Senaning, 18 Oktober 2022
Pagi ini seperti biasa aku menyaring berbagai informasi dari sosial media yang ku miliki. Rasanya jauh lebih nyaman saja berselancar mencari informasi di media sosial dari pada media berita itu sendiri. Mungkin karena di media sosial kita juga dapat menjadi creator dari konten atau informasi yang ingin kita sampaikan. Sedangkan di media berita, kita hanya dipandang sebagai traffic views. Media berita memberikan ruang formalitas seperti kolom komentar tanpa dapat memberi arti yang lebih. Alhasil, media sosial lebih efektif menyampaikan informasi walaupun terkesan mentah dan keabsahannya dipertanyakan dari pada portal berita yang seyogiyanya menyuguhkan informasi yang matang dan siap di santap oleh berbagai kalangan.
.
Dalam pencarian informasi, tiba-tiba aku di suguhkan oleh postingan sebagaimana aku screen capture di bawah ini. Mungkin bagi sebagian orang akan merasa biasa saja, atau malah merasa iba. Namun bagi aku pribadi itu adalah postingan manja yang mencari perhatian pengguna lainnya.
Inti dari postingan itu ialah ia merasa kecewa oleh temannya yang tidak hadir atau tidak ada yang mengajak foto atas selesainya ia sidang skripsi. Ia mengaku bahwa ia sudah melakukan hal yang luar biasa saat temannya sidang skripsi juga. Seperti membeli buket, menyempatkan hadir, atau sekedar minta foto bersama. Namun saat ia selesai sidang skripsi, hanya sedikit yang hadir. Bahkan ia merasa sedih karena tidak ada temannya yang mengajak foto bersama.
Fenomena ini menjadi alasan aku tidak begitu ingin orang merayakan sesuatu momen untukku. Aku akui bahwa aku senang mendapat kejutan dan hadiah. Atau aku juga senang jika ada temanku menghargaiku dengan mengajak untuk mengabadikan momen bersama. Aku akui itu. Namun aku lebih menghargai mereka jika cukup bersikap biasa aja. Memberi selamat saja sudah sangat cukup, jangan lagi memberikan hal yang berlebihan. Aku takut orang tersebut mengharap balasan yang serupa. Dan untuk membalas hal itu, jujur aku sangat malas.
Bukan berarti aku tidak menghargai dirinya. Namun disaat yang bersamaan dengan momen spesialnya, bisa saja aku ada kesibukan lain, hal penting lain, atau sekedar malas keluar rumah. Bukan aku tidak peduli, bahkan saat temanku sidang dan aku tidak datang, aku merasakan kecemasan dan sangat berharap bahwa ia dapat melalui sidangnya dengan lancar. Setelah momen seremonial itu, terkadang aku akan mengajaknya bertemu dan bertukar cerita. Nah di momen itulah menurutku yang sangat penting. Dengan berbagi cerita kita benar-benar akan menjadi teman bahkan sahabat. Karena menurut pengalamanku menghadiri sidang teman atau aku yang sedang sidang skripsi, mereka datang hanya untuk memperbarui story nya dan menunjukkan bahwa mereka adalah sosok teman yang baik. Sedangkan teman yang lain sibuk menyantap kue yang dibawa oleh yang sedang sidang tanpa benar-benar memperdulikan sosok yang sedang sidang skripsi itu sendiri. Itu kah teman? Bagi ku jelas bukan. Mereka hanya manusia yang numpang lewat dalam cerita singkat hidupku. Tanpa memberi dampak yang signifikan dan kemudian mudah untuk dilupakan.
Oleh karena itu teruntuk mbak/mas yang menulis ini, tolong jangan lemah mental, ya. Percayalah hidup baru akan benar-benar dimulai saat kau selesai sidang. Bukan malah berakhir karena tiada teman yang mengajakmu berfoto untuk jadi kenang-kenangan. Jangan manja, ya. Karena dunia kerja menuntutmu untuk mampu bekerja dibawah tekanan. Dunia kerja juga tidak butuh kenang-kenangan. Para bos perusahaan itu butuh pengalaman kerjamu bukan foto sidang bersama yang katanya temanmu itu.
Yok bangkit yok. Belum terlambat untuk mengusap air mata sekarang. Karena kelak kau akan ditampar realita bahwa dunia kerja akan menilai rupa terlebih dahulu baru akan menguji kemampuan yang kau miliki. Tidak apa-apa, wajar kok. Aku juga demikian.
Karena kita tidak terkenal dan terlahir biasa saja bukan berarti kita tidak layak menjadi pemenang
Jadi mari bersikap biasa aja, ya. Fokus membangun dan memantaskan diri. Ketepikan dulu hal yang tidak perlu walaupun menyakitkan hati. Insya Allah.
...














