Salam payung, wahai pembaca, karena sekarang sudah musim hujan. Kali ini saya, Claresta Octavia kembali dalam rangka Berbagi Cerita Fase 2. Seperti sebelumnya, saya akan membagi post saya menjadi dua part : part Senior dan part 2017. Mari mulai dengan part Senior.
Wawancara pertama saya lakukan dengan kak Ernawati, yang menghabiskan sebagian masa liburannya di Kampung Inggris Pare. Berawal dari informasi dari teman, kak Erna mulai tertarik dan memutuskan untuk mengikuti satu periode dulu, yaitu dua minggu. Cara pendaftarannya melalui website Kampung Inggris, dimana ia mengisi biodata dan memilih lembaga mana yang akan diikuti, karena Kampung Inggris terdiri dari banyak tenaga pengajar dari berbagai lembaga bimbingan bahasa Inggris. Tiap-tiap lembaga memiliki 'kampung'-nya sendiri, termasuk tempat makan murah dan penanggung jawab. Jika memilih camp, kita hanya bisa stay di satu lembaga. Tapi jika memilih kos, seperti yang dilakukan kak Erna, kita bisa pilih lebih dari satu lembaga untuk kelas-kelasnya. Kak Erna dapat mengelilingi 'kampung-kampung' tersebut hanya dengan bersepeda; bahkan bisa berkeliling Pare pula! Untuk kelas-kelasnya terdapat berbagai macam materi, seperti Vocabulary, Grammar, Speaking, dan lain-lain yang dapat dipilih sesuai minat dan kemampuan. Karena ini Kampung Inggris, kalau ada yang ketahuan bicara bahasa Indonesia, akan kena denda Rp 2.000,00. Di akhir minggu, akan ada acara games atau outing dari tiap lembaga. Yang paling berkesan bagi kak Erna adalah ketika ia dan kawan-kawan pergi mendaki Gunung Bromo. Merasa homey, kak Erna pun menambah satu periode lagi, sehingga menghabiskan total satu bulan di sana. Untuk kelas favoritya adalah kelas Speaking, dengan Coach Limbad (bukan Limbad asli, hanya mirip) yang asyik. Biayanya sendiri tidaklah terlalu tinggi-Rp 1,1 juta sudah all-in, termasuk tempat tinggal. Jika ada kesempatan, kak Erna ingin kembali ke sana untuk memperkaya ilmunya.
Kedua, ada kak Dava Kharis yang katanya "kecemplung di Komunikasi". Bukan karena kak Dava tidak memiliki pelampung, tapi karena pilihan awalnya tidak disetujui oleh keluarga, yaitu Sastra Indonesia UI. Merasakan kegagalan SNMPTN dengan pilihan yang sama, tidak menciutkan semangat kak Dava untuk SBMPTN. Setelah berkonsultasi dengan kerabat dan sekolah, serta mencari jalan tengah dari pilihan sastra dan minat menulisnya, ia memilih Komunikasi. Kenapa di UI? Karena dikatakan Komunikasi UI adalah yang terbaik se-Indonesia. Kak Dava tetap menaruh sastra di pilihan kedua dan ketiga, kalau-kalau tidak diterima di pilihan pertama, ia masih mendapatkan jurusan yang diminati. Dengan stigma bahwa Komunikasi UI memiliki passing grade tinggi, kak Dava awalnya yakin bahwa ia takkan diterima. Tapi ternyata nasib berkata lain. Ia pun tidak membuka hasilnya secara langsung, malah meminta sang tante untuk melakukannya karena terlalu takut. Keluarganya pun menyambut kabar dengan bahagia, dan dimulailah masa eksplorasi FISIP, dimana ia sebelumnya lebih siap untuk FIB. Sekarang kak Dava sudah tidak menyayangkan tidak bisa masuk Sastra Indonesia sesuai pilihan awalnya, karena suasana di Komunikasi yang enak dan asyik.
Ketiga, ada kak Ruth Vidyadanu yang berbagi tentang fan culture, yaitu tentang K-Pop. K-Pop sendiri berkembang pesat sekali di masyarakat Indonesia, FISIP UI tidak terkecuali. Menurut kak Ruth, dibandingkan dengan masa-masa awal K-Pop masuk ke Indonesia, para fans K-Pop sekarang lebih fanatik dan cenderung 'mendewakan'. Bisa dikatakan, hype-nya beda. Kak Ruth sendiri tidak menggunakan Twitter dan Facebook lagi karena notification yang tak kunjung berhenti dari akun-akun fanbase yang ribut soal rumor-rumor idol. Tapi, K-Pop itu hanya satu bagian dari hallyu wave yang ada,
Satu, dua, tiga berjalan, empat jangan dilupakan. Saya tertarik akan bagaimana seorang mahasiswi UI dapat kesempatan magang di kantor berita Amerika Serikat, karena itu saya mewawancarai kak Kezia Hildetamar. Saya salut dengan semangatnya, dimana ia langsung berangkat ke Negeri Paman Sam usai UAS semester lalu (sesuai jadwal kesepakatan dengan pihak kantor). Menurutnya, pengalamannya sangat berbeda dengan pengalaman magangnya di Indonesia. Lingkungannya yang sangat santai membuat kak Kezia tidak merasa terbebani dengan pekerjaan. Saking santainya, bisa saja ketika ada acara minum, kita mabuk bareng dengan atasan, yang kedekatan seperti itu tidak akan ditemukan di Indonesia., dan bepergian dapat ditempuh dengan berjalan kaki maupun naik kendaraan umum. Meskipun di luar negeri, di kantor VOA pun kak Kezia masih bertemu dengan orang Indonesia yang memang bekerja di sana sebagai divisi berita tentang Indonesia dan aktivitas penduduknya di sana.
Dari anchor, reporter, sampai web design, segala job desk sudah pernah kak Kezia cicip. Karena sebelumnya ia pernah magang di CNN Indonesia, kak Kezia tidak terlalu kesusahan ketika terjun kerja.
Tips yang kak Kezia berikan adalah jika ingin magang, mulailah dari Indonesia dulu. Lalu, jika ingin ke luar negeri, rajin-rajinlah cari sumber dan persyaratan yang diperlukan. Kebetulan di VOA pendaftar tidak harus warga Amerika, jadi kak Kezia bisa ke sana. Juga, sebagai tindakan jaga-jaga, carilah kontak orang dalam perusahaan yang diinginkan agar proses pendaftaran tidak terlalu lama. Tidak lupa juga perbanyak karya untuk menambah portofolio. Dan yang paling penting, cari tahu tujuan setelah kuliah mau ke mana.
Kak Kezia yang mengambil peminatan Periklanan ini juga pernah pergi ke 20 negara bagian dalam waktu tiga setengah bulan, dari West Coast ke East Coast untuk mengisi liburan.
Sekianlah bagian pertama tentang Senior ini. Sambil menunggu untuk membuka bagian selanjutnya dari karya saya, silakan regangkan jari-jemari yang pegal mengetik dan membeku karena dinginnya hujan. Perasaan jangan dikungkung, sampai jumpa salam payung.