Malam Iduladha 1442 Hijriah, 19 Juli 2021
Ini tulisan yang mungkin akan cukup emosional. Lagi-lagi, soal kesedihan.
Ingin rasanya menulis hari per hari, sebagaimana yang dilakukan Andreas Harsono di blog, saat anggota keluarganya terpapar Covid-19. Iya, ini cerita soal keluarga yang terindikasi tepapar Covid-19. Namun, hingga hari ini, mengingat kejadian hari demi hari ternyata masih terlalu sakit bagi saya. Dan, saya baru mampu menuliskan, mungkin sebagian keresahan, malam ini. Di malam Iduladha 1442 Hijriah yang diselimuti takbir.
Saya enggak tahu, bakal runut atau engga pada tulisan kali ini. Saya coba yang saya bisa.
Menangis Beberapa Hari Sebelum Ibu Pergi
Saya terus menangis setiap malam, sejak dua hari sebelum ibu pergi. Saya rasa itu sindrom pramenstruasi. Saya amat hyper sensitive.
Entah, saya harap kala itu bukan doa, tetapi seperti ada feeling bahwa akan pergi. Feeling itu begitu kuat. Sampai di salat isya terakhir sebelum haid, yang saya ingat, saya menangis sejak awal takbir sampai doa, meminta kepanjangan usia ibu. Saya tepis pikiran itu berkali-kali, tetapi semakin saya tepis, semakin saya menangis.
Di hari ibu wafat, Rabu tanggal 7 bulan 7, sekitar pukul 10 pagi, saya sempat ajak ibu ke puskemas, tetapi di sana kami tidak mendapatkan penangan. Lagi-lagi, di bawah cahaya sinar matahari halaman puskesmas, saya tatap mata ibu, matanya tidak lagi bercahaya. Saya tepis pikiran itu lagi. Satu jam menunggu, ibu menangis, minta pulang. Baik, kita pulang.
Saya masih melogikakan hal-hal yang membuat saya sedih. Saya sedih jarena ibu sudah tiga hari enggak mau makan. Hanya sedikit-sedikit. Makin jadilah saya menangis setiap dari kamar ibu.
Di tengah infeksi, saya putuskan mendampingi ibu di kasur single ukuran 120x200. Saya di bagian depan sisi kaki. Saya taruh tangan ibu di kepala. Saya rasa begitu hangat tangannya. "Ibu pusing ga bu? Kok panas lagi". Ibu cuma menjawab singkat "he em".
Saya selimuti, saya tuangkan air hangat setiap jam karena ibu terus batuk. Saya pun tidur dengan masker basah karena ingus dan air mata.
"Ibu, aku bandel gak sih?"
Tanyaku. "Enggak..." jawab ibu
"Ibu, aku sayang ibu. Ibu tau kan?" Kataku pukul tiga pagi. Dia mengangguk.
Tidak Ada Faskes yang Bisa Diandalkan
Ada rencana membawa ibu ke IGD, karena saturasinya rendah. 76%. Kami juga sudah dapat pinjaman tabung oksigen setinggi 2M. Asar itu, di hari ibu pergi, saya izin ke ibu. "Ibu, boleh ga kami bawa ke rumah sakit? Tapi sabar ya kalau antre kayak di puskesmas tadi. Di sana ibu dibantu infus buat makan"
"Tapi bantuin aku ya, ibu makan yang banyak"
Kami konsul ke telemedisin, dokter menyarankan kami ke IGD. Namun, di tengah keriuhan pasien yang juga sedang survive, kami berpikir ulang. Kami telpon ambulans LSM, mau antar asal ada RS tujuan. Sedangkan, sedari siang saya dan adik coba cari informasi ruangan kosong.
"Gin, coba langsung antre di igd, pasti yang dapet bed yang waiting on the spot," pesan dari salah satu kawan lewat WA.
Bagaimana bisa. Pikir saya. Bagaimana cara kami bawa ibu. Apa ambulans mau diajak berjam berjam.
Oya, hari itu, bapak mengambil cuti. Sebelumnya sudah direncanakan memang, karena pekan ini beliau belom libur.
Tanpa ddisangka, atasan saya di kantor, berbaik hati mengantarkan mobil dinasnya ke rumah. Diantar teman-teman kantor, mobil sampai. Rencananya saya mknta bapak nyetir, kami siap cari RS dengan tabung oksigen kecil di mobil. Tapi.. harapan ibu yang ternyata tidak sampai.
