Misteri Masa Lalu
Seperti masa depan
Masa lalu juga misteri
Bukan tentang apa
Tapi tentang mengapa
Dan bagaimana

izzy's playlists!

No title available
Jules of Nature

@theartofmadeline

No title available
Xuebing Du
Sweet Seals For You, Always
No title available

JVL
Game of Thrones Daily

roma★
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Alisa U Zemlji Chuda

Kaledo Art
cherry valley forever
Show & Tell
YOU ARE THE REASON
todays bird
occasionally subtle
sheepfilms

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Saudi Arabia

seen from Brazil
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Germany

seen from Australia
seen from United Kingdom
seen from Venezuela
seen from Venezuela
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@fikrurizal
Misteri Masa Lalu
Seperti masa depan
Masa lalu juga misteri
Bukan tentang apa
Tapi tentang mengapa
Dan bagaimana
Di Perempatan Jalan
Lampu masih merah
Semua berhenti
Tapi tidak pikiranku
Yang masih memikirkanmu
Mundur atau Maju
Apa bedanya mundur dan maju?
Arahnya
Apa persamaannya?
Sama-sama butuh tenaga
Apa besarnya tenaganya berbeda?
Tergantung berapa jaraknya.
Bukan, tergantung keputusannya.
Maaf, aku lupa
Maaf
Hanya empat huruf sebenarnya
Namun seringkali sangat rumit
Maaf atas apa
Kadang kita tak merasa
Maaf pada siapa
Sering kita sudah lupa
Maaf, aku tidak sanggup mengatakan maaf
Bulan yang Penakut
Apa yang ditakutkan oleh bulan dari datangnya pagi
Kenapa ia menghilang
Apakah dia takut akan matahari?
Atau apakah dia takut dengan suara ayam berkokok?
Atau apa?
Atau mungkin, sebenarnya dia tidak takut
Dia hanya beristirahat
Untuk muncul lagi malam nanti
Musim Panas yang Dingin
Tak semua orang menyukai musim panas
Salah satunya aku
Apa aku pasti suka musim dingin?
Tidak juga
Lalu apa yang kau suka?
Aku tidak tahu
Mungkin musim panas yang dingin
Yang jelas-jelas tidak akan pernah ada
Berteman dengan Kegagalan
Tahun lalu. Kira kira tanggal-tanggal ini. Saya menyelesaikan studi Master saya. Ya, bukan tanggal wisuda, tapi tanggal sidang tesis. Saya dapat nilai bagus untuk tesis. Sehingga saya bisa lulus dengan cumlaude dari kampus nya Bung Hatta di Rotterdam. Alhamdulillah.
Dulu saya pikir itu modal yang cukup bagus untuk bisa segera melanjutkan studi lagi, meskipun saya juga paham bahwa tidak akan semudah itu. Ternyata benar. Tidak semudah itu.
Yang saya maksud dengan segera bukanlah langsung setelah selesai S2. Karena saya masih punya tanggungan internship di RS selama empat bulan. Jadi saya memang berniat langsung pulang dan meneruskan internship. Sambil kembali menjadi peneliti a.k.a pekerja proyek penelitian di Pusat KPMAK UGM. Setelah break satu bulan, dari September-Desember 2018 saya membelah diri antara jaga di RS (kurang lebih 20 shift sebulan) dan menjalankan 2 proyek penelitian dengan BPJS Kesehatan.
Bukan hanya itu, atas saran dari seorang senior, saya mengajukan diri ke Project Nuffic (ini proyek yang didapat oleh Pusat KPMAK selama 5 tahun terakhir, dan sudah berakhir April kemarin) untuk mendapat pembimbingan untuk penulisan artikel ilmiah, meneruskan tulisan tesis saya. Prof. Eddy setuju (supervisor saya yang baik hati), Kepala Pusat setuju, dan manajer proyek yang di Belanda pun setuji. Jadilah selama 3 minggu di Bulan Oktober saya tukar-tukar jaga di RS hingga saya sempat ditegur oleh dokter pembimbing di RS. Karena prosedur izin yang kurang benar. Saya sempat merasa sangat bersalah waktu itu. Untungnya semua bisa terselesaikan setelah saya kembali ke RS.
