Tuhan... Kenapa aku masih sangat bodoh untuk bisa menerima setiap takdir yang Kau gariskan? Kenapa setelah banyak luka yang kurasakan aku masih tak cukup pintar untuk berdamai dengan semuanya? Apakah terjebak di dalam kubangan rasa sesal dan kecewa tak berkesudahan adalah sebaik-baiknya takdirku?
Aku malu sekali terus saja mengeluh seperti ini. Aku malu sekali masih saja ingin memilih menyudahi rasa sakit ini. Aku malu sekali masih tak mampu mencintai dan menjaga diriku sendiri. Aku malu sekali untuk bisa melangkah kembali.
Entah dimana aku akan berujung. Entah sampai kapan aku masih betah mengarungi kesedihanku seorang diri. Entah kenapa tak pernah cukup rasanya ketika orang lain datang menawarkan tangan memeluk diri ini. Entah bagaimana caranya menaruh rasa percaya lagi pada orang lain.
Aku lelah tapi juga sungkan untuk menyerah. Bukankah terlalu banyak nikmat yang kukufuri selama ini? Bukankah masih banyak hal yang belum kupahami dan pelajari? Atau mungkin aku harus mencoba menulis daftar menu cemilan yang harus kucoba setiap hari.
Sepertinya.. aku hanya perlu bertahan untuk hari ini. Begitu setiap hari sampai akhirnya aku mampu bangkit dan menegakkan badan untuk melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan yang aku tak tahu dimana ujungnya.
Lampung, 16 Oktober 2033.










