Cerita dari Tegal Panjang
Halo. Aku mau bercerita tentang perjalananku kemarin, ini menyenangkan sekali, jangan iri!
Tanggal 27 – 28 Desember kemarin aku dan teman – teman berencana untuk naik gunung dan camping di Tegal Panjang. Aku tidak tahu dengan jelas secara geografis gunung ini terletak di sebelah mana Jawa Barat, yang jelas Tegal Panjang bisa di akses dari Garut melalui Gunung Papandayan dan dari arah Pangalengan. Googling it kalau ingin lebih jelas.
Perjalanan kami dimulai dari rumah salah satu teman yang sudah kami tiduri selama semalam. Maksudnya rumahnya yang kami tiduri, bukan temannya. Namanya Siti Aisyah (Ima), rumahnya agak jauh, di Kopo ke sebalah sana lagi, daerah bernama Katapang, mungkin tidak ada di peta.
Malam minggu kami lakukan packing, karena barang yang harus di bawa sangat banyak, mulai dari tenda, sleeping bag, dan lain – lain yang aku tidak ingat namanya pokonya terdengar keren dan anak gunung banget. Setelah packing lalu tidur, karena besok kami bertekad untuk sudah berada di Pangalengan dan melakukan pendakian jam 6 pagi. Malam itu berakhir.
Besoknya, Minggu, aku baru bangun jam setengah 6, dibangunkan oleh Erika yang nyuruh shalat dan baru bangun juga dia, teman – temanku yang lain juga ada yang belum bangun, berarti rencana kami untuk mulai pendakian jam 6 pagi gagal, karena waktu aku bangun aku masih di rumah Ima, tidak tiba – tiba terbangun di Pangalengan.
Kami baru selesai siap – siap dan sarapan jam 9 pagi, langsung berangkat. Perjalanannya lewat Banjaran lalu Pangalengan, kami mencari kampung yang bernama kampung Panyindangan, perjalanannya sebenarnya tidak terlalu jauh sih, harusnya bisa ditempuh 1,5 – 2 jam, tapi karena macet jadi jam 12 siang kami baru sampai kampung tersebut setelah bertanya kesana kemari.
Di perjalanan kami harus melewati jalanan berbatu tanpa ujung yang benar – benar menyiksa shockbreaker motor Jepang dan tulang punggung kami, juga melewati cibolang hot spring yang membawa trauma dan kenangan buruk, kalau ingin tau sila baca pengalaman saya sebelumnya di sini. Anyway, kami sampai!
Kami disambut oleh bapak – bapak pekerja kebun teh yang sedang beristirahat di warung, tidak ada tarian – tarian adat khas pangalengan yang menyambut. Setelah bertanya pada bapak – bapak tersebut, kami diarahkan ke rumah pak RW, jadi, karena jalur ini belum resmi, segala pencatatan untuk yang naik melalui jalur ini harus daftar dulu ke pak RW setempat, tanpa dipungut biaya, hanya seridhonya saja, pak RW nya baik dan juga santai sekali, katanya, “ya hati – hati saja pokonya mah, kemarin ada macan kumbang 3 ekor katanya, pokonya yang kompak jangan mencar – mencar” beliau menceritakan macan kumbang tersebut dengan eksresi datar. Administrasi beres, shalat lalu kami mulai perjalanan, uhuy!
Perjalanan kami dimulai melalui kebun teh yang sangat indah, tapi melelahkan karena panas sekali, kami mulai perjalanan pukul setengah 1 siang, bila kalian ingin melakukan perjalanan ke tegal panjang, lakukanlah sepagi mungkin, karena panas matahari benar – benar menguras tenaga. Padahal mataharinya jauh sekali di atas. Bayangkan nanti di akhirat matahari nya sejengkal di atas kepala kita, terbayang kan panasnya? naudzubillah, apa sih.
Akhirnya setelah 1,5 jam kurang sedikit, aku dan rombongan sampai di kebun teh cikulaeti, kalau gak salah kata pak RW itu namanya. Ini adalah gerbang menuju ke hutan rindang yang jadi sisa perjalanan kami selanjutnya, istirahat sebentar, mulai lagi.