Waktu kembali ke Belanda selama tiga minggu itu, saya bisa menyelesaikan draft manuskrip saya. Bukan hal yang istimewa sebenarnya karena bisa dibilang saya penuh-waktu menulis dan berdiskusi dengan Prof Eddy. Waktu itu pula ada pengumuman lowongan PhD by vacancy atau bisa dibilang jadi mahasiswa S3 tapi sebenarnya sekalian bekerja dan digaji oleh suatu proyek penelitian. Tempatnya di Rumah Sakit Erasmus. Topiknya pun relevan dengan tesis S2 saya. Singkat cerita saya mendaftar. Dan selang beberapa minggu saya mendapat email penolakan. Oke, tidak apa-apa. Karena toh saya masih ingin menyelesaikan internship.
Setelah kembali ke Indonesia, aktivitas saya kembali sibuk seperti sebelumnya. Hingga akhirnya saya bisa mengirim manuskrip jurnal saya di awal Desember (kalau tidak salah). Saya ingat juga, ternyata saat saya di Belanda sedang ada bukaan CPNS besar-besaran. Saya tidak terlalu menghiraukan waktu itu. Meski sempat memeriksa formasi apa saja yang kira-kira menarik. Ada sebenarnya yang ingin saya coba, tapi memang sudah tidak sempat. Ya sudah, belum saatnya mencoba mungkin. Lagipula saya juga belum terlalu ingin jadi PNS saat itu (kalau ada lagi sepertinya saya akan coba 😅).
Waktu pun berlalu. Tidak begitu saja sebenarnya. Banyak drama. Salah satunya karena saya punya target menikah tahun ini (2019). Entah bagaimana, kali ini saya merasa semesta mendukung. Intinya, saya akhirnya menikah di bulan februari. Jujur saya masih sulit untuk bisa menjelaskan secara rinci tentang proses pernikahan saya. Apalagi kalau harus menceritakan bagaimana menyiapkan pernikahan dalam waktu kurang dari sebulan. Kadang-kadang saya (pun sepertinya istri saya) masih merasa 'amazed' dengan periode itu.
Saya off sementara dari Pusat KPMAK selama dua minggu. Ya karena setelah dua minggu itu istri saya harus kembali ke Melbourne untuk menyelesaikan studi S2 nya yang masih 1.5 tahun. Hahaha. Selanjutnya kisah LDM pun harus kita jalani. Kesimpulan sementara, secara umum LDM itu sulit. Begitu. Apalagi saat harus melewati masa lebaran sendirian sebagai pengantin baru. Rasanya berat secara emosional. Kadang saya sampai berpikir yang bukan-bukan, seperti "harusnya bla bla bla". Saya menyadari sepenuhnya kalau itu godaan setan. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau itu memang ada. Benar-benar, syukur, sabar, dan ikhlash adalah tiga hal yang paling mudah dikatakan namun paling sulit untuk dijalankan secara konstan. Pasti ada naik-turunnya.
Kembali lagi ke cerita kegagalan. Saya kesulitan untuk mencari topik untuk studi S3. Hingga saya melewatkan pendaftaran beasiswa ke Australia pada bulan April. Karena saat itu, entah kenapa pikiran saya mentok. Sepertinya karena terlalu banyak berpikir dan kurang bergaul dan membuka diri untuk mencari masukan.
Saya juga kesulitan menyelesaikan revisi manuskrip jurnal sesuai tenggat waktu. Alhamdulillah masih bisa meminta perpanjangan dan akhirnya terkirim juga. Meskipun hingga saat ini belum ada kabar lagi. Haha.
