Bila waktu bisa diputar-ulang. Dan aku diberikan kebebasan untuk memilih. Hanya ada satu pilihan yang tidak akan aku ubah; Kamu.
Sisanya? Kau tahu. Aku tidak menginginkan hidup seperti ini. Kau pun pasti tahu. Bukannya aku tidak bersyukur. Semesta terlalu baik untuk tidak disyukuri. Hanya saja, ini tidak pernah menjadi pilihan pertamaku. Dan kau benar. Aku bukannya tidak punya pilihan lain. Malah aku memiliki banyak sekali pilihan tersaji di depan mata. Saat itu ataupun kini.
Yang aku tidak tahu kamu tahu atau tidak. Ada satu kemewahan yang waktu itu tidak aku miliki; kebebasan untuk memilih.
Tahun sudah berganti banyak. Tapi aku masih ingat, aku cukup beruntung tidak ada yang memaksaku untuk memilih apapun yang aku pilih. Aku juga tidak di ujung tanduk antara hidup atau mati saat aku dihadapkan pada pilihan ini. Aku yang secara sadar memilih ini semua. Dorongan itu ada dari dalam diri sebagai respon akan lingkungan sekitar yang membesarkanku. Aku yang melangkahkan kakiku sendiri. Dengan kesadaran akan segala konsekuensi dari pilihanku yang mungkin tidak aku suka. Tapi percayalah aku memilih ini untuk sesuatu yang lebih besar.
Sekali lagi kau benar; aku tidak memiliki keberanian untuk memilih hal lain.
Aku harus akui itu. Sepanjang hidup ini aku dihadapkan banyak sekali persimpangan yang bisa aku pilih. Tapi nyatanya aku tidak pernah berani. Aku bisa saja meninggalkan jalur ini dan berbelok. Meskipun aku tidak pernah tahu kemana akan dibawa. Memang, besar kemungkinan salah satu persimpangan itu berujung pada apa yang selama ini aku cari. Semesta telah membuktikannya satu kali; saat aku memilih persimpangan yang membawaku kepadamu.
Tapi, maafkan aku si penakut ini.
Hidup ini perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan. Sampai saat ini pun aku belum berani memilih jalur lain. Harap kau maklum. Hal terbaik yang aku miliki kini adalah dirimu yang mengiringi perjalanan ini. Denganmu, semoga persimpangan itu tak terlihat terlalu menakutkan lagi. Atau, bilapun tetap terlihat menakutkan semoga aku yang jauh lebih berani. Duduk tenang di sampingku, ya. Biar aku yang mengemudi. Kau pilih musik dan bantu navigasi. Satu hari kita akan sampai. Pada tujuan yang selalu bersama kita idamkan. Perjalanan ini, Sayang. Akan penuh liku dan kadang berbatu. Pakailah sabuk pengamanmu.
Malam ini. Kemarin dan malam-malam setelahnya. Hingga nanti malam ke-tak hingga. Tak ada satu hal pun yang lebih aku inginkan selain; dirimu berada di sisi. Menyisakan kita yang hanya berdua saja. Melewati malam sunyi. Semesta yang meremang. Lalu seketika hilang suara dari dalam kepala. Terangkat tiap rasa gelisah dalam dada bersama udara malam yang bercampur deru halus nafasmu yang lelap. Hanya itu saja. Maka bagiku, tak ada lagi malam yang lebih baik.
Maaf, aku telah mencoba bertahan. Aku tidak ingin membebanimu dengan ini. Tapi ketika ruang dan waktu terpisah menjadi jarak. Rindu ini tak mudah dibendung. Iya, aku merindukanmu. Sama seperti kemarin. Kemarin lusa. Atau minggu lalu. Rindu yang selalu sama.
Kau ingin tahu tidak apalagi yang selalu sama? Perasaanku ketika melihat senyummu. Senyum yang selalu sama. Selalu aku suka. Seperti selalu pertama kali. Menimbulkan perasaan yang tidak satu ahli pun dapat menjelaskan efeknya pada perasaanku. Menggetarkan. Tak terdefinisi. Senyum itu, tidak ada yang boleh merenggutnya. Termasuk aku. Oh, aku bersumpah pada diriku sendiri untuk terus berusaha menjaganya. Meskipun, ya, namanya usaha, tak selalu berhasil. Tapi yakinlah aku tak akan berhenti berusaha. Sedikitpun tidak.
