“Friendship is a serious affection; the most sublime of all affections, because it is founded on principle, and cemented by time.”
— Mary Wollstonecraft, A Vindication of the Rights of Woman
styofa doing anything
wallacepolsom

blake kathryn
todays bird
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Stranger Things
No title available
Game of Thrones Daily

Janaina Medeiros

JVL

oozey mess

shark vs the universe

JBB: An Artblog!
No title available
🪼
$LAYYYTER
ojovivo
Show & Tell

Product Placement
Peter Solarz

seen from Germany
seen from Venezuela
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States

seen from France

seen from Germany
@ginnystelltale
“Friendship is a serious affection; the most sublime of all affections, because it is founded on principle, and cemented by time.”
— Mary Wollstonecraft, A Vindication of the Rights of Woman
Dulu saya kira hidup adalah tentang mencari kebahagiaan, kebahagiaan yang entah apa titik penentunya. Lalu sadar bahwa diri ini belum bahagia pun sudah menjadi salah 1 tahap kesadaran diri yang saya alami saat itu.
Tapi nyatanya semakin banyak hal yang saya hadapi untuk mencari kebahagiaan itu, tak pernah ada sekalipun saya merasakan sebuah ketenangan. Apa mencari kebahagiaan memang tak pernah menenangkan?
Dan mungkin di detik ini jawab bagi diri saya adalah ya, memang mencari kebahagiaan tak pernah menenangkan. Karena Tuhan tak pernah menjanjikan kebahagiaan yang hakiki di dunia, namun cukup. Cukup atas segala yang didapatkan dalam hidup, cukup untuk meminta dan mencari lebih lagi.
Kini, rasanya bagi saya kata cukup menghantarkan pada ketenangan yang tak pernah bahagia tawarkan. Namun justru sebaliknya. Saat hidup terasa cukup, hati merasa tenang, diri ini akan merasa selalu bersyukur dan mencapai titik kebahagiaan yang berbeda. Lagi, untuk saya sendiri, semuanya menghantarkan rasa sedih dan malu atas bagaimana diri ini hidup hingga detik ini.
Betapa terpaku pada bahagia di dunia tak pernah benar-benar menjanjikan bahagia. Be content and at ease.
Kill it, before you fall for it.
Seringkali kita hanya menilai apa yang tampak. Padahal, kita ga akan pernah bisa mengukur seberapa dalam lautan kalau kita ga pernah berenang di dalamnya. Kita ga akan pernah tau seberapa dalam pemikiran seseorang kalau kita ga pernah mau mencoba mengenal orang tsb lebih jauh.
Hidup berdampingan itu tentang menerima, menjaga, dan tumbuh bersama. Menerima baik buruk, menjaga diri agar tak saling tersesat, menjaga ego agar tak saling menyakiti, sampai akhirnya setiap luka, duka, dan cita membimbing kita untuk tumbuh bersama.
Duhai Tuhan semesta alam, berkahilah kami nikmat Iman, Islam, dan Ihsan dalam setiap hembusan nafas kami.
Perjuangan itu tentang kesiapan. Bukan hanya tentang angan akan masa depan yang mungkin ada dalam damba.
Meski payung lebar menjadi pelindungmu di kala hujan, semua tak akan terasa cukup saat kamu bahkan tak merasa sanggup untuk melangkahkan kaki keluar. Pada akhirnya, akan ada seseorang yang lebih membutuhkan payung tersebut di kala ia sedang terburu dan harus menembus hujan.
Melampaui batas bukanlah sebuah kesalahan.
Tapi yang salah, saat kita ga menyadari batas apa yang melekat di diri.
Tentang diri sendiri, dan diri orang-orang di sekitar kita.
Jadi, manusia selalu punya batas?
Iya, manusia terlahir dengan segala keterbatasannya. Bukan berarti tak punya kemampuan untuk berjuang lebih, tapi sebagai penyeimbang akan keserakahan dan tuntutan dalam diri.
Segala sesuatunya ditentukan oleh Sang Kuasa, even if you try to broke the prophecy you were born to till your last breath.
Ego tak akan pernah tau kapan berhenti, bahkan saat kamu merasa abai dan membiarkan ego itu terus hadir membara dalam diri, kedatangan angin hanya akan memercik api dan mendorong ego untuk menggelora.
Seringkali kita terlena dengan amarah, kekecewaan, dan kebencian hanya untuk memenuhi ego. Menambahkan bahan bakar ke dalam api yang berkobar besar, yang tanpa sadar perlahan membakar habis jiwa kita.
Ego seperti apa yang kita pertahankan? Rasa puas untuk menyalahkan seseorang atas yang terjadi pada diri kita?
Lalu apa pengaruhnya saat pengakuan dan permohonan maaf hadir di hadapan kita? Akankah itu menghentikan kobaran ego dalam dirimu? atau justru ego-mu akan meminta pengorbanan yang lebih?
The bigger hatred we have, so is the bigger love we once had.
Makhluk Pemaksa
Banyak manusia yang bersembunyi di balik ucapan "Tidak ada hal mustahil bagi Tuhan", sembari menaruh harapan besar tentang segala yang didamba dan diperjuangkan akan berhasil terwujud.
