan berutang nyawa pada Valjean yang seorang pelarian yang telah menjadi buruannya selama ini. Javert jadi mempertanyakan prinsip yang selama ini dia pegang bahwa sekali penjahat akan selalu jadi penjahat dan bahwa hukum adalah jalan kebenaran dan jalan Tuhan. Ia tidak sanggup hidup dengan keraguan itu dan memutuskan bunuh diri. Celakanya, ketika Crowe tak mampu menghadirkan Javert yang kokoh berprinsip sejak awal, kematian Javert jadi terasa konyol dan bahkan tidak perlu karena kita/saya gagal merasakan kecamuk pertentangan batin yang begitu kuat itu. Yang ada malah perasaan heran atau menganggap enteng keputusannya mengakhiri hidup; suatu adegan penting yang jadi sia-sia.
Inspektur Javert (Crowe).
Para aktor pendatang baru, Samantha Barks, Eddie Redmayne, dan Amanda Seyfried, menurut saya cukup bagus. Dinamika yang ditampilkan mereka bertiga mampu dibangun dengan baik. Tapi saya selalu lebih suka karakter Eponine daripada Cosette, jadi saya bias dan menyukai penampilan Barks daripada Seyfried. Dan menurut saya Cossette milik Seyfried terdengar manja dan merengek. Dengan masa kecil yang keras, saya pikir Cosette seharusnya lebih tough. Redmayne tampil bagus membawakan lagu "Empty Chairs at Empty Table."
Cosette (Amanda Seyfried) dan Marius (Eddie Redmayne) ketika akhirnya bersama.
Eponine (Samantha Barks) di lagu "On My Own."
Now for the jesters, The Thernardiers. Dengan dua aktor nyentrik memerankan pasangan pemilik penginapan ini (Helena Bonham Carter dan Sacha Baron Cohen), saya rasa penonton bisa menebak apa yang akan mereka dapatkan. Tapi bagi yang mengharapkan pasangan licik, murahan, kasar dan cuma manis kalau ada maunya, mereka berdua lebih menonjolkan unsur komedinya, samar-samar mengingatkan saya pada peran mereka sebelumnya di versi film Sweeney Todd. Kalau mau dirangkum, mereka lebih ke nyentrik daripada licik, murahan, dan kasar.
The Thernardiers pura-pura sayang pada Cosette.
Ada beberapa adegan yang sangat berkesan bagi saya di film ini. Yang pertama ketika Fantine dipaksa menjadi pelacur dan tentu saja “I Dreamed A Dream” miliknya. Pengambilan gambar dan emosi yang ditampilkan di sini sangat mengena. Kedua adalah adegan Fantine menjelang ajal. Alasannya sama. Yang ketiga adalah adegan "Empty Chairs at Empty Table" ketika Marius merenungi kematian sahabat-sahabatnya di tempat mereka biasa berkumpul. Dan yang paling akhir ketika semuanya berdiri di barikade raksasa dan menyanyikan “Do You Hear the People Sing" seperti foto di bawah ini.
Satu hal lain yang membuat saya senang saat menonton film ini adalah ketika saya merasa tak asing dengan aktor pemeran Bishop alias Uskup. Saya yakin saya mengenali tarikan bibirnya yang khas ketika dia bernyanyi. Dan benar saja, dia Colm Wilkinson, pemeran asli Valjean ketika musikal itu pertama kali dipentaskan! Bagi saya, dia Valjean paling baik dengan “Bring Him Home” paling menakjubkan. I wish he had played Valjean, but he’s right, he’s too old to run around climbing a barricade.
Wilkinson sebagai Bishop di versi film dan sebagai Valjean di konser 25 tahun Les Miserables (bawah).
Profesor saya pernah bilang kalau ada yang nonton Les Miserables tapi enggak nangis, dia bukan manusia. Banyak adegan menyentuh dan menguras emosi di cerita ini, dan bila dimainkan dengan tepat akan mampu membuat air mata turun. Saya rasa film ini mampu melakukannya dengan baik sebab untuk kedua kalinya saya membuktikan bahwa saya manusia.