Di ujung sore langit selatan Jakarta, aku habiskan paruh waktu pulang kerja di pinggir jendela. Menerka-nerka arah hubungan kita yang lebih banyak jeda. Kata purnama yang akan segera tiba, gelap tak harus selalu dirundung duka. Mungkin kita perlu mencarinya, untuk menjauh dari gemerlapnya dunia.
Sejenak pergi dari bisingnya isi kepala, lalu lupakan semua.
Selagi aku masih bisa merangkulmu dari belakang, kamu tak perlu mencari hangatnya kepastian masa depan. Kita hanya butuh waktu untuk berdua dari segala riuh rendahnya gemuruh ibukota, berteduh dari segala apa yang membuat kita menjadi gaduh.
Sesekali rayakanlah sebuah kepergian,
sebab kehilangan hanya berlaku untuk kita yang benar-benar memiliki.
Coba lebih selektif lagi untuk mengungkapkan kesedihan.
Ketika masih ada banyak hal yang bisa kita jadikan alasan untuk bahagia,
risau hanyalah sesuatu yang teralihkan. Kecemasan memang tidak pergi,
hanya saja ada banyak ruang untuk diri kita berdiskusi.
Jauh dari riuh, lepas dari segala rumit, walau sementara.
Setidaknya, kita bisa menikmati tinggi rendahnya ritme hidup.
Ditinggal tapi tak dilupakan, datang tapi tak dirayakan.
Kepergian tanpa kesedihan, dan hal-hal lain yang tidak pernah kita harapkan.
Hidup memang selalu punya banyak kejutan, meninggalkan siapapun
yang tidak siap akan persembahan detik demi detiknya.
Tidak ada kembang api, tidak ada terompet tahun baru.
Apa yang perlu kita rayakan dari ketakutan-ketakutan bertambahnya usia
Adalah Januari yang menjadi sebab semua cerita ini.
Masih terlalu pagi, dingin dan sepi sudah lebih dulu memperkenalkan dirinya.
Jalan-jalan yang lengang, rintikan hujan sisa semalam.
Tidak ada makna apa-apa kecuali abu-abu rasanya.
Hingga akhirnya hambar, dan tujuh hari kemudian beliau berpulang.
Sudah terlalu lama dirimu hilang di tubuh orang lain. Auramu redup,
ibarat tidak ada lagi sinar bintang bulan Juni. Tidak ada lagi cahaya
yang menandingi keindahan langit Eropa Utara. Dingin, meski baru saja
musim semi pergi.
Dedaunan rapuh itu kita, sedangkan angin adalah
waktunya. Kita hilang disapu hari-hari. Tentang rapuh namun tak jatuh,
tidak hilang hanya saja menjauh. Kita hanya tidak lagi berbagi ruang
yang sama, tentang cerita yang tumbuh tapi tak sempat kita tuai.
Kamu tahu? Sejak dirimu pergi, keindahan-keindahan yang menjadi
air mata adalah menikmati matahari sore yang habis ditelan
cakrawala sehabis hujan reda. Sesudahnya saya hanya bisa mengingat
tempat mana yang pernah kita tuju, dengan mimpi yang sama.
Ketika canda menjadi candu, hilang lara ketika kita saling mengisi rindu.
Kita pernah berpegang pada cita-cita yang sama, bahagia di ujung sana.
Sampai akhirnya, kalimat itu patah satu-satu sejalan dengan hidup
kita masing-masing.
Dirimu memilih untuk membentuk halaman baru, meski
kita tahu pilihan hidup memang seringkali memberatkan.
Jika boleh saya meminta satu, jangan sungkan untuk melihat ke belakang.
Saya masih di halaman yang sama, sebab dirimulah awal mula
kata-kata, hingga sampai akhirnya saya tak mau berhenti membaca.
“Karena akan selalu ada yang bertahan dengan yang lama dari
yang hanya sekedar seru pada orang baru”
Nama Penulis: Dhany Damara
Dari: Damara
Untuk: Adinda
Selamat malam, dinda.
Semoga harimu selalu ceria seperti biasanya.
Entah untuk alasan apa aku menulis surat ini, yang mungkin lebih terbaca seperti frasa tanpa makna, sama seperti apa yang kita lakukan satu tahun belakangan.
Aku pun terus menanyakan hal yang sama, mengapa aku tetap melakukan semua ini kepada diriku sendiri, yang jelas-jelas terasa menyakitkan. Melihatmu bersama orang lain, itu menyakitkan.
