Hilang tanpa kabar adalah cara yang baik untuk menjadi pengecut untuk memutuskan suatu hubungan
Lint Roller? I Barely Know Her

JVL
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Three Goblin Art

@theartofmadeline
Misplaced Lens Cap

JBB: An Artblog!
wallacepolsom
todays bird
Xuebing Du
One Nice Bug Per Day
Sweet Seals For You, Always

tannertan36
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Kaledo Art
No title available

Andulka
he wasn't even looking at me and he found me
trying on a metaphor
Jules of Nature
seen from Australia
seen from Australia
seen from Peru
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore

seen from United States
seen from Brazil

seen from United Arab Emirates
seen from United States
seen from United States

seen from Australia
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@filosofiemping
Hilang tanpa kabar adalah cara yang baik untuk menjadi pengecut untuk memutuskan suatu hubungan
Mungkin aku tak sepenuhnya benar. Tapi ada yang lebih tajam dari lidah. Bagiku diammu terasa lebih menyayat.
Dan hilang adalah ujung dari segala pencarian. Dan syukur adalah sesuatu yang harus selalu, selagi masih ada.
Hujan dan Bumi
Ini Sabtu sore yang sedang hujan, 9 Desember 2017. Dan itulah bumi yang di hujam berjuta-juta liter air dari awan diatas langit. Bumi dibuat basah seluruh, diam tak mengaduh.
Begitulah bumi. Biar kata di injak, bahkan di rusakpun tetap diam. Malahan terus memberi dan memberi. Bumi, jangan marah.
Dan itulah hujan. Beningnya air yang turun beramai-ramai, justru di hasilkan dari hitamnya awan. Dan kini kau tahu harus berkata apa: "Allahuma Shoyyiban Naafian"
Bajigur Kacang Rebus (Part 1)
Keinginanku mudah-mudahan sederhana. Berdua denganmu diatas motor, melintasi jalanan pada malam hari selepas hujan, melihat warna warni lampu-lampu yang menerangi kota, melihat kereta lewat dan memandangi berderet penjaja kuliner pinggiran jalan. Kemudian menepi pada salah satu kaki lima dan duduk menikmati wedang bajigur dan kacang rebus.
Mungkin kegiatan macam itu tak bermutu bahkan mungkin tak ada bagus-bagusnya bagi orang lain. Tapi, yang aku tahu. Indahmu belum tentu indahnya orang lain, maka indahlah dengan tenang. Bersyukur dengan rendah hati.
Hanya
Hidup, bisa begitu ya. Maksudku bisa ada banyak hal yang dapat kulihat dari segala arah sesuai kumau dan bisa. Yang bisa selaras dengan yang lain, bisa juga tidak.
Mencari, mendapatkan kemudian kehilangan, begitu kan? Sederhana sekali bukan?
Di kiri ada logika, di kanan ada memory. Maksud ku itu bagian otak. Dan kamu, ada selalu di sisi kanan otakku. Di hapus? Jangan!! Kamu oleh-oleh dari Tuhan. Mungkin di Malioboro banyak oleh-oleh juga, tapi itu buatan manusia. Sedangkan kamu, buatan Tuhan. Menjadi sabar agar di sayang Tuhan, menjadi baik dan menyenangkan agar di sayang kamu.
Dan memangnya ada gitu di kolong langit yang tak tersentuh waktu? Maka cepat katakan kalau ada, saya mau tahu. Saya juga mau hamburger keju dan es jeruk.
Sering saya merencanakan sesuatu, bahkan lebih jauh dari itu. Saya bukan hanya berencana, tapi melakukan. Baik berhasil atau gagal tentang apa yang sudah saya rencanakan.
Lagi-lagi waktu adalah informan terbaik yang pernah di ciptakan. Mungkin sepanjang masa. Boleh saya pandai berencana, tapi ada yang sangat jauh (tak terukur) lebih jenius dalam urusan merencanakan, siapa? Allah, Tuhanku!!
Maaf Tuhan, saya banyak maunya. Tapi sangat sedikit sekali patuhnya. Saya tak mungkin mampu lebih kuasa dariMu, menahan sedih saja saya repot. Harus sekuat tenaga untuk bisa terlihat biasa saja.
