Coklat, Minion, dan Ibu-ibu
Semua ini dimulai dari obrolan marketing pitch seorang teman tentang produk yang sedang dia observasi, tiba-tiba muncul banyak pertanyaan soal dunia pasar memasarkan ini. Sebagai yang biasa berhubungan dengan komputer, agak penasaran juga dengan cerita alur proses pemasaran, sekaligus hubungannya dengan sifat alami manusia. Alhasil, dapat lah sebuah observasi kecil-kecilan.
Mari kita bahas hasil pengamatan yang sekenanya ini.
Seberapa banyak pertimbangan sebelum kita memutuskan untuk beli suatu barang?
Sebetulnya ada banyak faktor disana. Mulai dari daily needs, curiousity, new products, price, atau sekedar freebies. Mari kita ambil contoh sederhana di rumah, segmen yang paling bisa mewakili sebagai subjek adalah ibu-ibu rumah tangga. Setiap kali belanja bulanan, perempuan biasanya akan buat satu daftar yang udah disiapin dari rumah tentang barang apa saja yang akan dibeli. Biasanya barang yang didalam list tersebut merupakan barang yang bersifat daily needs dan wajib dibeli. Begitu sampai di tengah-tengah rak toko, kenyataannya, barang yang akan dibeli biasanya lebih banyak dari yang direncanakan, entah karena penasaran sama produk baru, harga yang lebih terjangkau, atau cuma sekedar mau gratisan hadiah piringnya aja. Maklum, namanya juga ibu-ibu agak mudah digoda piring cantik, sampai akhirnya si barang berhadiah piring tadi sampai di meja kasir.
Freebies, itu hal kecil yang sebetulnya bisa digunakan untuk mengamplifikasi penjualan. Sebuah marketing gimmick yang selalu berhasil merebut hati konsumen di semua rentang usia. Lagian, hari gini siapa yang nggak suka gratisan kan? :)
Inget HappyMeal gratis Minion?
Ini contoh freebies yang sudah naik “tahta”. Saya secara personal kagum dengan strategi marketing McDonald. Mereka menjalin kerjasama sama dengan industri kreatif dan kerjasama tersebut sifatnya eksklusif. Sifat eksklusifitas ini yang membuat si Minion lucu ini cuma dijual di McDonald, seantero raya. Dengan cara yang ajaib, ini mengubah paradigma Happy Meal berhadiah mainan, menjadi Collectible Items berhadiah Happy Meal. Walaupun secara fisik sama-sama action figures, ada nilai yang berubah dari sebuah Mainan jadi Collectible Items. Dampak perubahan ini sangat besar, segmen pasar Happy Meal nggak lagi terbatas pada usia tertentu, dan nilai dari freebies seolah-olah berubah menjadi produk utama yang dicari. Pernah ketemu temen yang bela-belain nyuruh OB kantor beli 10 paket HappyMeal kan? Hahaha. Ini konsep marketing yang brilian.
Kalau tadi objek dari observasi adalah ibu-ibu, kali ini kita ubah ‘saya’ sebagai individu yang diamati. Setiap kali pergi ke minimarket untuk beli sesuatu, saya selalu ambil satu atau dua batang coklat Beng-Beng, atau coklat Sneakers. Semua nggak ada yang aneh sampai saya sadar, saya selalu ambil coklat tersebut di meja kasir.
Kenapa coklat selalu ditempatkan dekat dengan meja kasir?
Nah, ini yang aneh. Dari sekian banyak produk yang ada di satu minimarket, kenapa coklat yang diberi tempat istimewa? Saya yakin ada harga yang berbeda untuk placing produk di meja kasir, tapi model dan strategi marketing seperti ini malah menambah daftar pertanyaan yang kesulitan saya jawab sendiri.
Yang saya tahu, strategi marketing seperti ini bukan hanya di Indonesia dan ini dinamakan soft selling. Ketika menunggu di kasir, kita akan cenderung membuat keputusan final tentang barang yang akan dibeli untuk selanjutnya dibayar. Ada kecenderungan untuk membeli barang yang sebetulnya nggak butuh sebelum billing difinalisasi oleh kasir. Dan pilihan barang tersebut semakin sempit karena hanya barang tertentu yang ada di meja kasir. Dalam kasus saya, pilihan jatuh ke produk dairy coklat. :D
Nah, apa yang bisa kita pelajari adalah, setiap faktor dalam proses memutuskan tadi, Marketing hadir disetiap layer sampai akhirnya produk tersebut tiba di meja kasir.
Makanya, biaya yang dikeluarkan oleh produsen nggak kecil untuk memasarkan produk mereka dan sampai ke ujung-ujung neuron jutaan manusia. Melalui marketing campaign and advertisement yang “halus”, otak kita secara nggak sadar “dicuci” dengan muatan informasi yang luar biasa melalui media seperti TV, radio, internet, bahkan di halaman twitter atau feed news. Dan yang bikin heran, otak kita nggak pernah ngeluh atau muak dijejeli informasi yang sama berulang kali. Semua diterima tanpa ada pertanyaan. Aneh sekaligus takjub.
Sekedar disclaimer, observasi diatas sifatnya personal dan cuma hasil analisa dari seorang programmer. Gak usah serius-serius amat ya. :)