Aturan (Tak Tertulis) Bermedia Sosial Pasca Menikah
Aku ingat, aku pernah merasakan suatu ‘keterbatasan’ ketika membuka media sosial terutama Instagram pasca aku menikah 5 tahun yang lalu. Semua terjadi semenjak kehadiran suamiku.
Rasanya, semacam jadi ada ‘polisi’ yang mengawasi haha. Ada kurator dalam setiap perkataan dan sikapku di dunia maya. Yang biasanya aku ‘merasa bebas-bebas’ saja, kini jadi perlu apa-apa dipikir dan dimintai persetujuan.
Bagi sebagian orang, hal seperti ini akan dianggap “ihh kok gitu, kok kayak ngekang jadinya?” Atau “kok pasangan ikut campur urusan personal istri sih, harus ya sampai segitunya?”
Mulanya aku sendiri yang berpikir begitu haha. Diam-diam aku menggerutu dalam hati ketika suami mengomentari apa-apa yang aku post di IG. Baik story maupun postingan. Aku sedikit kesal karena ‘kenapa aku jadi merasa apa-apa harus sesuai yang beliau mau?’..
Mau posting A, ditanyai “apa alasan kamu ngepost ini?”
Mau posting B, dikomentari “harus ya ngepost tentang itu?”
Jawabanku saat itu lebih ke “ya karena saya mau..” atau “ya karena saya suka sama hal ini.. jadi saya share.”
Dibeberapa kesempatan, jadi urung diposting karena kena teguran. Atau karena aku sudah malas dan hilang mood wkwk. Mungkin saat itu bagi suami, aku terlalu membuka diri di media sosial. Dihadapan banyak orang yang tidak semuanya kukenal.
Tidak heran, awal menikah masa-masanya taaruf kedua kan ya. Mulai mengenai karakter, value lain, dan sudut pandang masing-masing terhadap apapun. Disitu lama-lama aku jadi tahu bahwa suami orangnya seprivat itu. Seberhati-hati itu mengenai media sosial.
Berlainan denganku yang saat itu lagi banyak-banyaknya dapet follower baru, kontenku selalu ramai, DM-ku penuh dengan obrolan dari teman-temanku.
Dulu aku aktif diberbagai kanal media sosial, sementara suami, tidak punya akun media sosial selain twitter (itu pun jarang dibuka) dan fb (ini kalau kebetulan lagi buka fb dan sering nemu postingan aku katanya wkwk).
Jadi disini dunia kita agak berbeda. Aku si yang banyak teman, dengan suami yang lebih hidup seperti ‘lone wolf’. Sang ambiever dan si introver akut pun menikah.
Butuh waktu cukup lama untuk menyesuaikan diri bagiku untuk bermedia sosial pasca menikah. Aku menghormatiku suamiku, aku menghargai pendapatnya, aku terbuka untuk belajar sudut pandang baru darinya.
Opininya ada benarnya, beberapa ada yang bisa kusanggah dan ia menerimanya. Kami hidup beradaptasi satu sama lain, dan belajar saling memahami kebiasaan yang sudah lama terbentuk sejak single dulu.
Ok, balik lagi ke bahasan sesuai judul. Apa aturan tak tertulis bermedia sosial pasca menikahnya?
Pertama-tama, ini cerita dan opini pribadiku ya (mewakili value keluarga kami hehe). Jadi kamu tidak harus setuju, tidak harus sama/sesuai, dan tiap orang punya latar pun situasi yang berbeda bukan? :D *jadi mari saling dengarkan dan belajar hargai ya..
Aturan pertama, tidak oversharing ketika fase newly wedd.
—dulu, ini suliiiit banget bagiku untuk menahan diri. Orang ketika baru nikah, bawaannya ingin ‘menunjukkan’ (sengaja atau ngga sengaja) kan ya? Ingin ngelihatin lagi bareng pasangan, aktivitas apa yang lagi dilakukan.
Karena memang sedang sebahagia itu :’)) hati penuh suka cita, hari-hari terasa indah sekali, energinya menular hingga ketiap postingan yang dishare di media sosial.
Beberapa minggu kemudian, biasanya muncul postingan sedang masak sesuatu untuk suami. Jalan-jalan kesuatu tempat, dan hal-hal menyenangkan lainnya.
Bagi suami, saat itu perlu banget postingan dikurasi dan ditahan. Tidak semua harus kita share, apalagi kalau ada hal-hal yang menyangkut privasi. Kalau tidak ada tujuan dakwah atau menginspirasi kebaikan, lebih baik tidak usah.
Saat itu aku pernah melakukan kesalahan. Aku pernah mengambil video suami sedang di halaman rumah (lupa beliau sedang ngapain) dan terlihat beliau sedang pakai celana pendek.
Saat melihat story IG itu, suamiku menegur cukup keras. Karena itu artinya aku tidak sengaja menunjukkan auratnya. Aku langsung sadar, “oh iya ya!! ((betapa bodohnya akuuu))”
Aku diperingatkan untuk tidak lagi sekali-kali menunjukkan wajah atau apapun perihal beliau di media sosial. Silakan aku membuat story, berupa foto atau video tapi jangan sampai pernah menunjukkan beliau.
Suamiku tidak suka diekspos ke publik. Disini, aku belajar untuk menerima dan menghormati keputusan beliau.
Aturan kedua, tidak menunjukkan ‘baby bump’ ketika sedang mengandung anak.
—untuk hal ini, bagiku cukup mudah. Karena dari yang kupahami, bagian perut adalah aurat sebagaimana anggota tubuh lainnya. Menunjukkan secara sengaja bentuk perut ketika hamil, seperti tidak ada bedanya dengan memperlihatkan lekuk tubuh yang seharusnya tertutupi oleh pakaian.