Permintaan saya suka aneh, bahkan yang kemungkinannya kecil. Bukan saya tak percaya padaMu yang Maha Mengabulkan. Hanya saja, saya harus tahu diri. Minta di pertemukan jodoh yang baik lagipula cantik, kalau bisa berhijab. Tapi saya... Ha ha ha...
Malah, kadang rasanya saya ingin sekali. Ketika sedang dalam masa yang saya sendiri begitu kewalahan, Kau kirim ayah dan ibuku sajalah. Dalam mimpi juga boleh Tuhan. Saya ingin banyak sekali cerita pada mereka, tentang banyak hal.
Sebab dibumi, rasanya tak ada yang tertarik untuk mau membagi waktunya untuk saya. Apalagi tentang hampir segalanya.
Aku rindu Ayah juga rindu Ibu. Tuhan.
Tuhan, jika memang tak ada yang bersedia menemani saya di saat masa-masa sulit dan sedihku. Maka, saya mohon beri saya kemampuan untuk bisa membahagiakan dan membuat banyak orang.
Tuhan, jika saya tak bisa memiliki apa yang saya mau . Saya mohon, mampukan saya untuk bersyukur dari apa yang sudah saya miliki.
Kau Adalah Tempat Pulang
Setiap orang menyukaimu. Adanya dirimu, adalah jawaban bahwa tiada lagi yang mampu menciptakan selain yang satu, begitupun kamu, hanyalah satu.
Lembutmu, meneduhkan. Tatapmu, menenangkan. Ada apa sebenarnya di dalam kamu, hal apa yang sebelumnya kamu temui sebelum ini hari. Adakah hari berat pernah kamu temui.
Tuturmu, tak pernah banyak tapi cukup. Senyummu, tak pernah ada kesinisan kudapati ketika berlangsung. Kamu dapat melihat dari apa yang lain tak mampu melihat.
Tiadamu, dicari. Adamu, diharap. Pergimu, dirindu. Apa cara kamu dapat begitu, di cipta dari unsur cahayakah kamu.
Bukan sepertiku dari segumpal tanah dan air yang hina. Meski begitu, juga jauh dari mungkin. Selepas aku berjihad, dengan caraku sendiri. Aku selalu berharap kamulah yang menjadi tempat pulangku, melepas lelah dan berbagi tentang hampir segala, hanya denganmu.
Jangan pro setan
Apa setan ada sisi bagusnya?
Saya tak pro setan. Tapi setidaknya, ketika ia goda manusia dalam keburukan ia total dan gak pilih-pilih. Tak peduli apa agamamu, Muslim, Kristen, Hindu, Budha, dia selalu all out.
Hmm.
Mestinya manusia bisa kebalikannya, ketika menolong dalam kebaikan atas nama kemanusiaan tidak pilih-pilih juga, meski tetap hati-hati itu perlu. Sudah ayo dzuhur dulu!!
Oh ya. Mari!!
Aku adalah awan hitam
Atau begini, jangan memilih aku jika memang kau mempunyai banyak pilihan. Karena, selain aku tak mau ditinggalkan juga aku tak mau membebani dirimu dikemudian hari, karena kau merasa telah salah memilih.
Titik rindu yang paling membuat candu adalah mengenang hangatnya sikapmu yang dahulu.
Sendiri
Si mata elang dari ibu kota, apa kabarmu. Kurindu sorot matamu membelah malam panjang. Dimana kini kau berada, tetapkah kau begitu dan selalu. Dimana lembutmu yang halus menyapa di dinginnya pagi.
Tak bagus lagi hariku, pijar matahari itu seolah malas bangun. Sebab tak lagi ada sapamu.
Kemudian angin menyapu daun kering jatuh, terbang kesana entah kemana arah. Dan debu menebal menutupi wajah murung yang hampir mati.
Selepas senja, menggelap. Giliran purnama bangun dan muncul dari ujung samudera. Namun, sepertinya srigala itu tak lagi di ingini longlongannya.
Tak dicari lagi kemana perginya anjing, tak peduli kucing sedang pincang tertabrak.
Hanya ranting menusuk rembulan, menjadi kawan. Juga jangkrik di balik batu berderik bersama katak diatas batu samping kali bersenandung berharap hujan datang.
Untuk menutupi derasi air matanya yang turun tak terbendung. Sendiri.
Perkataan Tanpa Ucapan
