In Between
Hari ini gue menangkap satu hal bahwa sesuatu yang di antara kedua hal adalah sesuatu yang lebih stabil, alami, bertahan lama. Maksud dari stabil adalah dia akan tetap konsisten dan kokoh berada di tempat dia berada tanpa dalam keadaan yang rusak atau busuk. alami maksudnya adalah dia tidak menabrak hukum-hukum alam yang lazim dipahami, dan bertahan lama, meski lama itu relatif, tetapi maksud dari bertahan lama di sini adalah karena sifat dia tadi yang sebelumnya alami, jadi dia akan relatif selaras dengan hal-hal yang ada di sekitarnya.
Mari kita membuat contoh. Menjadi orang yang sangat miskin adalah hal yang menyebalkan dan menyusahkan, karena banyak sekali batasan-batasan yang membelenggu dan menyiksa, tetapi di sini lain menjadi orang yang bergelimang harta, tahta, dan kekuasaan juga tidak semata-mata membuat diri menjadi sangat bebas. Contohnya adalah orang yang amat sangat kaya dan berkuasa, katakanlah Pablo Escobar, duitnya ada di mana-mana, pengaruhnya amat sangat besar, tetapi dia punya tuntutan yang sangat banyak juga. Tuntutan rekan bisnis, tuntutan demand pasar, ancaman keamanan dari musuh-musuhnya, ancaman bagi keluarga, dsb. Atau contoh lainnya adalah Rafathar, ternyata dia punya cita-cita untuk menjadi seorang yang biasa-biasa saja karena dengan menjadi Rafathar saat ini yang bergelimang harta dan popularitas, justru menjadi siksaan tersendiri buat dirinya.
Ide tentang in between juga dapat berlaku di kebebasan seseorang. Manusia baik secara individu maupun kelompok, akan menjadi manusia yang tidak merdeka jika banyak batasan-batasan atau kekangan-kekangan, lihat saja cerita-cerita penjajahan di era kolonial atau perbudakan, atau di penelitian Stanford Prison Experiment punya Philip Zimbardo. Di sisi lain, jika seseorang diberikan terlalu banyak kebebasan, justru akan menjadi blunder atau dampak negatif buat dirinya sendiri. Bisa kita lihat orang-orang amerika yang menolak menggunakan masker karena merenggut kebebasan mereka, justru hal tersebut yang menjadi penggembos menjulangnya angka korban covid di negaranya.
In between hadir untuk menjadi penengah di antara dua kutub ekstrem. Menjadi penyeimbang dari yang terlalu-terlalu. Namun, in between hadir hanya sebagai norma yang berlaku secara umum di sebuah sistem masyarakat. Pada akhirnya akan ada orang-orang yang mengisi titik-titik deviasi yang justru menjadi warna tersendiri yang alami dan membuat distribusi normal terlihat indah dan manusiawi. Yang perlu dihindari adalah distribusi yang skewed terlalu ke kanan dan ke kiri, yang menciptakan ketidak-seimbangan di sebuah tatanan, mengganggu kestabilan, dan niscaya hanya akan hadir sesaat semata, karena pada akhirnya sesuatu akan kembali pada hal yang alami, sebagaimana air sungai yang keruh karena kita aduk-aduk, lambat laun akan menjadi bening kembali dengan mengalirnya air secara konstan dan normal.
Hargai dirimu dan hargai tatanan yang ada, jika ada yang perilaku yang terlalu skewed perlu kita sikapi dengan bijaksana dan dicermati dengan lebih saksama. Apabila hal skewed tersebut berlebihan, kita berikan sikap yang kita rasa tepat sesuai kadarnya, a la kadarnya, sesuai porsinya, secara alami, secara manusiawi.














