Masih Bingung Antara Tinggal di Kontrakan atau di Rumah Saudara? Ini Untung Ruginya
Sebagian besar orang bekerja di kota berbeda dari tempat tinggalnya harus mencari tempat tinggal sementara. Biasanya mereka memilih untuk menyewa kontrakan. Di lain sisi, ada juga yang menumpang di rumah saudara yang kebetulan sudah lama menetap di kota yang sama.
Orangtua menitipkanmu ke saudara pada dasarnya untuk tujuan yang baik. Menumpang di rumah saudara kerap dianggap lebih nyaman daripada mengontrak. Bagaimana tidak, tempat tinggalmu bisa senyaman rumah sendiri tanpa harus bayar biaya sewa yang mahal, soal makan pun ada yang memerhatikan, dan saudara bisa diandalkan ketika kamu sedang kesusahan.
Tapi kenyataannya menumpang di rumah saudara tak selalu senyaman itu. Belum tentu tinggal di rumah saudara lebih baik daripada tinggal di kos atau kontrakan. Tak sedikit orang yang sejak awal masa kuliah menumpang di rumah saudara pada akhirnya lebih memilih tinggal di kos atau rumah kontrakan. Ya, pasti ada sisi positif dan negatif ketika menumpang di rumah saudara.
Sisi positifnya:
Hemat pengeluaran
Seringkali alasan utama mengapa orangtua menitipkanmu di rumah saudara adalah untuk menghemat pengeluaran. Biaya untuk bayar kos atau kontrakan rumah itu tidaklah murah. Selain itu, biaya makan juga bisa lebih hemat. Terutama jika kamu merantau untuk kuliah.
Semua pengeluaran dan kebutuhanmu masih ditanggung orangtua. Jadi, kamu tidak perlu bayar kos atau kontrakan rumah sehingga pengeluaran untuk sewa tempat tinggal bisa dialihkan untuk kebutuhan penting lain seperti tambahan biaya semester.
Keamanan
Apalagi jika kamu anak perempuan, tak mudah bagi orangtua untuk melepasmu sendirian di perantauan. Bukan hanya masalah kriminalitas, mereka juga khawatir jika anaknya terjerumus pergaulan bebas. Jadi mereka lebih tenang jika menitipkanmu ke saudara supaya ada yang mengawasi supaya kamu tidak melalaikan ibadah dan keluyuran main sepulang kuliah.
Menemani saudara yang tinggal sendirian
Terkadang orangtua menitipkan anaknya karena dari pihak saudara yang meminta supaya ia ada yang menemani. Terutama saudaramu jika tinggal sendirian seperti suaminya sudah meninggal dan anak-anaknya bekerja di kota yang berbeda.
Sisi negatifnya:
Rasa sungkan dan canggung
Rasa sungkan dan canggung pasti ada ketika menumpang di rumah saudara untuk waktu yang lama. Terutama jika hubungan kamu dan mereka tidak terlalu dekat meski saudara yang ditumpangi adalah saudara kandung orangtua. Atau saudaramu rasanya bersikap terlalu baik dan kamu memiliki sifat tidak enakan. Apa-apa jadi serba canggung. Terkadang untuk makan saja terasa sungkan. Sebelum ditawari kamu tidak berani mengambil makan duluan.
Dilema dan rasa tidak enak
Kamu pasti memiliki rutinitas tersendiri ketika di perantauan, entah itu kuliah ataupun bekerja. Sepulang kuliah atau kerja, tubuh pasti terasa lelah. Ketika tinggal di rumah saudara, pasti ada rasa tak enak ketika tubuh lelah tapi banyak cucian piring atau rumah berantakan.
Karena demi kesopanan dan balas budi, kamu pun seringkali harus merelakan waktu istirahat untuk melakukan pekerjaan rumah. Jika kamu tidak peka terhadap hal semacam ini, saudaramu mungkin menyebutmu anak pemalas dan tidak tahu balas budi.
