Aku Tak Peduli
Sudah kukatakan berulang kali
Jangan lagi datang
Tak ada yang menunggu

No title available
dirt enthusiast
Alisa U Zemlji Chuda
Monterey Bay Aquarium

shark vs the universe
TVSTRANGERTHINGS
No title available
RMH

Kiana Khansmith
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
d e v o n
Peter Solarz
I'd rather be in outer space 🛸

pixel skylines
tumblr dot com
Cosmic Funnies
Today's Document

@theartofmadeline
One Nice Bug Per Day
AnasAbdin
seen from Poland

seen from United States
seen from Malaysia

seen from T1
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from T1

seen from Singapore

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Singapore
seen from United States
seen from Germany

seen from Türkiye
seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Japan
seen from United Kingdom
seen from Türkiye
@fukunda
Aku Tak Peduli
Sudah kukatakan berulang kali
Jangan lagi datang
Tak ada yang menunggu
Seuntai Pikiran
Menyapu pikiran-pikiran
Bergentayangan
Tanpa tali pengekang
Yang mencoba menyesap
Angan-angan kosong
Ditiupkan kenangan
Yang sekarang terasa hambar
Selalu kutepis
Meski dengan tangis
Akankah?
Ah tak usahlah berbual
Cerita Tadi Malam
Kau lagi,
Tahukah bahwa
Kau datang lagi dua malam ini
Menyeruak dalam mimpi
Kukira ada yang ingin disampaikan
Tetap saja pesan-pesan sendu itu
Berkali-kali kau bisikkan
Mungkinkah ada urusan yang belum selesai?
Aku ingin tenang
Bersama atau tanpamu
Api-Api Hitam
Yang muncul
Pada malam-malam
Di mana engkau terlena
Yang mengintai
Pada siang-siang
Yang terasa aman bagimu
Katanya,
Aku mimpi burukmu
Huahahaha
Cerita Acak 17
Aku kembali lagi ke rumah itu setelah sekian lama tak berkunjung. Entah sudah berapa tahun sejak kedatangan yang terakhir. Tak lupa kubawa kopi hitam panas yang darinya menyeruak semerbak harum kopi yang menggugah.
Kudengar sudah lama ia tak meninggalkan rumah itu. Saban hari, ia masih memainkan rebananya yang tak karuan. Tak ada lagi cerita ia berjalan keliling kampung, berseloroh dengan anak-anak yang suka mengganggunya, menebar senyum pada sesiapa yang lewat dari bawah pokok mangga kesayangannya. Tak ada lagi kisah orang gila periang itu. Ia masih menyapa sesiapa yang mengantar makanan ke rumahnya, lain dari itu tak ada yg tahu atau mau tahu apa yg ia perbuat.
Deritan tangga tua terdengar ketika aku naik menuju rumah antik itu. Tak banyak lagi rumah panggung serupa ini di kampung. Rumah sudah berubah jd permanen dengan bata dan semen.
"Siapa?"
"Kemenakan uwak," aku menjawab sekenanya.
Terdengar suara langkah tergopoh-gopoh dari dalam rumah. Aku terkejut. Padahal katanya Uwak tidak mempedulikan apapun jawaban orang yang berkunjung, karena biasanya mereka hanya mengantar makanan saja dan ia cuma mengucapkan terima kasih. Aku sampai di depan pintu yang sudah terbuka. Di sana berdiri Wak Amir yang tampak makin kurus dan tak karuan. Mata kami bertentang, lalu senyumnya mengembang. Aku menangkap lautan kesedihan bergerak dalam tatapan matanya, pandangan kesepian yang tak dimengerti orang-orang. Lalu ia berucap lagi,
"Apa kabar ilmu silatmu, anak muda? Masih bodohkah engkau?"
Aku takjub ia masih ingat aku.
"Uwak tau siapa saya?"
"Manalah mungkin aku lupa murid bebal macam engkau." Lalu ia tertawa dan aku cuma nyengir.
