HelpNona Writing Contest: Mungkin kekerasan psikologis ini dilakukan oleh pacar kamu
Seringkah kamu merasa tidak nyaman karena pacarmu menyepelekan atau menyalahkanmu dengan alasan yang tidak rasional? Jika ya, maka kamu perlu cari tahu apakah terdapat kekerasan dalam hubungan kalian. Kekerasan tidak hanya berupa fisik dan verbal saja, lho. Kekerasan juga terjadi dalam bentuk psikologis. Kekerasan psikologis seringkali sulit untuk dikenali karena tidak kasatmata seperti kekerasan fisik ataupun terdengar jelas seperti kekerasan verbal. Bahkan terkadang perilaku yang selama ini kita anggap wajar bisa jadi merupakan perilaku kekerasan psikologis. Oleh karena itu, mari kita kenali perilaku apa saja yang termasuk ke dalam kekerasan psikologis.
1. Pacar selalu mengkritik dan mengontrol
“Kamu ga boleh pakai baju warna ini itu, kamu harus pakai baju panjang dll” Jika pacar kamu sering mendikte pakaian apa yang harus dan tidak boleh dipakai, itu artinya si pacar sudah berusaha mengontrol kamu dengan alih-alih demi kebaikan kamu. Coba dipikir-pikir lagi apakah hal demikian dilakukan demi kebaikan kamu ataukah hanya ambisi pribadi si pacar? Jika dia memang menyayangi kamu, dia akan menerima penampilan apapun sejauh penampilan tersebut membuat kamu merasa nyaman. Dengan menghargai kamu sebagai manusia yang memiliki kebebasan untuk membuat keputusan, hal ini tentunya akan berdampak baik bagi kamu dalam memandang diri sendiri.
Pacar meminta semua password akun media sosial yang kamu punya? Eits, itu juga salah satu cara pacar mengontrol kamu. Ingat bahwa kita memiliki ranah privasi dan bahkan pacar harus menghargai ruang privasi kita. Katakanlah bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak perlu karena yang sebenarnya dibutuhkan ialah saling percaya satu sama lain tanpa harus mengecek akun media sosial secara berkala. Dengan kata lain, dengan menyadari bagaimana kamu menghargai diri sendiri maka kamu akan tahu apakah pacar kamu menghargai kamu atau tidak. It’s about self respect, girls!
2. Dia mengacuhkan kamu ketika sedang marah
Pertengkaran atau perselisihan merupakan hal yang wajar terjadi dalam hubungan pacaran. Namun, jika pacar melakukan kekerasan ketika dia sedang marah, maka hal itulah yang seharusnya tidak boleh terjadi. Selain marah-marah, teriak-teriak, atau mencaci maki, masih ada respon yang banyak terjadi yaitu diam-diam kecut. Girls, tidak semua diam adalah emas, lho. Tidak semua diam mencerminkan kesabaran. Jika si pacar mendiamkan kamu tanpa ada penjelasan, tidak ingin berkomunikasi secara tiba-tiba, dan bertingkah laku sinis karena hal yang sepele, maka hal tersebut bisa membuat kamu merasa bingung, tidak nyaman atau bahkan merasa bersalah. Perilaku tersebut bisa jadi termasuk ke dalam perilaku pasif-agresif. Perilaku kurang ‘sehat’ yang banyak terjadi dalam banyak jenis hubungan, termasuk hubungan berpacaran. Apakah pacarmu pernah melakukannya? Jika ya, silakan diskusikan ini dengan pacarmu dan saling berbagi informasi. Kamu dan pacarmu bisa tahu lebih lanjut mengenai pacaran yang tidak ‘sehat’ di http://www.helpnona.com/apa-itu-pacaran-yang-gak-sehat.html
Hubungan yang selalu baik-baik saja mungkin membosankan bagi beberapa orang. Namun bukan berarti hubungan pacaranmu harus ‘panas’ bergejolak seperti layaknya sinetron. Hal-hal kecil yang remeh-temeh seringkali menjadi alasan si pacar untuk memulai pertengkaran. Hari-hari yang dilewati bersama pacar selalu dibumbui dengan marah-marah atau mengeluarkan kata-kata yang menyulut emosi kita. Setiap hari tema pembicaraan si pacar mengarah pada keinginannya untuk membuktikan seberapa kita mencintainya.