Perjalanan di dalam hutan menurut aku adalah bagian perjalanan yang paling melelahkan, teduh memang karena rindang sekali pepohonannya, tapi perjalanan di hutan ini seperti kehidupan kita, kadang landai, kadang menurun, banyaknya menanjak, namanya juga mau ke puncak, belum lagi banyak jalur yang tertutup oleh batang pohon yang tumbang menyebabkan kami harus meloncat atau merunduk, juga ada beberapa pipa air yang bocor sehingga membuat jalur menjadi licin. benar – benar seperti kehidupan, membutuhkan banyak perjuangan dan melelahkan. Melelahkan sekali untuk aku yang belum terbiasa naik gunung, apalagi harus bawa tas 85L dengan tenda di dalamnya. Sumpah, selama perjalanan aku terus bertanya pada diriku sendiri, siapa sih orang yang pertama mempopulerkan wisata naik gunung, nyusahin aja, bikin cape!
Setelah 2,5 jam akhirnya kami sampai di puncak, Alhamdulillah. Pemandangan yang tersaji di depan mataku kini adalah padang rumput yang begitu luas dan indahnya, capeku terbayar, aku benar – benar lupa akan beban di pundakku, dengan kaki yang selama perjalanan bergetar, dengan rasa kesal karena di kentutin Obos ketika sedang kelelahan, semua lupa karena pemandangan ini.
Pemandangan yang tersaji, kata Tommy temanku, “ini mah kaya lukisan”, 8x dia bilang begitu. Mungkin terdengar hiperbola kalau kata majas, tapi ya memang begitu nyatanya. Indah sekali, hijau sekali, kamu kan tau aku suka sekali hijau!
Oke, aktivitas pertama setelah sampai sana tentu saja, mendirikan tenda, shalat lalu menyiapkan makanan. Fuck it! Foto – foto dulu lah! Setelah puas foto baru deh melakukan hal – hal tersebut di atas.
Sore kami dihabiskan dengan makan bersama dan bercanda, kalau ini bukan tentang dimananya sih, tapi tentang kebersamaannya, menyenangkan sekali. Setelah itu kami melakukan aktivitas utama dalam agenda naik gunung, foto – foto (lagi), dibarengi dengan warna merah langit barat, matahari terbenam, ah, Tuhan romantis sekali.
Sekarang langit sudah berganti malam, cuacanya dingin sekali kata temanku Ucup, kata aku sih biasa saja. Ya lumayan dingin, tapi biasa saja.
Malamnya kami habiskan dengan ngopi – ngopi, ngobrol – ngobrol lalu main werewolf, sampai jam 10 malam lalu ngantuk. Teman – temanku pada tidur di dalam tenda, aku, Tommy dan Khalid memilih tidur di luar, sebenarnya ini ideku, aku ingin mencoba tidur beratapkan langit. Jadi tenda kami yang berkapasitas 6 orang hanya diisi oleh 2 orang, mubazir sih, tapi bodo amat deh. Oh ya, juga karena rumor yang bilang di langit Tegal Panjang bintangnya bagus sekali. Jadi membuat aku semangat untuk tidur di luar walau kedinginan, tapi aku harus kecewa karena malam itu langit mendung sekali, bulan saja bersembunyi, bintang hanya terlihat beberapa.
Waktu itu sudah jam 1 kalau tidak salah, aku memandang langit kosong, ada gelap, ada awan dan kayanya ada Tuhan di sana.
Setelah tiba – tiba ketiduran, aku juga tiba – tiba terbangun, setengah 5 kalau tidak salah, dibangunkan Tommy yang bilang, “maneh jauh – jauh naik gunung harus liat sunrise, Pe!” dibangunkan juga oleh Erika yang nyuruh shalat, dia ini kerjaannya nyuruh shalat terus, ih!
Lagi – lagi, pemandangan yang tersaji di depan mata indah sekali. Matahari yang malu – malu terbit dari ufuk timur dibalik gunung, hangat dan mempesona. Membuat kami harus melakukan kewajiban kami, yap, foto – foto (lagi).
Setelah kami kehabisan gaya untuk foto – foto dan berjalan – jalan santai keliling – keliling menikmati pemandangan ditemani kabut tipis yang turun. Kami makan – makan lagi, menu pagi ini serba – serbi indomie dan royco, karena nugget dan sosis yang sudah kami beli tertinggal di kulkas rumah Ima.