Ah, Sayang. Malam ini begitu sunyi, hanya ada aku dan suara di kepala. Sepi ini merasuk. Maaf aku kebanyakan meracau. Tidurlah kau di sana. Mari berjumpa lagi esok pagi.
Aku ajak kalian kembali ke satu hari yang awalnya biasa saja. Sama seperti hari lainnya. Tapi berubah menjadi hari yang sangat penting dalam hidup aku dan Marcella. Hari yang menjadi penanda awal cerita.
Hari itu sudah menuju sore. Aku dan Mar sedang ngobrol santai entah tentang apa. Lalu tiba-tiba Mar bilang;
“yaudah deh hayu.”
Aku tanpa tanya terlebih dahulu menjawab, “oke, hayu.”
Lalu setelah jeda beberapa saat, aku tanya lagi, “hayu apa ini? Kita mikirin hal yang sama enggak, ya?”
Ternyata iya. Itu adalah ‘hayu’ untuk hal yang telah kami bicarakan sejak pertengahan Desember. Sebuah jawaban atas pertanyaan yang pernah aku ajukan hampir sebulan sebelumnya. Atau mungkin kurang.
“Mau kapan, atuh?”
“Dua minggu lagi aja, yuk?”
“Oke, tapi aku ingin Ucup yang jadi saksi”
“Iya.”
Iya. Kami hendak menikah! Betul, menikah! Kami segera menyusun jadwal secara detil apa saja yang perlu dilakukan untuk melaksanakan pernikahan dalam waktu 2 minggu, 16 hari kalender atau lebih tepatnya 12 hari kerja. Seperti tidak mungkin, ya. Tapi dicoba saja dulu.
Besoknya, aku menghubungi Ucup. Memberi kabar yang entah bagaimana membuat dia sangat terkejut sekaligus senang, aku sampai bilang ke Mar, “kayanya Ucup lebih seneng daripada kita, deh” dan sekaligus meminta dia untuk menjadi saksi pernikahan aku. Untung saja Ucup bisa, meskipun pakai nangis-nangis dulu sebelumnya sampai harus ditenangkan oleh Zet, istrinya.
Hari Jumat sore, 8 Januari 2021.
Aku sudah sampai Bandung. Kebetulan sekali Ibu dan Bapak Puji sedang duduk di ruang keluarga sedang mengobrol lalu terkejut melihat aku sudah pulang padahal hari masih sore.
“Jam berapa dari sana?”
“Setelah Jumatan.”
Padahal Jumatan baru 2 jam yang lalu, untung percaya saja. Aku lalu duduk dan melepas sepatu. Menarik nafas panjang lalu bilang,
“Pebri mau nikah, Bu, Pak”
Mereka lumayan terkejut,
“sama siapa?”
“Marcella, Bu”
Untuk itu mereka tidak terlalu terkejut,
“kapan?”
“Inginnya sih 22 Januari, 2 minggu lagi”
“Serius?”
Mendengar tanggalnya baru mereka sangat terkejut.
Aku lalu menceritakan bagaimana pernikahan yang kami inginkan dan telah kami rencanakan sejauh ini. Syukurlah, tanpa ada penolakan dan perdebatan berarti Ibu dan Bapak Puji menyetujui. Mereka hanya mempersyaratkan dua hal, meskipun sederhana harus tetap ada pengajian yang mengundang tetangga dekat, “agar berkah” begitu katanya dan acara silaturahmi antar dua keluarga karena, “Ibu juga ingin kenal keluarganya Marcella, atuh.”
Aku menyanggupi dengan syarat, “tapi Pebri gak mau dipajang dan salaman dengan orang yang tidak dikenal, ya”
Aku memastikan sekali lagi, “Ibu malu tidak anaknya nikah hanya di KUA?”
Mereka sepakat tidak. Malah nampak senang. Bahkan, langsung menghubungi pak RW via WA untuk ke rumah nanti malam untuk bantu mengurus administrasi.
“Tapi orangtuanya Marcella udah tau?”
“Belum.”
“Hah?”
“Tenang.”
Aku menyalami mereka berterimakasih, sebelum lebih banyak lagi mendapat wejangan, izin ke kamar, meninggalkan mereka dengan beragam tanya di kepala.
Sabtu, 9 Januari 2021.
Jadwalnya hari ini adalah meminta izin dari Ibu-nya Mar dan membuat pas foto. Meskipun kami yakin Ibu Mar akan memberi izin, tapi tetap saja aku berangkat dengan perasaan sangat deg-degan. Seperti mau sidang tugas akhir. Menyetir perlahan sambil mendengarkan lagu-lagu favorit di perjalanan. Ingin cepat selesai tapi tidak mau cepat sampai. Nervous.
