Ikhlas itu seperti langit yang melepaskan hujan, seperti pohon yang menggugurkan daunnya di musim kemarau, seperti udara yang rela dihempaskan menjadi angin.
KG (via kurniawangunadi)
RMH
official daine visual archive

Game Changer & Make Some Noise

roma★

pixel skylines
KIROKAZE
occasionally subtle

Product Placement
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

blake kathryn
art blog(derogatory)
I'd rather be in outer space 🛸
🩵 avery cochrane 🩵
h
todays bird

Andulka
No title available
No title available
tumblr dot com
Xuebing Du
seen from Argentina
seen from Brazil

seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from United States
seen from Venezuela

seen from Mexico

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from South Africa
seen from Türkiye
seen from Pakistan
seen from United States

seen from United States
seen from Ecuador
seen from Algeria
seen from Australia

seen from United States
seen from United States
@fauziawina
Ikhlas itu seperti langit yang melepaskan hujan, seperti pohon yang menggugurkan daunnya di musim kemarau, seperti udara yang rela dihempaskan menjadi angin.
KG (via kurniawangunadi)
Hanya Saja....
Langkah ini nampaknya makin gusar, diganggu pikiran yang bahkan terbangnya pun jauh entah kemana. Diam ini nampaknya makin tak bisa jadi lama, diganggu rasa penasaran yang bahkan entah jatuh pada siapa. Semakin banyak fisik hingga logika menepis, semakin banyak pula gangguan itu datang. Semakin banyak gusar pun diam, semakin banyak pula hal yang ingin ditampakan. Tapi siapa lah saya. Tapi siapa lah kamu. Baik saya pun kamu hanyalah manusia yang diberi kesempatan lebih oleh semesta untuk saling mengenal. Tapi tetap saja, perkenalan itu akan berlabuh di mana saya kurang paham, bahkan tidak ingin paham. Mengapa? Sesimpel karena saya tak ingin punya kecewa, sekecil apapun atau bahkan yang besar. Jadi, jangan pernah suruh saya menyelami dalam-dalam rasa penasaran untuk mengenal kamu. Berjajar bersama dengan kawan lain membawa riuhnya tawa dalam jumpa, mungkin rasanya sudah cukup bagi saya sekarang. Entah bagimu, cukup kah? Atau memang akan selalu begitu? Jawab saja dalam hati, jawab saja dalam pikiran. Bukannya saya tak mau tau, hanya saja saya belum terlalu siap jika semesta berikan kejutan untuk episode hidup selanjutnya mengenai kita. Rasa apa ini namanya pun bahkan saya enggan menerka, yang saya mau sampai saat ini hanya, biarlah saya pun kamu saling membagi cerita hiruk pikuk kehidupan atau berbagi pundak untuk bersandar meluruhkan lelah, melenyapkan sedih. Karena kita tau, ada suatu garis yang memang tak bisa kita lewati, ada pula suatu penahan yang tak bisa kita cabut. Jadi biarlah seperti ini, biarlah debar kencang tak karuan, hingga tawa kecil yang dipendam tak punya alasan untuk dilakukan, sekali lagi jangan tanya mengapa. Hanya saja saya sendiri pun tak pernah mau mencari penyebabnya untuk sekarang. Semesta, terimakasih sudah beri saya waktu lebih untuk mendalami dia walau hanya sampai batas ini. Dan kamu, bacalah sesuka hati berulang kali melewati logika hingga sampai pada hati, ada atau tidak maknanya untuk kamu tak lagi saya hiraukan. Silakan berbesar kepala setelahnya, anggaplah saya sudah buat kamu senang, walau cuma satu kali.
Ada hal-hal yang memang hanya boleh dipendam dalam diam, dibiarkan hanyut lalu karam.