Sepanjang malam obrolan kami mengalir kemana-mana. Ia antusias seperti biasanya, tetap angkuh tetapi jenaka. Aura kesepiannya seakan menguap. Seperti yang kukatakan sebelumnya, kawan. Jika disogok kopi panas, Wak Amir akan bercerita apa saja yang ia tahu. Subuh pun menjelang. Aku tidak dicari-cari lagi seperti dulu karena kini aku sudah kuliah, sudah dewasa. Setelah dibekali ilmu silat tambahan, aku pamit. Lalu aura kesepian itu menyeruak kembali pada tatapannya. Kesenangannya cuma sesaat. Tapi ia tersenyum. Aku terenyuh. Ia hanya ingin mengobrol, mendengar cerita dan didengarkan ceritanya walaupun terkadang absurd. Tapi tak banyak yang sudi. Dahulu, selain aku, hanya Tuk Dirun, pamannya yang setia bertandang tiap purnama dan menemaninya minum kopi. Kini lelaki tua itu telah tiada. Hilanglah kerabatnya sekaligus temannya itu.
Hari itu ternyata hari terakhir kami berjumpa. Setahun kemudian, aku mendengar lelaki sepi itu telah berpulang. Ada cerita menarik sebelum ia meninggal yang selalu terkenang. Sehari sebelum meninggal, ia tiba-tiba keluar rumah, berjalan keliling kampung sambil menyapa tiap orang yang ia jumpai. Tentu hal semacam ini membuat gempar kampung. Siang harinya, ia duduk saja di bawah pohon mangga kesukaannya sambil terus tersenyum. Sore harinya, ia pergi ke sungai lalu mandi bersih-bersih. Tak ada yg ingat lagi kapan terakhir ia mandi. Habis maghrib, ia bertandang ke rumah mendiang Tuk Dirun dengan sarung, baju batik, berpeci pula. Di sana ia cuma minta kopi.
"Yang selalu diminum Wak Dirun," katanya.
Sehabis kopi tandas, ia berucap terima kasih lalu pulang. Esoknya ketika keluarganya mengantar makanan, ia tak lagi menyahut. Petang hari, karena tak juga menyahut seharian itu ataupun terdengar tabuhan rebana, seorang kemenakannya mencoba masuk dan menemukan pria sendu itu telah terbujur kaku. Wajahnya gembira, kata orang-orang yang datang melayat. Lelaki kesepian itu kini tak hanya ditinggal minggat pikirannya, tapi juga nyawanya.
Selamat tinggal, Wak.
Hikayatnya
Dulu ia pahlawan
Kini jadi buangan
Sesiapa handai taulan
Tak mau lagi berkawan
Habis disapu zaman
Terkenang olehnya sahabat karib
Yang darahnya jadi pengorbanan
Agar ia dielu disanjung
Agar disebut pahlawan
Terngiang tangis kekasih
Rela jadi hiasan taman
Agar ia sejajar patih
Kini lesaplah sudah
Alamat tinggal sejarah
Lalu moksa berpeluk sesal
Yang Tiba-Tiba Kikuk
Yang tiba-tiba kikuk
Ketika surat-surat itu datang dan menjelaskan semuanya
Diantarkan seorang petugas yang berujar,
"Waktumu sudah habis. Segera tinggalkan tempat ini."
Waktu apa? Ia masih berpikir
Segera ia tersadar bahwa hidup di dunia ini hanya menumpang
Cerita Acak 16
"Langkah ini adalah menangkis tanduk, mencegat leher. Jangan masuk dulu sebelum lawan masuk, ehm."
Lelaki lusuh itu kembali menyeruput kopinya. Cuma kopi yang mampu membuatnya berkicau menjawab pertanyaanku. Kalau disuguhkan yang lain, semacam teh, rokok bahkan nasi kebuli pun dia tak mau buka suara.
"Tapi, langkah ini kan dibuka dengan serangan, Wak."
"Tak juga kepalamu paham, anak muda. Menyerang sambil mengelak kan boleh saja, ehm."