Saga untuk mencari tempat untuk lanjut sekolah lagi pun berlanjut. Saya rajin membuka portal-portal untuk lowongan PhD by vacancy. Ketemulah saya di Groningen. Menarik sekali proyek yang ditawarkan. Evaluasi ekonomi untuk tatalaksana awal stroke. Saya pun mendaftar. Kali ini cukup bagus. Saya diundang wawancara. Via skype. Dan ternyata, mental inferior saya muncul seketika. Benar-benar kombinasi antara ketidaksiapan dan keminderan. Akhirnya, saya menerima email dari panitia seleksi. Saya diterima! Diterima sebagai cadangan alias waiting list alias ditolak. 😅😅. Kejadian ini baru terjadi sekitar 10 hari yang lalu.
Sampai di sini dulu. Mari kita lanjutkan besok.
NB: tulisan ini belum sampai tahap editing. Hanya cuap-cuap via tulisan saja.
Selamat Datang 2019, Selamat tinggal 25
Oke. Tumblr sudah tidak diblokir lagi di Indonesia. Sekarang bisa menulis dan menyampah lagi di sini.
Padahal ya dari September 2017 sampai September 2018 saya sedang di Belannda dan Tumblr juga tidak digembok di sana. Tapi ya.. tidak ada tulisan yang berarti di laman ini.
Belanda, apa beda nya?
Sudah hampir empat bulan saya berada di Rotterdam. Kota terbesar kedua di Belanda. Studi S2, begitulah ceritanya. Tidak tahu juga kenapa akhirnya saya berada di sini. I just found that this new subject is interesting. Sejenak melupakan rutinitas perpasien an. Shift malam, siang, pagi di Rumah Sakit yang begitu monoton. Dan, ternyata.. excitement itu hanya sebentar. Selanjutnya biasa saja. Ata bahkan, menurut saya, dari awal sama saja. Tidak ada bedanya.
Bangun pagi, sholat shubuh, berangkat kuliah, mengerjakan tugas, ujian. Dan. Waktu mengalir begitu saja. Apa yang berbeda? tentu saja bahasa. Saya akui bahasa Inggris saya belum terlalu bagus. IELTS 7.5 tidak menjamin apa-apa. Hanya syarat. Komunikasi harian, berseloroh dengan teman, ber email dan diskusi dengan profesor? butuh lebih dari sekadar sertifikat bahasa. Bahasa perlu dipakai. Apalagi bahasa aktif.
Budaya? yah begitu-begitu saja. Tidak ada yang benar-benar ‘sesuatu’ menurut saya. Banyak yang berbeda. Tapi, lantas apa? Manusia itu mahluk adaptif. Satu minggu saja pasti cukup untuk ‘berbaur’ dengan sistem yang ada. Dari transportasi, perbankan, per toko an. Dll.
Saya tidak tahu, apakah saya yang terlalu bebal, tidak sensitif. Kata seorang teman, saya ini heartless. Mungkin benar.
*Just a bunch of randomness out of boring time.
Kebebasan, Kebenaran, dan Nasehat
“hei, jangan ngerokok! Bahaya lho. Gak cuma buat kamu, tapi juga orang-orang di sekitar mu yang gak sengaja ngehirup asap rokokmu!’
Kalimat di atas mudah sekali dituliskan akan tetapi sulit sekali diungkapkan dalam dunia nyata. Bayangkan, situasinya adalah kita sedang makan di suatu warung/rumah makan. Di meja sebelahmu ada orang yang dengan enaknya kebal-kebul seperti tidak punya dosa.
Katakanlah kita golongan A, kelompok yang benar-benar yakin asap rokok itu berbahaya. Bagi kita itu adalah kebenaran yang jelas-jelas diamini oleh sains.
Ada golongan B yang tidak percaya rokok berbahaya. Mirip-mirip orang yang percaya bumi itu datar.
Membaca Sedikit tentang “Para Priyayi”
Sudah lama saya tidak membaca buku. Beberapa bulan terakhir, setelah selesai koas dan banyak waktu luang, saya lebih banyak menonton serial drama atau film. Bahkan setelah mulai bertugas di puskesmas, tetap saja kebiasaan itu sulit untuk dihentikan. Tidak produktif, jelas. Mau bagaimana lagi. Cuma itu cara termudah untuk membunuh waktu. :D
Sampai akhirnya saya coba baca-baca buku lagi. Untung ada kawan anak sastra yang bisa saya pinjam. Akhirnya saya dipinjami buku Para Priyayi nya Umar Kayam dan Titik Nol nya Agustinus Wibowo. Dengan kemampuan membaca (sekaligus memahami bacaan) yang seperti jalnnya siput, berikut beberapa hal yang bisa saya ambil.