“Kamu udah ga cinta aku?”
“Kamu suka sama orang lain?”
Dan banyak lagi pertanyaan lainnya yang mencerminkan bahwa dia merasa tidak aman. Girls, jika pacarmu sering bermain drama, tidak perlu meresponnya dengan drama berikutnya. Bicarakan baik-baik dan saling terbuka mengenai perasaan masing-masing sehingga permasalahan yang sebenarnya terjadi dapat benar-benar terjawab.
No more Drama In Your Relationship (Sumber Foto: Arifiana Nabilah)
Jika sejak punya pacar, kamu semakin merasa terbatasi untuk bertemu dengan teman-temanmu, baik yang perempuan maupun laki-laki, maka bisa jadi ada sinyal bahwa pacarmu merupakan pacar yang overprotective. Pacar yang overprotective merupakan pacar yang secara berlebihan mengatur kehidupan pribadi kamu. Jika si pacar sudah sering melarangmu untuk sekedar berkumpul dengan teman-teman, maka kamu harus tegas mengatakan bahwa itu merupakan hakmu untuk memutuskan apakah kamu akan berkumpul dengan teman-teman atau tidak dan kita juga sudah bisa memutuskan mana teman yang baik atau yang menjerumuskan. Pacar yang ‘sehat’ tentunya mengetahui bahwa kamu juga membutuhkan kehidupan sosial dengan teman-teman dan pastinya akan mendukung setiap kegiatan kamu yang membuat kamu bahagia.
Seringkali rasa cemburu jadi pendorong munculnya overprotective. Cemburu seperti garam dalam makanan, jika porsinya sedikit membuat makanan jadi lebih lezat. Namun sebaliknya, jika terlalu banyak justru merusak cita rasa makanan. Begitu juga dengan cemburu, sedikit saja cukup memberikan ‘rasa’ dalam hubungan pacaran. Jika cemburu si pacar berlebihan, hubungan akan selalu ‘panas’ karena pertengkaran dan kamu pun akan merasa terbatasi dan tertekan ketika suatu saat berbicara berdua dengan teman laki-laki.
5. Memposisikan diri sebagai korban dan sering menyalahkan (blaming)
“Gara-gara kamu aku jadi ga bisa konsentrasi untuk ikut ujian”
Bila kita mendengar pacar kita mengatakan hal tersebut, lazimnya kita akan merasa bersalah dan meminta maaf. Tapi tunggu dulu, apakah kamu benar-benar melakukan kesalahan ataukah pacar memposisikan dirinya seakan-akan menjadi korban atas pengalamannya yang tidak menyenangkan? Setiap pasangan pasti pernah melakukan kesalahan karena tidak ada orang yang sempurna. Namun cara seseorang menyelesaikan masalah tentunya bukan dengan menyalahkan orang lain. Setiap orang pasti pernah mengalami kejadian yang buruk atau perasaan yang negatif, namun pacar yang “blamers” akan menyalahkan kejadian tersebut kepada orang terdekatnya, yaitu kamu. Jika pacarmu terlalu sering melakukan hal tersebut, maka perlu dipikirkan kembali apakah pacarmu adalah orang yang cukup dewasa dan cukup ‘sehat’ untuk kamu jadikan pacar.
Singkatnya, percaya bahwa diri kita berharga merupakan kunci untuk keluar dari hubungan yang tidak ‘sehat’. Ketika hal itu telah menjadi nilai yang tertanam kuat dalam diri kamu, kamu akan tahu siapakah orang yang tepat dan benar-benar menghargai kamu sebagai perempuan.
Preston Ni “10 Signs of a Passive-Aggressive Relationship”
https://www.psychologytoday.com/blog/communication-success/201508/10-signs-passive-aggressive-relationship
Steven Stosny “Are You Dating an Abuser?”
https://www.psychologytoday.com/blog/anger-in-the-age-entitlement/200812/are-you-dating-abuser
Apa itu Pacaran yang Gak Sehat?
http://www.helpnona.com/apa-itu-pacaran-yang-gak-sehat.html
Writing Contest HelpNona 2016