Ah, aku suka panggilan ini. Seakan dihargai tapi tetap dikasihi. Semakin lama semakin suka aku berbincang dengan pria ini. Seakan-akan kopi yang kubawa mampu membuat akal pikirannya rujuk kembali dengan badannya.
"Saya masih tak paham, Wak. Tak pernah pula Tuk Dirun menerangkan pada kami. Siap diberi contoh, ia langsung teriak, 'ayo baris!' Begitu Wak."
Tak ayal, Uwak Amir langsung tertawa mendengar ceritaku.
"Datukmu ternyata tak ada berubah sejak dulu. Perhatikan, ni."
Segera ia beranjak dari sudut keramatnya itu, lalu berjalan ke tengah ruangan dan mengambil sikap alif.
Hap!
Ia lalu memasang kuda-kuda kanan. Lalu memulai langkah itu dengan pasang yang rumit, seolah-olah tubuhnya akan tumbang karena tidak seimbang.
"Jangan kau ambil langkah panjang betul, nanti habis kau digebrak lawan, ehm."
Ah, aku paham maksudnya, ternyata gerakan kakiku yang salah selama ini. Sementara itu, ia kembali ke singgasana gelapnya setelah memperagakan jurus itu.
"Jangan lupa kau ulang setiap malam. Ah, malas nian anak muda sekarang. Jika terasa sulit, mengeluh dahulu berpikir kemudian, ehm."
Aku tersenyum kecut. Lalu perbincangan kami habis setelah kopinya tandas. Ia tak mau lagi melayaniku, hanya mengangguk dan tersenyum saja. Ini tandanya aku mesti pulang.
Sejak perjumpaanku dengannya tiga tahun lalu, aku makin penasaran dengan kisah uwakku itu. Namun, tak banyak orang yang tahu atau mau menceritakannya. Aib keluarga, kata Bunda. Tapi, aku merasakan kesepian tampak memantul dari matanya jika kuajak bercakap. Kini aku berkunjung lagi ke rumah itu dengan alasan bertanya soal jurus yang aku tak mengerti. Memang, orang tua yang tak waras itu kadang mau memberi petunjuk kepada keponakannya jika ditanya tentang kesukaannya, silat. Lain dari itu, ia tak peduli.
Setelah aku pulang, pikirannya kembali minggat ntah kemana dan badannya tetap bertapa di sudut yang gelap sambil kadang menabuh rebana atau menari.
Cerita Acak 15
Duduk di kursi yang sama, pada hari yang sama, dengan setelan yang sama pula. Pelanggan itu selalu memilih meja nomor 19 yang menghadap keluar. Ia lalu duduk sendiri, melihat kanan-kiri seolah ada yang ditunggu. Saat kusapa untuk menanyakan pesanan, ia selalu berujar sedang menunggu teman sambil bergumam lagu ntah apa. Lalu, ia berada di sana selama satu jam sebelum akhirnya memasang muka kecewa dan kemudian memesan minuman atau snack.
Kali ini, ia sepertinya mencoba menu baru. Tidak seperti biasanya. Mungkin telah bosan dengan mocca, atau pisang keju yang melulu ia pesan. Sudah delapan kali ia datang pada hari Selasa dan duduk di meja yang sama, pada waktu sore. Kami tidak tahu maksudnya, namun rasa penasaran semakin menumpuk di dada kami sehingga diutuslah Sari untuk mengorek keterangan dari pelanggan itu.
"Suka senja ya mbak?"
"Ah, biasa aja mbak. Suka aja liat langit kalau sore."
"Temannya gak jadi dateng?"
"Kayaknya sibuk."
Sari terdiam, lalu melirik ke arah kami. Sepertinya pelanggan itu tak mau diganggu. Kami tetap memaksa Sari.
"Kayaknya hari ini hari favorit ya mbak? Mau coba menu favorit kami hari ini?"
Sari malah promosi.
"Nggak mbak, lagi gak pingin."
Sari diam, kami diam, pelanggan diam, tapi cuma sebentar.
"Kadang aneh ya mbak. Yang menunggu kita itu banyak, tapi yang kita tunggu malah gak tau dia sedang ditunggu."