Aku telah berdua bersama Ibu nya Marcella di ruang tamu. Ibu Mar yang sudah diberikan pendahuluan terlebih dahulu oleh Mar masih menanyakan maksud kedatangan aku ke rumahnya. Pura-pura tidak tahu. Lalu aku jelaskan saja seperti sebelumnya telah aku jelaskan pada Ibu dan Bapak Puji. Ditambahi hal lain untuk meyakinkan beliau. Sepertinya hanya 20 menit kami berbincang. Yang lebih banyak berisi wejangan dari beliau. Yang penting izin sudah didapat. Tidak apa-apa. Lega.
Setelah itu, kami membuat pas foto dan mempersiapkan persyaratan administrasi lainnya.
Minggu, 10 Januari 2021.
Dalam rangkaian jadwal permohonan izin, sepertinya hari ini yang paling menegangkan bagi kami berdua. Karena kami sempat ragu melihat ekspresi Ayah Marcella yang sangat sangat sangat tidak mood. Aku kasih tiga ‘sangat’ untuk menggambarkan betapa menegangkannya hari itu.
“Nanti aja gimana? Aku takut ditonjok.”
“Gak bisa, gak ada waktu lagi.”
Mar benar, karena satu dan lain hal. Baru hari ini dan sepertinya hanya hari ini lah waktu yang tepat untuk meminta izin ke ayahnya bila kami ingin menikah sesuai jadwal. Tidak besok, apalagi lusa.
“Tapi aku yang ingin ngomong langsung ke Ayah kamu.”
“Iya, tapi aku duluan ya yang bilang.”
Meskipun Mar juga ragu, dia maju duluan. Aku melihat dari kejauhan.
Sepertinya sudah lebih dari 15 menit aku melihat Mar mencoba menjelaskan pada ayahnya dan selama itu pula raut muka ayah Mar tidak berubah. Akhirnya aku berdiri dan mencoba memberanikan diri menghampiri mereka.
“Beneran lu mau nikah?” tanpa basa-basi ketika aku baru hendak salam.
“Iya, Om, boleh ya?” aku jawab berusaha santai sambil menatap matanya dengan yakin.
Setelah itu beragam pertanyaan sulit satu persatu mengalir dari Ayah Mar, seperti sudah dipersiapkan oleh seorang ayah yang anaknya hendak dilamar. Aku pun tidak sadar bagaimana bisa aku menjawab setiap pertanyaan yang disampaikan dengan cepat. Padahal tidak mempersiapkan apa-apa. Yang ada dalam kepalaku hanya, bagaimanapun hari ini harus dimenangkan. Tidak bisa tidak.
Setelah 30 menit lebih sesi tanya jawab dan sesi pemberian wejangan akhirnya Ayah Mar melunak sedikit demi sedikit. Setelah dia memberi izin aku jabat tangannya.
“Ini salaman paling penting abad ini nih, Om. Om yakin kan? Saya yakin sama Marcella, Marcella yakin sama saya, tinggal saya minta Om yakin sama saya, ya.”
Beliau mengiyakan. Izin sudah di tangan. Malamnya aku kembali ke Depok dengan hati cukup tenang. Dan senang, tentu saja.
Senin – Selasa, 11-12 Januari 2021.
Hari ini sesuai jadwal adalah hari pengurusan administrasi. Dengan bantuan Pak RW dan kesaktian pak Puji sebagai tokoh masyarakat, urusan administrasi di RT/RW, di Kelurahan dan di KUA untuk meminta surat pengantar aku yang akan menikah di KUA kecamatannya Mar sudah selesai. Memang hanya itu bagi calon pengantin pria. Setelah itu seluruh berkas diantarkan ke calon pengantin wanita, untuk disatukan dengan berkas Mar yang sebelumnya sudah berhasil diurus mulai dari RT lalu RW dan ke kelurahan. Pokoknya, sudah siap semua disampaikan ke KUA.
Tapi ternyata tidak semudah itu. Ada beberapa perbedaan di berkas milik Marcella. Dan kurang lengkapnya berkas dari aku. Sehingga Mar harus bolak balik ke kecamatan, ke tempat ngeprint, ke photocopy, dan lain-lain. Pokoknya ribet sekali, hari itu tidak selesai.
