Mau yang seru-seru nggak? Ikut tantangan plus dapetin hadiah menarik? Pasti mau dong!
Mau tau apa itu? Cekidot!
Geng, udah pada punya album Fatin "For You" kan? Pasti udah dong! ^^
Yup, GKJ mengadakan kuis nih seputar album Fatin “For You” dan bakalan ada hadiah menarik untuk yang berhasil memenangkan kuis ini!
Kuisnya adalah REVIEW ALBUM FATIN: FOR YOU
Syaratnya »» Panjang tulisan maksimal 1000 kata, Gaya penulisan bebas, Bersifat objektif dan tidak “lebay”, dan Batas terakhir pengiriman tulisan tanggal 30 November 2013.
Tulisan dapat dikirim ke email GKJ »» [email protected] dengan subject “Review Fatin For You”
Hadiahnya…. 5 orang pemenang akan mendapatkan hadiah masing-masing 1 novel (judul bisa dipilih sendiri oleh pemenangnya) + souvenir
Dan pemenang akan dipilih langsung oleh seseorang yang mensponsori kuis ini ^^
So… menarik kan geng? Kamu tinggal tulis review kamu sesuai syarat-syaratnya, dikirim ke email GKJ dan 5 orang pemenang bakal dapetin hadiah yang nggak kalah menarik!
Ditunggu yaaa… paling lambat tanggal 30 November 2013!
"Pokoknya aku ga setuju" ujar Mikha sambil asyik mengunyah stick demi stick pocky ditangannya.
"Tapi kenapa?" Tanya Fatin yang juga ikutan mencomot pocky yang dipegang Mikha. Kadang mereka mencomot stick yang sama, kalo udah gitu terjadilah rebut-rebutan antara mereka, nggak ada yang mau ngalah, bahkan mereka sampai kejar-kejaran demi merebut satu stick yang sama, padahal stick-stick pocky yang lain melongo dari balik bungkusannya, menatap cemburu menyaksikan satu stick yang Mikha Fatin perebutkan. (Ini lebay...sorry :D... Lanjut!)
"Setidaknya kamu punya alasan untuk itu, semua orang setuju kecuali kamu" Fatin berhenti mengunyah dan memasang wajah cemberut.
"Kamu minta pendapat, ya itu pendapat aku, kalau kamu gak terima sama pendapat aku, ya terserah kamu"
"Tapi Mikh, jelasin dulu alasan kamu kenapa kamu ga setuju"
"Australia bukan tempat grammy.. Ada ga artis dari sana yang menang grammy?"
"Aku ga tau, tapi ini awal yang bagus buat karir aku ke depannya Mikha.."
"Pokoknya aku tetap ga setuju"
"Iya, tapi alasan kamu ga setuju apa Mikha, kan kita janji akan selalu saling support?"
"Di Aussie gak ada siomay... tar yang kamu kangenin bukan aku tapi siomay..."
"Kamu apa-apaan sih, aku serius ini bung"
"Aku juga serius, nanti setiap hari kamu pasti curhatnya tentang siomay muluuu, males banget gak sih..."
"Aduuuuhhhh......" Tiba-tiba Mikha menjerit.
"Kenapa?" Fatin kaget sekaligus panik.
"Digigit semut sialan"
"Hahaha......... Semut jereng"
"Bukannya prihatin malah ketawa, sahabat apaan coba"
"Baru juga digigit semut, gimana kalo digigit uler atau digigit macan"
"Ga boleh gitu, itu namanya nyumpahin, ga baik, kalo bener-bener terjadi gimana? Tapi ga pa-pa deng.... asal macannya seunyu kamu"
"Buahaha..."
"Kok ketawa"
"Pengen ketawa aja"
"Btw itu si Jayden kayaknya suka deh sama kamu"
"Tahu dari mana?"
"Noh... di twitter semua ditanyain ke kamu"
"Kenapa emang kalo dia nanya?"
"Ga sih... Modus banget aja kayaknya"
"Kita ga boleh negatif thinking sama orang Mik. Dia anaknya baik banget kok"
"Cie... Dibelain... Jangan-jangan kamu juga suka lagi sama dia"
"Enggak kok, emang kenapa sih kayaknya kamu gak suka banget gitu?"
"Ga, aku gak setuju aja kalo kamu sama dia"
"Kenapa emang....?"
"Bukan apa-apa, sebagai sahabat aku tahu yang terbaik buat kamu"
"Jangan-jangan kamu gak setuju aku ke Aussie gara-gara takut aku deket-deket sama Jayden, hayo ngaku"
"Enggak juga... Sebenernya aku mau kita itu sama-sama ke Inggris. Kalo kita sama-sama di Inggris, kan enak. Disana aku bisa ngelindungin kamu dari orang-orang jahat, terus kamu juga bisa masakin aku masakan Indonesia setiap hari, ya gitu-gitu deh"
"Wohoooo... Apa kamu bilang? Ga salah denger ni? Gimana mau ngelindungin aku, sama semut aja kamu takut. Haha... Lagian aku mana bisa masak"
"Hargai niat baik orang bisa kali bang... "
"Iya deh iya...sorry"
"Gapapa dimaafin, tapi beneran lho, jadi cewek itu harus bisa masak, bayangin deh kalo kamu punya anak kecil yang lucu, imut, kece, mirip aku, masa mau dikasih makan mie instan mulu, kan kasian"
"What?! Kenapa harus mirip kamu? Ih ogah..."
"Haha.. Ya paling nggak, kamu harus bisa masak nasi goreng keju lah. Hehe...."
Yeeee.... Itu mah enakan di kamu, emang kamu bisa gitu bikin nasi goreng keju?"
"Mmmm.... Bisa lah..."
"Ah boong kamu?"
"Beneranlah"
"Masa sih?"
"Iya beneran, beneran boong maksudnya"
"Idiiiiih...."
"Udah ah pulang yuk.." Mikha berdiri dari duduknya, kemudian mengulurkan tangannya membantu Fatin bangkit, Fatinpun meraih tangan Mikha dan bangkit dari duduknya. Begitulah romantisme dua sahabat yang saling membantu, saling berbagi suka dan duka, dan yang paling penting mereka saling menyayangi.
***
Setelah selesai mengisi acara di salah satu Mall di Jakarta, Fatin siap-siap pulang ke rumah. Tiba-tiba iPhonenya berdering, ternyata telpon dari Mikha.
"Halo" jawab Fatin.
"Hari ini acara kamu kelar jam berapa?" Tanya Mikha.
"Ini udah kelar, udah mau pulang. Emang kenapa Mikh?"
"Ya udah kita ketemuan di taman bentar ya, aku jemput atau kamu langsung ke sini?
"Kamu udah di sana?" Tanya Fatin.
"Iya"
"Kalo gitu aku langsung kesana aja deh, kan pulang lewat situ, emang ada apa sih? Gak biasanya mendadak ngajak ketemuan gini, kangen ya? Muehehe..."
"Ada hal penting yang mau aku omongin"
"Alesan... Ya udah tunggu disitu ya"
"Yap" kemudian telpon terputus.
***
Setiba di taman Fatin melangkahkan kakinya menuju bangku sudut taman tempat biasanya ia dan Mikha berbagi cerita tentang apa saja, tentang segalanya. Dari jauh ia sudah melihat sosok Mikha disana. Fatin mendekat, ia langsung duduk disamping Mikha, kemudian merebahkan kepalanya ke bahu sahabatnya itu.
"Capek banget aku Bung, pinjem bahunya bentar ya" cerocosnya tanpa memperhatikan wajah Mikha yang terlihat mendung.
"Lama juga boleh" jawab Mikha datar.
"Koq gak semangat gitu?" Fatin mengangkat kepalanya dan meluruskan posisi duduknya, seraya menatap mata Mikha"
"Kamu kenapa? Koq sedih gitu?" Tanya Fatin.
"Gak sih...." Jawab Mikha nyaris tanpa suara.
"Sebenarnya ada apa sih, koq jadi aneh gini?"
"Gapapa..."
"Gak percaya, pasti ada apa-apa, ga biasanya kamu kayak gini Mik? Ayo kamu jujur sama aku"
"Aku cuma mau bilang, minggu depan aku sama kakak2 aku bakalan ke Inggris"
"What??? Ke Inggris? Kalian dapet job manggung di sana? Wahhh... Seneng banget dong... Seru banget pastinya... Berapa hari disana? jangan lupa bawain oleh-oleh ya, kalo bisa sekalian mintain tanda tangannya Gabrielle Aplin ya, muehehe" celoteh Fatin.
"Hmmm... Bukan... sodara aku di sana kemaren coba promoin TheOv ke produser di sana, dan kebetulan ada yang tertarik buat produserin kita, jadi kayaknya bakalan lama" Mikha menghela nafasnya.
"Jadi kamu mau ninggalin aku?" Seketika Fatin terpaku, tubuhnya lunglai, dadanya sesak, lidahnya seakan kelu, Fatin terdiam, air mata mulai mengalir deras di sudut-sudut matanya.
"Udah dong... Jangan nangis gitu, jelek tahu. Ini kan cita-cita kita, lagian kamu kan juga mau ke Aussie"
"Tapi gak secepat ini Mikh... "
"Aku juga kaget, aku bingung mau bilang sama kamu, aku tahu kamu pasti sedih, tapi gimana lagi"
"setidaknya kamu kasih tahu aku gimana caranya agar aku bisa melalui hari-hari aku tanpa kamu di sini"
"Kan masih ada temen-temen yang lain, atau sama anak-anak XF yang lain"
"Tapi mereka selalu sibuk, gak kayak kamu selalu ada waktu buat aku, meskipun kamu sibuk"
"Nanti aku bilangin mereka deh buat sering-sering nemuin kamu"
Mereka terdiam cukup lama.
"Aku gimana kalo kamu tinggalin Mikha?" tangisannya belum juga reda.
"Kita masih bisa komunikasi kok, via twitter, via line, atau sekali-kali bisa skype-an. Udah dong nangisnya" Mikha bingung bagaimana harus membujuk gadis ceria yang mendadak berubah menjadi gadis cengeng sore itu.
"Aku bawa yang di mobil, aku tahu kamu pasti nangis, dari pada tar baju aku jadi korban, ya udah aku siapin tissue buat kamu"
"Jahat banget kamu"
Mikha menarik tangan Fatin kemudian mendekap erat sahabatnya itu. Mata Mikha terlihat berkaca-kaca, ia juga sedih, namun ia tak ingin terlihat lemah dihadapan sahabat yang sangat ia sayangi.
"Kalo aku udah ga di sini, kamu jangan nakal ya, jangan suka telat makan, jangan cengeng, yang paling penting jangan begadang, satu lagi jangan lupa sholat" pesan Mikha ke Fatin. "Aku sayang sama kamu" tiba-tiba kata-kata itu keluar dari mulut Mikha.
