wijaya
Pada momen kelulusan sebuah kampus seni di Amerika Serikat, Oprah Winfrey diamanahkan kesempatan untuk menyampaikan pidato yang ditujukan bagi para calon wisudawan. Satu dari sekian baris kalimat pada pidatonya berbunyi:
“And then from that space, make the next right move and the next right move, then you won’t be overwhelmed by it, because you know your life is bigger than that one moment”. Akhir kalimatnya begitu berkesan. Kita perlu menyadari bahwa sebagai kerangka besar, hidup selalu lebih besar dibandingkan satu-dua momen di masa lalu. Karena ia lebih besar, maka tidak ada alasan bagi kita untuk berhenti terlalu lama karena kesedihan yang telah terjadi.
Mungkin kesedihan pada hidup Oprah berawal dari kondisi keluarga yang tergolong miskin. Setelah masa kecilnya bertahun-tahun dilalui dalam situasi serba berkekurangan, orangtuanya pun memutuskan untuk berpisah. Tak lama berselang, ia mengalami pelecehan oleh saudaranya yang berujung hamil di luar nikah pada umur belia. Kisahnya berlanjut lebih pilu lagi karena bayi yang dikandungnya meninggal setelah dilahirkan.
Andai pengalaman serupa terjadi pada kita, apa yang akan terjadi kemudian? Jangankan bertahan dengan deretan pengalaman pilu, berakhirnya drama romantika saja sering membuat sebagian dari kita merasa bahwa dunia sudah berakhir. Sementara kisah masa lalu Oprah terlihat bak film serial berdasar kisah nyata yang rentetan adegan sedihnya tak mengenal episode.
Tapi kemudian, ia mensyukuri anugerah bernama hidup yang baginya lebih berharga dibanding ujian dalam bentuk kemiskinan, perceraian orang tua, pelecehan, hamil di luar nikah atau kepergian sang buah hati. Keputusannya puluhan tahun lalu untuk bangkit dari keterpurukan, melaju dan bertumbuh telah menjadikannya salah satu milyarder perempuan dalam industri media modern global saat ini.
Ketika kita meratapi satu-dua kejadian yang memukul mundur lalu membuat kita jatuh tersungkur, tidak pernah ada sedetik pun waktu yang bisa diundur untuk mengoreksi jalan hidup. Justru cara menghargai hidup selalu terlihat dari upaya kita untuk ajeg melawan gelombang ujian yang menghantam silih berganti. Gelombang-gelombang tidak menyamankan yang menguatkan jiwa ketika kita berhasil bertahan hingga akhir.
Jadi jangan heran ketika kita mendapati sosok-sosok mapan di luar sana memiliki latar belakang hidup yang penuh dengan kekalutan. “Difficulties mastered are opportunities won”. Mereka yang terlihat mapan memutuskan untuk tidak mengecilkan hidup & membesarkan kesulitan tapi mengecilkan kesulitan & membesarkan hidup sesuai dengan semestinya.
Untuk alasan apapun, bersedih seperlunya tentu amat manusiawi. Tapi jangan lupa, di luar sana ada banyak orang yang diuji dengan tingkat kesulitan yang jauh lebih memilukan hati namun mereka masih mudah bergembira dan bersyukur. Dengan rasa syukur itu, mereka terjaga untuk tidak terlalu sering merendahkan diri.
Seperti halnya ketika kita merasa tengah mengalami hari yang begitu buruk di dalam kendaraan lalu melihat seorang difabel yang berjalan kaki di bahu jalan dengan tongkat penyangganya sembari membopong perabotan jualannya di bawah hujan. Kita tidak ada apa-apanya.
Jadi, jangan pernah mau dikalahkan dengan telak oleh kesedihan, karena kita tercipta untuk menghidupi hidup yang selalu jauh lebih berharga dibandingkan momen apapun yang pernah terjadi.