Menjelang magrib, ibu menunjukkan gejala sesak napas. Perasaan saya kelu. Tidak ada air mata. Saya coba pijat-lebih ke usap mungkin-badan ibu dengan minyak kayu putih. Ibu bilang, badannya sakit semua. Tabung oksigennya habis isi. Bapal sedang cari kunci untuk ganti regulator ke tabung besar. Ibu berusaha bilang, "sakit".
Adik saya, di kaki ibu terus membalurkan minyak kayu putih. Kakinya mulai dingin. "Ibu, istigfar, ibu Allahu Akbar, ibu.. Allah bu.. Allah, jangan yang lain, Allah cukup. Allah, Allah, Allah," kata saya setengah teriak.
"Allahu akbar" suara ibu terdengar bergetar.
Sempat dia bilang "aduh," saya kembali mengingatkan yang saya bisa. Allah, bu, Allah.
Saya pun ikut beristigfar, syahadat, menyebut nama Allah, entah berapa kali. Saya tidak berani menuntun panjang. Saya bisikan syahadat di telinganya. Saya minta ibu sebut Allah, kalau tak sanggup bicara sebut Allah.
Ibu seperti ingin menyanpaikan sesuatu, tali semuanya sudah tidak bisa didengar, saya hanya teriakan "Allah". "Iya bu, sakit, ikhlas bu, Allah yang punya kuasa, Allah ya bu, Allah," tanpa ada air mata, terus mengelus lengan, memijat pundak.
Sampai akhirnya nafas itu berhenti
Di detik detik itu, bapak terus pasang oksigen. Saya bingung. Lepaskan atau usaha? Ini bagaimana? Sudah waktunya kah? Apa masih ada harapan?
Di saat saat itu, saya masih menghubungi ambulans, yang kebetulan, memang dioperasikan oleh teman-teman kantor saya.
Ambulans datang dengan segenap peralatan pre hospital. Perawat terus mengusahakan hingga satu jam, semua alat dipasang. Termasuk EKG dan tabung oksigen. Presentasinya sempat naik. Tetapi hanya beberapa detik. Angka di layar hilang. Tak ada respons lagi.
Singkat cerita, setelah ibu selesai dimakamkan. Sampai saya menulis ini, saya amat takut mati di saat seperti ini. Hasil tes antigen saya, adik, dan bapak, sudah negatif. Saya lihat bapak dan adik juga sudah membaik. Hanya sedikit pemulihan, seperti batuk, saya dan adik ada masalah lambung. Tetapi entah mengapa, sakit sedikit seperti bisa membawa kami pada kematian. Semua penyakit seperti bisa menjadi pembunuh.
Saya hubungi semua teman yang saya rasa cukup berilmu agama, apa saya bisa merasakan tanda kematian juga. Apa saya juga sebentar lagi. Saya geleng kepala. Ogah. Saya blak blakan minta ke Allah, jangan sekarang. Beri usia yang panjang dan berkah. Saya kasihan sama adik dan bapak, kalau harus menghadapi hal yang sama. Saya istighfar.
sejauh ini, psrkembangan keluarga kami semakin baik, semoga. Kadang, di siang hariz semuanya tampak sehat. Bayangan kematian menjauh, namun di malam hari semuanya kembali menakutkan.
Bahkan ada di fase "kepada siapa saya meminta, bahkan Tuhan pun yang akan mengambil saya".
Saya istjghfar. Karena memang semuanya milik Allah. Saya ingatkan saya ini hamba. Kawan saya banyak yang memberikan masukan, salah satunya "Gin, gua ingat nasihat bapaknya Gus Baha, beliau bilang, kita hidup dijaga gusti Allah, kita meninggal pun pasti diurus gusti Allah,"
Lalu, senior saya yang lain bilang "Allah itu mengajarkan optimis. Hanya orang soleh dan nabi yang punya tanda. Kalau orang awam kayak kita dirisaukan hal hal seperti itu, jangan jangan itu bukan datang dari Allah, itu datang dari yang lain. Yang buat kita pesimis. Istighfar"
Malam ini, di hari arafah, saya beristigfar banyak-banyak. Saya mohon ampun, Tuhan. Saya mohon ampun.