Review#57
Stoner
Penulis: John Williams
Goodreads rating: 4.35/5
Sudah lama sekali aku meletakkan buku ini ke dalam reading listku, setelah pernah melihat ulasan yang mengatakan bahwa buku ini adalah salah satu buku dengan rating tertinggi di Goodreads dan sastra klasik yang wajib dibaca dalam hidup.
Mengisahkan perjalanan hidup William Stoner, seorang pemuda yang berasal dari keluarga petani miskin di Missouri yang beralih haluan menjadi pengajar di universitas setelah ia jatuh cinta dengan sastra. Kisah hidup Stoner seperti sebuah rentetan kemalangan: pernikahannya yang dingin dan penuh luka dengan Edith, kariernya yang dipenuhi konflik politik kampus, kisah cinta singkatnya yang juga kandas.
Terlepas dari semua kemalangan hidupnya, karakter Stoner sangat ‘hidup’ dan sangat memukau. Stoner selalu mampu menghadapi tiap masalahnya dengan penuh ketabahan, kejujuran, dan kewibawaan, setia menjalani pilihan hidup yang dibuatd dan dicintainya – dunia sastra – hingga akhir hidupnya.
Premisnya sungguh biasa, tapi menurutku bagaimana penulisan dan penulisan cerita pada buku ini yang membuatnya luar biasa. Pertama dari segi bahasa, sebagai novel klasik, aku tidak menyangka bahasa yang digunakan dalam buku ini sungguh sederhana dan mudah sekali dibaca. Kemudian, narasi yang dituliskannya juga sungguh nyaman dan mengalir sekali dibaca. Bukan tipikal narasi dengan bahasa yang berat ataupun narasi dengan kumpulan kalimat kalimat puitis, tapi rasanya cukup dan tetap indah untuk diresapi.
Selama membacanya aku sangat terkesan. Penceritaan seorang karakter yang hidup dengan ‘biasa’ dengan konflik yang sebenarnya realistis, ternyata dapat dituliskan sehingga menjadi konflik cerita yang sangat membuatku invested.
Pernikahan Stoner dengan Edith ternyata menjadi sumber konflik besar pertama dalam cerita, dan ini akibat ketergesaan. Stoner termanipulasi dengan tampilan luar Edith yang cantik, sementara Edith terbebani dengan tuntutan sosial untuk segera menikah padahal ia memiliki trauma pengasuhan keluarganya yang represif. Tidak heran tidak lama setelah bersama, yang terjadi adalah perang emosional dan manipulasi, menandakan mereka belum siap untuk bersama. Ditambah lagi dengan kelahiran putri mereka, Grace, yang dijadikan objek untuk saling menyakiti.
Takeawaynya adalah bahwa kesepian paling menyiksa justru kita saat hidup bersama dengan orang yang salah. Sikap pasif Stoner yang menghindari konfrontasi demi kedamaian memberikan ruang bagi Edith untuk terus menyakitinya dan menghancurkan kebahagiaan keluarga mereka.
Konflik besar kedua dalam cerita berpusat pada perseteruan Stoner (Assistant Professor of English Literature) dengan Hollis Lomax (Chairmen of English Department) yang menyimpan dendam pribadi kepadanya setelah menolak meluluskan Charles Walker (mahasiswa yang manipulatif tapi dilindungi Lomax) karena terbukti tidak kompeten. Akibat mempertahankan integritasnya, Stoner mendapat ketidakadilan karier yang diatur Lomax selama Stoner menjalani kariernya di universitas.
Penyalahgunaan kekuasaan dan intrik ego personal selalu ada bahkan di institusi professional sekali pun. Konflik ini, surprisingly, sangat membuatku sebagai pembaca emosional tetapi juga uplifting kepada reaksi Stoner yang ‘melawan’ kekuasaan Lomax dengan tetap hidup dengan tegak, melakukan pekerjaannya dengan jujur, dan terus menolak ketika dijatuhkan. Segala ketidakadilan, sikap pasif dan keras kepalanya, tetap tidak membuatnya meningglkan dunia yang dicintainya, literature dan mengajar.
Di tengah kehidupan pernikahannya yang hancur dan tekanan politiknya di kampus, Stoner menemukan tempat aman untuk berbagi perasaan emosionalnya dan kemudian menjalin hubungan dengan Katherine Drisscol (instructor and graduate assistant), inilah yang menjadi sumber konflik besar ketiga.
Bersama dengan Katherine, Stoner merasakan kehidupan yang bahagia yang belum pernah ia rasakan. Sebagai pembaca ini membuatku dilemma, hubungan ini jelas tidak patut tetapi mengetahui semua kemalangan hidup yang dialami Stoner rasanya membaca kebahagiaan Stoner dan Katherine juga ikut membuatku bahagia, berharap mereka akan bahagia selamanya. Sayangnya, konflik ini diakhiri dengan realistis: mereka berpisah. Katherine meninggalkan Stoner demi melindungi pernikahan dan karier Stoner.
Rasa cinta dan bahagia dengan orang yang tepat mungkin terkadang memang harus dikorbankan demi realitas sosial kaku yang ada. Namun, semua kedalaman rasa yang dialami tetap valid, bahwa kebahagiaan yang dirasakan walau hanya sekejap layak untuk diperjuangkan.
Membaca buku ini meninggalkan campuran emosi yang mendalam dan akan membekas lama di ingatanku. Karakternya yang dibuat dengan sangat baik, narasinya yang ditulis dengan begitu indah, semua konflik yang dihadirkan rata sama berdampak besarnya. Rasanya, aku perlu memasukkan buku ini ke dalam daftar 10 buku favoritku sepanjang masa.
Depok, 27 Juni 2026, 8.29 PM











