Aku mencintai mu, Gladys.
Saya, bukan lah pribadi yang sabar dan lambat untuk marah.
Saya cenderung keras dan transparan dalam menyuarakan opini dan perasaan saya. Tumbuh dan dibesarkan oleh seorang ibu yang sama keras dan kaku nya, membentuk saya menjadi individu yang haram untuk merasa lemah. Sedari kecil, saya terbiasa menghadapi banyak masalah dan peristiwa-peristiwa traumatis yang mungkin terdengar tragis untuk anak seumuran saya.
Lahir dari keluarga yang tidak utuh dan tidak ideal, membuat saya terbiasa menjadi anak yang dituntut untuk memahami orang lain.
Lebih dari porsi pemahaman anak seumuran saya pada saat itu.
Saya terbiasa dituntut untuk berpikir dan bertindak layak nya orang dewasa, karna keadaan dan kondisi keluarga yang tak memberi saya ruang untuk menjadi anak yang manja.
Dan untuk itu semua, jujur saya bersyukur kini.
Pelajaran hidup di area bertahan dan memahami orang lain-meski diri saya sendiri sedang berantakan, sudah saya enyam sejak kecil.
Hingga, akhirnya membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang pragmatis. Segala kenangan dan memori buruk, akhirnya membentuk persepsi yang salah. Saya akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang keras, kaku, dan cenderung selalu defensif. Karakter karakter yang ternyata bagi saya, sudah sangat familiar sejak kecil. Karna itu semua adalah karakter mama saya.
Saya pikir,
Menjadi manusia harus selalu kuat.
Menjadi perempuan, harus selalu tegap.
Jika saya mencintai diri saya, maka saya harus selalu menjadi manusia unggul yang prima dan berfungsi maksimal di setiap lini.
Saya harus menjadi pribadi yang selalu kuat dan memakai logika berpikir yang kompleks untuk mengambil keputusan-agar tak menyesal nantinya. Jika saya cinta diri saya sendiri, saya harus bisa menghasilkan banyak uang agar tak hidup susah.
Jika saya cinta diri saya sendiri, saya harus terlihat hebat dan bisa diandalkan dalam segala kondisi.
Jika saya cinta diri saya, saya tidak boleh lemah.
Namun, segala prinsip itu...
Ternyata malah membuat saya semakin jauh dari diri saya sendiri.
Setelah saya berusaha kabul kan nilai-nilai itu,
nyata nya saya malah tak mencintai diri saya.
Bahkan ada waktu-waktu saya seolah marah dan benci pada diri saya sendiri. Seolah saya tak ingin melihat muka saya sendiri.
Setelah saya mengamalkan didikan didikan yang dianggap baik dan perlu, nyata nya saya mendapati beberapa waktu kehilangan diri saya sendiri. Nyata nya, saya sempat merasa asing dengan diri ini.
Saya sempat merasa canggung dengan kehadiran saya sendiri.
Bayangkan, seberapa tidak nyaman nya anda ketika tetap merasa canggung walau sedang sendiri? wkwk.
Saya sadari, ada yang salah.
Ada yang salah, dari cara saya mecintai diri saya sendiri.
Saya diam, coba saya pikirkan dan renungkan kembali segala prinsip yang selama ini saya pegang erat itu. Lalu ketika datang malam-malam kelam yang merenggut tawa, saya sedang sendirian.
Dalam kesunyian itu, kepala saya justru sedang bising bising nya.
Dalam kehampaan itu, saya justru menemukan makna.
Malam panjang yang terasa sepi itu, saya justru bertemu seseorang yang saya cari-cari selama ini.
Saya bertemu Gladys Cornelia.
Saya menemukan diri saya sendiri, yang sempat hilang.
Entah sengaja atau tidak sengaja saya hilangkan.
Akibat pertemuan itu,
Saya jadi memiliki banyak pertanyaan.
Bagaimana kalau ternyata, tidak apa-apa untuk tidak selalu unggul?
Bagaimana, kalau ternyata tidak apa-apa kalau saya lelah?
Bagaimana, kalau ternyata saya tidak selalu harus bisa diandalkan oleh orang lain?
Bagaimana...kalau saya tidak harus selalu kuat?
Bagaimana... kalau ternyata, saya boleh menjadi lemah?
Kalau ternyata, saya bisa mengandalkan orang lain?
Apakah dengan begitu, tidak akan menjadi sesusah itu untuk cinta pada diri saya sendiri?
Jika begitu, apakah mencintai Gladys ternyata tidak seberat itu?
Apakah berarti... akhirnya, mencintai Gladys tidak semelelahkan itu?
Jujur hingga saat ini pun, saya tidak memiliki jawaban konkret dan pasti terhadap pertanyaan-pertanyaan itu.
Namun sekarang saya sadari,
Apapun kondisi nya, saya tak akan menyerah untuk Gladys.
Saya tak akan berhenti untuk terus berusaha mencintai nya.
Meski langit nya tak selalu biru,
Meski nasi nya tak selalu hangat,
Meski bantal nya tak selalu dingin,
Meski air minum nya tak selalu segar,
Meski kepala nya tak selalu waras,
Meski hati nya tak selalu utuh,
Meski datang hari-hari yang ingin saya lewati saja karna terasa terlalu berat.
Meski hadir malam-malam yang tak ingin saya sudahi, karna di waktu itu lah saya merasa aman karna bisa bersembunyi dari dunia.
Mungkin, cinta saya tak selalu penuh untuk Gladys.
Mungkin, ada kalanya cinta ku hanya setengah.
Ada kalanya cinta ku terasa sangat besar dan banyak hingga meluber-luber. Tetapi ada kalanya, cinta ku sangat sedikit dan terkuras.
Ada kalanya Gladys utuh,
Namun, saya usaha kan untuk tidak membiarkan Gladys runtuh.
Ada kala nya, Gladys tak kekurangan.
Namun, tak apa pula jika hadir waktu ketika ia sedang berantakan.
Kali ini, sungguh tak apa.
Bak janji pernikahan di hadapan altar,
saya pun membuat janji.
Janji untuk mencintai Gladys Cornelia,
dalam suka maupun duka,
sehat maupun sakit,
kaya maupun miskin,
waras maupun gila.
Saya akan cintai semua versi diri ini.
Lalu tak lupa saya sematkan banyak terima kasih pada malam-malam yang kini hadirnya tak lagi menyiksa karna saya sudah nyaman dan tak canggung dengan diri saya sendiri haha.
Saya peluk erat Gladys Cornelia.
Terima kasih ya, kita sudah bertahan.
Dari dulu, hingga sekarang.