Fatin melepas pelukan Mikha, menatap tajam Mata indah remaja tampan itu.
"Sayang sebagai sahabat kan?"
"Lebih dari sahabat"
"Kamu becanda kan?"
"Aku serius"
"Gak... Gak boleh lebih Mik"
"Kenapa nggak... Toh kita udah lumayan lama kenal, kita udah sama-sama tahu kelebihan dan kekurangan kita masing-masing, dan yang paling penting aku selalu nyaman sama kamu"
"Aku gak mau kita pacaran"
"Kenapa?"
"Bukannya waktu itu kamu pernah bilang kamu ga mau pacaran sebelum kamu bisa menggapai mimpi-mimpi kamu? Terus kamu juga yang bilang pacaran kalo putus, bisa ngerusak persahabatan. Lagian kita kan udah janji ga mikirin masalah pacaran dulu sebelum mimpi kita benar-benar tercapai"
"Dulu iya, tapi sekarang beda, gimana mungkin aku bisa ninggalin kamu gitu aja tanpa ada komitmen apapun antara kita, yang ada tar kamu diembat sama cowok lain.
"Kita gak boleh pacaran"
"Alasannya?"
"Aku gak mau persahabatan kita rusak kalo kita pacaran terus putus"
"Ya jangan putus dong"
"Kita kan gak tahu kedepannya gimana, kalo takdir nentuin putus, dipertahanin gimana juga, tetep aja putus"
"Kalo gitu aku gak mau jadi sahabat kamu"
"Kenapa?" Tanya Fatin
"Tepatnya mengundurkan diri jadi sahabat kamu"
"Ngundurin diri? Bahasa yang sangat lucu. Tapi kenapa?"
"Kalo aku bukan sahabat kamu, kamu masih nolak aku buat jadi pacar kamu?"
"Belum tentu juga, tapi kalo aku nerima kamu jadi pacar aku, kita LDR-an maksud kamu?"
"Karena itu aku mau kita pacaran, meski jauh, aku mau hati kita tetep deket"
"Kok gini amat ya Mik, Ga bisa apa kayak orang-orang, pacaran dan gak dipisahin jarak"
"Kan kita ga mainstream"
"Tapi apa kita masih bisa senyaman ini kalo nanti kita udah jauh? "
"Kamu ragu?" Tanya Mikha bimbang.
"Ya, aku gak yakin aja Mik"
"Itu hak kamu sih, aku gak maksa kita mesti pacaran, kamu tahu gimanan perasaan aku ke kamu aja, itu udah cukup buat aku. Kalo gak, aku bisa mati penasaran di negeri orang. Hehe"
"Ini dilema Mik, disatu sisi aku gak yakin kita bisa nyaman seandainya kita LDR, tapi disisi lain aku juga gak bisa boongin perasaan aku ke kamu.. Setelah di pikir-pikir kayaknya ga ada salahnya kita coba"
"Jadi kamu mau?" Tanya Mikha sedikit tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Fatin.
"Kita ga akan pernah tahu kan kalo kita gak pernah coba?!"
"Kita jadian nih ceritanya?"
"Gak, hehehe... Ya iyalah, pake nanya lagi"
"Hmmm... Kita jadian tapi kok perasaan aku biasa aja ya?!" Mikha memutar bola matanya.
"Ga jadi deh kalo gitu" ujar Fatin sambil memayunkan bibirnya"
"Ih alay, aku juga seneng banget, tapi aku sedih kamu bakalan jauh" jawab Fatin sedih.
"Jangan sedih, meskipun kita bakalan jauh, hati kita tetep deket. Kamu nyadar ga kalo selama ini sebenernya kita satu rasa? Dalam banyak hal kita bisa ngerasain hal yang sama" Mikha melepas pelukannya. "Tunggu aku kembali" lanjutnya seraya menggenggam tangan sahabat yang kini menjadi kekasihnya tersebut.
"Kapan kamu kembali?"
"Aku ga tahu"
"Bahkan kamu sendiri gak tahu kapan kamu kembali" ujar Fatin sedih.
"Aku pasti kembali"
"Kalo ga?"
"Temui aku di sana! Udah dong, Jangan sedih lagi... Aku padamu! Haha"
"Hahaha... Norak"
"Kalo ada waktu aku pasti pulang ke sini kok..." "Janji ya!!?"
"Janji!! Yuk pulang... Udah mulai gelap nih"
Mereka beranjak.
Di ufuk cakrawala senja segerombolan burung bernyanyi merdu, menyaksikan mereka tersenyum bahagia, menikmati indahnya rasa. Di ufuk cakrawala senja itu pula, sepasang merpati terbang tinggi, menyaksikan mereka terdiam, terpaku menyadari akan adanya perpisahan, perpisahan yang akan menghadirkan rindu dihati dan entah kapan kan terobati. (Cie... Betapa sok puitisnya diriku... Hahah).
"Akhirnya nyampe rumah juga" bisik Mikha dalam hati. Perjalanan ke Hong Kong beberapa hari membuatnya lumayan lelah. Mikha merebahkan tubuhnya dikasur kamar tidurnya. Ia tatap sekeliling kamarnya, tak ada yang berubah, masih sama seperti ketika ia tinggalkan beberapa hari yang lalu, tatapannya terhenti pada sebuah bungkusan di atas meja di sudut kamar. Bungkusan yang tadi ia letakkan disitu. Isinya sebuah headphone berwarna pink yang ia beli di Hong Kong. Headphone yang sengaja dia beli untuk seseorang, seseorang yang baru saja berulang tahun ke tujuh belas, yang belum sempat ia berikan kado, ya... seseorang yang bernama Fatin.
Senyumnya mengembang ketika mengingat sosok Fatin yang baru ia kenal setengah tahun belakangan ini. Teringat kembali saat-saat indah yang pernah mereka lalui bersama. Semua kenangan terekam jelas di memori ingatannya. Mikha meraih iPhonenya, kemudian ia membuka galeri foto kebersamaan mereka. Mikha kembali tersenyum ketika melihat ekspresi-ekspresi lucu Fatin di Foto.
"Mikh... disuruh makan sama mama" tiba-tiba Reuben muncul dari balik pintu kamar mikha yang memang tidak dikunci yang memaksa Mikha sadar dari lamunannya.
"Tar deh, masih capek banget men" jawab Mikha malas.
"Yaelah... Foto dia mulu yang dilihat... kalo kangen samperin, gak bakalan ilang tu kangen kalo cuma lihat foto doang" Rueben ngeledek adiknya .
"Apaan sih Lo" Mikha melempar bantal ke arah ruben, namun Reuben lebih cekatan menutup pintu hingga bantal hanya membentur daun pintu kamarnya, Reuben berlalu sambil tertawa.
Mikha meraih smartphonenya dan menyusuri mention yang masuk di twitternya. Ada beberapa fans yang ngasih tahu kalo Fatin sedang sakit. Kekhawatiran tampak jelas di wajahnya. Setelah mikir beberapa saat, ia meraih kunci mobil yang ada di atas meja di dalam kamarnya.
"Aku keluar bentar ma" Mikha pamit ke mamanya yang sedang nonton tv bersama Reuben diruang tengah.
"Iya, Pulang jangan kemaleman" jawab mamanya.
"Tadi katanya capek" Reuben mencibir ke arah mikha.
"Reubeeeeen" Reuben dimarahi mamanya.
Mikha melangkah tanpa peduli ledekan kakak kandungnya tersebut.
*
Sementara itu ditempat berbeda Fatin juga sedang tiduran dikamarnya. Sejak tadi ternyata dia juga melihat foto-foto bersama Mikha di gadjednya. Foto-foto mulai dari awal-awal mereka kenal. Sesekali Fatin tersenyum. Ketika sedang asyik senyam-senyum, tiba-tiba hpnya berdering, dilayar hp muncul nama Mikha.
"Aduh, Mikha nelpon, koq aku jadi deg-degan gini ya" bisik Fatin.
"Hallo" Jawab Fatin.
"Kamu sakit?"
"Gak kok"
"Katanya kamu sakit"
"Ah kata siapa? lagian kalo aku sakit kamu peduli emang?"
"Gak"
"Nah, kalo gitu kenapa juga kamu pake nanya-nanya, sok perhatian"
"Hmm... Ngambek... Ya udah, kalo ga sakit keluar yuk, bosen di rumah, pengen jalan-jalan"
"Ogah... "
"Ayolah"
"Aku lagi males, tapi kalo lima menit kamu udah nyampe di sini, aku mau nemenin kamu jalan. Huahaha"
"Lima menit kelamaan, sedetik juga oke"
"Hahaa... Sok banget, yakali pake pintu doraemon"
"Kalo ga percaya, keluar deh, aku udah di depan rumah kamu"
"Hah? Demi apa? masa?"
"Cepetan aku tunggu di teras"
Setelah mengganti pakaiannya, ia terlihat cantik dengan kaos panjang berwarna pink yang ia padukan dengan celana jeans biru dan jilbab simpelnya yang juga berwarna pink, Fatin membuka pintu depan, waswas jangan-jangan Mikha cuma ngerjain dia, ternyata Mikha benar-benar ada di teras depan rumah.
"Gila kamu Mikh"
"Hehehe" Mikha hanya cengengesan.
"Kita ke mana nih?" Tanya Fatin.
"Kemana aja deh, yang penting jalan"
"Oke deh! Yuk cussss"
"Pamit dulu kali"
"Udah gak usah, ayah sama mama aku lagi ke tempat sodara, dirumah cuma ada adek aku, tadi aku udah pamit kok"
"O pantesan tadi sepi, kirain gak ada orang"
Kemudian mereka melangkah menuju ke mobil. Setelah masuk ke mobil, Mikha memacu laju mobilnya pelan.
"Gila yang baru pulang dari Hong Kong, tiba-tiba udah nongol aja di depan rumah, kirain masih asyik jalan-jalan di Hong Kong"
"Haha... Eh kamu cantik pake baju itu" timpal Mikha sambil melirik sesaat ke sahabatnya itu.
"Widih, jarang-jarang kamu merhatiin penampilan aku, kangen ya kamu sama aku? di Hong Kong, ga nemu kan orang kayak aku?!"
"Hoho Pede gilak! Emang kamu ga kangen sama aku?" Goda Mikha sambil tetap konsentrasi nyetir.
"Gak"
"Pura-pura, padahal kangen setengah gila"
"Apaan sih, sok tahu banget deh, mana ni oleh-olehnya? katanya kado buat ultah aku, mau dibeliin di sana" ujar Fatin sambil memayunkan bibirnya.
"Upsss... Lupa deh... Sorry sob... "
"Tu kan, pasti gara-gara keasyikan ketemu sama Avril Lavigne, jadi lupa sama sahabat sendiri, kamu utang janji lho sama aku"
"Maaf, beneran lupa deh, gimana kalo aku traktir kamu sekarang, mau di mana? Mau makan apa? Pecel lele mau?"