Fauzia Wina
Terlalu Berekspetasi
Hatiku sudah kenyang kebanyakan makan asa. Hingga rasanya mau meledak memuntahkan semua. Karena asanya terbang tinggi pada ekspetasi diri yang sebenarnya juga aku tak tau akan sampai apa tidak. Kini rasa sebuah kehilangan sepertinya sering hinggap di dada, walau tanpa sempat pernah memiliki. Kini sebuah kecewa seperti sering kutelan, walau tanpa tau siapa yang memberinya. Yang kutau hanya diri ini saja yang mungkin terlalu melambungkan ekspetasi pada hal yang masih semu. Kecewalah pasti. Hati, tabahlah kamu. Terlalu ceroboh mungkin, sehingga pintu itu banyak yang hanya ingin mengintip malu. Kita hanya kadang bertegur sapa dan berlama-lama menatap lewat pintu yang terbuka tapi enggan kamu masuki. Tak apa. Dan kini, maafkan jika hilangku adalah jalan satu-satunya yang dilalui. Karena, baik aku, atau kamu takkan pernah ada yang mau untuk memulai.
Keinginan si Hati
Biarkan hati berjarak, agar mengerti arti sebuah kehilangan. Biarkan mata tertutup, agar mengerti jika tak saling bertatap. Biarkan langkah terhenti, agar mengerti seperti apa rasanya kehilangan jejak. Biarkan diri menghilang, agar mengerti pentingnya seseorang. Bukan.... bukan ku minta untuk dikejar. Melainkan ada hati di sini yang memang sudah hampir tak kuat lagi berdiri. Dia akan jatuh, lalu pecah. Dia akan runtuh, lalu berserakan. Bukan.... bukan ku minta untuk dimengerti. Melainkan aku sendiri pun belum sepenuhnya paham apa keinginan hati ini. Jadi biarlah aku mencari-cari apa inginku yang takkan lagi bisa memecahkan pun sampai meruntuhkan hatiku, walau harus dengan menghilang darimu.
Entah Apa Namanya
Kisah ini adalah puzzle puzzle misteri yang mengharuskan kita untuk menyusunnya, walau entah akan bermuara di mana. Kita adalah salah satu bentuk semesta yang hadir dalam sebuah kebetulan. Dan kamu adalah seorang yang dikirim Tuhan dengan dua tujuan yang masih menjadi tanda tanya. Pertama, bisa menjadi penggusar hati kala sepi mulai meruntuhkan sebuah prinsip. Kedua, bisa menjadi labuhan terakhir, pembuka hati yang selama ini memang tak ku izinkan siapapun boleh mampir. Lalu aku, aku adalah si bodoh dalam bertindak, dan si pelupa dalam berjanji; pada diriku sendiri. Apapun aku, kamu, kisah ini, dan kita. Ada hal-hal yang tak bisa ku cerna dengan logika tapi aku mempersilakannya masuk melalui hati; rasa yang entah apa namanya. Aku bersembunyi pada hal bernama kenyamanan. Aku bersembunyi pada hal bernama kesenangan. Entah ini semata atau akan bertahan lama. Jadi biarlah aku jadi bodoh dan lupa pada tindakan dan janjiku sendiri.
Perkenalan dari Sekeping Hati
Hai, perkenalkan~ Aku adalah sekeping hati yang sedang mencari takdirku agar tak kesepian. Aku adalah sekeping hati yang masih berkelana mencari belahan hati yang lain. Dan aku adalah sekeping hati yang kesepian meminta agar ada yang bisa memberiku keramaian. Mungkin bukan pada setiap hati yang ingin mencoba untuk masuk, melainkan pada sesosok lain yang aku cari sendiri. Pada sesosok yang bisa membuat degupku terasa makin hebat. Pada sesosok yang bisa mengukir senyum hanya dengan lewat pesan yang dikirim. Sampai pada titik aku bisa dipertemukan kamu oleh semesta. Degup lebih hebat bergetar dan secara otomatis membuat lengkungan senyum sering mampir di wajahku. Duhai kamu, terimakasih. Walaupun aku tau takdirku juga belum tentu bisa berlabuh pada hatimu, Walau aku tau, kesepian yang hatiku rasa belum jua kamu beri keramaiannya. Duhai kamu, terimakasih. Memberi kesempatan pada sekeping hati ini untuk bisa merasakan hal luar biasa bernama jatuh cinta. Memberi kesempatan pada sekeping hati ini untuk bisa belajar mempertahankan apa yang dia mau. Walau jalannya sulit, walau alurnya terlalu melilit. Duhai kamu, terimakasih.
