Sebut aja namanya Indira.
Dihitung, sudah tiga kali aku bertemu dia sejak pertama kali kami berkenalan. Durasi kami saling mengenal, kalau ditotal, setahun dua bulan.
Pertama kali, saat kami menghabiskan waktu liburan bersama—dua malam Indira menjadi teman sekamarku. Kedua kali, di satu acara duka cita (Indira membantuku menemukan toilet. Sebab rumah yang benar punya toilet di tanah itu tidak semuanya). Ketiga kali, saat Indira menginap di kamarku selama tiga malam. Sekitar enam minggu lalu.
Indira, menurutku adalah seseorang yang menarik. Ia punya kedalaman berpikir yang luar biasa, realitis (bahkan cenderung ekstrem) dalam memandang hidupnya sendiri. Ia juga tampaknya sangat tahu apa yang dia mau. Saat dia bicara, tak terdengar keraguan dalam kata-katanya (meski ini justru menjadi alasanku meragu huhu)
Bagi banyak orang, pernikahan konvensional ditafsirkan sebagai penggabungan dua hidup menjadi satu (ke mana-mana bareng, keputusan harus selalu bersama, ruang privat berkurang).
Namun bagi Indira, konsep itu mungkin terasa seperti "penjara" atau ancaman terhadap kebebasannya. Ingat, saat ia mengatakan ini, maksudnya selalu berada dalam definisi yang paling ekstrem.
Berkali-kali dengan tegas ia mengatakan padaku kalau pernikahan tidak cocok dengannya, kecuali dengan laki-laki yang juga "nyaman hidup masing-masing".
Pada malam terakhir kami bertemu, Indira bilang padaku, "Say, lelaki di negeri ini, sekarang ini ada 3 jenisnya. 1. Bingung. 2. Patriarki. 3. Ingin di princess treatment. Gue udah coba jalin dengan kelahiran 1986-2005 (baru lulus SMA). Funfact-nya, nggak satupun dari mereka itu nggak masuk ke dalam 3 kategori itu. Masing-masing mesti ada di salah satu kategori itu."
Aku speechless saat mendengar itu.
Dari pengalamanku mendengarkan dia yang sudah-sudah, Indira ini memang luar biasa kalau sudah membuat taksonomi atau mengategorikan sesuatu.
Setelah mengatakan itu, dia juga mengatakan bahwa dia merasa salut padaku, karena tidak berakhir sinis seperti dia dan masih percaya laki-laki yang sesuai mauku, masih ada.
Aku bahkan tak yakin. Kata-katanya itu sebuah pujian atau cuma satirenya seorang Indira? HAHA
Menghadapi seseorang seperti Indira, rasanya aku juga harus selalu siap dengan kemungkinan bahwa setiap kalimat manisnya punya lapisan kedua yang rasional atau bahkan sarkastik.
Suudzonku, bisa jadi di dalam kepalanya dia melihatku seperti: “Ih, lucu ya nih orang, di tengah dunia yang se-fucked up ini masih aja punya harapan. Polos banget.” Dia yang merasa sudah "tercerahkan" oleh realitas pahit masa penjajakan lawan jenisnya mungkin melihat optimismeku sebagai sesuatu yang naif atau cute tapi gak realistis. Mungkin aja. Siapa yang tahu, khaaaan???!!
Tapi emang iya, kok. Aku masih pecaya laki-laki seperti yang kumau masih ada HAHA.
Cuma ya kalau sekarang, aku masih in phases yang amat-amat ogah aja.
Dan, tadi aku sempat menulis "Saat dia bicara, tak terdengar keraguan dalam kata-katanya (meski ini justru menjadi alasanku meragu huhu)." Sebagai seseorang yang tidak ekstrem, aku percaya, orang yang paling sinis sekalipun biasanya punya rasa rindu tersembunyi pada masa-masa di mana mereka masih bisa memercayakan hidupnya pada orang lain, masih punya harapan, dan gak perlu bikin Plan C untuk bertahan hidup. Jadi, waktu dia bilang salut, bisa jadi dia emang jujur. HEHE
Memercayakan hidupnya? Gak perlu bikin Plan C untuk bertahan hidup?
Jadi menurutku, Indira ini seekstrem itu mungkin karena terluka?
Terasa melompat, ya?
Tesis bahwa Indira terluka tidak muncul tiba-tiba. Itu karena di malam yang sama, aku mendengar lebih banyak hal tentang Indira. Plan A, B, dan Cnya itu, aku sedih sekali mendengarnya.
Sayangnya, cerita-cerita selanjutnya adalah cerita yang tidak akan pernah kuceritakan.
Jadi, sekian saja. Aku hanya ingin mengabadikan sedikit tentang Indira.
Saat berpisah, kubilang pada Indira. "Dir, gue doakan lu mencapai target lu, ya. Tapi sekiranya plan A lo gagal, gue yakin plan B lo tetap worth it untuk dijalani. Kalau ternyata tetap ga worth it juga menurut lo, gue harap lo bikin plan B1 B2 B3- B sejuta sebelum pilih plan C."