Dan ini adalah malam ke tiga saat aku tidak merasa sehat juga lincah serta tak lucu seperti biasanya. Disebabkan beberapa hari lalu aku keracunan makanan. Awalnya tidak percaya kalau aku ini keracunan. Karena aku berusaha tidak boleh suudzon terhadap siapapun, apalagi makanan. Hari itu memang perutku dalam keadaan kosong, aku dan temanku melaju bersama motor buatan Jepang dengan kecepatan yang wajar, udara terasa sedang dingin malam itu. Di ujung kiri sebelum jembatan kulihat ada yang berjualan nasi bungkus. Maka aku meminta temanku untuk berhenti sebentar untuk membelinya. Setelah dibeli kami langsung pulang, kerumah temanku tepatnya. Sesampainya disana, saya langsung membuka nasi itu dan ada beberapa gorengan kemudian makan tanpa di sertai doa lebih dulu. Selepas makan selesai, saya minum. Seperti biasa saja ritual orang lapar bagaimana, aku yakin kamu juga begitu. Tak lama berselang, perutku mual dan kembung ah aku pikir ini biasa karena sambalnya pedas mungkin. Rasanya ingin buang air besar, langsung aku melaksanakan tour ke toilet untuk melaksanakan darmawisata dan hanya seorang diri, maklumlah aku lelaki pemberani. Sempat agak lega setelah itu, tetapi gejala lain muncul. Kepala pening, mata kunang-kunang dan badan linu-linu secara mendadak. Aku mulai berfikir sekaligus merasa dan berkata pada diri sendiri 'ini kayaknya ada yang gak beres'. Aku pulang dari rumah kawanku itu, dengan kondisi pening dan pandangan sedikit ngeblur. Sesampai di rumah badan makin terasa lemas dan menggigil. Sebentar-sebentar bawaanya ingin ke toilet. Dan melakukan ritual yang sama. Dalam satu hari ada mungkin 10 kali pulang pergi melakukan ritual tersebut. Sampai saatnya, yaitu saat ini. Aku berfikir bahwa kejujuran adalah soal yang tak perlu selalu di katakan karena ia selalu tertampakkan, begitu juga dengan kebohongan. Setiap kenyataan memiliki bahasanya sendiri. Semisal sebuah bangunan, jika kekurangan semen ia tak perlu diselidiki karena sebelum diselidiki banyak bangunan yang roboh duluan. Begitupun dengan makanan tadi, aku tidak menuduh makanan itu yang beracun tetapi mungkin cara mengolahnya yang kurang baik ditambah lagi aku yang mengabaikan kekuatan doa di tambah lagi perut memang sangat kosong, lengkap sudah. Ya setidaknya begitulah kejujuran dan kebohongan bekerja. Tak selalu terkatakan tapi seringkali tertampakkan.
Who Knows
Saya pernah mencintai seseorang dengan serius dan sangat. Bahkan, berupaya untuk mendaapatkannya. Setidaknya menurutku begitu. Tapi sayang, baginya hal itu tidak terlihat sebagai sebuah upaya perjuangan. Malahan bisa dibilang ia melihatnya ini semua adalah sebuah guyonan belaka. Maka, semenjak itu saya menganggap itu adalah lelucon terlucu didunia yang pernah aku alami dan aku ingin tertawa. Alhamdulillah.
Kamu tahu kenapa saya merasa harus berjuang? Pertama karena saya lelaki, yang ketika berjuang saja tidak berani bagaimana melindungi kelak, kedua karena saya sedang sungguh-sungguh, meskipun saya sadar betul apa yang saya perjuangkan tidak menjamin keberhasilan tapi kalau saya tidak berusaha itu sudah jaminan gagal.
Buat para lelaki, entahlah ini benar atau tidak apa yang saya katakan dan mungkin ini akan terrasa klise. Bohong kalau saya tidak kecewa dan ingin berkata kasar serta mengutuk, tapi mengingat saya masih punya akal sehat maka tidak saya lakukan. Hanya saja saya kemudian berpikir, perempuan itu datang pada kehidupan saya memang sengaja dikirim semesta untuk saya belajar. Dan soal bagaimana dia bersikap dan memperlakukan saya dengan prilakunya itu, saya anggap dia sedang mengajarkan pada saya bahwa didunia ada macam-macam orang dalam bersikap dan memeperlakukan orang lain dan dia seolah berpesan pada saya untuk jangan di tiru prilakunya.
Selain itu, saya akan berusaha tetap baik-baik saja meski terkecewakan dan dia pergi sesukanya. Yang saya khawatir adalah, bagaimana kalau kelak kemudian orang semacam itu terkecewakan.
JANGAN