Beda rumah, beda peraturan
Beda rumah, beda pula aturan yang diterapkan oleh sang pemilik. Jika di rumah sendiri kamu bisa makan sambil menonton televisi, hal itu mungkin tidak diperbolehkan ketika kamu menumpang di rumah saudara. Kamu juga mungkin harus bangun lebih awal menyesuaikan dengan kebiasaan pemilik rumah.
Terkadang ada saudara yang ditumpangi secara lugas memberikan tugas pekerjaan rumah tertentu sebagai imbalan kamu menumpang di rumah mereka. Tentu akan jadi bahan omongan jika sepulang kuliah atau kerja, kamu keluyuran main padahal banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Sifat asli saudara yang sedikit demi sedikit mulai terbuka
Terutama jika kamu menumpang di rumah saudara dengan jumlah penghuni yang banyak. Misalnya paman dan bibimu sudah memiliki beberapa anak, dan kondisi ekonomi mereka juga pas-pasan. Tak jarang ada saudara yang menerima setengah hati ketika ada yang menitipkan anak kepada mereka karena merasa tak enak.
Selain itu, mungkin tak semua anggota keluarga menerima dengan tangan terbuka. Dalam kondisi seperti ini, kamu mungkin akan merasakan diskriminasi atau bahkan merasa seperti orang asing padahal di rumah saudara sendiri.
Ketika kamu menetap di rumah satu keluarga dalam waktu lama, perlahan kamu juga akan tahu seperti apa sifat asli mereka. Namanya juga manusia, pasti ada sifat dan kebiasaan negatif dalam dirinya. Di masa-masa awal menumpang, kamu mungkin cukup kaget ketika tahu sifat asli saudaramu. Lama kelamaan kamu akan terbiasa, tapi sifat asli tersebut bisa saja membuatmu semakin hari semakin tidak nyaman dengan mereka.
Itulah beberapa sisi positif dan negatif ketika menumpang di rumah saudara. Tinggal bersama saudara membuat kebutuhan dan keamananmu selama di perantauan lebih terjamin. Di lain sisi, kamu mungkin menjadi lebih sulit untuk berekspresi menjadi diri sendiri karena ada sejumlah hal dan peraturan yang harus dipatuhi.
Jika kamu tinggal di kos atau kontrakan, hal itu baik untuk membuatmu jadi pribadi yang lebih mandiri. Tapi karena tidak diawasi langsung oleh orangtua, kamu juga lebih rentan terbawa arus pergaulan. Jadi wajar jika orangtua khawatir dan memilih menitipkanmu ke saudara.
Kalaupun kamu bersikukuh ingin tinggal di kos atau kontrakan, bicarakan baik-baik dengan orangtuamu. Yakinlah mereka bahwa kamu akan fokus pada tujuan menuntut ilmu dan mengejar karir impian, serta bisa menjaga diri guna terhindar dari pergaulan bebas dan hal-hal negatif yang bisa merugikan masa depan.
Kontrakan Murah vs kontrakan Mahal: Pilih Berdasarkan Kebutuhan bukan Keinginan
Membeli rumah menjadi life goal banyak orang. Pasalnya, rumah kerap menjadi ukuran mapan seseorang. Namun, mimpi memiliki rumah sendiri tampaknya semakin sulit diwujudkan mengingat harga rumah semakin meroket dari tahun ke tahun. Sehingga mengontrak rumah menjadi pilihan yang diambil.
Setiap orang tentu memiliki kriteria tersendiri ketika mencari kos atau kontrakan rumah. Untuk yang beraktivitas di kota, kebanyakan dari mereka ingin hunian sewa yang dekat tempat kerja supaya bisa terhindar dari kemacetan. Selain itu, para pekerja yang belum berkeluarga umumnya menyukai rumah kontrakan dengan fasilitas lengkap. Mulai dari tempat tidur, lemari, kamar mandi pribadi, Wi-Fi, TV kabel, pendingin udara, pemanas air, dan lainnya.
