Perasaanmu, Tanggung Jawabmu.
Aku sedang menanggungnya sekarang. Perasaan itu ternyata berat dan banyak menguji. Terlebih, kalau ternyata perasaan itu kau titipkan pada hati yang telah terisi. Memang, perasaan tidak tumbuh semudah itu. Setidaknya bagiku. Hal itu bahkan muncul dengan sendirinya diluar kehendakku. Waktupun berlalu, dia terus saja berkembang, dan kini telah tercanang kuat akarnya di hatiku. Masalahnya muncul ketika perasaan itu tidak bisa kau ungkapkan begitu saja. Kuberi tahu satu hal, kalau kau sudah menghadapi masalah serupa, kau harus melatih hatimu untuk kuat menahannya sendiri. Aku, memilih untuk membungkusnya rapi-rapi tanpa celah. Buruk nasibku ketika ia mulai tahu bagaimana caranya membuat celah sendiri. Dia nyaris berhasil. Ia melakukan apa saja, hingga aku rasa bungkus yang rapi tadi mulai dirusaknya. Tapi kemudian dia tidak lagi berusaha membuat celah. Dia hilang. Aku sempat kebingungan--bahkan dalam bingungku aku merindukannya--namun tak lama ia datang dengan "kabar gembira". Dia bilang, dia sedang bahagia-bahagianya karena perasaannya. Aku disini tidak bisa melakukan apa-apa. Aku sudah memilih untuk membungkus perasaanku dengan rapi dan rapat. Tidak bisa kujelaskan padanya bagaimana isinya. Namun ia dengan mudahnya membuatku menyesali bungkusanku yang rapi. Apa gunanya semua ini? Rinduku tidak berarti apa-apa. Untuk apa aku merindu. Ya Tuhan, sungguh, kau memang maha pembolak-balik hati hamba-Mu. Kupikir, ketika ia mulai membuat celah, akan ada sesuatu yang terjadi. Aku mulai siap. Tapi ternyata tidak. Dia hanya mengujiku. Kembali lagi. Perasaanku, tanggung jawabku. Dia memang tidak akan bisa berbuat apa-apa dengan itu.