Kami menghabiskan waktu kami di Tegal Panjang sampai jam 10, setelah itu beres – beres lagi dan pulang. Aku sebenarnya tidak rela juga kalau harus cepat pulang, tapi mau ngapain lagi disana. Waktu memisahkan aku dengan Tegal Panjang, kami foto – foto bersama untuk terakhir kalinya.
Sebelum foto – foto terakhir, aku menyempatkan dulu menyelesaikan ambisiku yang tertahan dari waktu datang ke Tegal Panjang, aku ingin berguling dari bukit yang tinggi sampai ke bawah, setelah aku lakukan ternyata rasanya pusing dan gatal, jadi mikir untuk apa aku lakukan itu, biarin aja yang penting senang.
Perjalanan pulang kami lalui melewati jalanan yang sama lagi, hutan yang sama, kebun teh yang sama, hanya saja perjalanan lebih didominasi oleh jalanan menurun dan cuaca mendung sehingga perjalanan kami terasa lebih cepat dan tidak terlalu berat, kurang lebih 2,5 jam kami sudah sampai di perkampungan lagi. Setelah itu, shalat dzuhur lalu pulang, melalui jalanan yang sama menuju rumah Ima.
Hari itu, kemarin, di rumah Ima, ditutup dengan pesta Coca – cola, sosis dan nugget yang tidak terbawa, juga perkedel jagung spesial Bunda Ema. Mantap sekali!
Begitulah ceritanya, tentu saja, tulisan ini tidak bermanfaat bagi kalian yang ingin ke sana, karena tidak menyajikan informasi jelas. Kalau kalian ingin informasi jelas ya cari saja tulisan – tulisan lain di google. Eh memang ada yang baca ya? Ah persetan. Tulisan ini hanya tentang aku dan teman – teman yang habis camping di Tegal Panjang. Tegal panjang sangat tepat bagi kalian yang ingin melepas penat, bagi kalian yang ingin melepaskan sejenak hubungan dengan dunia luar, karena disini tidak ada sinyal. Kalian bisa meninggalkan segala masalah duniawi kalian di belakang, menyenangkan sekali.
Naik gunung ternyata benar - benar menyenangkan, semua lelah terbayar ketika kita sudah sampai puncak. Nikmatnya lebih – lebih dari puncak kenikmatan ketika masturbasi.
Jika boleh, aku yang naik gunung hanya karena sedang trend berpendapat. Bagiku, naik gunung bukan tentang perlombaan siapa yang paling cepat bisa sampai ke puncak, bukan tentang individu mana yang lebih kuat, tapi tentang ketahanan diri kita sendiri, tentang push yourself to the limit, juga lebih lagi tentang kebersamaan, tentang melewati rintangan bersama – sama, tentang saling menunggu dan membantu, tentang berbagi beban dan tanggung jawab, tentang kesenangan yang tercipta dari kelelahan, dari keringat yang bercucuran.
Tegal Panjang bagiku sangat indah, kamu harus setuju, bila bagimu tidak mungkin kamu terlalu sombong atau kamu tidak mau bersyukur. Ah ya ampun terimakasih, Tegal Panjang yang kemarin tercipta oleh candaan dan kebersamaan dan dilengkapi dengan berbagai macam perasaan, kebahagiaan, cinta yang terpendam, kecemburuan, kekaguman, kerinduan, mungkin juga kecemasan, kenangan dan juga kegundahan dan lain lain.
Akhir kata. Terimakasih Tuhan yang sudah menciptakan keindahan ini, Tuhan yang ingin dipanggil dengan sebutan Allah.
Terimakasih Tegal Panjang.
Terimakasih Pak RW dan anaknya yang masih SD tapi sudah cantik luar biasa, hayuk Dek, ikut aa ke kota jadi artis.
Terimakasih Bunda Ema atas masakannya.
Terimakasih aa paskapala atas pinjaman alat – alatnya yang harus dibayar.
Terimakasih yang sudah baca.
Pengalaman ini tidak akan terlupa, kecuali kalau aku jadi pikun, semoga ada lagi perjalanan lain, ke gunung yang lain, suatu hari nanti.
Cerita dari Tegal Panjang, ditulis di Bandung dengan punggung yang terasa mau patah