"Idih, tahu juga aku gak suka ikan"
"Ya udah, mau dimana? Terserah kamu"
"Pokoknya aku mau kamu traktir di resto yang paling mahal sejakarta ini"
"Waduh, ya udah gak masalah, selagi credit card belum limit.hehe..."
"Ecieeee... yang udah pegang credit card sendiri, pameeer"
Tawa mereka pecah. Kebahagiaan tampak jelas di mata kedua remaja itu.
"Stop, minggir di sini Mik"
Mikha menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kenapa kamu suruh berhenti di sini?" Tanya Mikha heran.
"Kamu traktir aku siomay yang itu aja deh" ujar Fatin sambil menunjuk gerobak siomay di pinggir jalan.
"Lah tadi katanya mau di traktir di resto termahal sejakarta"
"Ya udah deh, aku beliin dulu, tunggu di sini aja" ujar Mikha seraya keluar dari mobilnya menuju gerobak siomay.
Dari dalam mobil, Fatin hanya tersenyum melihat Mikha yang sedang asyik berbincang-bincang dengan penjual siomay itu.
Kira-kira sepuluh menit Mikha kembali ke mobil membawa sekotak plastik styrofoam siomay.
"Kok cuma satu?" Tanya Fatin.
"Credit card limit"
"Belagu lu bocah, credit card mana laku di abang-abang siomay pinggir jalan gini"
"Haha... just kidding... Ini dua kok, liat deh isinya, dua porsi itu"
"Tapi kok gak dua tempat?" tanya Fatin masih heran.
"Sengaja"
"Trus? Ini sendoknya juga cuma satu" Fatin makin heran.
"Udah... Ga usah banyak omong, sekarang pilih mau nyuapin apa disuapin?" Tanya Mikha santai.
"Oooo... Jadi ceritanya pengen suap-suapan ni? Sejak kapan seorang Mikha Angelo jadi norak gini?"
"Sejak kenal seseorang?"
"Siapa?"
"Siapa ya?! Mau tahu? Ya kamulah"
"Ya deh, aku norak" Fatin cemberut.
"Ngambek lagi... Becanda doang kali... Ya udah mau disuapin apa mau nyuapin ni? Aku laper nih"
"Kamu yang suapin deh.. Hehehe"
"Ya udah" Mikha meraih kotak siomay dari tangan Fatin, kemudian menyodorkan sesendok siomay ke mulut Fatin.
"Itu sendoknya penuh banget, sebanyak itu gak muat di mulut aku" Fatin cemberut melihat Mikha senyum-senyum jahil.
"Tadinya biar kamu cepet gede sama cepet tinggi aja sih, ya udah... nih..." Mikha kembali menyodorkan sesendok siomay yang udah ia kecil-kecilin.
"Ini baru pas" Fatin tersenyum menyambut suapan pertama dari Mikha.
"Ternyata disuapin siomay sama idolanya para cewek-cewek seIndonesia itu rasanya siomay ini jadi sejuta kali lebih enak dari siomay-siomay yang pernah aku makan"
"Beneran enak ya... Ini apa karena siomaynya emang enak atau pengaruh siapa yang nyuapain sampai-sampai siomaynya jadi terasa lebih enak gini"
"Baku banget Mik, sebenernya itu karena emang kitanya yang lagi kelaperan.hahaha....."
Mereka tertawa renyah.
**
Sore itu ketika Fatin sedang asyik mendengarkan musik di teras rumahnya, seorang kurir jasa pengiriman barang menghentikan laju sepeda motornya tepat di depan rumahnya.
"Eh neng Fatin, ada paket ni, tandatangan di sini dulu" sapa kurir itu sambil menyodorkan paketnya dan menunjukkan kertas yang harus ditandatangan sebagai bukti barang telah diterima ke alamat yang dituju.
"Makasih mang"
"Sama-sama neng geulis" jawab kurir itu dan pamit pergi.
Kemudian Fatin masuk ke dalam rumah menuju kamarnya sambil menenteng paket yang baru saja ia terima. Dikamar, ia duduk di atas tempat tidurnya, sebelum membuka paket itu, ia memperhatikan dengan seksama kotak berukuran kurang lebih 15 x 15cm tersebut, kotak kardus yang di sampul kertas kado berwarna pink dengan corak tokoh kartun Brown dan Cony yang lagi ngerayain ulang tahun, Fatin tersenyum, ini pasti kado ulang tahun dari Fansnya, padahal udah lewat seminggu masih ada aja yang mengiriminya kado. Ia mencari nama sang pengirim di setiap sisi kotak kado, namun ia tidak menemukan apa-apa, hanya nama dan alamat penerima yang tertera di salah satu sisi kado. Hal ini membuatnya semakin penasaran. Ia buka kado tersebut perlahan, "aaaauuuu..." Ia terpekik melihat isi kado tersebut, sebuah headphone berwarna pink yang memang sudah lama ia inginkan. Fatin kembali mencari-cari sesuatu di dalam kotak, siapa tahu ia menemukan siapa pengirim kado itu, biasanya fans selalu mencantumkan nama account twitternya dengan tulisan "followback ya" kalau sudah begitu Fatin dengan senang hati memfollowback akun yang dicantumkan tadi, kali ini nihil, tapi ia menemukan secarik kertas yang bertuliskan "Mengagumimu dalam diamku, adalah bahagiaku yang tak perlu kau tahu.... Happy sweet seventeen Fatin.... All the best for ya, semoga suka kadonya"
Fatin kembali meneliti headphone pink tersebut, siapa tahu ia mendapatkan petunjuk siapa pengirim kado kesukaannya tersebut, naluri kekepoannya tak terbendung lagi.
"HKD.200" tulisan itu menempel di bagian gagang dalam lingkaran headphone tersebut, ini harganya kan? "Ah... Yayaya... Pengirimnya kurang teliti sehingga lupa mencopot harga tersebut, atau emang karena letak harga tersebut agak tersembunyi" benaknya lagi. Tempelan harga dalam mata uang Hong Kong itu akhirnya memberikan titik terang siapa pengirim kado tersebut. "Ini pasti Mikha, lagian emang cuma Mikha yang tahu aku sangat menginginkan headphone itu, waktu itu aku pernah memperlihatkan gambar headphone itu dari hasil googling ke Mikha, trus Mikha juga pernah nemenin aku hunting headphone tersebut di salah satu mall waktu itu, dan emang gak nemu yang sama persis" bisiknya sambil tersenyum. "Haha... Rencanamu kurang rapi bung" Fatin meraih iPhonenya, ia berniat menelpon Mikha. Tapi niat tersebut ia urungkan saat matanya kembali melihat secarik kertas tadi, kembali ia baca kata-kata itu "mengagumimu dalam diamku, adalah bahagiaku yang tak perlu kau tahu."
"Ah... Maksudnya apa coba? Apa iya diam-diam dia suka sama aku... Bukannya selama ini Mikha cuma nganggep aku hanya sebagai sahabat, atau dia sengaja buat aku penasaran, biar aku berusaha mecahin kode gitu, atau dia sengaja buat aku Ge-Er.. Arrrrggg.... Ga tahu ah" pikirannya berkecamuk. Akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Mikha.
"Halo" jawab Mikha dengan suara yang terdengar berat.
"Lagi ngebo pasti ni"
"Hehehe...."
"Pasti belum mandi kamu"
"Hehehe"
"Udah sore tahu"
"Iya... Tahu"
"Mik... Aku boleh cerita"
"Tumben nih ijin dulu sebelum cerita, biasanya juga langsung nyerocos"
"Hehehe... Aku lagi happy banget nih Mik"
"Ah kamu kan emang selalu happy"
"Iya, tapi kali ini beda bung... Tadi itu aku dapet kado... Kamu tahu gak kadonya apa... Itu loh headphone yang udah lama aku pengen... Aaaaak aku seneng banget Mik..."
"Ooo..." Mikha tersenyum.
"Kok cuma O doang sih?"
"Terus apa dong? A I U E O gitu?"
"Gak gitu juga sih, tapi Mik, masa aku gak tahu yang kasih kadonya siapa" Fatin pura-pura tidak tahu.
"Fans kamu kali"
"Kayaknya ga deh Mik, soalnya kata-katanya itu kayak-kayak "secret admirer" gitu." Fatin cekikikan menahan tawanya.
"Ciailah... Yang punya secret admirer... Gaya banget kau meng..."
"Hehehe... Tapi siapa kira-kira ya Mik, sok-sok misterius banget tu orang"
"Ya mana aku tahu... Kok nanya ke aku, mungkin dia punya alasan sendiri kenapa memilih buat jadi secret admirer gitu"
"Ooo... Gitu ya... Tapi ya Mik, ga tahu kenapa kayaknya aku juga suka deh sama yang kasih headphonenya, haha"
"Katanya gak tahu yang kasih siapa, tapi kok bisa suka, dasar cewek aneh"
"Ikut feeling aja sih, aku rasa aku tahu deh siapa orangnya Mik"
"Siapa?"
"Bruno Mars"
"Hahaha... Udah ah, aku mo mandi"
"Yo wes, mandi sana, baunya udah nyampe sini nih"
"Haha... Horor"
"Haha... Bye zolmedh!!"
"Bye juga AMS!!
Telpon terputus.
"Hmmm... ternyata Mikha masih malu mengakui kalo itu dia yang kasih" bisiknya dalam hati.
***
Sebulan kemudian.....
Fatin meraih iPhonenya. Ia memulai chat Line-nya dengan Mikha.
Fatin : Eh... Nanti malem Aku diundang sony buat acara Nobar Tunists bareng kalian itu loh.
Mikha : Aku yang minta.
Fatin : Hah...
Mikha : Gak usah Ge-Er, aku cuma pengen tahu tunists udah jagger belum, kalo udah jagger, pasti gak bakalan ngebully kamu pas kamu ikut nonton.
Fatin : kalo gitu aku kelinci percobaan donk.
Mikha : bukan kelinci percobaan sih, tapi bisa dikatakan tumbal.haha... Becanda... Sebenernya pengen nonton bareng kamu aja... Gimana berani gak ni?"
Fatin : oke... Siapa takut!!
****
Malam harinya di bioskop mereka duduk bersebelahan. Sebenarnya Fatin datang agak terlambat, lampu bioskop sudah dimatikan, dia minta petugas buat mengantarnya ke bangku yang sudah disediakan tepat di sebelah kiri Mikha.
"Kirain gak berani dateng" bisik Mikha pelan.
"Berani dong"
"Thaks ya udah dateng, padahal kamu pasti lagi capek banget baru pulang dari luar kota, aku juga capek banget ini"
"Biasa aja, ah kamu pasti gak capeklah, orang kamu abis lihat yang seger-seger di Bali"
"Hahaha" Mikha tertawa.
