Day 1, 04/03/17
Hari ini, tidak pernah ku harapkan jika hari ini akan berjalan lancar seperti biasanya. Bagi orang sekitaran hari yang berjalan lancar memiliki persepsi yang berbeda.
Ketika masalahku yang kuhadapi dari sebulan yang lalu telah kuhadapi dengan tenang, kemudian timbullah masalah yang selalu mengakarku dari sejak aku lahir. Masalah yang bertumbuh kemudian dia bercabang-cabang seperti pohon-pohon yang selalu kita lihat.
Adapun perbedaan pohon dan hidup yang selalu kujalani, pohon bercabang memikat mata yang memandang, menyejukkan mata bahkan hati, bagi sebagian orang. Tetapi dalam kehidupanku, yang bercabang adalah masalah. Ya, masalah.
Masalah timbul karena rencana-Nya. Mungkin. Atau hanya aku yang menganggapnya masalah. Tapi orang lain menganggapnya sebagai berkah. Hari ini, saya sadar. Betapa rumit hidup yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk ku jalani. Orang-orang yang ‘mengenal’ saya mungkin saja melihat hidup yang saya jalani hidup yang berjalan seperti orang kebanyakan.
Mereka yang ‘mengjudge’ hidup saya dari sekumpulan aplikasi-aplikasi teknologi yang diciptakan oleh manusia. Klise sekali tulisan yang saya tulisan yang saya tulis ini. Tapi maaf, saya tidak menulis untuk diharap dan dinilai orang. Saya menulis ini karena hati yang tergerak karena ingin.
Jadi, hari ini saya berterimakasih kepada Tuhan. Masalah yang saya takutkan dari sebulan yang lalu behasil saya lalui. Dengan janji saya tidak akan mengulangi hal-hal diluar batas norma pikiran masyarakat sekarang. Terimakasih.
Kemudian, saya yang berharap setelah itu selesai ternyata muncul suatu drama yang baru. Ya keluarga. Keluarga yang saya harapkan sebagai tempat yang dapat saya jadikan sebagai tempat terdamai dan terindah di dunia saya. Ternyata merekalah yang paling menyakiti saya yang paling dalam. Jika saya berharap saya tidak butuh orang lain diluar sana, setidaknya merekalah sebagai tonggak saya untuk berkembang. Ternyata itu salah. Jangan pernah saya untuk berharap besar.
Jika saya menangis karena mereka, itu karena saya sakit. Jika ‘teman-teman’ yg saya harap tidak disamping saya, saya terima. Saya ikhlas. Tapi keluarga? Saya berusaha kuat. Saya berusaha semangat. Bahkan jika orangtua menyakiti hati, saya yakin saya bisa. Bisa menghadapinya. Bahkan jika saya yang disalahkan. Bahkan jika saya yang menjadi korban. Bahkan jika saya dicaci. Saya berusaha kuat.
Bahkan jika mereka meninggalkan saya, saya berusaha hidup untuk mereka. Saya berusaha untuk membahagiakan mereka. Karena sebaik-baiknya teman, sejahat-jahatnya keluarga.
Tuhan, saya memang jahat. Untuk beberapa bulan ini, sudah beberapa orang yang saya sakiti dan sudah berapa orang yang saya khianati. Saya akui saya salah. Jika balasan yang saya terima lebih dari yg saya lakukan, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menghadapinya.
Doa saya malam ini, janganlah Engkau meninggalkan saya. Jika teman-teman dan keluarga meninggalkan dan membenci saya, saya berharap, janganlah Engkau berpaling dariku. Seberapa kali aku mengkhianatiMu, janganlah Engkau meninggalkanku. Bahkan jika memang aku sendiri di dunia ini, yang aku yakini sekarang, Engkau memuliakan manusia yang Engkau ciptakan. Maka dengan kesadaranku ini, saya berusaha memuliakan diri, memperbaiki diri, hingga saya memang pantas untuk bersujud kepadaMu.
Saya tahu, Engkau adalah Maha Penyayang dan Maha Pengasih. Yang aku yakini, Engkau Maha Pengampun. Anggaplah apa yang saya tulis ini sebagai curahan ku kepada Engkau. Saya hanya ingin Engkau mendengar, sudah itu saja. Jika manusia lain tidak ingin mendengar, maka saya percaya Engkau Maha Mendengar apa curahan setiap hamba-Nya.
-Sekian-

















