Driyorejo (sedikit di samping Bangkingan dan Lidah Kulon, sebuah dunia abadi Neverland), 11 September 2018
Kisah ini bercerita tentang tiga ekor tupai kecilĀ jika dibahasa Inggriskan sama seperti judulnya Ā yang bertualang ke sebuah gunung yang berada di antara Mojokerto-Pasuruan. Perjalanan ke Gunung PawitraĀ Ā dari Surabaya bisa ditempuh selama 1,5 jam dengan kendaraan pribadi, atau kurang dari 1,5 jam jika pengendaranya sekaliber Valentino Rossi atau Michael Schumacher.
Sebelum start-pos Tamiajeng UTC
Sebelum itu, mari perkenalkan tiga ekor tupai kecil atau sebut saja Mika, Miki, dan Miko. Untuk mempersiapkan diri menghadapi sebuah perhelatan lari akbar di Timur pulau Jawa, tiga tupai kecil ini mengawali satu bulan terakhir menuju perhelatan dengan berlatih ke sebuah gunung yang juga sering disebut sebagai miniatur Gunung Semeru.
Gunung Pawitra ini merupakan salah satu tempat latihan favorit pelari di Jawa Timur karena elevasi yang cukup memadai untuk berlatih dan medan yang mudah untuk digunakan berlari. Tidak heran jika tiga tupai kecil gemar berlatih ke Gunung ini. Lalu megapa memberi judulĀ tiga tokoh utama cerita ini dengan tiga ekor tupai kecil, mengapa tidak dengan tiga ekor ular berbisa atau tiga grizzly bear sajaĀ kalau yang ini tidak bisa karena sudah ada seekor grizzly bear di sekitar kota Malang. Alasan memberi judul menjadi tiga ekor tupai kecil adalah karena kami bertemu banyak satu saja sih sebenarnya, biar dramatisĀ tupai di jalan saat berlatih di Gunung Penanggungan. Begitu saja gaiz.
Perjalanan diawali dari pos pendakian UTC (Ubaya Training Center) atau biasa disebut pos perijinan Tamiajeng. Jika memulai latihan di pos ini, maka orang yang perlu ditemui adalah Cak Ambon, sebuah kewajiban bagi pelari yang akan berlatih untuk salaman dengan Cak Ambon, supaya kuat berlatih dan tidak mutung di tengah jalan.
Please introduce, Cak Ambon the Great
Dari pos UTC tiga ekor tupai kecil berlari sejauh sekitar 7 km melalui jalan beraspal dan pemandangan gunung Welirang-Arjuno-Pundak di sebelah kiri menuju pos pendakian Jolotundo. Rute 7 km yang dilalui tidak berat karena 90 persen medannya adalah jalan menurun, karena hidup itu selalu ada dua sisi, jadi perlu diingat jikaĀ kembali ke pos UTC maka 90 persen medannya adalah tanjakan gaiz. OKEH!
Kurang dari satu jam, tiga ekor tupai kecil sudah sampai ke pos perijinan Jolotundo, sesungguhnya, Jolotundo adalah nama sebuah candi dan pemandian yang katanya bisa bikin jadi awet muda dan shantik. Dari loket Jolotundo, kami langsung menuju ke rute pendakian menuju ke puncak gunung Pawitra.
Rute pendakian Jolotundo bisa dibilang bikin sport jantung karena kemiringan yang lebih miring jika dibandingan dengan rute pendakian UTC.Ā Membutuhkan waktu lebih dari tiga jam untuk bisa mencapai puncak. Tiga jam yang dilewati untuk sampai ke puncak tidak terasa lama karena sepanjang rute pendakian melewati lima candi peninggalan kerajaan Majapahit. Sebuah karya agung yang sangat perlu diabadikan untuk eksistensi dan pencitraan tiga ekor tupai kecil. Bahwasanya tiga jam itu tidak terasa bagi tiga ekor tupai kecil, lantaran seluruh perhatian dan tenaga harus ditujukan demi mencapai puncak.
Lima candi yang kami lewati jika tidak salah adalah Candi Shinta dan entah yang lain apa namanya saya tidak terlalu mengingat karena saat itu sudah terlalu capek dan ingin pulang. Sayang sekali jika pulang harus turun jauh padahal sudah sampai di tengah jalan menuju puncak.
Maaf gais, berhubung saya saat itu sedang dehidrasi karena hanya membawa satu botol mungil air mineral yang tidak sampai 150 ml dan satu botol sprite saja, saya sekarang tidak tahu harus menulis apa karena lupa dan tidak fokus saat berlatih. Jadi langsung saja saya lampirkan foto ya gais. Mianhae
This slideshow requires JavaScript.
Ā Ā The Adventure of āThe Three Little Chipmunksā at The Top of Mt. PawitraĀ Mojokerto Driyorejo (sedikit di samping Bangkingan dan Lidah Kulon, sebuah dunia abadi Neverland), 11 September 2018 Kisah ini bercerita tentang tiga ekor tupai kecilĀ