Membaca buku ini seperti sedang mengupas isi bawang lembar demi lembar. a multi-layered technique adalah pilihan jenius ketika harus berhasil menggambarkan, menyampaikan semua keadaan, gagasan yang harus “dibaca”-begitu Havelaar bilang- tentang Hindia Belanda di pertengahan tahun 18-an. Dan sebenernya praktek koloni-an itu masih jadi jamur di bahkan perusahaan-perusahaan swasta dan semua yang Havelaar alami pasti masih bisa terjadi di waktu sekarang ini. Cuma banyak yang masih jadi Verbrugge-pengecut yang mesti dilecut Duclari agar mau rela peduli. Buku ini mengajarkan peka, mendekati beberapa lembar penghabisan akan ada lampiran 1 yang berisi dialog tentang bagaimana ibu mengisahkan tentang emosi atau perasaan. Lampiran 2 adalah bariasan puisi Saidjah yang sedang menunggu Adinda di bawah pohon ketapang. 2 Lampiran ini memperkuat isi buku keseluruhan, begitu hebat. Dan begitu pantas buku ini bisa merubah orang menjadi revolusioner seperti Kartini dan Soekarno atau mungkin orang-orang hebat lainnya lagi. Dan menertawai kekikiran yang di gambarkan seperti Droogstoppel !! Keren. Baca ulang buku ini, setidaknya membuka mata dan jiwa agar tidak lupa apalagi kebahagiaan sudah jadi milik instagram. Kasih adek lu bacaan ini, anak-anak lu nanti kalu udah bisa baca. biar mereka hidup dengan jiwa pedulinya. note : Pasti begitu tersiksa ketika bisa dengan mudah melihat pola dan tak bisa merubahnya.