"Sssstttt... Jangan kenceng-kenceng, tar yang lain terganggu lagi"
Mereka terdiam kembali menatap layar di depan mereka.
"Mik" panggil Fatin pelan.
"Ya?" Jawab Mikha tak kalah pelannya.
"Aku tahu kok yang ngadoin aku headphone kemaren itu, kamu."
"Hah... Tahu dari mana?" Tanya Mikha agak gelagapan.
"Rencanamu kurang rapi bung... Harganya yang dalam Dollar Hong Kong, masih nempel di headphonenya.haha"
"Haha... Jadi waktu kamu nelpon itu kamu udah tahu"
"Yoi"
"Kok gak bilang waktu itu, aku jadi malu nih"
"Ah kamu pasti cuma pura-pura malu... Tapi aku penasaran apa maksud note kamu itu"
"Yang mana?"
"Mengagumimu dalam diamku, adalah bahagiaku yang tak perlu kau tahu"
"Menurut kamu?"
"Menurut aku kamu cuma iseng, sengaja biar aku berusaha mecahin kode-nya"
"Kalo aku bener-bener ngagumin kamu gimana?"
Fatin terdiam. Tiba-tiba tangan Mikha menggenggam tangan Fatin, jemari mereka menyatu. Ada getaran aneh di dalam hati dua remaja ABG itu.
"Jangan terlalu dipikirin, santai aja, Aku tahu kamu juga suka sama aku, tapi kamu tahu kan untuk saat ini kita ga bisa buat apa-apa. Selagi kita nyaman, kita jalanin aja dulu kayak gini. Kedepannya, biar waktu yang menjawab, kan semua udah ada yang ngatur"
"Bener banget Mik, percuma dipaksain juga, sahabatan tapi saling suka kayaknya seru juga, hehe"
"yang jelas aku beneran sayang sama kamu"
"Iya, tapi ini lepasin dulu, Tar dilihat Ugi lho" Fatin berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Mikha.
"Ga usah takut, si Ugi lagi sibuk mikirin seseorang yang tadi siang baru launching albumnya"
"Hihihi...." Mereka berdua cekikikan.
"Mik.."
"Ya?"
"Kalo boleh tahu, sejak kapan kamu suka sama aku?"
"Aku gak tahu kapan, yang aku tahu, aku baru bener-bener yakin kalo aku suka sama kamu, pas aku di eliminasi. Waktu itu aku yang pulang, tapi aku yang ngerasa kehilangan. Gak tahu kenapa, tereliminasi gak berat buat aku, ninggalin kamu itu yang terberat buat aku. Kalo kamu?"
"Love at first sight, pertama lihat kamu aku udah suka"
Mereka mempererat genggaman tangan mereka, tatapan mereka sama-sama tertuju ke layar di hadapan mereka, tapi sebenarnya mereka sibuk dengan hati mereka yang sedang dipenuhi bunga-bunga cinta.
Lagu What Makes You Beautiful-nya One Direction mengalun manis diruangan bioskop tersebut.
You’re insecure
Don’t know what for
You’re turning heads when you walk through the door
Don’t need make up
To cover up
Being the way that you are is enough
Everyone else in the room can see it
Everyone else but you
"Lagu kamu" bisik Fatin.
"Buat kamu" bisik Mikha.
"Gombal banget, dasar kamu secret admirer yang udah ga secret lagi"
"Tapi kamu suka kan?"
Fatin mencubit lengan Mikha.
"Tuh kan kebiasaan" Mikha sedikit meringis kesakitan.
"Sorry... Sorry... Sorry... Ga sengaja" Fatin mengelus lembut lengan yang tadi ia cubit. Mereka tersenyum.
Baby you light up my world like nobody else
The way that you flip your hair gets me overwhelmed
But you when smile at the ground it ain’t hard to tell
*FF ini buat yang belom baca, karena udah pernah aku post di G+ aku... #MaafinYa*
London, 7 November 2017
Di sebuah apartemen tak jauh dari kampus di mana ia sedang menuntut ilmu, Seorang laki-laki yang mengenakan jaket kulit tebal berwarna hitam, tampak mengemasi sebuah lemari buku. Tak sengaja ia melihat sebuah foto berukuran 10R di antara tumpukan buku-buku yang ia kemas, Foto seluruh anak XF sesion pertama. Mikha tersenyum. Ia melihat wajahnya yang masih cupu dan lugu. Disebelahnya di dalam foto itu, ada sosok imut dan tak kalah cupu dan lugu. Fatin, sosok yang selama ini ingin ia lupakan tapi juga sosok yang selalu ia rindukan. Hampir setahun sudah Mikha meninggalkan tanah air. "Mungkin kamu udah bahagia sekarang" gumamnya perlahan.
***
Setelah Nonton di Bioskop di salah satu Mall di Jakarta malam itu, Fatin dan Vino terlihat duduk santai di sebuah Cafe masih di mall yang sama.
"Vin, gue ke toilet bentar ya, titip Hp gue" Fatin menyodorkan iPhonenya ke Vino.
Kemudian setengah berlari Fatin menuju ke toilet.
Sementara itu Vino mulai menelusuri iPhone sahabatnya itu, masuk ke galery foto. Kecemburuan terlihat dimatanya saat melihat foto-foto Fatin bersama Mikha.
Tiba-tiba iPhone yang tengah dipegangnya itu bergetar, nama Mikha muncul di screen hp, telpon langsung di angkatnya.
"Halo" jawab Vino.
"Sorry, Ini siapa ya?"
"Gue Vino. Fatinnya lagi di toilet, tadi dia titip hp-nya ke gue, ada apa Mik?
"Gak ada apa-apa sih" Jawab Mikha datar.
"Ooo.. Kirain gue ada hal penting yang mau lo omongin ke dia"
"Gak, ya udah sorry kalo gue ganggu"
"Tunggu Mik, kebetulan lo nelpon ni, sebagai sama-sama laki-laki gue mo nanya sama lo, lo suka sama Fatin?"
"Pertanyaan lo gak wajar banget men. Gue suka ato gak sama dia, apa urusannya sama lo? Lo bukan cowoknya dia kan?"
"Ya, gue tahu, tapi gue sayang sama dia, gue gak suka kalo ada orang yang nyakitin dia""
"Emang yang nyakitin dia siapa? Gue? Apa dia ada bilang ke elo, kalo gue nyakitin dia?"
"Gak sih, tapi gue tahu gara-gara lo dia sering sedih, apalagi ulah Fans lo yang gak suka dia, lo gak mau kan bro lihat dia sedih?"
"gue rasa lo berlebihan ya, fans gue gak pernah masalahin kok gue temenan sama Fatin, lagian kalo gue suka sama dia, masalah buat lo?"
"Santai bro, sekali lagi gue tanya sama lo, kalo lo suka sama dia, kenapa lo gak berani macarin dia? Lo takut kan sama Fans lo. Atau lo sengaja manfaatin dia buat ketenaran Lo? Kalo Lo gak bisa buat dia bahagia, setidaknya lo jangan sakiti dia" lanjut Vino.
"Eh... Elo yang gak nyantai men, tenang men... gue gak seburuk apa yang ada di otak lo. Kalo lo suka, lo ambil aja, gue bukan siapa-siapa dia, ya nggak?!"
Telpon terputus. Vino buru-buru menghapus panggilan masuk Mikha tadi. Tak lama kemudian Fatin muncul di hadapan Vino.
"Pulang yuk, udah malem" ujar Fatin seraya menggambil tasnya di kursi tempat duduknya tadi.
"Yuuuuk, nih" jawab Vino sambil menyodorkan iPhone yang tadi dititip Fatin ke dia. Fatin meraih iPhonenya dari tangan Vino. Mereka beranjak pergi.
Setiba di rumahnya, Fatin menghempas tubuhnya ke tempat tidur. Ia meraih iPhone-nya dari atas meja rias di samping tempat tidurnya. "Mikha mana ya, Udah beberapa hari gak ada kabar" gumamnya. Fatin menyusuri Line Chat-nya, siapa tahu ada chat dari Mikha yang kelewatan, setelah dilihat ternyata tidak ada. Kemudian Ia mengirim chatnya ke Mikha.
Fatin : Mikha... Kemana aja sih kamu, sombong banget"
Namun tidak ada balasan.
Fatin : Mik.....
Fatin : Mikha......
Fatin : Mikhaaaaaaaaaa..... :)
Fatin : Mikhaaaaaaaa.......... ;)
Fatin : Mikhaaaaaaaaaaaaaaa :D
Fatin : Mikha... Mikha... Mikha...
Fatin : Sombong banget sih
Fatin : Aku kirim terus ni sebelum kamu bales
Fatin : Mikha... Kamu kenapa sih...
Fatin : dari kemaren gak bales line aku
Fatin : Jahat banget sih kamu:(
Fatin : Kamu baca kan Mik?
Fatin : aku ada salah ya Mik?
Fatin : Mikha.......
Fatin : :(
Fatin : please bales Mik!!!
Fatin : aku gak bakalan tidur sebelum kamu bales.
Mikha : up to you
Fatin : sekalinya bales, jahat gitu..
Mikha : aku rasa udah waktunya kita jaga jarak.
Fatin : Maksud kamu?
Mikha : Aku capek terus-terusan dikait-kaitkan sama kamu.
Fatin : Yang bilang gitu siapa Mik? Cuma media kan?! kamu kayak gak tahu media aja.
Mikha : Kamu pikir enak apa, dibilang mendompleng ketenaran kamu? Itu sakit banget tahu gak. Aku gak pa-pa kalo cuma aku yang ngerasain sakitnya, tapi aku gak bisa lihat keluarga aku, orang-orang terdekat aku juga ikut sakit gara-gara gosip itu.
Fatin : aku ga tahu lagi mau ngomong apa. Maaf kalo memang aku salah, maaf kalo kehadiran aku dalam hidup kamu cuma buat masalah. Maaf Mik.
Mikha : Kamu gak salah kok, gak ada yang salah.. Keadaan yang gak berpihak sama kita.
Fatin : Aku kangen masa-masa kita karantina Mik. Jadi artis gak enak ya Mik. Harus munafik, harus tampil sempurna, padahal kita juga manusia biasa, sama kayak orang-orang. Sekedar temenan aja gak boleh, padahal apa salahnya sih punya sahabat.
Mikha : Itu sudah jadi resiko kita sebagai artis sekarang. Gak baik sesalin jalan yang udah kita ambil, lebih baik kita syukuri aja.
Fatin : Ya... Hidup kita sekarang miris banget ya Mik. Rasanya gak adil banget gitu, tapi gakpapa deh... Mungkin emang ini jalan yang terbaik.
Mikha : Ya.