Harga sewa kos atau rumah kontrakan berbeda-beda tergantung lokasi, fasilitas, dan kondisi fisik bangunan. Tapi secara umum, ada harga ada kualitas. Semakin lengkap fasilitas yang ditawarkan, berarti semakin mahal pula biaya sewa kontrakan tersebut. Apalagi di kota-kota besar, tarif sewa untuk kos atau kontrakan rumah yang berfasilitas lengkap bisa mencapai belasan juta per bulan.
Sah-sah saja jika Anda ingin tinggal di hunian sewa yang nyaman dengan fasilitas yang memadai serta lokasi strategis. Meski secara finansial Anda mampu, baiknya ketika mencari hunian sewa, Anda tetap menyesuaikannya dengan kebutuhan. Mungkin Anda memiliki gaji yang besar. Tapi coba hitung kembali berapa biaya hidup yang harus dikeluarkan jika Anda menyewa hunian yang mahal.
Bila biaya sewa saja sudah mencapai 30-40% gaji, ditambah biaya makan sehari-hari dan kebutuhan lainnya, berapa sisa gaji Anda per bulan? Masih adakah sisa uang untuk ditabung? Ingatlah saran para pakar keuangan untuk menabung setidaknya 10 hingga 15% dari gaji setiap bulan. Selain itu, idealnya Anda juga menyisihkan dana darurat sebesar 5% dari gaji. Jadi jika ada hal-hal tak terduga, Anda tak langsung mengganggu uang tabungan.
Ya, faktanya mengelola gaji itu tak mudah. Bahkan tak sedikit orang yang sebetulnya bergaji besar, tapi selalu habis saja di akhir bulan dan uang gaji tersebut tidak jelas ke mana menguapnya. Seringkali orang-orang sulit membedakan antara hal-hal yang menjadi kebutuhan dan hal-hal yang menjadi keinginan. Saat kedua hal itu sulit dibedakan, maka kondisi keuangan bisa berantakan. Bukankah tujuan Anda bekerja adalah untuk meraih kemerdekaan finansial?
Maka dari itu, ketika Anda harus mencari hunian sewa, carilah yang terjangkau sehingga tidak memakan terlalu banyak porsi pendapatan. Yang penting nyaman dan aman. Secara umum, kondisi bangunan yang masih bagus, fasilitas yang lengkap, lingkungan yang bersih dan lokasi yang memberikan akses mudah saat bepergian dapat menunjang kenyamanan ketika menetap di hunian sewa. Tapi hunian dengan kriteria seperti itu tak berarti selalu mahal.
Untuk memudahkan Anda mencari kontrakan yang terjangkau tapi tetap nyaman, simak beberapa tips di bawah ini:
Kondisi fisik bangunan yang baik
Kos atau kontrakan rumah dengan kondisi fisik bangunan yang baru cenderung cenderung disewakan dengan biaya sewa yang mahal. Yang lebih penting adalah kondisi fisik dari kos atau rumah kontrakan dalam keadaan baik dan tidak berpotensi membahayakan penghuni.
Misal kondisi kusen dan dindingnya masih kokoh, atap tidak bocor, dan lantai tidak retak. Jika Anda berniat membawa banyak barang, pastikan apakah ruang yang tersedia cukup untuk menampungnya. Selain itu, pastikan pula pencahayaannya baik dan ada ventilasi yang memadai. Dan apakah kamar mandinya dalam kondisi baik dan terawat?
Fasilitas yang cukup
Cukup bukan berarti serba lengkap. Tetapi cukup untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Jika Anda seorang mahasiswa pekerja yang masih lajang, kamar kos dengan fasilitas dasar tempat tidur, lemari, dapur bersama, Wi-Fi, dan tempat parkir, rasanya sudah cukup untuk menunjang kenyamanan.
Beda cerita jika sudah berkeluarga dan punya anak, Anda membutuhkan hunian dengan ruang yang lebih luas. Jadi intinya fasilitas saat mencari kos atau kontrakan disesuaikan dengan kondisi masing-masing, tapi jangan sampai memberatkan keuangan.
Sumber air bersih memadai
Air bersih merupakan salah satu aspek pertimbangan penting saat mencari hunian sewa yang nyaman. Setiap orang membutuhkan air bersih untuk minum, mencuci, mandi, maupun memasak.