Rabu, 13 Januari 2021
Aku sudah ada di Bandung lagi hari itu. Dan kami telah berada di KUA dengan dokumen lengkap sesuai yang dipersyaratkan. Harusnya sih sudah tidak ada kesalahan lagi. Semoga.
Dokumen dicek satu persatu dan sepertinya sudah sesuai. Bapak pengurus administrasi merapikan dokumen kami dan menghela nafas agak panjang sebelum mulai bicara. Kami membicarakan beberapa hal teknis terkait pendaftaran dan pelaksanaan akad nikah di KUA. Aku hanya lebih banyak mendengarkan. Begitu juga Mar. Tidak lama seluruh urusan administrasi KUA telah selesai. Kami berpamitan dengan beliau.
Hari itu dilanjutkan dengan membeli mas kawin dan mencari cincin pernikahan.
***
Karena kami telah mendapatkan tanggal pasti, kami memutuskan menghubungi teman-teman untuk memberi kabar pernikahan kami. Dan aku tidak menyangka itu menjadi hal paling seru. Orang pertama yang kami hubungi lewat telepon adalah Elva. Dia terkejut sampai tidak bisa berkata-kata dan sesak nafas. Kami hanya tertawa saja. Setelah Elva, selanjutnya kami mengabari teman lainnya melalui video call. Karena ingin melihat ekspresi mereka.
Meskipun ekspresi dan cara responnya berbeda-beda, tapi semuanya sama; terkejut dan tak percaya. Lucu banget. Saking tidak percayanya, beberapa dari teman kami setelah menutup telepon beberapa menit kemudian mengkonfirmasi ulang melalui pesan ke whatsapp;
“ini teh serius Pe? Urang gemetar banget dengernya. Emang ya, kalau maneh mah gak akan normal cara nikahnya.”
“Pe aku mimpi gak ya tadi ditelepon kamu?”
“Mana coba lihat bukti udah daftar ke KUA nya.”
Dan pesan lain yang se-nada. Aneh memang teman-temanku, masa begitu aja kaget. Dan malah aku yang dianggap aneh. Aneh. Sempat aku bertanya pada Age dan Elva kenapa orang-orang pada terkejut, malah dimarahi.
“Ya pikir aja sama maneh gimana orang-orang gak kaget! Ada gak orang yang ngasih tau nikahan tujuh hari sebelum hari nikahannya. Lewat video call lagi! Aneh dasar!” begitu kata Age.
“Aku masih gak habis pikir, kenapa ya di hidup ini aku punya temen kaya kamu, Pe!” itu kata Elva.
Selain memberitahu pernikahan kami akan diselenggarakan di KUA, kami juga mengabarkan akan mengadakan acara makan-makan sederhana bagi teman-teman terdekat saja di villa yang akan kami sewa. Baru akan, belum ditentukan tempatnya. Masih dicari. Yah, namanya juga mendadak. Tapi, kepada beberapa teman aku langsung membagikan tugas; Age dan Elva konsumsi, Julio logistik, Obos seksi acara dan Galih kami minta menjadi fotografer kami. Untung saja mereka tidak menolak. Atau mau menolak tapi tidak enak. Entahlah.
Hari itu selesai dengan menyenangkan.
Kamis, 14 Januari 2021
Ke Pasar Baru membuat jas dan lalu membuat grup whatsapp bagi para panitia acara pernikahan aku dan Mar serta membagi tugas masing-masing. Tanpa konfirmasi tapi juga tanpa penolakan lagi.
Jum’at, 15 Januari 2021
Hanya mengantarkan Mar ke beberapa tempat dan survey ke villa yang akan kami sewa untuk acara. Akhirnya sudah ditentukan juga.
Sabtu, 16 Januari 2021
Hari lamaran resmi. Aku ajak Ibu dan Bapak Puji juga kakak pertamaku ke rumah Marcella. Diterima oleh Ayah, Ibu dan kakak Marcella. Acara kekeluargaan, ngobrol ngalor dan ngidul, ini dan itu yang tidak ada hubungannya dengan maksud dan tujuan kami sebelum sampai kepada inti acara; Pak Puji ‘melamarkan’ Marcella untukku dan diterima oleh ayahnya Marcella. Diikuti dengan beberapa kesepakatan teknis acara dan banyak sekali wejangan dari berbagai sisi keluarga. Cukup serius untuk bagian itu. Setelah cair, lalu ngobrol lagi, ketawa-ketawa formalitas. Beramah tamah. Lalu selesai.