Fatin : tapi kamu jahat Mik, kamu korbanin persahabatan kita demi semua. Tapi kamu bener kok, keluarga emang segalanya. Aku benci sama keadaan Mik, aku juga benci sama kamu.
Mikha : Maaf.
Sejak malam itu mereka benar-benar saling menjauh. Saling menghindar job-job di event-event yang sama, kalaupun terpaksa harus sama, mereka hanya saling melempar senyum, atau menyapa sekedarnya. Tak ada lagi candaan mereka seperti saat di karantina, tak ada lagi sarkastikan yang menambah kedekatan mereka, tak ada lagi sharing lagu-lagu kesukaan mereka,
Semua telah berubah. Bahkan mereka hampir lupa kalau mereka pernah bersahabat....
Tiga tahun yang lalu (2014) ......
Sebuah acara gosip memberitakan bahwa Fatin telah menjalin hubungan spesial dengan seorang yang bernama Vino, yang ia kenal sudah cukup lama. Saat diwawancara Fatin terlihat sangat bahagia. Mikha yang kebetulan duduk didepan TV, tersenyum miris, ada kesedihan di lubuk hatinya yang paling dalam.
Dua tahun yang lalu (2015).......
Tak sengaja ia kembali melihat sebuah acara gosip yang mengabarkan bahwa Fatin telah putus dari kekasihnya Vino. Di sesi wawancaranya, Fatin dengan gamblang mengatakan bahwa mereka telah putus. Ada gurat kesedihan di wajah gadis manis yang itu. "Kamu gak boleh sedih Tin, aku gak tega lihat kamu sedih gitu, pengen banget ada didekat kamu, tapi aku tahu aku bukan yang terbaik buat kamu"
Setahun yang Lalu (2016).....
Mikha terpaku menatap sebuah majalah yang cover depannya dihiasi Foto seorang gadis berhijab bersama seseorang laki-laki cukup tampan. Dibagian atas cover terdapat tulisan cukup besar "FATIN DAN WIRA AKAN SEGERA BERTUNANGAN" sementara di sudut bawah cover "Mikha dapat beasiswa ke Inggris, TheOv ingin berkarir di sana" Lagi-lagi Mikha tersenyum miris. Dulu majalah ini pernah menyandingkan foto dan namanya bersama Fatin, tentang memberitakan kedekatan mereka. Hari ini di majalah yang sama pula, namanya dan nama Fatin menjadi Headline news, tapi dalam topik yang jauh berbeda. Airmata menggenang di kelopak matanya. "Hari ini terakhir aku di Jakarta, besok aku akan pergi untuk sebuah mimpi, dan sebuah misi melupakan kenangan kita, membuang jauh rasa yang hingga detik ini belum terhapus. Mungkin disana aku bisa mengubur segalanya" bisiknya didalam hati.
*****
Akhirnya Mikha menyelesaikan pekerjaan beres-beres lemari bukunya. Lemari sudah terlihat rapi. Mikha melirik jam di dinding kamarnya, 2 menit lagi menuju 8 November 2017, hari ulang tahunnya. Matanya kembali berkaca-kaca, ini ulang tahun pertamanya tanpa orang-orang terdekat, tanpa keluarga, tanpa sahabat, sebenarnya masih ada kedua kakanya Reu sama Mad yang juga menetap disini, yang tadi beralasan keluar, tapi ia tahu, pasti mereka pergi membeli kue tart dan memberinya surprise yang sebenarnya sudah tidak surprise lagi. Benar saja, pintu diketuk, saat ia membuka Reu dan Mad membawa kue tart beserta lilin dengan angka 20, ya usianya genap 20 tahun kini. Mereka menyanyikan lagu Happy Birthday.
"Happy birthday bro... All the best deh..." Ujar mad menepuk pundak adiknya.
"Yap... Happy birthday pokoknya segala-gala yang terbaik, ini emang surprise basi, tapi ada satu surprise lagi... Pastinya gak basi" seloroh ruben sambil senyum-senyum penuh misteri.
"Thanks kalian... Tapi masbro, Gue gak penasaran, paling jg tentang makanan, lo pesan makanan banyak-banyak iya kan?! males banget " timpal Mikha sambil merebahkan tubuhnya ke sofa.
"Eittt.. Tunggu dulu... Kalo gak percaya kita panggil aja deh... Wahai kau yang ada disebalik pintu... Muncullah dengan segala pesonamu... hahaha" ujar Reu menirukan gaya presenter TV.
Kemudian di depan pintu muncuk sesosok wanita yang juga membawa kue tart dengan lilin yang menyala. Fatin, ya sosok itu adalah Fatin, Sosok yang sangat ia rindukan kini muncul dihadapannya. Mikha ternganga.
"Happy Birthday buuuuuung.... Makin tua... Gilak itu kumisnya di cukur napa. Nyahaha"
Mikha mengambil kue tart yang dipegang gadis itu, kemudian meletaknya begitu saja di atas meja. Dia langsung memeluk gadis itu, erat sekali. Sebulir airmata yang tak kuasa ia tahan akhirnya jatuh. Wanita di pelukannya pun menitikkan airmata.
Reu dan Mad yang menyaksikan adengan haru-haruan itu ikut berpelukan sesaat tapi kemudian malah saling dorong-dorongan kemudian terjatuh. Mikha melepas pelukannya takkala melihat adengan lucu kedua saudaranya itu. Mereka tertawa.
"Kita keluar yuk mad" ucap Reu ke Mad. Tanpa persetujuan Mad, Reu menarik tangannya.
"Jangan lupa lilinnya ditiup, kasian meleleh dari tadi" celetuk mad sambil berlalu bersama Reu, yang kembali membuat tawa mereka itu pecah.
Kini tinggal mereka berdua di ruangan apartemen itu. Suasana berubah hening. Mereka malah terdiam dan bingung mau bicara apa. Mungkin karena terlalu banyak yang ingin mereka bicarakan, karena hampir empat tahun mereka tak pernah lagi saling bicara. Ketika tatapan mereka beradu, mereka tertawa.
"Hahaha... Apaan sih bung"
"Jagger" ucap Mikha dengan senyum simpul dibibirnya. (Senyum simpul itu yang gimana ya? #ngebayangin -_- lanjuttt).
"Gila kangen banget aku sama kamu bung, kamu jahat, ke Inggris ga bilang-bilang"
"Kamu juga kemaren itu mau tunangan gak bilang-bilang"
"Hah... Siapa yang tunangan??, Oooo kamu lihat di cover majalah kan? Tunangan sama Wira artis pendatang baru itu kan? Haha.. Kamu pasti gak baca isinya.. Makanya lain kali baca. Itu kan tunangan dalam Film yang aku mainkan sama dia.
"Hah?!?!? Jadi setahun yang lalu itu kamu gak tunangan" tanya Mikha terkaget-kaget.
"Ya gak lah, sejak putus dari Vino aku gak ada pacaran, pengennya sih pacaran sama kamu, tapi apa daya kamunya gak mau, takut sama gosip. Ah cemeeeen... heheheh"
"Kalo gitu sekarang kita pacaran"
"Hah?!?!" Giliran Fatin yang terkaget-kaget mendengar ucapan Mikha.
"Iya, kita pacaran"
"Nooo... Aku gak mau"
"Kenapa?"
"Ada ya orang ngajak pacaran dengan ekpresi flat gitu... Gak romantis banget"
Mikha menarik gadis itu kepelukannya, ia mendekatkan wajahnya kedekat wajah sahabat tersayangnya itu. Semakin dekat hingga berjarak hanya sekitar 2 centimeter saja, ia menatap mata Fatin, gadis itu terlihat gugup, saat bibirnya hampir menyentuh bibir Fatin Tiba-tiba tangan Mikha memencet hidung gadis itu. Kemudian tertawa.
"Hahaha..... Kamu mau kan jadi pacar aku? Tenang... Aku gak bakalan cium kamu sebelum kamu jadi istri aku" Fatin mencubit lengan Mikha sambil tersenyum malu-malu.
"Kamu kesini dalam rangka apa?" Tanya Mikha.
"Ya ulang tahun kamulah"
"Cuma itu? berarti cuma bentar dong" wajah Mikha murung.
"Gak juga sih, aku juga dapet beasiswa di sini"
"Demi apa?" Mikha terlihat kembali riang, dia kembali memeluk orang yang sangat ia cintai itu.
"Maafin aku atas keputusan jaga jarak yang aku ambil empat tahun yang lalu itu, itu bener-bener keputusan sepihak dan itu bodoh banget. Maafin aku buat kamu sakit, sedih, kecewa, maafin aku"
"Aku gak pa-pa kok, lagian kamu gak salah, beberapa bulan yang lalu Vino ngasi tahu aku, kalo sebenarnya 4 tahun yang lalu dia pernah marahin kamu deket sama aku, dia ngerasa bersalah banget, trus dia bantuin aku ngurusin beasiswa di sini, dan Alhamdullilah jebol, dia titip salam sama kamu"
"Kalian masih berteman?"
"Masih, jangan takut, aku sama dia benar-benar sebatas teman, dia sering denger curhat aku tentang kamu, dia tau banget kalo aku sayang sama kamu. lagian dia juga udah punya pacar"
"Disini tempat kita" bisik mikha tiba-tiba tanpa mendengar celotehan-celotehan Fatin berikutnya.
"Di sini tempat kita kini, karena gak ada media? Masih takut aja sama media bung" Fatin cemberut.
"Bukan gitu, kita mulai karir kita di sini... Ikut audisi XF disini, gimana? Kita mulai dari awal, tapi kita ikutnya berdua sebagai sepasang kekasih, masuk yang kategory group,"
"Auuuu... Itu so sweet, tapi kalo fans kita di Indonesia tahu???"
"Akan jadi fenomenal, Jagger.. semua pasti dukunglah. Deal???!!"
*FF ini untuk yang belum baca, karena udah aku post duluan di G+ ku. #MaafinYa*
Di backstage setelah penampilannya malam itu, Mikha duduk di sebuah kursi plastik di sudut ruangan itu, ia tertunduk lesu. Melihat hal itu, Fatin yang baru saja keluar dari ruang ganti, langsung menghampiri sahabat baiknya tersebut.
"Are you oke Mik?" Tanya Fatin khawatir.
"Ya" jawab Mikha sambil tersenyum, namun senyuman itu tak mampu menyembunyikan rasa sedih dan kecewanya.
"Really?" Tanya Fatin lagi seraya ikut duduk di kursi yang ada disebelah Mikha.
"Ya" jawabnya sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya.
"Tapi kok mukanya sedih gitu? Jangan sedih dong.. Please!!!! Ga ada manusia yang sempurna di dunia ini, setiap orang pasti pernah buat kesalahan"
"Aku gapapa kok, beneran"
"Ini tu kayak mimpi buruk buat aku, seharusnya aku gak buat kesalahan sefatal itu" ujar Mikha masih terlihat murung.
