Kepada Teman Baik
Dear teman baik,
Apa kabarmu hari ini, maaf sudah terlalu lama aku tidak menanyakan kabarmu. Bukannya tidak mau tahu, tapi menurutku akan lebih baik jika aku tidak mengetahuinya. Tapi aku selalu berdoa semoga kamu tetap baik-baik saja di dalam segala kelelahanmu. Entah apa yang membuatmu lelah, aku juga tidak tahu. Bukankah jika berbicara tentang kelelahan diantara kita itu lebih cocok disandingkan untukku ya?
Kabar ku? Tak usahlah kamu tanya, dan tak perlulah aku mengabarimu. Aku tidak baik-baik saja, semenjak kamu mengingkari janji untuk saling bertukar kabar denganku setiap hari. Tapi tak apalah, selama kamu bahagia, aku akan jadi orang yang paling senang di dunia.
Untuk kesekian kalinya aku percaya dengan mitos bahwa persahabatan diantara laki-laki dan perempuan tidak akan benar-benar murni menjadi sebuah pertemanan, diantara mereka pasti pernah terbesit perasaan, rasa cinta yang tak terbalas serta rindu yang bisu. Untuk semua cerita-cerita yang kita bagi dahulu, dan segala kecemasanku tentang menunggu kabarmu, aku tidak mengetahui jelas ini rasa sayang sebagai sebuah pertemanan atau lebih dari itu. Tapi semenjak aku tahu kamu lebih dekat dengan dia, aku merasakan sesak di dadaku yang entah apa artinya semua itu. Aku kecewa.
Selamat, aku turut bahagia atas semua hal baik yang terjadi padamu, tapi tidak untuk yang satu ini.
Maafkan aku yang mungkin saat ini kamu melihat aku menciptakaan jarak, dan mungkin saja itu benar. Jarak yang kubuat bukan karena aku membencimu, bukan juga berarti aku ingin menghilang dari kehidupanmu. Jujur, aku selamanya bersedia menjadi temanmu yang paling baik, menjadi tempat curhatmu yang paling teduh, dan penenang jiwamu yang paling rapuh. Namun, saat ini aku harus sadari satu hal bahwa melihat orang yang disayangi bahagia adalah salah satu kebahagiaan juga untukmu. Aku bahagia.
Maafkan aku jika menurutmu keputusanku ini salah. Maafkan aku juga yang untuk keputusan kali ini tidak bertanya padamu terlebih dahulu. Aku merasa akan lebih baik jika aku mencoba mengambil keputusan tentang hidupku sendiri. Terima kasih sudah menjadi penunjuk arah ku yang paling benar, dengan segala petuah dan nasehatmu yang mengatakan bahwa aku harus berani mengambil keputusan atas hidupku sendiri. Aku yang selalu bilang tidak bisa dan harus mengikuti setiap keputusanmu, aku coba untuk mengambil keputusanku sendiri kali ini.
Teman baik, sungguh, diantara semua kecemasan dan kekhawatiranku selama ini, aku hanya ingin kau tetap baik-baik saja.
Doaku selalu menyertai kebahagiaanmu.
Tertanda,
Terhangat dari yang paling hangat di dunia, teman baikmu.