Ketersediaan air bersih yang kurang memadai bisa meningkatkan kerentanan terhadap penyakit dan membuat peralatan rumah tangga cepat rusak. Jika Anda memiliki mesin cuci, air yang kotor memicu kerusakan komponen di dalam mesin cuci lebih cepat sehingga membuat hasil pencucian tidak maksimal.
Lingkungan aman
Carilah kos atau kontrakan rumah yang jauh dari kawasan rawan pencurian, kerusuhan, dan kriminalitas lainnya. Meski tinggal di rumah kontrakan mahal dan bagus, Anda tidak akan nyaman dan gelisah jika di lingkungan sekitar sering terjadi kasus pencurian. Begitu pula jika sering terjadi tawuran antar warga. Waktu istirahat Anda yang tenang akan terusik.
Karena itu, sebelum setuju untuk menyewa kamar kos atau kontrakan rumah, pastikan Anda juga telah bertanya kepada pemilik rumah, ketua RT/RW, atau warga sekitar mengenai sistem keamanan di lingkungan tersebut. Apakah ada satpam atau ronda bergilir setiap malam.
Selain itu, Anda juga bisa mempertimbangkan untuk memilih rumah kontrakan yang memiliki pagar guna meminimalisir pandangan dari luar supaya tidak mengundang perhatian pencuri yang sedang mangsa.
Survei ke beberapa tempat
Jangan malas untuk melakukan survei ke beberapa lokasi kos atau kontrakan rumah. Dengan begitu, Anda bisa membuat perbandingan antara satu tempat dengan tempat lainnya. Sehingga Anda bisa menemukan kos atau kontrakan rumah dengan harga sewa yang terjangkau serta fasilitas dan lokasi yang baik.
Dengan mencari hunian sewa yang terjangkau, Anda bisa menyisihkan uang lebih banyak untuk ditabung. Tentunya Anda tidak ingin mengontrak selamanya bukan? Ingatlah bahwa harga properti itu terus naik dari tahun ke tahun. Kalaupun tidak bisa membelinya secara tunai, ada alternatif kredit yang bisa diambil, baik itu lewat bank ataupun langsung ke pengembang.
Sekarang pun bank syariah juga memiliki program kredit rumah untuk Anda yang ingin kredit rumah secara syariah. Karena itu, menabunglah sejak dini setidaknya mempersiapkan untuk uang muka rumah.
Selain menabung, Anda juga perlu berkomitmen untuk hidup hemat dan sederhana. Selalu prioritaskan untuk hal-hal yang sifatnya kebutuhan bukan hanya keinginan semata. Tak hanya itu, belajarlah untuk mengurangi kebiasaan-kebiasaan kecil yang kerapkali menghabiskan uang tapi sebetulnya tidak terlalu penting. Seperti beli air minum kemasan, nongkrong di kafe sambil menikmati secangkir kopi mahal, atau jajan camilan ke minimarket.
Membiasakan diri memprioritaskan kebutuhan daripada keinginan dapat menghindarkan Anda supaya tidak terjebak masalah finansial. Keuangan bisa tetap sehat dan barang atau sesuatu yang diimpikan juga bisa segera tercapai karena Anda bisa menabung secara konsisten. Bukan tidak mungkin Anda bisa segera memiliki hunian sendiri sehingga tidak perlu menyewa pada orang lain lagi!
7 Hal yang Bisa Disyukuri Meski Tinggal di Kontrakan Murah
Tak semua pasangan yang baru menikah sudah memiliki rumah sendiri mengingat harga rumah saat ini sangatlah mahal. Sulit menemukan rumah dengan harga terjangkau. Kalaupun ada program rumah murah, lokasinya di daerah pinggiran. Sehingga tidak efisien bagi yang bekerja di pusat kota. Maka dari itu, banyak orang lebih memilih untuk tinggal di rumah kontrakan.