Minggu, 17 Januari 2021
Nongkrong dengan beberapa panitia inti seperti Age, Julio, Ele, Galih dan Obos di kedai kopi favorit. Untung saja semua antusias. Mencatat apa saja yang perlu dipersiapkan. Seperti tidak sedang merencanakan acara besar. Ini acara nikahan atau ulang tahun, sih?
Senin – Selasa, 18 – 19 Januari 2021
Aku telah berada di Depok. Seluruh koordinasi dilakukan dari jarak jauh. Konsumsi dengan Age, logistik dengan Ele dan Julio juga dekorasi dengan Zaly dan Dickyn. Semuanya kami yang pilih, mereka yang mempersiapkan. Senang sekali punya teman yang mau direpotkan.
Hari Senin, aku meminta izin dan memberi tahu teman-teman kantor. Sama terkejut juga dengan banyak asumsi di kepala. Tapi yasudah lah yang penting diizinkan cuti. Selasa malam sudah di jalan lagi menuju ke Bandung.
Rabu, 20 Januari 2021
Tidak ada agenda apa-apa sesungguhnya hari ini. Tinggal memastikan semua selesai dipersiapkan. Tapi oh tapi, baju Marcella gagal! Tidak sesuai ekspektasi dan contoh yang diberikan pada penjahit. Gagal pokoknya! Sudah H-2 padahal, astaga!
Kami memutar otak mencari alternatif terbaik yang bisa dilakukan. Setelah mengeliminasi beberapa pilihan yang tidak mungkin. Akhirnya kami mengirim pesan ke teteh penjahit jas. Bertanya, bisakah dia menjahitkan baju sesuai dengan desain yang diinginkan Marcella dalam waktu hanya satu hari. Bisa katanya. Kami hampir tidak percaya, tapi hanya si teteh lah satu-satunya pilihan kami yang tersedia.
Kami langsung meluncur mencari kain yang diinginkan dan lalu ke pasar baru lagi.
“Teh bener ini bisa jadi dalam waktu sehari? Kalau enggak mah enggak apa-apa Teh enggak usah” aku memastikan lagi.
“Bisa tenang ya diusahain pisan.”
“Bener ya, kalau enggak jadi saya bisa batal nikah nih, Teh.”
Setelah mengukur badan dan mencatat semua rikues Marcella, Teteh menenangkan kami dan kami pulang dengan pura-pura tenang.
Kamis, 21 Januari 2021
H-1 diisi dengan pengajian di rumah. Mengundang aku dan Marcella untuk diberi wejangan oleh bapak ustadz guru ngaji Ibu dan aku waktu dulu aku masih suka ngaji. Lalu pengajian seperti biasa. Doa-doa dilantunkan. Dan diakhiri dengan makan-makan seadanya. Padahal tidak terlalu lama tapi terasa melelahkan, kaki sampai kesemutan mendengar wejangan dan lumayan pegal menyalami para tetangga dan saudara yang datang hari itu.
Kami, terutama Marcella tidak tenang. Bukan hanya karena harus berada di antara keluargaku. Tapi tidak tenang menunggu hasil akhir dari baju yang sedang dijahit. Bila gagal lagi sudah tidak tahu harus bagaimana. Kami berjudi dengan waktu.
Sore hari yang gerimis kami meluncur ke pasar baru. Menunggu dengan cemas baju yang sedang dikirimkan oleh pegawai teteh dari tempat jahit ke kios. Setelah bajunya tiba dan dicoba oleh Marcella. Untunglah, hanya ada kekurangan sedikit, tapi secara keseluruhan memuaskan. Lega sekali. Kami sempat berpikir akan menikah pakai kaus dan jeans saja bila baju ini gagal lagi. Tapi hanya kurang dari 24 jam Teteh dan tim berhasil mewujudkan baju sesuai yang diinginkan. Edan.
“Teteh ini pakai jin ya kaya bikin Tangkuban Perahu?”
Si Teteh hanya tertawa bangga. Dan kami pulang dengan benar-benar tenang. Terimakasih banyak, Teh.
Jum’at, 22 Januari 2021
Ini hari nya!
Jam empat pagi aku sudah mandi. Sebuah fenomena yang begitu langka. Mandi pagi saja sudah langka, apalagi jam empat pagi. Efek dari semalaman tidak bisa tidur sama sekali. Dan mencari aktivitas agar tidak deg-degan. Entah karena akan menghadapi hari ini, hari yang sudah lama ditunggu dan dipersiapkan. Atau hari-hari setelahnya.