Aku juga tidak punya jawaban, tentang kenapa kamu memutuskan untuk pergi, bukan memberi nama pasti pada perjalanan panjang yang telah kita lalui. Lalu muncul tanda tanya lain, apa memang cinta setega itu? Yang jawabannya lagi-lagi adalah entah.
Untuk waktu yang sangat lama, aku ada di kelompok orang yang percaya bahwa seorang laki-laki dan seorang perempuan tidak bisa hanya menjadi sahabat saja selamanya, salah satu dari mereka, pasti punya cinta yang dibisikkan dengan pelan dan jarang.
Namun mata pena ini, hamparan kertas-kertas ini adalah saksi bahwa hati manusia memang diciptakan sebesar itu. Setelah semua yang terjadi, aku sekarang percaya bahwa hal itu bisa saja terjadi, dan ya, mungkin salah satu dari mereka memang harus merasakan cinta yang tak berbalas serta rindu yang bisu, sampai akhirnya menyadari, bahwa melihat orang yang dicintainya bahagia adalah kebahagiaan juga untuknya.
Seperti di akhir surat ini, aku sadar bahwa bisa mengenalmu sedekat itu, sudah lebih dari sekedar menyenangkan.
Nama Penulis: Indah N. Safitri
Dari: Daku
Untuk: Engkau yang disana
Loh, aku ini bukan
wanita seperti kebanyakan.
Diriku ini wanita tahan banting.
Tahan hujan juga bisa jadi.
Ya, setidaknya itu yang ibu bilang.
Coba diingat tempo hari, siapa
yang menulis kata ‘menyerah’ lebih dulu?
Coba juga kau buka lagi beberapa lembar buku-mu,
sekitar 345 lembar dibelakang.
Bukannya dirimu yang mencoret kata ‘kita’?
Bukannya aku yang mengajarkan kamu menulis ‘mari coba lagi’?
Lantas sekarang kamu menyalahkan-ku
atas ‘kita’ yang patah? Menyalahkan
diriku tentang ‘kita’ yang mudah pecah?
Tentang ‘kita’ yang basah terkena hujan?
Hei yang disana,
mudah pecah itu wajar.
Semua ‘kita’ bisa pecah, kamu tahu kan?
Apalagi basah karena hujan,
‘kita’ yang lain malahan kebanjiran.
Tapi sudahlah.
Jika ternyata ‘kita’ milik kita tak bisa diselamatkan.
Ternyata tak guna aku beli lem perekat kemarin.
Tak guna pula aku beli payung kemarin lusa.
Pakai duit-ku pula. Kalau begitu,
jual lagi saja lem perekat dan payung-nya.
Sudah tak berguna.
Kemudian uangnya (jika cukup),
akan aku belikan papan nama.
Papan nama yang bisa ditulis-tulis.
Kelak akan kutulis 1 kalimat;
“Dicari, ‘kita’ yang tahan banting, tahan hujan, dan memilki penghapus."
Nama Penulis: Celestinus Hendra
Dari: Hendram Chameleon
Untuk: Amiram
Halo Amiram,
sudah lewat 5 tahun dari 3 Februari 2012 ketika kumpulan puisi Hujan di Bulan Juni milik Sapardi Djoko Damono itu jadi inspirasiku untuk membuat video untuk kamu.
Tahukah kamu bahwa Sapardi dengan puisi 'Aku Ingin' kini begitu populer di kalangan anak-anak muda? Silakan cek. Sudah 5 tahun pula pertanyaan tidak lazim dariku kamu jawab dengan luar biasa "let's make our story!"
Aku tahu sudah tidak ada "our" lagi semenjak malam itu di depan Koloni. Aku tahu bahwa masing-masing telah melewati banyak hal dalam beberapa tahun terakhir ini. Untukmu sudah tidak ada yang tertinggal, namun aku masih menyisakan satu hal saja.
Aku sadar bahwa maaf yang aku sampaikan tidak akan pernah bisa cukup untuk membuatku tenang. Pun bagimu itu sudah tidak relevan. Melalui ini, aku hanya berusaha untuk mencoba sekali lagi. Aku minta maaf.
