Sepenggal Momen Pengingat
Hai gengs. Memasuki beberapa bulan setelah /semua tentang studio kota/ berakhir. Sudah lama, tetapi baru terealisasi. Belum terlalu terlambat, ‘kan?
Pangandaran adalah salah satu Kabupaten di WP IV Priangan Timur Jawa Barat. Termasuk ke dalam banyak fungsi yang semuanya telah kami paparkan dalam keluaran studio, yaitu RDTR Kawasan Perkotaan Pangandaran. Tunggu sebentar, disini saya tidak akan banyak berbicara mengenai substansi. Untuk info lebih lanjut, kunjungi saja perpustakaan Perencanaan Wilayah dan Kota Labtek IX A ITB.
Jauh sebelum pengumuman penentuan ‘masuk studio yang mana’ dimana saya menghindari sekali destinasi Pangandaran. Bukan tanpa alasan, saya tidak seberapa suka atmosfer pesisir dan komposisi anggota studio yang tidak imbang di institusi kami walaupun sebenarnya studio kami adalah yang paling imbang menurut komposisi jika digabungkan dengan ITB.
Tuhan berkehendak lain, mempertemukan saya dengan teman-teman Pangandaran. Ada beberapa yang sudah saya kenal, beberapa lainnya saya beranikan diri untuk mengajak berjabat tangan dan sisanya kenal seiring waktu berjalan. Beradaptasi kembali dengan orang-orang baru sampai menemukan titik kenyamanan memang tidak mudah.
Semakin kesini, saya mengerti mengapa Pangandaran menjadi studio impian Planologi (multipurpose - bisa sekalian liburan!). Dan saya harus bersyukur untuk ini.
Kami menyebut survei sebagai liburan. Ini adalah bagian terindah buat saya. Titik balik yang mengubah pikiran saya mengenai Pangandaran. Kami lebih mengenal satu sama lain, bekerja sama, menerjang panasnya, berpeluh keringat karenanya, bersenang-senang setelahnya. Kami harus memberi penghargaan untuk diri kami sendiri setelah kerja keras di lapangan.
https://www.youtube.com/watch?v=_ro-k277Tw8&feature=youtu.be (link video Survei Studio Kota Pangandaran 2015)
Hari yang penuh, tidak pernah kosong. Suasana pantai yang ternyata sampai saat ini masih saya rindukan. Entah berapa sunrise dan sunset yang kami nikmati dengan indahnya. Pemandangan yang tidak asing lagi, gengs yang berkumpul mengelilingi kipas angin di sela istirahat survei, gitar, papan catur dan sandal berpasir di serambi base camp kidang pananjung 143, sepeda dan mobil gowes yang terparkir, kepiting di geladak pantai timur, snorkeling pasir putih pantai barat, perahu berjajar, rombongan rusa dan merak berkeliaran, gubuk tepi pantai, hidangan seafood cumi telur asin, terlalu banyak memori hingga mungkin bisa dijadikan kamus sendiri.
Survei perlu intelejensi dan intuisi mengeksekusi waktu yang tepat untuk mewawancarai penduduk setempat, dari figur seorang kakek yang sedang tidur siang sampai berempati bersama tetesan air mata ibu-ibu dengan permasalahan finansialnya, nenek renta yang ditinggal anaknya bekerja dan lain sebagainya. Itu semua yang membuat kami, harus selalu melihat ke bawah.
Sekelebat aku bersiap berkemas
Lagu terakhir yang kau nyanyikan
Gelak tawa yang kau berikan
Senja di geladak Pangandaran
Mungkin senja mengantarkanku
/Skenario Tuhan itu Indah/
Saya berjanji tidak akan bersedih mengapa pengalaman ini berakhir, tetapi saya boleh jadi yang berbahagia karena pengalaman ini telah terjadi, bersama mereka. Skenario Tuhan itu indah.
/Surat Keputusan dan Perpisahan/
“Never shall I forget the days I spent with you. Continue to be my friend, as you will always find me yours. –Ludwig von Beethoven. Sampai sekarang saya masih bisa merasakan kehangatan mereka. Terimakasih Wija sudah membuatkan kenangan yang bisa saya akses kapanpun dimanapun, Nike dengan video kirimannya dan Harsyah dengan gambar sketsanya. Thank you, all of you guys.
Semoga masih bisa dipertemukan dengan mereka, suatu saat nanti. Aamiin.