1. Pendidikan merupakan salah satu faktor terpenting untuk mengangkat harkat, martabat, serta derajat hidup manusia.
2. Fakta bahwa kelompok ‘priyayi’ itu memang ada di masa lalu. Mereka menyebut diri mereka sendiri begitu, pun orang-orang di sekitarnya. Akan tetapi, definisi tentang priyayi ini sendiri tidak begitu jelas. Dalam novel ini, Umar Kayam cenderung mengarahkannya pada karakter-karakter positif, meskipun masih manusiawi. Padahal, saya sendiri sebelumnya punya konotasi agak negatif terhadap kelompok yang disebut priyayi ini. Seperti: mereka adalah orang yang berusaha menikmati dan mempertahankan kemakmuran mereka sendiri di masa-masa sulit penjajahan, bahkan cenderung menjadi mitra penjajah dalam menindas rakyat kecil.
3. Gambaran menarik mengenai kondisi sosiokultural Jawa pada masa akhir kolonisasi Belanda, masa pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, serta berbagai pemberontakan (latar ‘pemberontakan’ 65 menjadi akhir cerita). Hal ini bisa menjadi wawasan yang menarik serta sejarah yang lebih hidup bagi pembacanya.
merenung tentang keluarga yang ideal, saya pernah bertanya-tanya apakah yang kami jalani ini “sehat”. kalau boleh jujur, kami memang ngos-ngosan melakukan persiapan dan membuat rencana atas apa yang akan terjadi selanjutnya. semuanya seakan terjadi begitu cepat. tiba-tiba kami lamaran, tiba-tiba mas yunus sekolah, tiba-tiba kami menikah, tiba-tiba saya hamil lalu melahirkan, tiba-tiba kami tinggal berjauhan. baru saja nyaman dengan satu fase, kami tiba-tiba masuk ke fase lain.
dulu saya termasuk tipe perempuan yang sangat ngotot untuk menjadikan suami yang pertama. ngomong-ngomong, kalau perempuan hanya ingin jadi satu-satunya, laki-laki “nggak papa” menjadi yang pertama–malah harus! laki-laki maunya dan harus menjadi yang pertama di atas semua urusan perempuan. dalam Alquran, perempuan paling banyak disebut sebagai istri, lalu sebagai ibu, barulah sebagai individu.
saya ngotot menjadikan mas yunus yang pertama dan utama sampai-sampai bingung caranya. yang paling kasat mata saat kami menjelang menikah adalah, akhirnya saya melepaskan beberapa cita-cita yang tidak mungkin bisa dilakukan jika saya pindah domisili ke Surabaya. beberapa rencana pribadi pun saya tunda (ingat cerita tentang kelinci dan kura-kura? begitulah, untuk bisa menang bersama-sama, kita harus bekerja sama. dan terkadang, perlu berkorban).
saya ngotot menjadikan mas yunus yang pertama, sehingga saya termasuk golongan perempuan anti LDR. “kalau bisa nggak jauhan, kenapa harus jauhan? janganlah memberi peluang terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” pikir saya dulu. tentu saja, pikir kebanyakan orang juga begitu. tapi sekarang, kami LDRan.
berjauhannya kami sebenarnya juga bukan rencana. awalnya saya ingin melahirkan di Surabaya saja. ternyata, H-2 bulan melahirkan, mas yunus mendapat tugas belajar di Jepang. praktis saya kembali ke Bogor dan melahirkan di Bogor. entah mengapa, dalam kebingungan, seringkali Allah memberi petunjuk melalui keadaan yang pilihannya tidak di tangan kami sendiri, sehingga lebih mudah rasanya menerima jalan yang dipilihkan Allah. alhamdulillah.