Memulai hidup baru dengan pasangan setelah menikah sesungguhnya adalah pengalaman hidup yang berharga. Tak apa walau hanya berupa rumah kontrakan murah nan sederhana. Setidaknya sudah memiliki keinginan untuk belajar lebih mandiri dan tak lagi merepotkan orangtua.
Tapi seperti manusia lainnya, terkadang ada sedikit iri ketika melihat teman atau saudara sudah memiliki rumah sendiri walaupun mereka membelinya dengan sistem kredit di bank. Ketika sulit mengendalikan nafsu dan gengsi, kita pun ingin ikut-ikutan ambil kredit. Tak apa berhutang asalkan punya rumah sendiri daripada buang-buang uang untuk bayar sewa kontrakan rumah.
Mengambil kredit rumah lewat bank memang sah-sah saja. Tapi banyak aspek yang harus dipertimbangkan secara matang. Apalagi jika kondisi finansial belum stabil, memaksakan diri untuk kredit menjadi berisiko. Mengontrak rumah menjadi pilihan yang lebih aman. Pasalnya, tak sedikit orang yang mengambil kredit rumah tapi harus over kredit atau bahkan disita oleh bank karena kredit macet.
Mengontrak rumah tidak menjadi sesuatu yang dipandang negatif. Memang saat ini pasangan muda yang hidupnya bergelimang harta, entah itu hasil dari kerja keras yang ia lakukan atau warisan orangtua. Namun sebetulnya kita tidak perlu iri dengan rezeki orang. Terutama jika Anda beragama Islam, ingatlah bahwa Allah SWT sudah mengatur dan menentukan rezeki setiap hamba-Nya.
Jadi, baiknya besar kecil rezeki yang diperoleh saat ini perlu disyukuri. Mengontrak rumah justru bisa membuat Anda bersyukur akan banyak hal. Setidaknya ada 7 hal yang menjadi alasan kita harus selalu bersyukur walau hidup dalam berbagai keterbatasan:
1. Nikmat yang tak terhingga
Ketika harta kita lebih sedikit dari orang lain di sekitar kita, terkadang muncul kekecewaan dan rasa marah pada Tuhan. Padahal, tolok ukur kesuksesan seseorang bukan hanya dilihat dari jumlah hartanya, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada orang-orang dan lingkungan sekitar. Ketika hanya mampu menyewa rumah kontrakan murah yang sederhana, sudah sepatutnya kita bersyukur karena masih memiliki rezeki yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Seringkali kita lupa bahwa nikmat dari Allah SWT itu begitu tak terhingga. Ingatlah dalam Al-Quran pada surat Ar-Rahman ada kalimat yang sebanyak 31 kali “fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban” yang artinya “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Kalimat itu hendaknya selalu dijadikan pengingat untuk selalu bersyukur atas apa pun yang diperoleh dalam kehidupan.
2. Kesehatan
Bukan hanya dalam bentuk uang, nikmat sehat juga begitu berharga. Namun seringkali kita lupa mensyukurinya. Coba bayangkan tanpa tubuh yang sehat, bisakah kita mencari rezeki untuk menafkahi keluarga? Tetap bisakah kita menjalankan ibadah dengan baik?
Sulit melakukan aktivitas sehari-hari ketika tubuh dalam keadaan sakit dan lemah. Maka sudah sepatutnya kita bersyukur atas tubuh sehat yang kita miliki. Dengan nikmat sehat, maka kita bisa menikmati nikmat-nikmat lain dari Allah SWT.
3. Banyak harta bisa membuat kita lalai
Kala diri ingin mengeluh karena keadaan, percayalah bahwa Allah SWT telah menyiapkan skenario terbaik untuk hidup kita. Jika kita bisa mensyukurinya, pendapatan pas-pasan pun bisa dirasa lebih dari cukup. Begitu pula sebaliknya, tak sedikit orang yang tampaknya banyak harta tapi setiap bulannya dibuat pusing dengan tagihan hutang, mulai dari tagihan kartu kredit, cicilan rumah, cicilan kendaraan, dan sebagainya.