Mengagumimu dari Jauh
Simpulan senyum yang sederhana, nyatanya mampu untuk aku berlama-lama menatapmu. Tatapan skeptis yang hadir dalam canda, nyatanya mampu untuk aku nyaman di sampingmu. Sikap tenangmu yang terlihat di sekitar, nyatanya mampu untuk membuat hatiku berdegup lebih kencang. Tapi nyatanya pula, rasa ini mungkin hanya aku yang punya. Tapi nyatanya pula, baik kamu atau hatimu belum bergetar juga pada tatapan diam-diamku. Tak apa, begini saja aku pun tetap suka. Walau hanya diam-diam. Berkomat-kamit dalam hati minta agar semesta bisa memberikan kebetulannya pada kita, atau merasa jantung rasanya akan copot ketika kamu mulai membuka obrolan hangat denganku. Sedalam itu, rasanya sungguh menyenangkan. Rasanya seperti kupu-kupu berterbangan di dalam hati, menggelitik di dalam perut agar tawa tetap dipendam. Sedalam itu, rasanya sungguh lucu. Kamu punggungi aku pun rasanya tetap sama, aku suka. Kamu berdecak kesal pun rasanya tetap sama, aku suka. Kamu meledek canda pun rasanya tetap sama, aku suka. Semuanya tetap sama, aku suka kamu. Hampir setengah gila rasanya saat aku ingin melihatmu atau sekedar mencari perhatian pada kamu. Tapi begini saja sudah baik, setidaknya sekarang. Mengagumimu dari jauh saja, tak apa. Karena rasa malu ini rasanya lebih besar dari rasa sukaku. Mengagumimu dari jauh saja, tak apa. Karena hanya itu yang bisa aku lakukan untuk sekedar membuat kupu-kupu bertahan lama di hatiku. Mengagumimu dari jauh saja, tak apa. Karena sesak ini bukti kebahagiaan kecil yang ku ciptakan; namamu penuh di hatiku. Biarkan saja hatiku tetap begini, jangan pernah memaksa hatiku yang bicara, salah-salah kamu akan membalasnya dengan hal yang aku mau. "Biarkan ku memelukmu tanpa memelukmu, mengagumimu dari jauh." "Biarkan ku menjagamu tanpa ku menjagamu, menyayangimu dari jauh." TULUS - MENGAGUMI DARI JAUH
Aku Pamit
Derap kenangan mendatangi pikiranku dengan kasar. Mereka seperti tak tau keadaan puannya yang enggan lagi mengingat kenangan itu. Indah atau buruknya, kenangan tetaplah kenangan yang tak bisa lagi kembali pada masanya. Hanya sisa-sisa ingatan yang minta untuk dipungut agar tak semuanya hilang. *** Kamu dulu yang paling aku tunggu kedatangannya, walau harus sembunyi-sembunyi menggenggam tanganku. Kamu dulu yang paling sering aku kunjungi sepulang sekolah, walau tak lama karena dering agar segera pulang ke rumah. Kamu dulu yang paling aku jadikan prioritas, walau tak bisa setiap saat aku mampu menemani. Semampunya diri anak gadis belasan tahun ini aku lakukan hanya untuk