Sari tertegun, rupanya pelanggan itu mencoba curhat.
"Mungkin coba dikasi tau mbak."
"Yang saya tunggu ini seorang teman, baru berjumpa di kafe ini 8 minggu yang lalu, tepat di sini. Ketemunya gak sengaja. Setelah ngobrol malah nyambung. Sayang saya lupa minta kontaknya. Setelah itu saya selalu tergerak untuk kemari pada hari yang sama dengan hari itu, berharap kami berjumpa, namun sepertinya sia-sia. Mungkin ini yang terakhir mbak. Setelah ini saya datang kemari lain hari saja. Soalnya saya suka piscoknya."
Sari bingung merespon senyum getir itu. Kami yang menguping jadi merasa simpati.
"Kadang ada yang dipertemukan untuk berjumpa kembali, ada juga yang dipertemukan untuk berpisah, mbak."
Sari mencoba menghibur dengan puitis. Lalu ia beranjak dari sana setelah mengobrol hal ringan lain.
Kemudian masuk seorang pria, bermuka serius lalu duduk tepat di meja bagian tengah kafe. Aku datang menghampiri meja 13. Ini juga pelanggan aneh kami. Duduk selalu di tengah, memesan kopi hitam, memasang wajah serius sambil membawa kesan bahwa masalah yang dihadapinya sangat rumit. Lalu setelah kopi hitamnya diteguk, ia langsung membayar tanpa basa basi. Baru kali ini aku lihat orang minum kopi seperti minum air putih.
Aha! Ada hal menarik yang kami saksikan. Sesaat setelah pria itu masuk, pelanggan tadi menoleh dan memasang muka tak percaya. Perlahan senyum mengembang di bibirnya yang berusaha ia sembunyikan. Pipinya merona. Berkali-kali ia mencuri pandang. Ah! Mungkin ini yang ia tunggu, pikir kami. Sepertinya pria itu juga sering kemari pada hari Selasa. Tapi pelanggan itu tak berbuat apa-apa. Hanya memandang dari kejauhan. Mungkin tekad yang ia kumpulkan seketika runtuh.
Gemas melihat suasana aneh itu, Sari sembari mengantarkan kopi pesanan pria itu kemudian berujar padanya.
"Maaf mas. Sepertinya temannya nunggu."
"Yang mana?"
"Yang di ujung itu."
Pria itu melihat ke arah yang ditunjuk Sari, lalu mengernyitkan dahinya. Seketika air mukanya berubah. Pria itu kemudian menghampiri sang pelanggan.
Sore itu ditutup dengan berakhirnya babak aneh yang berlangsung selama 8 minggu ini.
Tergantung Apa
Ada yang datang berkali-kali, namun tidak menyapa. Membuat bingung saja
Ada yang datang sekali, kasih bunga lalu pergi
Ada yang menunggu bertahun dengan bodohnya, terjerat
Ada yang berkelana, singgah sana sini lalu ternyata berlabuh ke sebelahnya
Ada juga yang diam saja, mengunci pintu rapat-rapat
Terserah saja, itu adalah pilihan
Disertai konsekuensi tentunya. Mau mati penasaran silakan, mau dicap karatan juga boleh, atau mungkin dianggap bodoh menanti yang tak pasti
Siapa yang bisa menghakimi pilihan yang telah ditetapkan?
Bukan kau, aku, dia, mereka, atau orang-orang di sana
Cerita Acak 14
Sudah hampir sebulan aku mengamatinya. Setelah mengantar makan siang, aku tak lekas pulang. Aku menunggu saat dia keluar dari kamar untuk mengambil makanannya. Ia melihatku, tersenyum, lalu mengangguk. Pintu bilik pun menutup.
Penasaran aku kemana sebenarnya pikirannya minggat. Apa gerangan penderitaannya sehingga ia menjadi orang yang kalah. Banyak juga orang yang kekasihnya minggat, orang tuanya wafat, namun pikirannya tetap sehat wal afiat.