Disadari atau tidak, harta yang banyak bisa mendorong seseorang menjadi lalai pada kewajiban beribadah. Ya, manusia pada dasarnya memiliki sifat tak pernah puas. Apalagi jika berhubungan dengan materi dunia. Tak jarang demi memperkaya diri, orang-orang melakukan korupsi. Shalat pun kerap ditinggalkan, bertingkah angkuh, dan semena-mena terhadap sesama.
4. Tidak ada rumah adalah kesusahan
Mungkin rumah kontrakan yang Anda tinggali tak sebagus rumah saudara atau teman Anda. Tapi tetaplah tak henti mengucap syukur karena masih bisa tinggal di hunian yang layak, yang dapat melindungi dari panas, hujan, dan bahaya lainnya. Sementara di luar sana, banyak yang rumahnya hanya berupa gubuk, rumah kardus, atau kolong jembatan.
5. Waktu
Allah SWT bisa menentukan Anda lahir di zaman perang atau sebelum kemerdekaan. Tetapi bersyukurlah karena Anda lahir di zaman yang lebih maju dan relatif aman dari ancaman perang. Selain itu, setiap harinya, sudahkah Anda bersyukur setelah bangun tidur masih diberi waktu untuk beraktivitas di dunia? Jika kita renungkan, di saat yang sama, ada orang-orang yang mungkin tidak bisa bangun lagi dari tidurnya.
6. Keluarga yang selalu mendukung
Mungkin ada beberapa saudara yang kerap bergosip tentang Anda atau bahkan merendahkan karena sudah bertahun-tahun menikah masih tinggal di kontrakan. Tapi pasti ada anggota keluarga atau saudara lainnya yang selalu memberi dukungan untuk Anda. Mulai dari orangtua, kakak, adik, atau bahkan sepupu. Untuk itu, silaturahmi dengan keluarga harus selalu ditingkatkan. Jangan karena minder atas keadaan, Anda jadi kerap menghindar dari acara-acara keluarga.
7. Tempat tinggal yang menyenangkan
Sekalipun memiliki rumah yang bagus, hal itu tak menjadi jaminan kebahagiaan. Terlepas dari besar atau kecil, milik sendiri ataupun mengontrakan, yang lebih penting adalah ketenangan di rumah tersebut. Hendaknya kita selalu mengisi rumah kita dengan doa, ibadah, canda tawa, kerukunan, dan keharmonisan supaya menjadi tempat tinggal yang menyenangkan dan membawa keberkahan.
Jika diri terus mengikuti apa kata nafsu dan gengsi, seberapa besar pun harta yang dimiliki, Anda mungkin tidak merasa pernah puas. Selalu ingin memperoleh yang lebih dan lebih lagi. Maka dari itu, bersyukurlah supaya Anda bisa merasa cukup, bahkan dalam kondisi kekurangan. Hendaknya kita hidup di dunia tidak fokus untuk pamer harta, tapi bagaimana supaya bisa bermanfaat bagi sesama.
Jika melihat saudara atau tetangga yang lebih baik ekonominya, ingatlah di sekitar masih ada orang-orang yang hidup lebih susah dari Anda. Lihatlah ke “atas” untuk urusan akhiratmu, dan lihatlah ke “bawah” untuk urusan duniamu.
5 Tips Hidup Irit di Kos atau Kontrakan Demi Menabung untuk Masa Depan
Banyak orang merantau setelah lulus SMA (Sekolah Menengah Atas) baik untuk melanjutkan pendidikan ataupun mencari pekerjaan. Jika tak ada saudara di kota rantau, maka mencari tempat tinggal sementara berupa kos atau kontrakan pun menjadi pilihan. Tetapi harga sewa kos atau kontrakan nyaman di lokasi strategis saat ini cukup mahal.
Apalagi untuk anak kos dari keluarga ekonomi pas-pasan atau pekerja fresh graduate yang gajinya masih rendah. Membayar uang sewa tiap bulan mungkin saja memberatkan. Jangankan bisa menabung, bisa cukup untuk makan sebulan saja sudah membuat hati lega.
