Malu rasanya, bahkan untuk sebuah pertemuan yang pasti datangnya, rasanya diri ini tidak akan pernah siap. “Belum pernah ada hal yang pasti namun dianggap tidak pasti kecuali kematian,” ujar salah seorang teladan di layar kaca.
Sebuah pertemuan yang harusnya jauh lebih mesra daripada menanti perjumpaan dengan orang-orang terdekat yang sungguh kau sayangi dari lubuk hati terdalam. Padahal untuk orang-orang terdekat ini saja sebelum berjumpa dengan mereka, kita akan meluangkan waktu untuk menyiapkan diri sebaik mungkin untuk sekedar bertatap muka dan menikmati momen bersama. Harusnya ketika nanti waktu untuk berjumpa dengan yang menjadikan diri ada, kemesraan itu transendental dan melebihi apapun yang pernah dicinta dalam kamus kehidupan.
Takut. Dibalik kemesraan itu ada ketakutan bahwa mungkin saja persiapan itu tidak pernah ada atau sangat sedikit porsinya pun yang pernah jadi jejak jauh dari kata baik. Padahal, ia dekat dan bisa menyapa kapan saja. Salah seorang kawan pernah berkisah tentang kesiapannya menjalani satu tahap perkembangan, “Kalau ditanya apa saya sudah siap atau belum, saya jawab saya sedang siap-siap. Karena rasanya menunggu siap itu tidak akan pernah selesai.”
Lalai adalah nama tengah. Namun, siapa saja berkewajiban menyadari dan mengingat bahwa dengan tetap memupuk sifat ini sama saja dengan terjun bebas nihil pengaman. Bahwa selalai apapun, ingat-ingatlah kebaikan dan maaf yang masih dilimpahkan Dia yang selalu mengampuni, mengasihi. Semoga segala cahaya-Nya bisa mendorong diri keluar dari sudut tergelap menuju usaha untuk menjadi sesiap-siapnya, semesra-mesranya pada suatu ketika di hari pertemuan itu tiba.