Sering aku dimarah Bunda kalau aku tak segera pulang sehabis mengantar makanan untuk Uwak Amir, begitu ia disebut. Jika ia benar gila, kenapa pula ia tersenyum jika diberi. Ah, apakah orang gila tak boleh tersenyum? Maksudku tidak begitu.
Pernah aku menyelinap ke rumah panggung itu selepas isya. Sekadar melihat ia menari. Tapi, setelah itu aku takjub. Khususnya karena aku mengenal gerakan yang ia tarikan. Mimik wajahnya senantiasa berubah jika menari. Kadang marah, lalu sedih, kemudian senang. Gerakan-gerakan itu sering kulihat, meski tidak mirip benar merupakan gerakan silatnya Abah Dirun, datukku dari pihak ibu.
Sekadar tahu, Tuk Dirun merupakan adik kandung dari ayahnya Uwak Amir.
Lalu, mengapa pula ia kadang menabuh rebana? Ini aku tidak tahu, tetangga juga tidak. Apalagi jangkrik.
Cerita Acak 13
Semenjak ditinggal mati orang tuanya, lalu ditinggal kawin kekasihnya, dia berubah jadi pendiam. Tak mau diajak bicara, jarang makan kemudian mandi. Diajak berobat juga susah. Sehabis dibawa ke dokter atau tabib tiada pernah itu obat disentuhnya. Jangkrik jadi teman penghapus sepi. Tidak. Dia juga tidak bercakap dengan jangkrik.
Saban hari, setelah mentari pamit dan gelap datang, dia beringsut dari sudut bilik kamarnya yang gelap, tempat dia bertapa sepanjang siang. Biasanya setelah isya, dia mulai menari gerakan aneh. Kadang terdiam seperti patung, kadang menari dengan cepat sambil menghentak-hentak. Kadang ia menabuh rebana, tapi langsung diam jika tetangga mulai mengeluh. Lalu ketika ayam berkokok, ia merangkak menuju sudut gelap biliknya, menyambung tapanya semalam.
Soal makan dan kebutuhan dasar, ada sanak saudara dan tetangga yang mengasihani. Sebab, ia tak pernah mengganggu. Kadang, sore hari ia tampak menuruni rumah panggungnya lalu berjalan keliling desa. Mukanya layu, kusut, matanya telah hilang sinar. Tak peduli ia ditertawakan, diludahi atau dilempari sesuatu oleh anak-anak yang iseng. Jika badannya kotor, ia singgah ke tepi sungai untuh membasuh. Jika lelah, ia berjongkok di bawah rimbun pohon. Dikasi apapun ia tiada menolak. Ia terima sambil tersenyum dan mengangguk. Tetap tidak bicara. Jika suka, ia bawa pulang, jika tidak ia tinggalkan di sana.
Namanya Amir.
Lima puluh empat tahun usianya.
Sudah tiga puluh tahun pikiran waras minggat darinya. Dulunya ia dikenal sebagai jagoan kampung yang tangguh. Tapi kini ia hanya orang tua biasa, yang pikirannya tidak sekamar lagi dengannya.
Pertemuan Berpisah
Maaf untuk pertemuan
Maaf untuk perpisahan
Maaf untuk pertemuan kembali
Maaf untuk perpisahan lagi
Begitu seterusnya
Ini terakhir kali
Tapi bisa juga tidak
Ada baiknya dimulai kembali
Mungkin juga tidak
Bukan aku punya kuasa, bukan juga kau
Bukan pula mereka, entah siapa
Sekali lagi
Maaf untuk pertemuan
Maaf untuk perpisahan
Apimu
Api binasa yang kau puja kini rampung menyergapmu
Kebenaran yang kau tawarkan lunas tuntas oleh yang sejati
Kemenangan yang engkau impikan kini hancur tak terperi
Tak pernah salah apa yang kau pilih
Karena kini engkau tumpas olehnya
Cerita Acak 12
Ia mengkerut, tak berani maju. Nyalinya pupus sudah. Bayangkan saja, ketika kemenangan akan diraihnya, sebongkah ketidakmungkinan bangkit meluluhlantakkan segala persiapannya, membalikkan keadaan. Ambar tentu tak sama. Segera ia melompat ke depan matahari, memasang sikap menantang.
