Berbekal Potensi Warga Sekitar, Pemerintah Buat Forum Komunikasi Antar Komunitas Kreatif.
Sore itu, saya duduk menunggu di sebuah ruang tunggu sembari mengecek handphone. Beberapa menit berlalu, sampai saya masuk dan mengikuti seminar mengenai pentingnya media sosial dalam pengembangan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ruangan-ruangan itu bersuasana seperti co-working space. Tentu saja, itu adalah Rumah Kreatif BUMN Kota Malang. Ruangan ber-AC yang nyaman dan terlihat kekinian, ditandai dengan furnitur-furnitur masa kini.
Pelatihan pun usai. Saya kembali duduk menunggu di salah satu kursi. Seorang pria paruh baya menghampiri saya dan mengajak untuk bercengkrama di ruangan belakang, sisi lain dari co-working space yang baru saja saya ketahui. Sempat saya berkenalan dengan beberapa rekannya, yang juga duduk di ruangan itu sambil merokok.
“Perkenalkan, saya Vicky Arif, saya dipercaya teman-teman untuk menjadi Koordinator Malang Creative Fusion (MCF), juga menjadi Wakil Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kota Malang.", tuturnya. Ia bergerak di bidang film dan videografi. Melihat potensi komunitas kreatif yang ada di dalam dan luar kampus, pemerintah terdorong untuk membentuk forum komunikasi antar komunitas, karena selama ini mereka berjalan secara parsial dan tidak ada wadah bagi mereka.
Dengan prinsip 3C (Connecting, Collaborating, dan Commerce) yang MCF miliki, mereka bertujuan untuk membangun sebuah ekosistem ekonomi kreatif di Kota Malang. MCF memiliki lima poin penting, yaitu kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, dan konservasi. Kami mencoba untuk menguatkan dan menyelaraskan, serta membangun network antar lintas komunitas, yang nantinya akan mempunyai value yang berhubungan dengan ekonomi kreatif.
Sesuai dengan akta pendirian, MCF berbentuk perkumpulan independen. Tidak di dalam pemerintahan, tetapi masih ada koneksi antar keduanya. Pemerintah berfungsi sebagai regulator dan fasilitator. Disaat pemerintah membutuhkan sebuah program, MCF siap membantu dalam merencanakan program tersebut dengan terjun langsung ke masyarakat, menanyakan apa yang sebenarnya mereka butuhkan.
Malang Creative Fusion dalam kegiatannya tidak memiliki kiblat. Artinya, mereka berjalan sesuai apa yang Kota Malang punya dan apa yang ingin dikembangkan. Yang bisa dicontoh dari kota-kota lain adalah pola kegiatannya. Mas Vicky juga berkata bahwa DNA setiap daerah berbeda, karakteristik mereka pun berbeda. Maka dari itu, kita tidak bisa mempunyai kiblat dalam menjalankan forum komunitas ini.
MCF bukanlah ormas, maka dari itu dibutuhkan strategi yang ekstra dalam menggandeng masyarakat Kota Malang. Pada tahun pertama, diadakan mapping potensi industri kreatif. Tahun kedua, MCF mulai membuat langkah strategis yang bisa dikolaborasikan dengan para pelaku ekonomi. Tahun ketiga yaitu tahun depan, adalah langkah aksi. Mulai dilakukan branding dan pembuatan kampung kreatif yang tentunya ber-impact pada masyarakat. MCF juga mempunyai sebuah platform yang dapat digunakan untuk mendaftar dan berbagi informasi antar komunitas.
Saran Mas Vicky,”Kenali diri masing-masing terlebih dahulu. Mau berbuat apa seperti apa bagaimana. Berpikirlah postif. Kolaborasi tidak semudah yang dibayangkan. Gap-nya luar biasa, juga prasangkanya. Jangan lupakan visi komunitas, itu yang penting. Pada era digital ini, tidak boleh menghindari dan melarang perkembangan teknologi.”