Selesai aku mandi. Marcella sudah di depan gang rumahku. Menjemputku untuk mengantar dia ke tempat make up lalu pulang dan siap-siap. Jam tujuh kurang sedikit aku sudah di jalan lagi hendak menjemput Mar untuk bersama pergi ke KUA. Pagi itu aku rasa aku mengendarai mobil perlahan sekali sambil mengulang-ulang lagu ‘Timur’ dan ‘Hanya Kau’ dari The Adams yang memberikan aku ketenangan.
Iya, kami pergi ke KUA berdua saja. Orangtua kami menunggu di sana.
Pagi terasa begitu cepat dan tiba-tiba saja aku dan Marcella telah berada di pojok sebuah ruangan kecil yang berada di kantor KUA. Duduk di kursi yang telah disediakan, bersebelahan, menghadap penghulu dan kedua orang saksi yang bisa bicara. Bukan saksi bisu.
Disaksikan oleh beberapa anggota keluarga dan kerabat yang paling dekat. Entah perasaanku saja, atau memang sesaat sebelum dimulai tiba-tiba ruangan begitu senyap. Menegangkan.
Empat puluh detik.
Hanya empat puluh detik.
Bahkan masih kurang dua puluh detik untuk genap satu menit. Empat puluh detik waktu yang dibutuhkan untuk sebuah proses sakral yang menentukan masa depan kami berdua. Empat puluh detik untuk mengucapkan sebuah kalimat yang sudah aku ulang-ulang beberapa hari terakhir dalam gumaman saat menyetir, saat bekerja atau aktivitas lainnya dan bahkan terucap di dalam mimpi.
Empat puluh detik saja lalu kami berdua bisa tersenyum lega. Begitu juga keluarga dan kerabat yang menyaksikan ikut lega. Dan tentu berbahagia.
Kami keluar ruangan KUA sudah sebagai pasangan yang sah. Menurut agama dan negara. Kami telah menikah. Menikah! Sulit dipercaya tapi telah terlaksana.
Ketika keluar rasanya sudah seperti artis baru selesai pentas, disalami dan dimintai foto bersama oleh banyak orang. Sampai mati gaya. Tapi aku bahagia sekali. Tidak tergambarkan perasaannya. Belum pernah sepertinya merasakan perasaan ini sebelumnya. Ucapan selamat dan doa-doa baik berhamburan menyerbu kami. Dari sanak famili yang hadir, dari kerabat dekat yang menyempatkan datang dan semoga juga dari alam semesta beserta seluruh isinya.
Siang itu seluruh prosesi selesai sudah. Kami pulang ke rumah.
***
Sorenya, masih di hari yang sama. Aku meluncur lagi bersama Mar menuju daerah Bandung Utara yang sudah mulai macet dan mendung. Seperti akan hujan. Tapi semoga tidak. Sebenarnya kami sudah dipesani oleh Age untuk hadir ketika mereka sudah mengijinkan. Hendak memberi kejutan sepertinya. Tapi, kami tidak tahu mau kemana lagi, jadi langsung saja ke lokasi. Ketika sampai, benar saja, kami belum boleh masuk karena persiapannya belum selesai.
Setelah persiapan selesai maka acara pun dimulai. Dilakukan penyambutan bagi kami; dikalungi bunga lalu teman-teman berbaris menyalami kami satu per satu dan memberikan sebatang bunga bagi kami berdua. Ditambah gelembung balon yang ditiupkan ke udara mengapung-ngapung di antara kami dan confetti yang dengan agak sulit akhirnya dapat ditembakkan juga untuk meramaikan suasana.
Lalu aku dan Marcella dipersilakan untuk sedikit melakukan speech. Aku secara tulus meminta doa mereka atas kami dan berterimakasih sekali bagi yang sudah mau-maunya terlibat dalam persiapan acara ini juga yang telah menyempatkan hadir di sela-sela kesibukan mereka. Setelah acara selesai kami kembali foto-foto. Sebelum langit semakin gelap dan menumpahkan basah ke bumi.
Acara bergeser ke tempat makan dimana telah tersedia beberapa makanan dan minuman. Beberapa teman ada juga yang baru sempat datang ketika sudah malam. Untung saja hari itu hujan tidak jadi datang. Sore sampai malam diisi dengan makan dan minum, bercengkerama dan menjawab banyak pertanyaan dari teman-teman yang masih saja penasaran.
