Geonusantara Journal of Tutorial
© Program Belajar Bersama Keluarga Geonusantara
The Art of Bird Photography
Dalam penjelasan ini akan dijelaskan cara mengambil gambar burung seindah mungkin dengan momen yang tidak biasa. Jika gambar burung terbang, atau burung yang sedang nangkring sambil menikmati makanan merupakan hal yang sudah biasa terpampang di majalah dan media sosial lainnya di dalam dan luar negeri.
Untuk itu, saya mencoba menyajikan gambar-gambar burung yang sedang berinteraksi dengan anak-anaknya terutama saat si induk memberikan makanan kepada anak-anaknya di saat anak burung ini sedang berusaha untuk bisa terbang dan mandiri.
Banyak pro dan kontra mengenai cara mendapatkan foto yang demikian, ada yang mengatakan bahwa memotret sambil mengikat/ menyiksa/ menggunting bulu, dan banyak lagi tuduhan sinis lainnya sehingga dapat saya tegaskan di sini bahwa hal tersebut tidaklah benar.
Cara setting burung dengan benar dan tidak membuat burung tersiksa dan mati, melainkan bertambah banyak sehingga kita mudah menjumpai burung tersebut karena telah berkembang biak dengan aman sentosa. Oleh karena itu, saya perlu mengatur tempat nangkring dan lokasi si anak burung tersebut sehingga saat kita mengabadikannya dapat sesuai keinginan tanpa mengganggu burung-burung tersebut. Sebaiknya sebelum kita melakukan setting foto burung, kita harus mempelajari siklus hidup burung yang akan kita foto.
Sesuai pengamatan dan pembelajaran saya pribadi selama ini terhadap burung-burung yang telah saya foto, biasanya burung itu akan berkembang biak dengan melakukan ritual yang selalu sama, yaitu :
Membuat Sarang – Bertelur – Mengerami Telur – Menetas – Membesarkan Anak-Anaknya
Saat terbaik untuk mengabadikan burung dengan momen atraktif adalah saat anak-anak burung siap keluar sarangnya untuk belajar terbang/ mandiri yang waktunya kurang lebih hanya 4 – 5 hari saja.
Saat yang tepat adalah 3 – 4 hari sebelum anak tersebut keluar sarangnya, biasanya anak burung akan nangkring di bibir sarangnya atau di sekitar sarangnya berada sebelum belajar terbang. Dan sebaiknya sore hari mendekati gelap, kita ambil anak-anak burungnya, lalu keesokan harinya sebelum matahari terbit kita harus sudah membawa anak-anak burung tersebut di dekat sarangnya berada dengan mengondisikan lokasinya baik tangkringan si anak maupun si induk. Setelah itu barulah kita siap mengabadikan momen-momennya, dan ini bisa berlangsung 4 – 5 hari dalam mengabadikan momennya.
Catatan si induk tidak bisa kita tangkap ya, hanya anak-anaknya saja yang bisa kita pegang dan diamankan. Jangan lupa melepasliarkan si anak burung bila waktunya tiba, biasanya ditandai dengan salah satu anaknya terbang tinggi dan mengikuti induknya. Itulah tanda kapan kita harus melepaskan anak-anak burung yang lain.
Apa yang diperbuat seorang fotografer burung dalam menciptakan frame yang spektakuler hanya dengan menunggu momen datang saja, tanpa berbuat yang tidak-tidak apalagi menyiksa makhluk tersebut.
Peralatan yang perlu dipersiapkan saat memotret satwa liar :
Kamera yang mumpuni dengan spesifikasi jepretan beruntun paling tidak 5 frame/second,
Lensa yang panjang (Supertelephoto Lens) minimal 400 mm dan makin panjang makin baik,
Tripod yang kokoh minimal mampu menahan beban 18 kilogram,
Ballhead yang memiliki kemampuan beban cukup, minimal 18 kilogram dan memiliki fleksibilitas yang baik. Biasanya saya memakai ballhead jenis gimbal bentuknya “L”.
Bawa baterai kamera yang cukup, minimal 4 – 5 cadangan.
Di atas merupakan gambar burung bawah (istilah saya sendiri) karena bersarang di ilalang atau tanaman padi dan mereka saling berbagi tempat bersarang.
Burung Ciblek biasanya bersarang paling atas dari ilalang,
Burung Cici Padi bersarang di batang ilalang yang tengah, dan
Burung Cici Merah bersarang di ilalang paling bawah, hampir mendekati tanah, dan pendek sekali sarangnya.
Burung Ciblek yang Bersarang di Batang Paling Atas
Untuk pengaturan kamera tergantung momen yang diinginkan. Jika momen interaksi hanya nangkring saja minimal menggunakan speed 1/640 saja cukup. Tapi untuk momen memberikan makanan sambil terbang, speed-nya harus tinggi di atas 1/1000.
Untuk bukaan (aperture), tergantung merk kamera yang digunakan. Pada Olympus, F3.2 – 5.6 sudah tajam rata, sedangkan Nikon, Sony, dan Canon harus di atas F6.3. Hal ini dikarenakan Olympus ekuivalennya 2× nya sehingga DOF-nya lebar.
Foto-foto karya Sijanto :
The Art of Bird Photograph Geonusantara Journal of Tutorial © Program Belajar Bersama Keluarga Geonusantara The Art of Bird Photography Sijanto – GeoJabodetabek…