Bagian dada (yang maaf; menonjol) saja perlu dijulurkan kain kerudung bukan? Begitu pun bagian perut. Kalau bisa, ditutupi dengan baik. Pakai pakaian yang lebar, nyaman dan tidak ketat.
Aku pernah tahu saat itu sedang ramai bermunculan lelaki aneh yang suka mengoleksi foto-foto ibu hamil yang sedang menunjukkan perut besarnya, dan disalah gunakan menjadi sarana ‘pemuas nafsu’ mereka. Aku takut sekali. Lebih baik menjaga diri sedari awal daripada menyesal.
Aturan ketiga, tidak mengekspos wajah bayi (atau anak). Apalagi ketika mereka masih sangat kecil, dan tanpa persetujuannya.
—suami mewanti-wantiku soal hal ini. Ditengah maraknya dan cerita-cerita sedih mengenai efek ‘ain, membuatku lebih keras menahan diri. Khawatir kena, khawatir ada apa-apa. Mengambil foto anak ketika masih bayi boleh saja, hanya tidak perlu dishare ke publik.
Kalau gemes ingin posting, tutupi wajahnya. Atau foto bagian lainnya selain wajah (kalau memang ada keperluan). Kalau mau tahu wajah anakku, tidak apa-apa saat bertemu langsung. Atau bagi teman dekatku yang bertanya, ya aku beri saja fotonya dengan catatan tidak dishare tanpa persetujuanku hehe.
Baiknya teman-temanku, saat bertemu Syamil dan berfoto, mereka selalu meminta izin kalau mau diposting.
“Boleh aku post foto yang ada Syamilnya ngga Yu? Nanti aku tutupi wajahnya ya..” , begitu kata mereka. Aku haru sekali ketika mereka memahami dengan baik keputusanku.
Aturan keempat, tidak menunjukkan kemewahan, fasilitas rumah tangga, ‘keberuntungan’ pribadi, atau hal-hal yang tidak penting untuk dishare kalau tidak ada tujuan kebaikannya.
—untuk hal ini, aku masih belajar dan sedang kulanjutkan. Mungkin beberapa kali aku pernah kepeleset (maafkan aku.. dan tolong tegur baik-baik in privat ya) seperti foto makanan resto (dan tidak ada tujuan lain selain seperti pamer “hei, aku makan disini lhooo”). Atau hal lain yang tidak bertujuan apa-apa.
Aturan terakhir, tidak curhat dan tidak nge-spill masalah rumah tangga ke dunia maya.
—segatal apapun, sesedih apapun, se-stress apapun aku ketika menghadapi permasalahan yang terjadi di dalam rumah SEBAIKNYA tidak pernah dan jangan sekali-kali dituliskan di media sosial yang siapapun bisa membaca, mengonsumsi dan menikmati ceritanya.
Dituliskan dalam sebuah jurnal? Boleh saja, tapi tidak perlu dipublish. Jangan umbar-umbar masalah dan kesedihan di media sosial :’D biarkan orang berpikir bahwa kita selalu hidup dalam kondisi happy, tenang, damai dan nyaman. Walau sebetulnya tidak selalu begitu kan ya haha.
Hidup adalah rangkaian episode yang punya temanya masing-masing. Kadang hidup naik-turun, tidak selalu senang, tidak juga selalu menyedihkan.
Jika hidup sedang senang-senangnya, alhamdulillaah bersyukurlah!
Jika hidup sedang fase sedih-sedihnya, alhamdulillaah bersabarlah!
Semoga kondisi baik, kata Allah begitu. Jadi biasakanlah diri kita untuk menjaga diri kita, dan cerita kita dari berbagai spekulasi dan pandangan orang lain yang tidak bisa kita kontrol.
Kalau dirasa tidak kuat menahan semua masalah sendiri, pilihlah teman terpercaya untuk membantumu meringankan beban dihati.
Kalau tidak punya teman tersebut, hubungi ahli atau psikolog untuk membantu menguraikan pikiranmu & masalahmu.
Dan lebih baik jika masalah yang sedang kamu alami, kamu selalu bagikan bersama pasanganmu. Komunikasikanlah, curhatlah sering-sering. Sebab ia teman karib kita hingga surga. Bersuka ria-lah bersama-sama, bagilah rasa sedih itu hingga kamu rasakan ketenangan dan pasanganmu akan semakin senang karena ia benar-benar dipercaya oleh kita.
Memang jadi sulit jika pasanganmu yang jadi masalahmu, kamu perlu pihak ketiga (yang netral) untuk membantu menyelesaikan masalah itu.
Semua aturan tak tertulis diatas, adalah hasil belajarku dari pernikahan yang berjalan menuju 5 tahun ini.
Tentu, aku masih teris berproses. Aku tidak sempurna. Bisa sangat salah, bisa juga sesekali benar. Yang jelas, aku tidak pernah berhenti belajar.
Sesuai kalimat yang tertulis di bio WA-ku: “unstoppable learner!” —aku adalah pembelajar sepanjang hayat. Belajar soal kehidupan, belajar soal kebijaksanaan.
Semoga teman-teman disini, ketika sedang membaca tulisanku, ada yang bisa diambil hal baiknya (aku berharap banget..) dan buang jauh hal buruk yang tidak sengaja aku resonansikan di media sosial ini.
Mohon maaf kalau aku ada salah-salah ya :) semoga masih mau dan terus mau berteman sama aku meski hanya via maya (karena ketemu offline kan terbatas ya hihi).
Tangerang, 25 April 2025 | 16.06 WIB