lelakinya, hanya untuk hubungan sembunyi-sembunyi ini. Aku tak pernah meminta Tuhan untuk memberi kekhilafan pada hubungan kita. Yang aku minta hanya kamu bisa selalu disampingku. Ya, Tuhan beri itu. Tuhan beri kamu yang katanya dulu cinta aku, untuk bisa menyusuri hubungan sembunyi-sembunyi ini bersama. Tapi aku lupa, hal yang paling tak mau ku minta malah Tuhan beri melalui kekhilafan kamu. Aku tak bilang aku selalu memperjuangkan kita, aku hanya melakukan hal-hal baik semampuku untuk kita. Aku juga tak bilang aku selalu ada untuk kamu, aku hanya bisa menemani saat semesta berikan kesempatan berupa waktu agar bisa bertatap dengan matamu. Tapi bagiku, apa-apa yang aku lakukan itu sudah sangat menguras energiku, pikiranku, dan arahku. Karena aku tau, kamu membayarnya dengan kekhilafan yang jika diingat sesak itu tak kunjung hilang. Khilafmu. Khilafmu. Itu yang menamparku bahwa kecewa akan bisa datang walau kita sudah merasa berjuang sekuat-kuatnya untuk menyelamatkan sebuah komitmen. Dulu aku membiarkanmu pergi dengan segala khilafmu. Walau kamu juga tau ada hati yang patah, kamu ingin menyembuhkannya tapi tak ku izinkan. Tak mau lagi aku izinkan lelaki yang memberi khilaf untuk menyentuh hatiku. Biarlah aku egois, karena yanh kutau sentuhan itu sekarang bukan lagi sebagai penyembuh. Melainkan akan hadir luka baru. *** Kudengar dari beberapa rekan, kamu tetap memikirkanku. Kamu terkadang masih ingin aku. Menjadi besar kepala? Tentu. Tapi tidak membuatku terbuai untuk menoleh pada masa lalu itu. Bagiku kenangan tetaplah kenangan, biar saja aku simpan semua indahnya hubungan sembunyi-sembunyi saat bersama kamu. Tapi izinkan aku pula untuk menyimpan kenangan saat kamu datang dengan khilafmu. Karena hal itu pula, menyadarkanku bahwa perpisahan bukan lagi tentang derai airmata yang berlarut-larut. Tapi tentang hati yang ingin pamit dari rasa sakit. Sejak dulu hingga kini aku sudah berpamitan dengan hatimu yang aku tau kamu masih cinta aku, sedalam-dalamnya. Tapi, bagiku mencintai kamu bukan tentang penerimaan untuk segala khilafmu. Aku tak bisa untuk itu. Sekarang, lagi-lagi aku pamit. Pamit dari segala kenangan kita, pamit dari segala sakit yang aku rasa, pamit dari siksa yang mendera. Kamu, baik-baiklah tanpaku dulu maupun sekarang. Kembalilah hidupkan hati, mulailah mengukir kisah baru yang tak pernah lagi ada khilaf di dalamnya. "Izinkan aku pergi dulu Yang berubah hanya Tak lagi kumilikmu Kau masih bisa melihatku Kau harus percaya Ku tetap teman baikmu" TULUS - PAMIT Insipired by: Friend's Story.
