đȘ

Andulka
Xuebing Du

Product Placement
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
cherry valley forever
art blog(derogatory)
Noah Kahan
đ©” avery cochrane đ©”

romaâ
Aqua Utopiaïœæ”·ăźćșă§èšæ¶ă玥ă

JVL
Monterey Bay Aquarium
KIROKAZE
đȘŒ
he wasn't even looking at me and he found me
Three Goblin Art
Cosmic Funnies
Cosimo Galluzzi
trying on a metaphor
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Lithuania
seen from Iraq
seen from Saudi Arabia

seen from United States

seen from Philippines
seen from Italy
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Spain

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from France
seen from Kenya
seen from Indonesia
seen from Pakistan
seen from Kosovo
@foldythechair
đȘ
Currently on repeat. đ
Been building a few houses in The Sims 4. These are just a few of them. Gotta admit I'm exceedingly decent at both building and furnishing but I really enjoy doing them all.
Can songs be addictive? Yes, yes they can.
person: but itâs canon
me: yes, but itâs very badly written, so we ignore it
Thank you, Five Feet Apart, for letting me know that Novo Amor exists.Â
The Sims 4: Get To Work introduced me to this song.
Currently on repeat.
I made a playlist that consists of songs I find relaxing enough they might put you to sleep at night. Feel free to check it out.
the softest boy *:ïŸâ§
đ„ș
There should be a tutorial on how to make your less attractive digital selves in The Sims 4 because these two are still way too good looking for my liking.
While collecting the stars, I connected the dots. I donât know who I am, but now I know who Iâm not. (Sleeping At Last - Jupiter)
Instagram: whoisladywindermere
Sisa-sisa Cerita Dari Buri Ram
Gue lagi beresin semua file lama di laptop waktu gue ngeliat file âSWD29â yang isinya foto-foto selama gue volunteer di Buri Ram. Â Iya, jadi gue pernah volunteer di salah satu project-nya AIESEC in Thailand selama 6 minggu. Gue nggak mau cerita secara detail apa yang gue lakukan selama 6 minggu itu karena udah basi. This happened two years ago and I intended to write about whatever it is that youâre about to read around the time I came back to Indonesia, tapi gue keburu fokus ke skripsi. Jadi ya baru gue tulis sekarang karena, seperti yang gue bilang di postingan gue sebelumnya, gue lagi mengalihkan perhatian gue dari segala pemberitaan tentang virus korona karena gue berusaha tetep waras amid this coronavirus outbreak. Writing this is one way to distract myself.
Inti dari seluruh tugas gue selama 6 minggu adalah ngajarin bahasa Inggris ke anak-anak TK dan SD di salah satu sekolah di desa kecil. Gue lupa kapan, tapi ada satu hari dimana kegiatan belajar mengajar di sekolah diganti sama kegiatan mendalami agama di wihara, jadinya gue dan guru-guru yang lain harus mendampingi seluruh murid selama kegiatan berlangsung. Semua orang paham kalau gue tidak beragama Buddha, makanya mereka nggak maksa gue untuk ikut ibadah di belakang anak-anak atau sujud di depan Buddha dan Biksu yang ada di sana. Gue ended up bantuin beberapa guru nyusun snack aja.
By the way, kita dateng dengan keadaan wihara masih kosong. Kosong as in belum ada dekorasi semacamnya. Kalau di Indonesia biasanya itu tugas guru atau panitia acara sehari sebelumnya, nah itu semua dikerjain sama murid sekolahnya. Dari mulai nyapu, menggantung spanduk di dinding, sampai menggelar tikar di lantai, itu semua mereka yang ngerjain dan dilakukan sejam sebelum acaranya mulai. Guru-guru mah tugasnya sama makanan dan dokumentasi.
Perbedaan lainnya adalah, kalau di Indonesia, makanan biasanya dipesenin guru entah dari mana. Buka puasa bersama di sekolah, misalnya. Your either eat fast food or boxed food. Doesnât mean itâs a bad thing, though. Di sekolah tempat gue ngajar, however, nggak. Menjelang makan siang, ada mobil pikap yang bolak balik bawa segala macam perabotan dari mulai meja, piring makan, sendok, sampai wastafel portable kayak gini. Gue familiar banget sama piringnya karena itu piring yang biasa dipakai anak-anak makan di sekolah. It turned out semua peralatan makan siang dibawa dari sekolah di wihara. Makan siang mereka juga dimasak di sekolah. Nggak ada yang beli, semua dibawa dari sekolah.
Karena di Indonesia biasanya makanan beli, pastinya jadi banyak banget sampah kardus makanan yang numpuk. Tumpukan sampah ini pun nanti yang buang ya⊠gurunya juga. Di tempat gue ngajar, semua murid harus cuci sendiri piring mereka setelah makan. Iya, yang TK juga. Di luar sekolah sekali pun, piringnya mereka sendiri yang cuci. Kayak yang gue bilang tadi, mereka dibawain wastafel dari sekolah jadinya sampah yang ada nggak terlalu banyak. Gue nggak punya fotonya sih, but the sink looked like this. Baru lah piring-piring bersih itu tugasnya guru-guru untuk dibawa lagi ke sekolah. Seems like a lot of work ya?Â
Selesai acara, siapa yang bertugas bersih-bersih ruangan dan dekor? Ya anak-anak lagi. Semua perabot makan siang dibawa ke sekolah, sisa snack dibagi ke anak-anak atau dibawa pulang guru. Dateng dalam keadaan bersih, pulang juga harus dalam keadaan bersih. Unlike di Indonesia yang semuanya bener-bener guru yang ngerjain. Seenggaknya sih itu yang gue liat waktu gue masih sekolah. Kalau ada kegiatan di luar sekolah, yang melakukan persiapan guru-gurunya. Gue tinggal dateng aja dan pulang waktu acaranya udah selesai.