"Itu manusiawi kok, aku dulu lebih parah malahan"
"Tapi gara-gara aku, perform kita tadi jadi ancur"
"Apaan sih bung, Udah deh.. Udah lewat juga.. Jadiin pelajaran buat kedepannya..."
"Maafin aku ya teman duet!"
"Udah lah ga usah minta maaf gitu, kamu ga salah apa-apa deh.. Ayo semangat lagi!!! Mikha alay taq pernah down, Oke?!" Ujar Fatin sambil mengacungkan kedua jempolnya ke arah Mikha.
"Idididih, siapa coba yang alay?" Ujar Mikha tersenyum menatap mata sahabatnya dalam. "Kamu itu bener-bener sahabat terbaik aku, kamu yang paling ngerti aku disaat aku lagi down gini, kamu itu baik banget, kamu pantes disayangin banyak orang" bisik Mikha dalam hati.
"Aku mau pulang nih, kamu juga kan? Keluarga kamu mana? Anggi mana? Dia juga bareng kalian kan?" Tanya Fatin.
"Iya, mereka nunggu di mobil"
"Sama, mama aku juga nunggu di mobil, kamu mau ke parkiran bareng aku ato gimana?"
"aku mau ganti baju dulu, kamu duluan aja, tar kelamaan. Besok kamu sekolah kan?"
"Yakin nih?"
"Yakin"
"Kalo gitu aku duluan ya" Fatin beranjak dari duduknya, melangkah keluar menuju parkiran, sementara itu Mikha beranjak ke ruang ganti. Fatin menoleh ke belakang, ia melihat langkah gontai Mikha memasuki ruang ganti. Fatin mengurungkan niatnya untuk pulang duluan, ia melangkah ke arah ruang ganti, dan berdiri tepat di depan pintu dimana Mikha sedang berada di dalamnya. Sepuluh menit kemudian saat keluar dari ruang ganti, Mikha kaget mendapati Fatin yang sedang berdiri di depan pintu sambil cengengesan.
"Ya ampun, horror banget ni orang, perasaan tadi udah jalan keluar, eh muncul lagi disini, ngapain kamu masih di sini?" Tanya Mikha heran.
"Hehehe..... Aku takut jalan sendiri ke parkiran"
"Takut sama orang apa sama setan?"
"Mikha jangan bilang-bilang setan tengah malam gini, serem tauk"
"Eh tahu gak, kata orang-orang ni ya, disini tu ada penunggunya" bisik Mikha menakut-nakuti sahabatnya itu.
"Hiiiii.... Udah deh Mik, aku jadi meriding gini, sumpah ga boong"
"Yaelah, norak deh, rame gini juga, haha"
"Hehehe, yuk ah" ujar fatin sambil menggandeng lengan Mikha. Mikha hanya tersenyum, mereka lalu melangkah, dengan langkah seirama menuju parkiran.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba iPhone Mikha bergetar. Ternyata telpon dari Anggi.
"Halo" sapa Mikha.
"Mikh, lama banget, yang lain pada khawatir nungguin di mobil" cerocos Anggi.
"Iya ni lagi jalan kesana" jawab Mikha.
"ya udah cepetan ya"
"Yap" telpon terputus, Mikha memasukkan kembali iPhonenya ke saku celananya.
"Siapa?" Tanya Fatin.
"Mama" jawab Mikha sedikit berbohong, karena dia tidak ingin mengganggu suasana kebahagiaannya bersama Fatin malam itu.
**
Sesampai dirumah Fatin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur di kamarnya, Fatin menghela nafasnya. Teringat kembali kejadian saat GR sebelum acara tadi malam itu. Mikha mengatakan sesuatu kepadanya sebelum Anggi datang karena Anggi juga mengisi acara tersebut, dan Anggi juga didaulat berduet dengan Mikha.
~~~~"Kayaknya aku suka sama dia" ujar Mikha sambil menatap tajam kearah Fatin.
"Anggi kan? Sudah aku duga" ucap Fatin yang matanya terlihat mulai berkaca-kaca.
"Pendapat kamu?"
"Ga ada alasan kamu buat gak suka sama dia, dia baik, cantik, musikalitasnya udah gak diragukan lagi, cocok banget sama kamu Mik"
"Ya, kayak yang pernah kamu bilang ke aku dulu, ada baiknya kita hapus rasa yang ada diantara kita, demi kebaikan semua orang" ucap Mikha datar.
"Ya Mikh, yang paling penting kita tetap sahabatan" Fatin melihat dari kejauhan Anggi melangkah menuju kearah di mana mereka duduk.
"Tu dia udah dateng bung" ujar Fatin seraya beranjak dari duduknya.
"Kamu mau kemana?"
"Nyariin kak Shena dulu, mau curhat, jiaaahaha, gaklah udah kangen aja sama dia" Fatin beranjak pergi.
Alih-alih mencari Shena, ia malah duduk sendiri di sudut ruangan yang sepi, ia merogoh tissue dari dalam tasnya, airmata terus mengalir dipipinya, berkali-kali ia tersedu karena menahan tangisnya. "Ya Rabb, Ini sulit buat aku, tapi aku harus terima bahwa inilah kenyataannya" bisik hatinya.
Tiba-tiba Shena datang.
"Entiiiiiiin, kamu kenapa?" Tanya Shena heran.
"Aku gak pa-pa kak, cuma lagi flu aja"
"Yakin? Ngapain kamu disini sendiri? Yuk ah gabung sama yang lain" Shen menarik tangannya menjauh dari sudut ruangan sepi itu. ~~~~~
Lamunannya buyar saat iPhonenya bergetar, setelah dilihat, ternyata line chat dari Mikha.
Mikha : Apakah kamu sudah tidur? :D
Fatin : Mikhaaaaaaaa... Baku banget bung -_-
Mikha : Hehe... Bandel deh, jam segini belum tidur...
Fatin : Rock and Roll donk....
Mikha : Aku masih kepikiran kekacauan perform AADC tadi.
Fatin : Sama
Mikha : Kamu pasti kecewa, maaf aku ngecewain kamu.
Fatin : Gaklah.. Aku mikirnya terbukti kita emang gak cocok. Anggi jauh lebih cocok sama kamu. Dalam segala hal kalian cocok. Duet kalian tadi itu keren banget.
Fatin meletakkan iphonenya kembali ke atas meja rias yang ada di samping tempat tidurnya.
"Sampai detik ini aku belum bisa menghapus rasa dihati aku ke kamu Mik" bisiknya perlahan seraya menghela nafas yang terasa kian berat.
Sementara itu di kamarnya, Mikha juga tengah menghela nafasnya sesaat setelah mereka menghentikan chatting malam itu "hingga detik ini belum ada yang mampu gantiin kamu di hati aku, Fatin" ujarnya sambil memejamkan matanya.
***
Beberapa minggu kemudian.......
Sore itu Fatin bersiap-siap ke supermarket yang tidak begitu jauh dari rumahnya, ada beberapa keperluan sekolahnya yang mau ia beli. Ketika baru saja keluar dari pintu kamarnya, iPhonenya berdering. Ternyata telpon dari Mikha.
"Halo Mik" jawab Fatin ceria seperti biasanya.
"Hei... Ke taman yuuuk... Boring banget sumpah, aku juga lagi sedih nih, udah lama gak cerita sama kamu. Kita cerita-cerita yuk!!! Kalo mau, aku bawa gitar deh, sekalian kita latihan lagu-lagu buat perform"
"Haduh Mik... Aku gak bisa, aku lagi ada urusan, ajak Anggi aja gih...."
"Kayaknya kamu menghindar sekarang, mana janji kamu yang akan selalu ada sebagai sahabat?" Tanya Mikha dengan nada suara cukup tinggi.
"Gak gitu kok, aku lagi sibuk, beneran deh"
"Gak usah ngeles deh kamu, ya udah, aku gak pa-pa sih, mau kamu lupain juga itu hak kamu. Lagian siapa aku, mau maksa-maksain kamu bersahabat sama aku"
"Mikha kok ngomongnya gitu sih"
"Ya udah deh ya, males ngomong sama orang sombong" sindirnya seraya menutup telpon.
Telpon terputus. Fatin menghela nafasnya, ini memang untuk yang kesekian kalinya Fatin menolak ajakan Mikha. Sudah beberapa minggu ini ia mulai menghindari pertemuan-pertemuan dengan Mikha diluar profesionalitas kerjanya, agar ia tidak terlalu dekat dengan sahabat yang terlanjur ia sayangi itu.
Fatin melanjutkan langkahnya menuju ke mobil.
Mobil mulai ia pacu perlahan, kemudian dengan kecepatan sedang ia menuju supermarket yang tidak begitu jauh dari rumahnya, sekitar dua puluh menit ia sampai ke supermaket yang ia tuju.
Di supermarket Fatin asyik mencari apa saja yang mau ia beli, tiba-tiba tatapannya beradu dengan seseorang yang ia kenal "Anggi" gumamnya.
"Eh kak Fatin" sapa Anggi ramah.
"Hei.. Apa kabar Nggi?"
"Baik kak, kakak sendiri apa kabar?"
"Baik juga"
"Kak, mumpung kita ketemu, ada yang mau aku kasih tahu ke kakak"
"Kasih tahu apa?"
"Tentang Mikha kak"
"Mikha? Emang dia kenapa? Kalian baik-baik aja kan?"
"Dia sayang sama kakak"
"Maksud kamu?"
"Iya kak, dia sayang sama kakak, kenapa sekarang kakak menghindar dari dia? Kasian dia, dia tersiksa kak"
"Kamu ngomong apa sih Nggi? Kakak sama dia cuma sahabatan, dia sayangnya sama kamu, lucu aja kalo kamu bilang dia sayang sama aku"
"Beneran kak, aku emang sayang sama dia, tapi dia sama sekali gak pernah sayang sama aku, setiap kita ketemu, dia jarang ngomong sama aku, tapi kalo udah cerita soal kakak, dia antusias banget, dia seakan gak pernah kehabisan bahan cerita tentang kakak"
"Gak Nggi, dia sendiri yang bilang ke kakak, kalo dia suka sama kamu"
"Aku rasa dia boong sama kakak, itu cuma buat menutupi perasaannya ke kakak, kakak tahu sendiri kan gosip kalian gimana"
"Gak Nggi, kalian pasangan serasi, kalian udah cocok banget, banyak yang ngedukung hubungan kalian, sementara kakak sama Mikha, kita berbeda, dia cuma cocok jadi teman kakak"
"Kakak keras kepala ya, semua sama di dunia ini kak. Dia sering lagi sakit sekarang, aku rasa karena dia terlalu mikirin tentang kalian, kakak juga sayang kan kak sama dia, mata kalian gak bisa boong kak, temui dia sebelum semua terlambat, yakin deh kak, perbedaan bukan jurang buat kalian, akan selalu ada jalan buat orang yang mau berjuang, Tuhan tahu segalanya kak. Dia butuh kakak kak, kalaupun gak bisa sebagai pacar, tetap rangkul dia kak, setidaknya sebagai sahabat"
Fatin melihat jam di screen iPhonenya jam menunjukan pukul setengah lima sore
"Thanks Nggi, kakak pergi dulu" ujarnya kemudian setengah berlari ia menuju mobilnya, kemudian memacu laju mobilnya menuju taman "kamu disana kan Mik, aku yakin kamu masih di sana"
****
Setiba di taman Fatin mempercepat langkahnya menuju kursi sudut taman tempat ia dan Mikha biasa menghabiskan waktu senggangnya.