sudahlah. tidak usah dibahas bagaimana rindunya kami pada satu sama lain. tidak jarang mas yunus menelepon, lalu beranjak sholat saat adzan berkumandang, lalu menelepon lagi setelah sholat. tidak jarang kami ngelindur lalu teleponan tengah malam. jangan tanya betapa girangnya saya saat mas yunus bilang, “kica tolong cariin tiket yah.”
mungkin kelihatannya, bagi beberapa orang, berjauhannya kami berarti bahwa saya tidak mengutamakan mas yunus, berarti bahwa saya lebih mengutamakan mbak yuna, juga lebih mengutamakan karir saya–yang tidak demikian adanya.
akhirnya kami berjauhan karena saya dan mbak yuna justru mengutamakan mas yunus. karena cita-cita mas yunus adalah cita-cita kami sekeluarga. karena, dengan bisa mengurus diri sendiri, kami mengurangi beban mas yunus untuk mengurus kami, sehingga mas yunus bisa lebih tenang belajar. di Bogor, saya “sendiri” tapi “banyakan”. di Surabaya, saya “berdua” tapi “sendiri” karena mas yunus sibuk sekali. seperti yang mas yunus bilang, “kica, terima kasih sudah mengurus diri sendiri.”
kesimpulannya, saya jadi memahami bahwa semua keputusan dan pilihan yang dijalani setiap perempuan adalah bentuk baktinya pada suaminya asalkan sang suami ridho. perempuan yang tidak bekerja dan perempuan yang bekerja sama mulianya ketika suaminya ridho. perempuan yang tidak bekerja atau yang bekerja juga bisa jadi tidak mulia, kalau suaminya tidak ridho. perempuan yang sekolah lagi dan membuat sang suami harus berkorban lebih banyak mulia asal suaminya ridho. perempuan yang tidak sekolah lagi dan mengurus rumah tangga juga mulia asal suaminya ridho.
saya jadi mengusahakan sering-sering minta maaf sama mas yunus–kalau-kalau punya salah. sering-sering minta ridhonya mas yunus. semoga apa yang kami jalani ini selalu diberkahi Allah. dan itu saja, setiap langkah disertai keridhoan yang dimintakan, disebutkan. alhamdulillah, mas yunus memahami bahwa yang kami jalani adalah bentuk bakti saya, tidak secuilpun mengurangi rasa cinta dan hormat saya sama mas yunus. mas yunus tetap yang pertama dan utama.
ini jadi pelajaran untuk diri saya sendiri. pertama, untuk menjadi luwes dengan masa depan dan rencana hidup–karena semuanya memang tergantung ridho suami, dan agar saya tidak kecewa jika ada yang berjalan tidak sesuai rencana. kedua, untuk jangan pernah menilai kemuliaan seorang perempuan atas apa yang dilakukannya saja. kemuliaan seorang perempuan terletak pada ridho suaminya. yang satu itu, tentu saja tidak kelihatan.
PPDS + family life is really challenging. I saw some real story about that.
Tapi, kehidupan nyata memang selalu tidak mudah. Kalau terlalu mudah, mungkin itu tidak nyata.
Sebut Saja Saya Anak Magang
Di episode pertama RDTK, judul yang diambil penulis adalah “How to put an elephant into a refrigerator?”. Secara implisit maupun eksplisit, jawaban dari pertanyaan tersebut adalah : Serahkan kepada intern. Apa maksudnya? Just ask an intern to do ‘impossible things’.
Untunglah, hal tersebut tidak (atau belum) terjadi selama masa intern saya. Selama 4 bulan pertama, saya mendapatkan rotasi awal di Puskesmas. Banyak hal yang harus dipelajari dan dikerjakan di sini. Maklum, konsep puskesmas adalah gado-gado antara public health services dan clinical/private health services. Dari shubuh-shubuh ikut fogging (meskipun mesti dateng telat) sampai jaga malam yang pagi-pagi pas mau pulang ada partus (cuma sekali sih).
Selain itu, meskipun tidak sepenuhnya, saya bisa merasakan atmosfer dunia kerja yang sesungguhnya. Pulang kerja, istirahat, main-main, berangkat lagi besoknya. Begitu setiap hari. Monoton dan bisa melenakan.