Matahari mengerutkan dahinya, kesal mengapa manusia satu ini tak juga tunduk. Apakah sia-sia tadi ia habiskan separuh energinya? Tentu tidak. Seratus orang sudah tak berdaya di bawah kaki. Pengecualian manusia di depannya tak akan berlangsung lama. Tenaga dalam kembali terhimpun di telapak tangan kirinya. Kali ini ia menggunakan pasang penggebrak, agar tenaganya bisa dipusatkan.
Ambar melangkahkan kaki kirinya ke depan. Ia mengambil sikap pasang yang menantang, seolah tak takut pada ajian pamungkas Matahari. Sebenarnya, ia pun sadar akan kekuatan Aji Sambar Geni. Tapi ia bukan Ambar yang dulu, yang pengecut, yang penakut. Ia masih Ambar yang lemah, tapi berani.
Ambar mulai memainkan Tarian Angin Pati-pati, sementara Matahari bersiap melontarkan ajiannya. Sebongkah bola api yang membara terlontar menuju Ambar, membakar apapun yang dilewatinya. Bukannya menghindar, Ambar menantang ajian itu dan membuat gerakan memotong secara vertikal. Bola api pecah dan terbelah dua. Matahari membelalak tak percaya. Ia buru-buru mundur dan berkelit dari serangan lanjutan Ambar.
Berjarak 2 tombak dari Ambar, Matahari mulai mengatur napasnya. Ia merasa kini sudah saatnya mencoba ajian baru yang telah dipelajarinya. Tingkatan kedua dari Sambar Geni: Amuk Baskara.
Kali ini ia memusatkan sisa tenaganya di jidatnya, diantara kedua mata. Ambar masih tetap diam. Ia memasang sikap pasang yang sama.
Ajian Amuk Baskara segera menyelesak menuju Ambar. Dengan tenang, Ambar memulai tariannya dan menerima serangan dengan telapak tangan kirinya. Ajaib! Bola api membara itu perlahan mengecil seolah terserap oleh Ambar. Matahari membelalak, pikirannya kacau. Ajian terkuatnya lenyap begitu saja dihalau bocah ingusan. Tanpa sadar, Ambar terus melanjutkan tariannya dan segera mendekat ke Matahari. Tiba-tiba saja telunjuk kanan Ambar sudah menyentuh dada kiri Matahari. Segera semburat energi panas menyeruak masuk ke dada dan tembus menuju jantung. Matahari terdorong lalu ia terduduk.
Ia merasakan lemas tak terkira, seolah atmanya terhisap oleh sesuatu. Ia tahu ajalnya telah bertandang. Sementara Ambar terdiam sambil mengamati kedua tangannya yang gosong.
"Aku mengorbankan kedua tanganku untuk mengembalikan ajianmu. Aku tak akan bisa bertarung dengan tangan ini lagi, tapi jika itu bisa menghentikanmu, kurasa akan sepadan."
Asap terus mengepul dari tubuh Matahari. Kulitnya perlahan mengkerut dikarenakan seluruh air di dalam tubuhnya menguap. Akhirnya ia mati dalam keadaan mengering seperti ikan asin. Bau gosong tercium darinya.
Mungkin Saja Karenamu
Sebersit yang kemudian hadir
Terpapar angin dingin meragukan
Gagal memperjelas dirinya sendiri
Lalu meminta kearifan mengurai makna
Perihal dirinya
Yang tiba-tiba muncul
Tak tahu menahu musabab ia diundang
Ke dalam sanubari yang bimbang
Mengawang
Cerita Acak 11
"Emang bisa?"
"Bisa dong!"
Tanpa basa-basi, Rhu langsung memasuki gua. Inga tetap ngintil di belakangnya dengan dada berdebar tak karuan. Lorong gua semakin lama semakin sempit dan gelap karena minimnya pencahayaan. Inga pun berinisiatif menyalakan senter hp nya sehingga perjalanan mereka menjadi sedikit lebih mudah.
Tak berapa lama, sampailah mereka di persimpangan lorong. Terdapat 3 lorong tanpa tanda apapun.
"Jadi kita kemana nih?"
"Cap cip cup, kembang kuncup"
Tangan Rhu bergerak menebak.
"Lah?"
Tangan Rhu berhenti di lorong kanan. Sambil menggumamkan lagu tak jelas, ia melenggang kangkung masuk ke lorong otu.
"Hoi, apaan? Asal tebak nih?"
Tetap saja Inga mengikuti walau tak yakin. Sepanjang jalan, Rhu tersenyum sambil tetap bergumam. Terlihat ujung lorong yang lebih terang. Dari sana juga terdengar suara gemuruh seolah ada sesuatu yang sedang berkumpul di sana. Ternyata lorongnya berujung pada ruangan yang sangat besar, seperti aula.
"Err.. kau yakin?"
"Sssttt"
Di tengah aula terlihat sebuah altar batu yang berdiri dan dikelilingi banyak orang yang menggunakan jubah kusam. Mereka terlihat menakutkan dan sepertinya sedang melakukan ritual tertentu.
"Halooo!! Apa kabar?! Selamat siang!"
Teriakan Rhu membahana memenuhi aula dan sekumpulan manusia itu menghentikan aktivitasnya. Pandangan mereka terpusat pada Rhu. Inga yang berada di belakangnya tiba-tiba merasakan celananya basah.
"Yaaa kan ngompol lagi.."
"Ish, jorok! Jauh-jauh!"
Rhu tetap berjalan santai menghampiri altar, sementara Inga terpaku tak sanggup melangkah.
"Kalian liat sendalku gak? Oh itu dia!"
Rhu bergegas menghampiri altar dan mengambil benda di atasnya. Sebuah sandal sebelah kiri merek Slowlow warna hijau yang udah butek. Kenapa ada di altar?
"Maaf ya ganggu, hehe"
Setelah berbalik badan, Rhu berjalan santai menuju Inga. Tetapi..
Buaakk!!
Sebuah tinju bersarang di belakang kepalanya. Rhu segera melihat si penyerang yang memasang muka tak percaya. Tinju orang dewasa seharusnya bisa merobohkan seorang remaja tanggung di depannya.
"Loh kok dipukul?"
"Hoi, lari begok!"
Inga berteriak di ujung sana.
Para manusia itu meraung lalu segera melancarkan serangan ke arah Rhu. Dengan tangan terkepal, Rhu merentangkan kedua tangannya dan berlari menyongsong serangan. Segera penumpasan terjadi. Satu persatu manusia itu tumbang atau terpental setelah beradu badan dengan Rhu. Sambil berjumpalitan, Rhu melancarkan segala macam serangan disertai tawanya yang menggema. Tak butuh waktu lama untuk menundukkan segerombolan orang itu. Tinggallah satu orang yang berbadan paling besar.
"Abang ketuanya ya? Jangan curi sendal orang dong! Di warung kak Imah banyak noh!"
Si bongsor itu naik pitam. Sembari meneriakkan kalimat tak jelas, ia merangsek maju dan menghunuskan senjata golok kembar. Rhu kembali menyeringai, lalu memundurkan kaki kanannya untuk memasang kuda-kuda. Tangan kanannya terkepal di sisi pinggang. Saat lawan telah dekat, Rhu menyongsong serangan dengan pukulan kanannya. Tinju Rhu menghantam golok di kanan dan terus mengenai dada lawan. Terdengar suara dentuman dan si bongsor terpental ke dinding lalu tak sadarkan diri.
"Lah malah bobok! Ga seru!"
Sambik merengut, Rhu menghampiri altar lalu memecahkan dinding depannya. Di kaki altar tampaklah apa yang mereka cari, permata harimau.
"Ketemu!"
"Ayo pulang"
"Kuat sih kuat! Tapi gak begok juga!"
"Ahahahaha! Begok itu seru loh!"
"Tau ah!"