Si Tuan Penerima Rinduku
Malam ini saya sedang gusar. Oh mungkin rindu. Jarak juga jadi pelengkap rindu saya buat kamu malam ini. Waktu temu yang kurang juga jadi penambah rindu kala saya hanya bisa menanti pesan dari kamu. Tapi tak apa, saya mulai terbiasa. Terbiasa yang rindunya bisa padam lewat lelap. Terbiasa yang rindunya mulai reda hanya lewat pesan. Terbiasa yang rindunya akan sirna oleh waktu walau esoknya si duri menyenangkan itu hinggap lagi pada hati saya. Saya punya ratusan alasan untuk merajuk, merengek kepada kamu yang beratasnamakan rindu. Tapi seiring waktu, saya juga punya ribuan sabar menahan saat akhir pekan tiba. Bertemu kamu. Tuannya hatiku. Saya tetap rindu kamu, walau tak segusar dulu. Saya tetap rindu kamu, walau tanpa rengekan lagi. Saya tetap rindu kamu, walau drama minta perhatian saya berkurang. Pokoknya, saya tetap rindu. Tuan, tetaplah izinkan saya untuk rindu pada setiap derap langkahmu yang menghampiriku. Tuan, tetaplah izinkan saya untuk rindu pada setiap harum tubuhmu yang memelukku. Tuan, tetaplah izinkan saya untuk rindu pada bibir yang mengecup lembut keningku. Tuan, tetaplah izinkan saya untuk rindu pada semua sejuta perhatian yang kamu beri walau dalam keadaan sibuk. Saya tau menjalani ini semua tak bisa dikatakan mudah, ibarat sedang berjalan di atas kerikil, tak menyakitkan tapi terasa sedikit menganggu. Tapi percayalah pada apa-apa yang digariskan Tuhan, yang diberikan semesta, jarak semoga lebih dipendekan, waktu bertemu semoga semakin bertambah. Tuan, saya tetap rindu kamu.
You are The Sweetest Mistake
"Pokoknya kamu harus datang ya, nggak apa kita gak bertegur sapa. Asal kamu liat perform aku kali ini, aku seneng." "Aku usahain ya, nanti kucoba ajak temen-temenku." Ya, karena sebagai aku yang hanya bisa melihatmu dari jauh menjalani hobi. Karena sebagai aku saja yang mampu melihat punggungmu yang dirangkul dia. Marahku, cemburuku rasanya sudah padam, entah karena terlalu sering menghadapi kejadian ini atau karena memang tak begitu tinggi rasa cintaku buatmu. Aku kali ini digariskan Tuhan untuk menemanimu dalam riak-riak kesepianmu. Aku sebagai pelipur laramu, aku sebagai keramaianmu. Tapi nyatanya, hatiku sendiri masih merasa sendiri. Mungkin karena aku bukan prioritasmu. Menjadi wanita kedua dalam hubungan memang bukanlah hal yang dianggap pantas. Tapi aku rasa, kalau bukan karena sayang entah apa namanya bisa sampai pada fase ini. Melihat lelaki yang dicintai harus termenung sedih kala debat besar menghampiri mereka; kau dan dia. Melihat lelaki yang disayang harus sembunyi-sembunyi mengangkat telepon agar suaraku tak terdengar oleh si penelepon. Sakit? Tak tau. Karena saking cintanya hal itu tak mau kurasa. Perihal menjatuhkan harga diri, sekali lagi, kalau bukan cinta entah apa namanya sering aku lakukan. Dari mulai dibodohi alasan yang jelas tak masuk akal, tapi kutelan bulat-bulat agar kamu percaya bahwa aku percaya kamu. Hingga memohon agar menjadi prioritas, menjadi nomor satu dalam tahta kerajaan di dalam hatimu. Tapi hasilnya tetap nihil. Namun, aku tak menyesal, dulu. **** Melihat sosoknya lagi di dalam hiruk pikuk pergaulanku, debarnya masih terasa walau tak sekencang dulu. Aku duduk diantara teman-teman hanya sekedar menghampiri tawa tadinya. Tapi semua berubah menjadi terangkainya kenangan-kenangan yang dulu pernah dijalin. Bertemu dia lagi, memasuki sorot matanya yang teduh, samar-samar suara paraunya yang khas rindu aku dengar, senyum simpulnya yang tetap sama selalu menghiasi wajahnya yang memang tampan. Hatiku berdebar. Lebih kencang. Rasanya seperti dulu. Memang benar kata orang, janganlah pernah bertemu orang spesial di masa lalu jika perpisahanmu tak baik. Karena setelahnya perasaan kita akan bilang bahwa ada yang harus diselesaikan. Entah itu berujung pertemanan yang membaik, atau nostalgia pada cinta yang dulu pudar. Logikaku memilih yang pertama tapi tidak dengan