Kali pertama kita makan berdua, aku mengenakan gaun merah muda yang kubeli tiga jam sebelum kita bertemu. Aku ingin tampil sempurna di pertemuan yang membuat hatiku begitu bahagia meskipun kutahu pasti perutku tidak akan terisi sempurna. Kugerai pula rambutku dan kukenakan pewarna bibir merah padahal sebelumnya aku tidak pernah mengenakannya.
"Dengan siapa aku sedang makan sekarang?" Kamu mengaku hampir saja tidak mengenaliku karena perubahan penampilanku yang sangat drastis. Kamu bilang beruntung aku tidak mencukur alisku yang tebal. Aku tidak tahu apakah harus senang atau sedih sesaat sebelum kamu bilang aku cantik apa adanya. Meskipun baru pertama kali aku begitu, kamu nyaman dengan pemandangan yang menemanimu sampai makanan di atas meja habis.
Kamu menceritakan betapa kamu jatuh hati kepadaku sejak pertama kali kita bertemu di perpustakaan dan harus duduk semeja karena meja yang lainnya sudah penuh. Aku ingat pada saat itu kita tidak mengobrol. Bahkan aku tidak ingat persis seperti apa rupamu. Mungkin saja kamu diam-diam mencuri pandang dan jatuh hati dengan senyumku yang manis.
Kita hanya memesan beberapa menu, tetapi sangat lama habis karena kita begitu asyik mengobrol. Kamu bilang kamu pernah menjadi rajin mengunjungi perpustakaan untuk melihat apakah kamu bisa menemukan aku di sana. Kita tidak pernah bertemu di sana lagi karena aku makin sibuk dan tidak sempat berkunjung. Sayang sekali karena jika kita bertemu waktu itu, mungkin kita akan lebih cepat makan bersama seperti saat ini.
Kamu mengeluarkan sebuah kotak yang sudah dibungkus dengan kertas bermotif hati. Benda berharga yang tersembunyi di dalam kotak itu adalah sebuah jam tangan. Katamu itu adalah sebagai simbol agar aku selalu mengingatmu di setiap detik hidupku. Kamu memang pintar mengaduk-aduk perasaanku dengan bunga yang begitu menghangatkan.
"Tanpa jam pun, aku akan mengingatmu setiap kali aku bernapas."