Jangan suka mencaci angin Jangan suka menerca hujan Jangan suka mencela matahari Mereka berhenti bergerak Mampus dibuatnya kau.
Dari Dalam Yang Menekan
Hari ini adalah hari yang bagus. Kulihat ada beberapa hal yang bagiku itu menarik, juga ku dengar suara-suara yang seolah sengaja bunyi untuk memastikan kalau telingaku masih berfungsi dengan baik. Hanya saja tadi pagi, baru aku mendengar suara hati dari seorang kawan. Bagiku ia orang yang menyenangkan dan pernah ada menyebalkannya. Dia bercerita dan aku mulai mendengar. Katanya: Saya ini punya impian dan saya sangat ingin. Saya capek di ejek, walau saya pasti akan berusaha biasa saja saat ejekan itu datang karena saya tahu mereka bercanda. Saya mau marah, tapi selalu tidak saya keluarkan demi menjaga semua baik-baik saja. Saya tahu saya banyak sekali dosanya, mungkin Tuhan sedang marah ke saya. Saya tahu kadang saya picik, melihat orang lain seperti dimudahkan padahal setahu saya dia juga tidak baik-baik amat. Tapi mungkin bagi Tuhan tidak. Saya sudah berusaha, juga berdoa. Tapi, Tuhan seperti sedang marah pada saya, saya tahu saya berlumuran dosa wajar kalau akhirnya Tuhan marah ke saya toh? Aku terdiam Kemudian ia melanjutkan lagi. Saya pasrah, saya sangat ingin. Inginnya saya ini mungkin sesuatu yang bagi orang lain ini menjadi hal biasa saja. Tapi saya sangat ingin. Saya ini mungkin naif juga dan tidak pandai bersyukur. Mendengar hal itu. Aku hanya bisa terdiam, aku terdiam bukan karena memang benar-benar mengerti dengan apa yang baru saja aku dengar, lebih karena tidak dimintai pendapat, hanya untuk mendengar. Tetapi, aku tahu kesehariannya. Dia yang selalu tampak riang dan gembira. Nyatanya hari itu ia mengeluarkan sesuatu yang mungkin sudah lama menekan dari dalam, hal yang tak sanggup lagi ia pendam. Ia seperti sedang bingung, antara mau protes terhadap keadaan atau ia cukup bijak mengakui bahwa ia lah yang penuh dosa untuk kemudian perbaiki dulu. Dan aku sebagai kawannya mungkin tak selalu bisa memberi nasihat dan jalan keluar yang sesuai maunya, tapi mungkin akan berusaha untuk selalu paham dan empati.
My half was gone. I hope you will be happy like always. Meet some one better than me. Be da best in your lyfe. You will always alive deep inside of me.
Semoga Karma Tak Berlaku Padamu
Kau yang ku tunggalkan, tak pernah ada niat kutinggalkan. Aku tak kau tunggalkan, kemudian kau tinggalkan.
Ku anggap ini hal serius. Kau anggap itu hal sepele.
Seserius laba-laba merajut jaring. Seserius lumba-lumba bermigrasi. Seserius semut menyambut musim salju.
Ku anggap ini sebuah pembuktian. Kau anggap itu tak sekedar hal tak guna.
Hanya yang tak berotak dan berperasaan. Hanya yang tak bertika dan pengecut. Yang mampu berlaku rupa demikian..
Ku tahu sabar itu tiada batas. Tapi kali ini aku yang membatasi. Semoga bisa termaklumi.
Tuhan!! Jangan biarkan aku lemah hanya karena diperlakukan sebrengsek ini oleh mahlukmu yang tak menggunakan pikirannya.
Tuhan!! Jangan jatuhkan karmamu pada mahkluk ciptaanmu yang tak menggunakan perasaanya itu. Sebab dzalim-dzalim ia berbuat. Ia tetap mahklukmu.
Dalam Diam
Ia tak dapat dicapai dengan penglihatan mata. Ia teramat lembut. Tetapi ia dapat melihat segala. Ia tak terjangkau dengan nalar. Tak tersentuh waktu, tak perlu ruang. Ia tak teraba, namun dapat dirasakan, hanya oleh siapa-siapa yang dalam jiwanya penuh ketenangan. Ia yang selalu ada untuk mendengar apa-apa yang tak terdengar. Bahkan dalam kesunyian yang hening. Ia tak pernah meninggalkan, tetap ada bahkan ketika ia terkecewakan. Ia yang tak terpahami, namun selalu memahami. Ia hidup untuk menghidupi. Dalam diamnya ia peduli. Dalam diamnya ia berencana. Dalam diamnya ia bergerak tak kenal lelah.