hatiku. Membuat kembali puzzle kenangan itu bukan perkara niat, melainkan banyak kesempatan untuk bisa menyusunnya kembali. Entah itu berupa kecupan kening yang rasanya masih sama seperti dulu atau hanya sekedar peluk yang bisa menyamakan rasa debar dihati masing-masing. . Hatiku melayang hingga jatuh pada kenangan 4 tahun silam. Saat pertemuan sembunyi-sembunyi dilakukan, saat hanya untuk menggenggam jemariku pun kamu harus menengok sekeliling. Bedanya sekarang, kamu bukanlah prioritas nomor satuku seperti dulu. Otakku harus berkompromi dengan hati, menyamakan niat untuk apa dekat denganmu. Jawabannya kompak; menemukan kenangan yang tak sengaja tergelatak di depan hati, sebentar saja dulu aku mengambilnya, setelahnya akan ku simpan lagi di tempat yang jauh dari hati dan prioritasku selama ini. Tapi nyatanya, genggamanmu, peluk dekap dipundakmu yang kurus, kecupan hangat dari bibirmu mampu mempersilakan kenangan itu menetap lama-lama dihati. Aku tau, kebersamaan kita hanya dilandasi oleh perpisahan yang tak baik dulu, atau hanya sekedar menikmati perhatian dari kesepian-kesepian yang kita ciptakan sendiri. Aku terhanyut, dalam sebuah asa yang aku tau takkan bisa pernah menjadi nyata. Mungkin dulu, saat aku baik-baik saja jadi nomor 2 sebesar itu pula sayang dan cintaku padamu. Rela bukan menjadi prioritas. Tapi sekarang? Saling sayang dan cinta rasanya takkan cukup jika tidak dibarengi dengan komitmen dan menjadikan aku satu-satunya. Mungkin terdengar egois tapi sekarang anggaplah aku perempuan selalu ingin memenangkan hati sendiri ketimbang berkorban besar untuk oranglain. Menetaplah sesukamu, di sini; hatiku. Pergilah sesukamu juga, karena pertemuan ini adalah kesalahan termanis yang memang enggan aku buang dulu. Marilah kita saling menyakiti lagi, saling menyayat lagi. Karena sekarang jika aku tersakiti oleh sayatan yang kubuat sendiri, aku tinggal pulang ke rumah yang menjadi prioritas nomor satuku sekarang. Yang jelas bukan pulang ke halte yang hanya berteduh kala hujan; kamu.
Silakan menetap, kali ini takkan ku usir. Terserah padamu, kau mundur akan kulakukan hal yang sama, kau tinggal maka aku coba untuk bertahan.
You, in my dream.
Jangan Kenang Aku
Pesan yang kamu kirim tempo hari itu jadi gas beracun buatku. Tak hentinya aku terkena dampaknya; memikirkanmu. Kamu memang kadang selucu ini, sentilan kata demi kata bisa juga meluruhkan segala amarah yang kupendam lama. Atau mungkin bukan karena kelucuanmu, tapi kelucuan tentang hubungan kita yang belum sempat kita lakukan perpisahan. Perpisahan menurutku adalah keragu-raguanmu pada hubungan kita. Tapi perpisahan menurutmu adalah menghilang dari pandangan serta hidupku tanpa ada kata berpisah. Sekarang kamu tidak menghilang lagi, kamu datang, kamu mulai menghampiri lagi aku yang sedang baik-baik saja, tanpa kamu. Jika ketiadaanmu justru membuat hatiku sehat, kenapa kamu malah datang lagi? Ah bukan, bukan seperti itu pertanyaannya. Jika ketiadaanmy justru membuat hatiku sehat, kenapa aku masih terus saja membuka pintu setiap yang mengetuknya itu kamu? Mungkin setengahnya masih cinta, sisanya aku tak yakin. Bisa jadi akan jadi salam perpisahan. Di ujung telepon kamu bilang akan mengenangku. Aku bilang jangan. jangan kenang aku, jika nantinya kamu menghilang lagi. Jangan kenang aku, jika nantinya kamu enggan lagi menarikku hatiku saat sudah terhempas. Jangan kenang aku, jika nantinya hanya aku yang akan lebih mengenang kamu, pun kisah kita. Jangan kenang aku, jika nantinya kamu lebih memilih diam, memilih hilang, memilih pergi tanpa mau mengucapkan perpisahan. Putus cinta dan patah hati itu perkara berbeda. Karena kamu aku hanya merasakan patah hati tanpa putus cinta. Aku normal, pun kamu, tapi tidak dengan kita. Jadi, jangan lagi kirimi aku gas beracun aku tak ingin kena dampaknya. Jangan pula kenang aku, berlari saja, menghilang saja, pergi saja. Aku sangat baik-baik saja tanpamu.