Pukul sembilan malam lebih sedikit beberapa teman yang memang tidak berniat menginap sudah pulang. Sedang teman-teman yang akan menginap lalu berpindah ke ruang keluarga di dalam villa. Di luar sudah terlalu dingin. Ternyata, bukan hanya dekorasi di meja makan yang dibuat oleh Zaly, di dalam villa Zaly sudah menyiapkan semacam pelaminan bagi kami, lengkap dengan backdrop dan inisial kami tertempel di sana. Di tangga pun sudah dipasang dekorasi buatan tangan dia. Lumayan terharu, jadi berasa resepsi di gedung. Sayang, kami tidak sempat mengabadikan momen di ‘pelaminan’ tersebut.
Acara selanjutnya yang telah dipersiapkan untuk kami adalah menonton film pendek yang telah dibuat mendadak oleh Ucup dan juga teman-teman lainnya yang lumayan membuat terharu. Juga bermain kuis. Hari itu aku dan Mar harus bersaing melawan Ucup dan Zet dalam kuis yang bertajuk, seberapa mengenal kami satu sama lain. Sebelum mulai pun sudah dapat dipastika siapa yang akan menang. Tapi aku lumayan senang karena tanpa terduga aku dan Mar hanya salah sedikit dari beberapa pertanyaan. Sebuah pencapaian bagi kami.
Setelah itu dilanjutkan dengan sharing session. Aku dan Marcella diminta bercerita dari awal semua ini terjadi hingga sampai kami berujung pada pernikahan yang mengejutkan banyak orang. Dilengkapi sesi tanya jawab. Pokoknya, kami jelaskan semua. Bagaimanapun, mereka berhak tahu.
Malam itu hangat sekali di Bandung yang dingin. Hangat dari dalam. Dari hati yang dipenuhi kebahagiaan dan kekeluargaan. Malam itu diisi dengan obrolan, canda tawa dan makanan hingga malam jatuh dan kami menyerah pada kantuk.
Sabtu, 23 Januari 2021
Pagi hari sudah tidak ada rangkaian acara. Bebas saja. Beberapa teman berenang.
Pukul 10 pagi aku dan Mar pamit undur diri duluan. Dan tiba-tiba saja gelombang tangisan terjadi. Dimulai dari aku yang tidak kuasa menahan tangis bahagia dan haru ketika memeluk Elva. Lalu Mar yang berpamitan pada Age, mereka berdua juga menangis. Diikuti Ucup dan Zet. Jarang sekali aku lihat Zet menangis. Lalu beberapa teman lainnya juga ikut meneteskan air mata. Pagi itu ditutup dengan adegan berpelukan erat bersama-sama. Beruntung sekali aku memiliki mereka sebagai keluarga. Membahagiakan.
***
Aku dan Mar lalu menuju sebuah rumah makan di wilayah Lengkong. Masih di Bandung juga. Acaranya; makan-makan keluarga inti. Ajang silaturahmi keluargaku dan keluarga Marcella. Tidak banyak, sepertinya total hanya sekitar 50 atau 60 orang. Lupa.
Acaranya begitu saja. Dipersiapkan kebanyakan oleh kakakku. Dia dan kakaknya Mar bertugas sebagai MC yang memandu jalannya acara sekaligus memperkenalkan nama-nama dari anggota keluarga beserta profil singkatnya yang kemungkinan tidak akan diingat ketika pulang dari sini. Aku dan Mar hanya duduk bersebelahan, bisik-bisik bergosip. Untung pakai masker.
Setelah itu makan-makan dan ramah tamah. Aku berbincang-bincang dengan saudaraku dan saudara Mar. begitu juga sebaliknya. Beberapa meminta foto bersama kami. Beberapa bersalaman untuk memberi selamat, doa dan pamit. Melelahkan sekali padahal ini bukan resepsi. Dan ngantuk sekali.
“Ini acara kita, tapi kayanya kita berdua yang paling gak ingin ada di sini” aku bilang gitu ke Mar dan dia mengamini sambil tertawa.
Hanya ada satu hal dalam benak kami saat itu; tidur. Mempersiapkan diri dan energi untuk perjalanan tengah malam nanti menuju bandara untuk terbang ke sebuah pulau nun jauh di sana. Tidak lama acaranya selesai lalu kami pulang. Lelah sekali, tapi juga senang sekali.