13 Februari 2017 di Yogyakarta ada sebuah acara yang unik. Mungkin kamu bisa mencari berita mengenai itu. Festival Melupakan Mantan namanya. Aku berencana mengikutinya dan menyerahkan satu hal yang masih tertinggal di aku. Lukisan wajahmu hadiah ulang tahun dari sahabatmu. Lukisan itu sudah kubawa dari tahun 2014 hingga kini. Sudah saatnya aku melepas itu. Dan semenjak kamu memang tidak mau menerimanya, kurasa menyerahkan pada acara tersebut layak dicoba.
Barangkali kita akan dipertemukan
pada langit sore yang sama.
Jingga merona di mata, lalu
dihidangkanya teh hangat sebelum malam tiba.
Sepi bercerita pada retak-retak dinding di kamar,
tidak ada yang lebih usang dari debu-debu
di kaca jendela, kecuali kisah kita yang
tak ingin diselamatkan siapa-siapa.
Hidup dengan nada-nada yang sumbang, perihal
kegagalan yang pernah kita temukan di masa lampau.
Kamu adalah keterbatasan saya, sedangkan
saya tak pernah menjadi kelebihanmu.
Tidak ada lagi patah hati di sini, yang
saya lihat memang hanya rutinitas. Bagaimana
kejamnya Ibukota mampu melahap semua
kenangan kita. Gemuruh hujan yang menghapus semua.
Barangkali kita akan dipertemukan
pada langit sore yang sama.
Pada ukiran-ukiran gedung futuristik di kota,
saat orang lain sibuk mengejar dunia.
Di persimpangan depan stasiun Cikini,
kulihat tukang kopi yang merefleksikan cerita kita.
Pukul lima sore sehabis jam pulang kerja, kita
pernah berjalan-jalan seolah-olah kota ini adalah rumah kita.
Saya sadar, kita semua pernah menjadi
kembang api di tahun baru. Dielukan oleh orang lain,
diterbangkan. Setelah padam, semua terlupakan.
Tersisa hanya debu-debu yang beterbangan, seperti kisah kita bukan?
Puan, sesekali tengoklah kenangan
kita di belakang sana. Kamu akan benar-benar
lihat ada orang yang sungguh-sungguh
memperjuangkan sesuatu yang sia-sia.
Andai aku boleh memberimu sedikit
masukan. Jika kenangan adalah sebuah rumah,
ada baiknya dikunjungi lagi. Sekedar singgah,
dan cari tahu kalau semua masih baik-baik saja.
Sore itu saya terhanyut dengan alunan musik kontemporer ala
pengamen jalanan yang riang di antara pertokoan.
Akhirnya bayangan tentangmu pergi dan saya menemukanmu
pada langit sore dengan awan yang tenang.
Tahun berganti
Orang-orang silih datang dan pergi
Terhampar ratusan hari yang tak bisa kita satukan
Waktu yang enggan berhenti, atau kita yang tak inginkan perubahan?
Di tahun baru
Aku adalah kembang api yang redup
Berharap riuh terompet menyadarkan hatimu
Bahwa kita pernah berbagi seru menjalani hidup
Di tahun baru
Menyisakan Desember yang biru
Senja yang merona mengingatkan aku pada senyummu
Seketika rindu penuh sesak di dadaku
Di tahun baru
Asap-asap jalanan yang kuhirup
Melunturkan bibirku yang terakhir kali kamu kecup
Tepat di bawah hujan kembang api tahun lalu
Di tahun baru
Diammu yang menengahi langit
Menanti bulan-bulan berikutnya Tuhan kita kan satu
Keyakinan kita yang membuatnya sulit
Tahun berganti
Kulepas dirimu dengan hari-hari terbaik yang pernah kulewati
Berakhir sudah hitung mundur tahun baru
Tanpa diriku, tiap hari bisa saja tahun baru untukmu
Semoga perpisahan kita bukan kado natal terburuk sepanjang hidupmu
Kehilangan tentangmu di hidup saya bagaikan buku yang tak menemui halamannya
Adalah kamu yang menjadi semua cerita di tiap tulisan saya
Masih pada buku yang sama, yang tak pernah kamu baca
Kita, adalah kumpulan kata-kata yang tak menemukan akhirannya
Kita, adalah akhir yang tak pernah menemukan penyelesaiannya
Kamu masih menjadi aksara yang tak terbaca
Kamu bagai bayangan yang mengikutiku meski cahaya itu tak lagi ada
Di benak sana, kenanganmu teriak-teriak meski tak semuanya utuh
Karena kamu adalah sepi yang begitu riuh
Tetapi maha magis isi hati kita
Dirimu yang tak lagi kutemui sejak awal tahun lalu
Datang tanpa permisi ke mimpi saya
Mengacak-acak bunga tidur lalu hilang begitu saja
Di sini kita berbicara buka lagi sekedar cinta
Lebih dari itu, ada perasaan yang entah masih bisa saya jaga
Meski memang tidak sedalam lautan di antartika
Adalah air mata, yang santun berbicara meski dirimu tak lagi menyapa
Di antara semua firasat, kita adalah satu yang tak pernah terpikirkan
Hilang semua proses yang kita jalani bagai pelangi tanpa hujan
Rindu berantakan, sepi saling menertawakan
Kita bagai dua jarum jam, yang tak pernah berpapasan
Kepada pena dan tinta-tinta yang dibuang begitu saja
Seseorang mengira cinta adalah tulisan yang ditulis di atas debu jendela
Jika hidup memang lembaran-lembaran halaman yang diretas
Saya rasa kisah kita hanyalah sedikit goresan tinta yang tumpah di atas kertas
Kamu adalah rindu yang tak pernah selesai kubaca, sedangkan saya adalah halaman yang sedikitpun tak pernah kamu buka
Saya tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang terpaku dengan masa lalu.