Dari jarak sepuluh meter ia sudah bisa melihat punggung Mikha, ia memelankan langkahnya, agar Mikha tak menyadari kehadirannya. Tampak Mikha menyanyikan sebuah lagu, dengan seksama Fatin mendengarkan lagu yang Mikha sambil memetik gitarnya
Satu masa tlah terlewati
Benci dan rindu merasuk dikalbu
Ada apa dengan cintaku
Sulit untuk aku ungkap semua
Jangan pernah pernah bibir tertutup
Bicarakan semua yang kau rasakan
Cinta itu kita yang rasa
Biar sengsara hatikan merana
Wahai pujangga cinta
Biar membelai indah
Teladani kalbuku
Jujurlah pada hatimu
Ada apa dengan cinta
Perbedaan aku dan Engkau
Biar menjadi bait
Dalam puisi cinta terindah
Andai bumi terbelah dua
Biar kita tetap saling berpeluk
"Hmmm.. AADC terkeren yang pernah aku dengar, Udah gak salah lirik lagi Ni" ujar Fatin seraya duduk di samping sahabatnya itu.
Mikha yang terlihat kaget langsung menghentikan petikan gitarnya.
"Ngapain kamu ke sini?"
"Kan kamu yang suruh tadi, masa lupa" goda Fatin.
"Bukannya kamu sibuk"
"Gak kok. Tunggu... kamu kurusan sekarang Mik"
"Gak usah sok peduli deh kamu, kamu kan udah gak pernah peduli sama aku"
"Aku peduli kok, Aku udah tahu semuanya"
"Maksud kamu?"
"Kamu sama Anggi gak pacaran kan?"
"Tahu dari kamu?"
"Anggi yang bilang ke aku"
Mereka terdiam untuk beberapa saat.
"Tadinya aku pikir dengan kayak gitu aku bisa boongin diri aku, aku fikir lambat laun aku bisa ngelupain kamu, tapi ternyata aku salah, gak sedetikpun aku bisa ngelupain mau. Kamu itu kayak hantu tahu gak, selalu ngebayang-bayangin aku. Sakitnya lagi, kamu menjauh disaat aku menyadari aku gak bisa tanpa kamu. Kamu juga sakit kan selama ini?"
"Sok tahu ih"
"Ngaku deh, kak shena bilang ke aku, waktu GR acara kreasi, kamu nangis kan?"
"Kak Shena bilang apa ke kamu? Awas deh kak Sen"
"Gak sih, dia cuma bilang "kamu apain anak orang sampai nangis gitu?"
"Maafin aku Mik udah nyiksa kamu gitu"
"Aku yang seharusnya minta maaf, aku yang salah, aku sayang kamu, aku gak mau lagi kehilangan kamu"
"Hmmm.... Emang kamu ngerasa kehilangan aku?"
"Yap... Ngerasa kesepian karena gak ada yang bawel Cripy-cripy kriuk kriuk gitu deh"
"Gariiiiinggg....."
"Pulang yuk" ajak Mikha.
"Yahhh.. Padahal aku pengen nyanyi sambil diiringi gitar sama kamu" ujar Fatin sambil memayunkan bibirnya"
"Besok ya, jangan bawel deh, sekarang kita pulang, udah hampir magrib, tar kamu telat sholat lagi"
"Aku lagi gak sholat, lagi PMS. Hahaha.."
"Hahaha, yuk!!" Mikha mengulurkan tangannya, fatin menyambut uluran tangan Mikha. Dengan berpegangan tangan mereka melangkah bersama, mereka tertawa bahagia, menikmati indahnya kebersamaan, yang kelak akan menjadi sebuah kisah yang takkan pernah terlupakan, kisah klasik tentang indahnya persahabatan, indahnya kebersamaan. Salahkah kebersamaan itu?
*Lihatlah dengan hati yang tulus, maka akan nampak jelas olehmu betapa indahnya kebersamaan mereka, indahnya persahabatan yang dibalut dengan kasih sayang. Bukankah setiap kita pernah diajarkan tentang saling menyayangi antar sesama. Kasih sayang itu tak melulu tentang percintaan.
END
-Thank teman-teman udah baca karya garing saya!!!! Saayang kalian!!! Lagi-lagi saya katakan cerita ini hanya khayalan penulis semata, "just for fun"... Kalo ada yang anggap serius silahkan nyebur ke laut! Biar adem .hehehe... Peace!!
Fanbase yang punya fanbase sendiri. Nggak resmi sih, tapi fanbase ini punya pengamat sosial politik hukum budaya ekonomi pribadi. Bukan fanbasenya aja, tapi membernya juga. Kurang jagger gimana coba? :p
Fanbase yang banyak dijuluki dengan singkatan lain yang akhinya malah...
Hallo Geng, Selamat Ulang Bulan yang ke-5 ya buat @GengKasurJebol tidak terasa ya sudah 5 bulan GKJ terbentuk banyak cerita yang terjadi selama 5 bulan ini, baik itu cerita indah atau sedih. Semua dilalui bareng-bareng.
Kita semua awalnya tidak saling mengenal, tapi rasa sayang kita kepada dua...
Happy Birthday Ibu Suri GKJ @titamhersih
Semoga tetap menjadi tami yang seperti sekarang dalam versi yang lebih baik (terinspirasi quote dr Aya)
Meskipun engkau merasa lelah, jangan pernah menyerah
Kami akan selalu ada menjadi sayap pelindungmu
Jadi BERTAHANLAH
Untuk KITA dan MEREKA
_Geng Kasur Jebol_
ini cerpen pertamaku di GKJ, jadi kalo gaje atoo garing maafin yaa, masih belajar jadi butuh penilaian, kritik dan saran. kritik dan saran bisa langsung dikirim k emailku ajj
terima kasih guys :*
selamat membaca have fun yaaahh
Episode 1
“Brrggg… brgg….” Suara hp bergetar, dengan sigap tangan mungil itu meraihnya. Seutas senyuman tersungging diwajahnya setelah membaca message dari layar hp bergambar apel dengan satu gigitan tersebut, diraihnya tas ransel dan sepatu kat hitam. “Okey I’m ready, go !”
Di tempat lain berdiri seorang cowok yang tengah memetik senar-senar lentik gitarnya yang berwarna hitam putih kotak-kotak. Tiba-tiba berdering sebuah instrument lagu country dari telepon selularnya. Seseorang tengah berbicara sesuatu, dan cowok itu tersenyum, “Sip broo,”
Empat cowok baru saja keluar dari basecamp mereka menuju mobil gunung yang akan membawa mereka pada suatu misi rahasia. “Guys, semua siap ?” seorang cowok bermata sipit mengangkat jempolnya dan dibalas jempol masing-masing rekannya.
Lima menit kemudian … tak ada tanda-tanda
Lima belas menit berlalu … masih belum jelas
Tiga puluh menit lewat … hasil nihil
Satu jam …
Dua jam …
“Pulang dah gue, klo kayak gini !!” diambilnya dua tas besar sambil berusaha menarik kluar dari kerumunan orang-orang di halte. Tapi apa daya badannya yang cukup memenuhi halte kota kesulitan untuk keluar, “heemm.. susahnyee mau keluar aje hrus kayak gini”
Tiba-tiba seseorang menarik tangannya hingga akhirnya terlepas dari kerumunan orang-orang yang tengah menunggu bus itu. Dan … Tarrraaa…. !!!!
“Kak Shena …!!!!!“ gadis mungil tengah ada di depannya sambil tersenyum geli lalu memeluknya erat.
“Bociiiiillll !!! Dasar lu yaah” sambil mencubit pipi bakpaonya lalu memeluknya.
“Maaf ya Shen, pasti dah lama nunggunya” cowok berkulit legam tersenyum padanya memperlihatkan deretan gigi putih yang berjajar rapi, “Tapi kan tadi udah gue bantuin loe keluar dari halte hehee” katanya terkekeh.
Shena melepas pelukannya, “Udah lumutan gue disini, gilaak yaa loo, dua jam gue nunggu sambil desek-desek kan tuuh rasanya lebih miris dari pada ngejomblo”
“Sarkasme banget siih kak, maaf banget deh, habis ini kita semua bakalan seneng-seneng kok kak ” hibur Fatin.
“Mana yang lain ?” Tanya Shena
“Tuh udah di mobil semua” El menunjuk mobil hitam diseberang jalan.
Mereka bertiga berjalan menuju mobil, “Eit,,, tunggu dulu ! EL, Fatin, sebagai hukumannya karena kalian telat banget jemput gue sekarang bawain tas gue okey!”
“Eh .. tapi …tapi … “ Fatin tercekat, tanpa minta balasan shena langung ngeloyor pergi.
“Gilaakk, ini namanya konspirasi telat !! Gara-gara eloh si ntin” El menyalahkan Fatin.
“Eh.. bawa-bawa mikha ? ada apa dengan mikha ? heemm pasti lgi ada ehekehek.. yaah ??” Kak El ngelirik genit menggoda.
“Ga usah kayak gitu deeh kak, kirain kita sahabatan…”
“Bercanda ntin… jangan ngambek yaa” wajah Kak El sok imut gitu natap Fatin sambil matanya berkedip-kedip.
“Woooyy !!! kalian !! jadi ikut ga !!? “ si koko Ryan teriak. Matahari semakin tinggi dan semakin menyipitkan mata Ryan yang sedang melongok dari balik jendela mobil.
“What !! ikut !! wait wait !!” teriak El sambil ngeloyor pergi meninggalkan Fatin yang masih manyun.
“Waa…waa… Kak El curang !! tungguin, ini gimane bawa tasnya !!”
# # #
Semilir angin meniupkan bulir-bulir kantuk, dan benar saja, semuanya terlelap kecuali Bang Romy yang lagi nyopir dan Mikha yang berada di bagian belakang bersama empat lainnya. Mikha tengah sibuk membuka hpnya melihat-lihat twitter miliknya dan tiba-tiba saja dia terbatuk-batuk. Fatin yang sedari tadi terkantuk-kantuk akhirnya terbangun,
“Kamu masih sakit bung ?”
“Eh, sorry, terbangun yaa ? uhukk..uhukk..”