Gue nggak tau apakah hal-hal tadi berlaku atau dilakukan di sekolah lain yang muridnya lebih banyak karena total murid di tempat gue ngajarâdari TK sampai kelas enam SDâcuma ada 120 anak, if Iâm not mistaken. It really is a small school, jadi mungkin aja mereka menganggap semua hal tadi biasa. Gue yang awalnya mikir, âWah, niat banget ini sekolahâ waktu liat semua perabot dan alat makan sekolah ada di sana malah ngerasa kalau âkeniatanâ mereka keren. They created waaay less garbage.
Oh ya, selesai istirahat makan siang, ada bagian di mana mereka harus tutup mata dan dengerin Biksu di depan. Gue nggak tau sih apa yang dibicarakan karena gue nggak ngerti bahasa Thailand, tapi gue berasumsi mereka diminta membayangkan hal-hal yang tidak diinginkanâkayak di ESQâgitu karena nggak lama setelahnya, semua anak nangis HAHAHAHA. Duh. So we do have one thing in common after all.
âWhat would life be if we had no courage to attempt anything?â - Vincent Van Gogh
Taking a step forward without knowing what will happen to you can be scary. Hiding from everything because youâre afraid is terrifying⊠5 moments Lucas decided to be brave.
đŠđ
Too Much Information, or TMI For Short
Nggak gampang untuk sebagian orang mengisolasi diri di rumah dalam jangka waktu yang lama. Jangankan mereka yang extrovert, gue yang introvert banget pun udah sedikit merasa stir crazy memasuki minggu ketiga #DiRumahAja. Pemandangan sehari-hari cuma dinding rumah atau halaman rumah aja. Tapi in order not to worsen this pandemic, it's best to stay home as much as possible. Kalau mau ngobrol sama temen atau kolega, ya paling lewat Line, WhatsApp, dan sejenisnya meskipun, yah, nggak sama kayak interaksi secara langsung sih. Kalau mau keep up sama dunia luar pun, paling gampang lewat media sosial. Gue sendiri sadar kalau gue jadi lebih sering baca-bacain tweet orang di timeline Twitter.
Penggunaan media sosial, or internet in general, tentu punya manfaatnya sendiri. Seperti yang gue bilang tadi, keep up sama dunia luar gampang banget dilakukan lewat media sosial. Dari berita-berita yang serius sampai guyonan receh yang nggak penting, semuanya ada. Informasi tentang virus korona juga bertebaran di internet. Tinggal ketik âcoronavirusâ, âvirus koronaâ, atau âCovid-19â, nanti muncul semua beritanya. Males googling? Cari aja di linimasa media sosial favorit lo. Everything is only a tap away.
The thing is⊠kemudahan mendapat informasi ini nggak selamanya baik buat gue. Pernah denger frasa âtoo much informationâ? biasanya digunakan kalau seseorang cerita tentang suatu hal secara mendetail sampai ke bagian-bagian yang sebenernya nggak perlu diketahui orang lain. So detailed that it makes you uncomfortable. Nah, ada kalanya gue merasa gue nggak perlu tau update terbaru tentang virus korona. Bukannya gue mau in denial tentang bahayanya virus ini, tapi too much coronavirus-related information overwhelms me.
A few days ago, I was mindlessly scrolling through timeline when I found an article about one of the patients who passed away from coronavirus. I ended up reading it because my curiosity got the best in me. Kemudian gue menyesal karena, yang pertama, too much information dan, yang kedua, kalimat di akhir artikelnya bikin gue anxious. Gue langsung kepikiran bokap yang masih harus kerja di kantor, kepikiran temen-temen gue yang jauh dari keluarganya entah karena lagi koas, magang, kerja, dll sehingga mereka harus bertahan sendirian. Ditambah dengan jumlah pasien meninggal yang setiap hari meningkat dan orang-orang yang cuek sama himbauan pemerintah untuk diam di rumah, gue jadi lumayan stres. For a second I was convinced that not a single person in this country is capable of handling this pandemic.
Belum lagi orang-orang yang merasa paling beriman di dunia memperburuk keadaan dengan protes karena banyak masjid yang nggak mengadakan shalat Jumâat, seakan-akan dengan nggak shalat Jumâat di masjid akan mengubah mereka jadi orang paling berdosa. Yang paling bikin gue kesel adalah salah satu pernyataan mereka yang bilang bahwa umat muslim nggak boleh takut sama virus karena mereka yang meninggal memang udah takdirnya meninggal. Pasrah aja sama kehendak Allah SWT. Nggak salah sih, tapi kalau masih banyak orang yang punya mind-set kayak gini dan maksa shalat harus di masjid despite the risk of getting the virus, I couldnât help but lose hope that this pandemic would be over soon.
Karena cuma bikin gue berpikir negatif terus menerus, akhirnya gue membatasi diri dari segala pemberitaan tentang virus korona. Not being able to go outside is already hard, negative thoughts will only lead to stress that will cause illness. Gue juga membatasi diri dari sosial media. Lagi, bukannya gue mau in denial. Iâm just trying to maintain my sanity. Scrolling timeline gue ganti dengan menggambar atau dengerin lagu. Beberapa kali juga gue nonton ulang TV series favorit gue tapi cuma untuk dengerin percakapannya aja dengan tujuan untuk latihan listening dan memperluas diksi. Intinya mendistraksi diri sendiri.
I hope youâre keeping your mind off of negative thoughts as well because, just like your physical health, your mental health matters.
Quarantine day 15. Yes, I started early.
(Check out my other sketches here! đ)
What's currently on repeat. đ§