Begitulah. Cerita dari rangkaian persiapan hingga pelaksanaan hari pernikahan kami. Acara pernikahan yang banyak orang bilang jauh dari standar pernikahan pada umumnya. Tidak biasa. Tapi ya memang begitu, bahkan jauh sebelum kami memutuskan menikah, kami telah sama-sama memimpikan sebuah acara pernikahan se-sederhana tapi se-intim mungkin. Hanya dihadiri oleh kerabat terdekat saja. Tanpa keramaian berlebihan. Khidmat dan hangat.
Cerita ini ditulis terutama bagi diri kami sendiri. Sebagai catatan yang suatu saat dapat selalu dibaca kembali. Ketika ingin merasakan kembali segala perasaan bahagia dan perasaan lainnya yang tak tergambarkan hari itu. Atau, saat ingin mengenang betapa beruntungnya kami karena semesta telah mengijinkan kami saling menemukan dan mewujudkan salah satu mimpi di antara banyak mimpi kami bersama. Dan, saat ingin mengingat-ingat sebuah hari yang meskipun dipersiapkan begitu singkat tapi berhasil kami perjuangkan dan menjadi marka awal perjalanan panjang yang dijalani bersama mulai hari itu yang kami rencanakan akan berlangsung selamanya.
Cerita hari pernikahan ini telah sampai akhir. Dan kami berdua, kini sedang memulai menuliskan cerita-cerita baru lainnya. Aku ingin menutup cerita kali ini dengan penggalan lagu ‘Timur’ dari The Adams:
“masa depan kadang menakutkan, penuh dengan ketidakpastian, lebih mudah jika tak dipikirkan. Kita bisa membuat rencana, untuk sekian tahun ke depan, tapi percuma jika selesai di tengah jalan. Namun tiap ku dengar namamu, makin terbayang masa depanku, semakin jelas tujuan dan yang ku harus lakukan. Saat aku dan kamu bicara, tentang harapan dan cita-cita, semua yang kita damba, akan terasa seperti amat nyata…..”
Dan pada yang terakhir ini aku ingin mengenang segala yang baik tentangmu. Tentang kita. Tentang yang pernah dan telah.
Tentang senyum, alis serta bola matamu yang selalu aku suka.
Tentang hari-hari menyenangkan yang terlewati.
Tentang tempat-tempat yang pernah kita kunjungi.
Tentang beragam cerita sebelum tidur; hari yang kita lewati, buku yang kau atau aku baca, film yang kau tonton, cerita sejarah yang mungkin tidak menarik untukmu tapi tetap kau dengarkan, mimpi dan juga kehidupan.
Tentang film yang kita tonton bersama. Meski terkadang membosankan dan membuat ngantuk.
Tentang kau yang bisa membuatku menjadi diri sendiri.
Tentang masakan yang kau masak.
Tentang banyak tempat makan yang kita coba.
Tentang buah mangga yang kau kupas.
Tentang banyak hal baru yang kau ajarkan.
Tentang hal-hal kecil yang kita perdebatkan. Dan pada akhirnya kita tertawakan.
Tentang ‘iya’ mu yang kau ucapkan dengan banyak intonasi.
Tentang taruhan yang lebih sering aku menangkan.
Tentang pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terpikirkan olehku. Aku selalu suka caramu berpikir.
Tentang kau dan aku yang sama-sama tidak mau kalah.
Tentang rasa khawatirmu.
Tentang rindu yang tersampaikan ataupun tidak.
Tentang malam yang dilewati dengan penuh keyakinan.
Tentang lagu yang kita dengarkan di jalan malam itu.
Tentang perasaan yang pernah tercurahkan sepenuhnya.
Sudah dulu, ya. Aku harus kembali ke tempat semula. Teman baikku baru saja tiba. Hampir saja aku melupakannya. Dia hampir tergantikan oleh kawan lainnya. Yang ternyata hanya sementara. Tapi bagaimanapun, tak ada yang lebih setia dari dia. Hanya dia, yang selalu kembali memelukku dengan erat dan penuh kehangatan. Hanya dia yang selalu ada.
Kadang aku ingin tahu bagaimana menjadi tabah seperti angka sembilan. Selalu berjarak satu langkah dari 'yang paling', dari terbaik, dari sempurna. Tapi tak pernah sampai. Tak pernah menyamai. Selalu hampir.
Tapi sembilan, adalah tempat bagi mereka yang merasa cukup. Atau menyerah. Merasa sudah.