“Kenapa bung ? kalo masih sakit jangan dipaksain kaliik“
“Nggak kok, masak cuman gara-gara batuk ajj nggak ikut acara reunian ini ? sayang banget kan ?” dan tiba-tiba suasana menjadi kikuk.
“Emmm.. eh, mana Bambang ?? nggak kamu bawa ?? wah.. wah.. sudah move on yeee ?? Fatin memecah suasana.
“Hehehe,,, iyee gue udah move on, nggak kayak kamu bung“ kata Mikha sambil garu-garuk kepalanya yang tak gatal, kebiasaan.
“Iddiidiihh… gue ?? gue udah move on kaleeek, kamu bung yang belon move on dari ….” Fatin berhenti… “aduuh gue ini gimana siih ??” Fatin bingung sendiri.
“Dari ..??? hahaaahahaa” Mikha tertawa.
“Tau ga siih Mik, gue tuuuh kangen sama tawa kamu …” bisik Fatin melihat Mikha tertawa lepas.
“Eeehhmm.. kaaamuu.. kaamuu yaaa… gue bilaaanggiin loooh…” tiba-tiba Shena yang tertidur di samping Fatin ngelindur, melihatnya Fatin dan Mikha saling tertawa kecil.
Di sudut hatinya, Mikha bergumam lirih, “Fatiiin Fatin, entah kenapa aku selalu senang bila dekat dengan kamu”
# # #
“Bangun… bangun Brooo. kita udah sampe “ Ryan membangunkan EL dan Bage yang tertidur di mobil bagian belakang.
“Heemm… udaranya sejuk banget niih” Shena melapangkan kedua tangannya menghirup udara pegunungan yang tengah senja.
“Weehh gila niih, lo ternyata punya rumah ala ala nonik Belanda yee ??” Bage sedikit kagum.
“Tapi sedikit ngeri juga siih, serem serem gimana gitu” Bang Romy menimpal.
“Waahh.. ini villa kamu Ko ?? Kereeenn !!?” Fatin yang udah turun dari mobil berkeliling melihat bangunan besar gaya eropa klasik itu.
“Ini milik Opa dan Oma gue, yuuk masuk aku kenalin sama Koh Miing dan Cik Mamik” kata Ryan sambil menggandeng Fatin.
“Kenapa Fatin doank yang diajak ?? Jangan gitulah Yan, lo ga tau yaa..?? Di belakang gue ntar ada yang garuk-garuk tembok” goda El terkekeh.
Semua melihat kebelakang El, ternyata Mikha mengalihkan wajahnya pura-pura tidak tahu. Melihat tingkahnya semua tertawa kecil dan Fatin melepas gandengan Ryan.
“Udah ah, ayoo masuk” Fatin sedikit cemberut walau dalam hatinya berdesir perasaan yang sedikit aneh.
# # #
“Nah ini sahabat lama ayahku, sekarang merekalah yang merawat villa ini” terang Ryan.
“Selamat datang ke villa Nak Ryan, semoga menyenangkan yaa liburan kalian” Koh Miing dan istrinya Cik Miing menyalami mereka satu per satu.
“Okey guys, kamar kalian udah disiapkan, sekarang kita istirahat dulu, nanti malam baru kita lanjutkan misi kita okey! selamat istirahat”
“Wuuih capeknya ngelebihi punya pacar lima” Bage menenteng tas ranselnya menuju kamar bareng El dan Bang Romy.
“Gilak loe, capek apanya coba ? Dari tadi kerjaan tidur mulu, gue niih yang dari Jakarta nyopir terus” Bang Romy nimbrung.
“Pacar lima ? Beehhhh pacar satu aja putus nyambung, punya pacar lima?? Ngimpi dulu sono “ El tak kalah.
“Udeeh udeehh, kalian bertiga satu kamar yaah, di situ” Ryan menunjuk kamar dekat tangga, “Aku ama mikha di kamar sini, trus kak shena dan Fatin kamarnya di atas, yang pintunya ada gambar pohon cemara” terang Ryan.
“Wokeyy broo” sahut Shena.
“What the what ?? elo sama Mikha sekamar ?? Hemm.. ada apa ini ?” kata Bage dengan pose mirip detektif.
“Pasti ada konspirasi hati yang mengguncang labil ekonomi” ujar El meniru gaya Vicky.
“Hei broo, kalian kan bontot-bontot, jadi kamar kalian dipilih yang lebih besar, gue sama Mikha selain sama-sama masih muda, biar ke-alay-an Mikha menular ke gue, iyee nggak broo ??” Ryan meminta persetujuan Mikha. “Terserahlah” ucap Mikha singkat.
“Jangan bilang kalo kalian lagi … titik-titik silakan dilanjutkan sendiri” Bage menyipitkan matanya.
Melihat Mikha yang menjadi bulan –bulanan Fatin melerai “Hei udah udah kasian si Mikha tuuh”
“Ooh.. jadi ada yang merasa kasihan dengan soulmate nyaaa xixixixi…” Bage kembali terkekeh.
“Btw guys ,, ternyata eh ternyata, Mikha udah move on tuuh dari Bambang dan pindah ke gitar catur ” Shena ngekeh melihat Mikha yang memegangi gitar pemberian Avril Lavigne beberapa minggu lalu saat di hongkong.
“Wait, siapa yang bilang gue udah move on dari Bambang ?? Asal kalian tau yaa gue dan Bambang udah kayak soulmate, so ga ada yang namanya move on, okey siip BAY”
“What ?? elo ama Bambang soulmate mik ? Trus Fatin gimane ?Gue kira lo emang LAKI, ternyata… “ Bage memasang mimik muka tak percaya yang alay-alay gituu.
“Ternyata .. ternyata kita sama2 mehong mbooo…” El ikut-ikutan alay..
“Wuahaha… kalian… kalian… gaje semuaa…!!”
# # #
Alam berputar dengan sempurnanya, raja siang tengah berganti tugas dengan rembulan yang memancar cantik di permadani malam. Denting jam tua oval berselaput kuningan mewarnai suasana ketujuh orang yang tengah berdiskusi untuk melancarkan misi rahasia mereka yakni acara reunian anak-anak XFI di bumi perkemahan yang berjarak tiga kilometer dari Villa milik Ryan.
“Kak Shena, Fatin, gimana undangan dan konsep dekorasi panggung beres kan ?” Ryan memastikan.
“Sip broo, semua udah beres, undangan udah di sebar, kosep dekkorasi panggung tinggal eksekusi aja” mantap Shena.
“Oke, undangan dan dekorasi beres, sound system udah ditangani Mikha sama aku, terus Bang Romy, gimana dengan kamera ? udah ready ?”
“Selalu ko, semua kamera siap yee nggak ?” Bang Romy nyenggol Bage yang tengah memainkan gitar catur milih Mikha.
“Yoi broo, tenang ajj semua kamera dan tetek bngeknya udah siap, bahkan sebelum loe loe pade belon lahir semua udah siap”
“Yeee Kak Bage alay kumat niih, eh btw aku ngundang Kak Egha looh kak hahaaa” goda Fatin tertawa.
“What !! What !! Gila loe ntin, jangan donk, adduuh berabe niih! Lo balas dendam niih ceritanya ?!” muka bage sedikit panik.
“Kalo iya emang kenapa ?” kata Fatin puas.
“Emang kenapa kalo Egha ke sini ? seharusnya elo seneng broo “ El menimpal
“Waah, nggak gitu, kalian pada ngga tau… “
“Nggak tau kalo kalian berdua lagi break ?? hahaha” potong Shena tertawa.
“No No No … “ Bage mengelak.
“Ssstt… broo, elo kayak kagak tau ajj, gossip kalian berdua itu selalu cepat menyebar” El mengelus-elus kepala Bage.
“Yeee, bukannya justru Mikha dan Fatin yang lagi hangat-hangatnya ?” lirik Bage ke Fatin dan Mikha
“Wooii, iya yaaa, gimana kabar kalian berdua ?? Off air masih jalan dunk ?” Ryan menggoda.
Bang Romy bersiul-siul riang, Kak Shena berdehem-dehem menggoda.
“Udah-udah yang penting zolmedh tetap memilih setia kan ?” tambah El ngelirik Fatin.
“Apaan, ga usah bawa-bawa lagu KB laah”
“Lagu KB ?”
“Iya, lagu KB, kan pilihlah dengan cepat soulmate antara 2,, anak lebih baik hahahaa” seketika ruangan tengah penuh dengan tawa.
“Guys, gue kangen berat looh saat-saat seperti ini waktu karantina” ucap Shena sambil menyandarkan kepala ke shofa menatap langit-langit villa.
“Iyup, gue juga kangen banget” kepala Fatin dipangku kaki Shena yang bersila.
“Seandainya gue bisa memutar waktu, gue bakalan mengulang-ulang terus waktu kita dikarantina” Bage berpuitis.
“Jadi nggak sabar menunggu besok niih” Ryan menimpal diikuti anggukan Bang Romy dan Mikha memetik gitarnya mengalunkan sebait lagu dengan indah.
Dan begitulah malam ini penuh dengan kebahagiaan yang tenggelam didalam persahabatan mereka. Suasana akrab yang kembali tercipta setelah lama tak bertemu hingga tertidur di ruangan tengah villa megah ini.
# # #
Waktu menunjukkan lewat tengah malam, Bage terbangun dari tidur dan ingin ke kamar kecil, sambil menahan kantuk dan berkali-kali menguap Bage berjalan menuju kamar kecil di sudut barat lantai satu, tetapi saat akan melewati tangga sesosok bayangan hitam berkelebat cepat diantara dua Guci besar di kanan kiri tangga. Bage terkesiap kaget. Matanya memicing waspada.
Perlahan satu langkah demi satu langkah Bage mendekati Guci besar, memasang sikap kuda-kuda bersiap bila ada kemungkinan terburuk dan serangan mendadak. Tinggal tiga langkah menuju Guci besar khas Cina itu, “Siapa itu ?!!” teriak Bage disergapi perasaan was-was. Hening.
Dua langkah … satu langkah … dan … yup !! Bage menggertak di balik Guci besar itu dan hasilnya.. nihil !!Tidak ada sesuatupun di sana. Tiba-tiba terdengar suara air mengalir dari kamar kecil, perhatian Bage berpindah ke arah kamar kecil, dengan hati-hati Bage melangkah kearah kamar kecil. Tinggal beberapa langkah mendekati kamar kecil.
Dan tanpa dinyana pintu kamar mandi dibuka dari dalam … !!!
Bersambung…
(cuplikan episode2)
Siapakah sosok hitam yang berkelebat diantara Guci besar khas cina itu ?? dan siapa yang ditemui Bage di kamar kecil ?? lalu apa yang terjadi dengan Mikha saat perjalanan menuju bumi perkemahan yang menjadi tempat reunian anak-anak XFI ?