Secara umum, konteks internsip dokter di Indonesia cukup baik untuk memberikan gambaran pilihan karir seorang dokter di ranah klinis (di luar akademik, riset, atau bisnis). Kesempatan mendapat paparan di Puskesmas bisa menjadi bekal untuk memutuskan apakah kita cocok / passionate atau tidak di dunia layanan primer. Sayangnya, program ini tidak disusun dalam kerangka besar konsep karir kedokteran seperti di negara-neagara maju.
Satu lagi, beberapa waktu lalu di perjalanan pulang ke kampung, saya naik bus dan ditanya kerja di mana dan saya jawab di puskesmas. Ketika ditanya lagi sebagai apa, saya tidak berani bilang saya dokter. Saya hanya bilang, “Magang mas”. Memang seperti itulah.
Medical Learning Stuffs
Sudah kuliahnya mahal, buku-buku nya mahal pula. Cuma orang kaya yang bisa jadi dokter. Begitu kata sebagian orang.
Saya mungkin salah satu orang yang tidak terlalu percaya dengan hal itu. Meskipun secara populasi mulai menunjukkan kebenarannya. Akan tetapi, selalu ada kesempatan untuk yang mau berusaha, entah karena alasan apapun.
Dulu, tahun 2010, biaya kuliah di kedokteran sama dengan di jurusan lain yang rumpun MIPA. Dengan biaya semesteran yang selisih 200 ribu dari jaman SMA. Hal itu membuat orang dengan latar belakang ekonomi pas-pasan (ortu PNS biasa) tidak terlalu berat menanggung beban biaya. Meskipun sekarang, generasi adik saya, sudah dicekik oleh UKT.
Mencoba Hal Baru
Beberapa bulan ini saya memberanikan diri untuk mencoba hal baru. Atas ajakan seorang teman, saya mengirim CV ke sebuah pusat studi di kampus. Saya bahkan masih sulit mengeja namanya sampai sekarang. Sebutlah namanya Pusat KP-MAK, lembaga riset yang banyak mengurusi permasalahan pembiayaan dan jaminan kesehatan.
Setelah beberapa lama tanpa kabar. Akhirnya saya dipanggil untuk wawancara dan akhirnya diterima untuk bantu-bantu di sana. Bukan dengan lowongan yang tadinya ingin saya coba. Tapi justru topik lain yang harus saya ikuti. Salah satu yang (terpaksa) membuat saya penasaran adalah “health technology assessment” atau penilaian teknologi kesehatan. Tentu saja ada yang lain, yang kebanyakan berkaitan dengan isu-isu kesehatan terutama JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).
Ya, di sini lah setidaknya saya menyadari bahwa “mencari uang” di dunia kesehatan bukan hanya dengan aktivitas mengobati pasien. Masih banyak hal lain yang berputar-putar dibelakangnya. Dan semuanya berlangsung dalam pekerjaan yang setipe : “Proyek”.
Ada konotasi negatif ketika mendengar kata tersebut, terutama bagi saya pribadi. Tapi, “keterpaksaan” bergulat dengannya membuat saya berpikir kembali, bukankah ini sama dengan ‘program kerja’ saat di organisasi mahasiswa dulu? Hanya saja, dulu kita hanya mencari pengalaman, atau alasan-alasan immateriel an sich. Sedangkan sekarang? Ada hitung-hitungan penghidupan. Profesional lah, begitu katanya. Tanggungan profesional ini pada akhirnya harus sebanding dengan tanggung jawab.
Tak Terselesaikan
*Halo Tumblr. Lama tak bersua* Salah satu yang paling kubenci dari diriku adalah : sulitnya mengerjakan sesuatu dengan tuntas. Contohnya adalah: banyaknya draft tulisan yang tak terselesaikan. *Udah. Gini aja. Selesai*
Ada peran yang melekat pada setiap gelar. Ada tanggung jawab yang melekat pada setiap ilmu. Bismillah. Semoga saya bisa bermanfaat. Seperti kata Rasulullah. "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya."