Kemarin aku mengatakan kepada seorang teman tentang seorang pria yang kusukai. Kubilang saja aku sudah mengangumi pria itu sejak pertama kali aku melihatnya. Kemudian rasa sukaku makin dalam ketika aku tahu bahwa dia adalah sosok pemikir dan sangat tulus menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Sebagai nilai plus, kukasih tahu bahwa salah satu hal yang sangat kusukai dari pria adalah bisa bermain musik.
Di akhir cerita, kusampaikan kepada teman itu untuk tidak memberitahukan kepada siapapun terkait apa yang kami bicarakan saat itu. Cukup sampai di dia saja karena aku bercerita hanya karena ingin menenangkan perasaanku.
Dua hari setelah aku bercerita, seorang teman yang lain datang kepadaku. Dia mengaku mengetahui siapa pria yang sedang kutaksir. Dia cukup akrab dengan teman yang sebelumnya sehingga aku bisa menebak dari mana dia bisa tahu hal tersebut. Informasi memang cepat tersebar.
Tiga hari sejak teman yang kedua bercerita, teman yang lain yang sangat kompak dengan teman yang kedua datang. Dia hanya berkata 'aku akan turut mendoakan kalian' dan aku langsung tahu apa yang dia maksud. Ya, rahasia yang kusampaikan sebelumnya sudah sampai ke dia juga. Bagus sekali mereka membahas perihal cintaku kepada orang lain dengan alasan ingin lebih banyak yang mendoakan.
Hari ketujuh sejak orang ketiga datang, aku bertemu dengan pria yang kubilang kusukai dan pada saat itu rasa sukaku sudah berubah menjadi cinta. Dia datang dan berdiri tepat di hadapanku kemudian mengaku
'Aku mendengar suara yang aku tidak tahu datangnya dari mana. Katanya kamu menyuruh banyak orang untuk meminta kepada pemilik suara agar memberitahuku bahwa kamu sangat mencintaiku. Benarkah begitu?'
Belum sampai di hari kedelapan, kami duduk bersama menikmati kopi sambil bercerita panjang. Tidak tahu apa tepatnya yang kami bahas; semua waktu yang kami pakai selama kami belum bertemu harus dibayar tuntas.
Aku harus berterima kasih kepada teman yang sudah menceritakan cintaku.