Fate doesn't come to you, at just anytime. It should happen, often at the most dramatic moments brought by coincidence. That's what makes it fate. That's why, another term for fate, is timing.
JungHwan (Reply 1988)
Selamat ya, kamu!
Selamat malam, Selamat atas kemenanganmu yang telah mengambil hatiku (lagi). Semakin lama, kamu semakin baik bertutur kata untuk bisa membawa hatiku. Tapi maaf, kali ini aku akan lebih berjaga-jaga pun berhati-hati. Pesan singkat yang kamu kirim tak lantas ku telan mentah-mentah. Hatiku senang, tapi otakku tidak. Mengenal kamu cukup lama tapi tetap saja masih membutakan aku dari sifat kurang baikmu; datang dan pergi sesukamu. Tapi mungkin bukan sepenuhnya salahmu, aku saja yang kurang galak terhadap hatiku sendiri, aku saja yang hatinya selalu menang melawan logika yang jelas-jelas aku rasa. Selamat, kamu sekarang memenangkan lagi hatiku. Tapi maaf, kali ini logikaku yang akan jauh lebih mengungguli hatiku. Hatiku sudah tak bisa lagi dipakai karena sering kamu bawa entah sampai berapa jauh tapi setelahnya hanya kamu simpan lalu ditinggalkan. Terkadang aku yang harus mencari sendiri di mana kamu meletakan hati itu, aku bawa kembali lalu terbengkalai. Entah kamu yang terlalu mahir atau aku yang harus terus belajar lagi untuk memahami diriku sendiri, aku yang harus belajar agar hatiku tak mudah dibawa ketempat yang aku sangka ada padamu, ternyata bukan. Terimakasih, sudah beberapa kali membawa hati ini walau tak lagi kamu letakan di tempat yang seharusnya. Silakan ulangi lagi ya, dan lihat kali ini takkan ku biarkan. Dari aku, yang sedang mencari hatiku sendiri.
Masa lalu, pemberi luka, dan kenangan
Menawarkan diri pada masa lalu itu bukan perkara mudah walaupun akan tetap ada debar indah di dalamnya. Menawarkan diri pada manusia yang pernah memberi luka itu bukan hal menyenangkan walaupun kita terkadang bisa menertawakan diri sendiri karena hal tersebut. Menawarkan diri pada kenangan yang sengaja telah ditutup rapat-rapat dalam ingatan itu pun bukan karena sekedar ingin walaupun tak sengaja akan hadir kembali lewat lagu atau tempat biasa bersama. Masa lalu, manusia pemberi luka, dan kenangan. Mereka yang terkadang bisa menghentikan jalan kita sejenak. Mereka yang terkadang membujuk kita melawan arus masa depan. Mereka yang terkadang dengan mudahnya membuat hati menjadi goyah. Menawarkan masa lalu pada mereka hanya akan mempunyai dua jawaban; penerimaan pada si pemberi luka dan penyesalan karena kenangan yang terlanjur terbuka.
Walaupun entah sampai kapan akan bersama, tapi setidaknya berjuang hingga akhir itu perlu.
Anonymous