Sayangnya di saat semua tak tercapai, sebagian menyesal dan tak menerima atas jalan yang telah mereka tempuh dan menyalahkan setiap variabel yang memengaruhi perjalanannya.
Padahal mereka juga melupakan sesuatu, bahwa ketidaktercapaian harapan itu sendiri, juga bagian dari apa yang mereka yakini, "ketidakmustahilan bagi Tuhan".
Bukankah sudah jelas, manusia itu pada dasarnya pemaksa?
Tidak lekas menerima dan hanya ingin meyakini apa yang menurut dirinya benar. Banyak bertanya, tapi juga tak menyadari jawaban dari Tuhannya. Menolak lekas mengimani firman Tuhan dan ingin menemukan jawaban yang memuaskannya.
Memang apa yang ingin dipuaskan? Nafsu dunia?
Sun never ask the sky's permission to rise.
Saat kita merasa hidup terhenti, kenyataannya waktu tetap berjalan.
(ber)taut
kadang kita lupa, saat kita terlalu condong terhadap satu kubu, di saat ada aliran negatif sedikit yang mengalir, itu akan buat kita terpental lebih jauh dari yang kita duga.
setiap orang punya preferensi nya masing-masing. dari situ mereka mulai mengotak-ngotakan apa yang ada dalam pikiran mereka, antara mana yang harus diambil dan mana yang harus dipisahkan. begitupun dengan perspektif, cara berfikir, dan opini. seringkali kita memiliki opini dan berbagai pemahaman masing-masing untuk dipertahankan. bertemu dengan orang yang kemudian satu kaca mata atau satu frekuensi membuat kita semakin kuat mempertahankan idealisme kita dan meyakini diri, bahwa apa yang selalu kita yakini itu benar. sebagian tumbuh menjadi orang bijak, dan sebagian lainnya menjadi pembajak.
sayangnya, karena hal yang namanya preferensi kadang kita lupa, kalau apa yang ada di luar lingkaran kita beberapa mungkin sebetulnya layak untuk dipertimbangkan. dan saat ada yang menyusup masuk tanpa diundang ke dalam lingkaran, itu malah merubah penilaian kita terhadap lingkungan atau sesuatu yang kita yakini. contohnya, orang di sekitar kita.
saat kita merasa ada di satu jalur yang sama, semakin jauh perjalanan kita bersama mereka kita merasa kita paling mengenal mereka, kita merasa kita paling tahu mereka dan merasa sanggup untuk menebak jalan pikir mereka dan tindakan apa yang akan mereka lakukan. hal yang mungkin ga pernah kita sadari, kita tenggelam terbawa arus bersama mereka semakin dalam tanpa bisa mencari pegangan. bagi mereka yang merasa hal itu mulai keliru, mereka memilih mencari batu untuk menjadi penahan agar mereka bisa berhenti dari dorongan arus yang deras. dengan semakin derasnya arus, sebagian mereka mulai menyalahkan kekeliruan tersebut, namun sebagian yang lain terlena begitu saja.
kita pasti pernah berada di posisi orang-orang yang merasa keliru dengan derasnya arus. dari situ pandangan kita terhadap bagaimana arus berjalan menjadi lebih skeptis. kekeliruan menumbuhkan keraguan dan tanda tanya besar. seperti peribahasan nila setitik rusak susu sebelanga yang tidak pernah keliru.
kesamaan dalam pandangan di antara kita dan orang-orang terdekat bisa menjadi pemersatu atau pemecah manakala kekeliruan terjadi hanya sekali.
apa yang kita lihat jernih rasanya menjadi keruh dalam seketika, sama halnya dengan orang.
saat kita melihat orang yang memiliki satu persepsi dan frekuensi kita akan semakin terikat hingga saat satu waktu terjadi perbedaan pendapat yang terjadi kita malah memilih membenci perbedaan pendapat tersebut.
jadi, seberapa jauh kita harus saling bertaut?
Meskipun hidup telah menempamu sedemikian beratnya, tetaplah ingat kita ada untuk berpulang kesana.
Mengembangkan diri dan memperbaiki diri itu perlu, tapi ga ada yg berhak untuk buat kita terburu-buru. Setiap orang punya timeline tertentu.
Meskipun orang bilang lebih cepat lebih baik, kalau bukan sekarang kapan lagi. Tapi kadang ga setiap orang bisa relate dengan hal yang lagi kita hadapi.
Semoga kita selalu diberi kemudahan untuk segera tumbuh dan berkembang. Yakinin aja dulu.
Dear, November
there were two immature soul
impulsively obsessive
pretending okay in a cracked boat
‘know the river is not clear as it is
the muddy river getting them nowhere
the canoe was broken
he was frustrated
and he was hurt
because he was expecting the ship
to sail farther than it is
but she said,
“sorry, for taking you to a lonely space,
and leaving no trace,
'know you will find your happiness,
hope you got no less,
thank you, dear”
Seringkali kita bertanya bukan karena tidak tahu, melainkan hanya karena butuh dibantu.