Hidup tanpa pilihan membiarkan detik terus berlalu.
Ratusan purnama dihitungnya satu-persatu.
Kita berdua lebih tahu arti kata menunggu, tentang perih lebih dahulu melaju.
Kita adalah puisi abadi yang selalu diingat.
Bukan karena ratusan kata yang kita buat.
Bukan pula karena waktu yang tak bisa kita gugat.
Melainkan kitalah sebenarnya, prosa cinta yang mengikat.
Sebelum ini, siapa peduli akan hati kita yang ditinggalkan oleh dia.
Siapa peduli akan kemana kita berjalan di alam semesta.
Satu, dua, atau puluhan tahun lagi, hati tetaplah memiliki tempatnya sendiri.
Tak peduli ratusan kilometer pergi, hati selalu punya tempat pulang untuk dirinya sendiri.
Dahulu hanya luka dan luka.
Hingga kini saya mengerti; cinta itu adalah soal bagaimana mencari jalan pulang.
Sudah berapa banyak musim hujan yang kamu habiskan hanya untuk memikirkan dia yang tak pernah kembali?
Sebagian hujan yang jatuh dari awan, saya percaya di antaranya diciptakan dari air mata.
Dari kelopaknya yang meneteskan duka, ada doa-doa yang diharapkan sampai pada tujuannya.
Sekedar menyapa, atau berharap suatu saat akan kembali pada tempatnya.
Tidak pernah ada kata sia-sia ketika manusia berharap doa pada yang kuasa.
Kalau saja hidup tidak berevolusi. Saya akan memilih bertahan pada sesuatu yang enggan bergerak, dirimu puan.
Sayangnya hidup akan mengikis siapa saja yang diam.
Untuk apa menjadikan seseorang satu-satunya di hidupmu, kalau dia saja menjadikan kamu salah satunya dalam hidupnya.
Saya terpaksa menikam malam, kalau saja rindu terlalu sakit untuk dipendam.
Lima kali musim berganti warna, dirimu selalu saja kulihat abu-abu tak ada jingga.
Demi waktu, dirimu rela jika akan menjadi abu. Melihat api yang meranggas semua kenangan-kenangan yang kamu buat dulu.
Dibiarkan menyala terang dalam gelapnya hatimu yang enggan membuka halaman baru.
Padahal berulang kita diajarkan pada sepi.
Mengikhlaskan sesuatu yang tak pernah kembali lagi.
Jangan memaksa menjadikan suatu yang berharga menjadi sebuah kenangan, kalau akhirnya itu semua membunuhmu secara perlahan.
Biar retak segala ranting, atau patah sekalian.
Tetapi cinta yang tumbuh itu seperti layaknya pohon.
Akan ada lebih banyak dahan tumbuh di cabang yang patah.
Akan ada banyak bunga yang mekar dan merekah.
Karena yang terus berulang suatu saat akan berhenti, dan yang jatuh akan berdiri lagi.
Suatu saat saya akan menemui dirimu kembali pada musim yang berganti.
Di mana abu-abu berubah menjadi nyala warna-warni.
Dirimu yang baru dengan metafora di sana-sini.
If all fails are great memorable words @gipacksaputra - Tumblr Blog | Tumgag