Padahal menabung untuk masa depan itu penting. Lebih dini lebih baik. Untuk itu, baiknya mencari kos atau kontrakan dengan harga yang lebih murah. Kebanyakan orang inginnya tempat tinggal yang dekat dengan kampus atau tempat kerja. Tapi kos atau kontrakan seperti itu biasanya ditarif lebih mahal karena faktor lokasinya yang dianggap strategis.
Untuk menyiasatinya, carilah kos atau kontrakan yang lokasinya agak jauh tapi kampus atau tempat kerja masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Tak apa jika menemukan kos atau kontrakan yang lokasinya masuk gang. Yang penting bangunanya dalam kondisi baik, tersedia air bersih, dan aman. Jika membawa kendaraan, kamu bisa mencari alternatif dengan jarak yang lebih jauh. Tapi pertimbangkan pula berapa biaya transportasi yang harus dihabiskan nantinya.
Setelah menemukan kos atau kontrakan yang dirasa nyaman, saatnya kamu mengatur siasat berhemat. Ya, kalau kamu ingin menabung untuk masa depan, mau tak mau harus hidup irit. Nah, berikut setidaknya 5 tips hidup irit di kos atau kontrakan demi menabung untuk masa depan yang bisa kamu terapkan:
Menabung pas awal bulan
Berkomitmenlah dengan diri sendiri untuk menabung setiap bulan secara konsisten. Ada baiknya biasakan untuk menyisihkan dana tabung di awal bulan saat menerima gaji atau kiriman dari orangtua. Jika kamu tipikal orang yang susah menyimpan uang, ikut program tabungan berjangka di bank. Nominalnya tak harus besar, bisa mulai dari Rp 100 ribu per bulan. Yang penting konsisten. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.
Buat anggaran pengeluaran
Buatlah anggaran pengeluaran bulanan agar keuanganmu lebih terencana. Tetapkan anggaran makan, pulsa, biaya belanja (seperti membeli sabun, pasta gigi, dan sebagainya), hingga rekreasi. Pastikan untuk tidak besar pasak daripada tiang. Jika ternyata totalnya lebih, perkecil anggaran untuk kebutuhan yang sifatnya tidak mendesak.
Memasak sendiri
Ketimbang membeli makan di luar yang belum tentu sehat dan higienis, lebih baik untuk memasak makanan sendiri. Bagi kembali jatah uang makanmu untuk dipakai belanja bahan makanan secara mingguan.
Kalau di kos atau kontrakan tidak ada dapur, ada banyak menu makan yang bisa dibuat menggunakan rice cooker. Kalau tidak ada kulkas, kamu bisa lebih banyak membeli bahan makanan yang tahan lama walau disimpan di suhu ruang. Misalnya kentang, ubi, tomat, apel, alpukat, pisang, oatmeal, dan lainnya. Selain itu, menu makan yang kamu sebaiknya juga dibawa sebagai bekal ke kampus atau tempat kerja sehingga tak perlu jajan lagi ketika makan siang.
Kurangi “latte factor”
Latte factor adalah kebiasaan-kebiasaan sepele yang menghabiskan uang tapi sifatnya tidak terlalu penting. Hal inilah yang seringkali menyebabkan gaji bulanan habis tapi tidak disadari ke mana menguapnya. Untuk itu, kamu perlu mengenali latte factor-mu dan belajar sedikit demi sedikit untuk menguranginya.
Misal membeli air mineral kemasan padahal sebetulnya kamu bisa membawa botol minum sendiri dari rumah. Mengambil uang di ATM bank berbeda karena malas jalan.
Sering nongkrong sambil minum kopi mahal di kedai kopi kekinian tanpa melakukan hal produktif yang menghasilkan rupiah. Atau setiap hari jajan di minimarket dan sering pesan antar makanan. Jika dihitung-hitung, uang yang kamu habiskan untuk hal-hal itu bisa lebih dari Rp 500 ribu. Uang sebanyak itu padahal bisa dipakai untuk membeli emas 1 gram setiap bulan.
Bawa uang tunai secukupnya
Khususnya kaum hawa, mereka seringkali berbelanja secara tak terencana tatkala melihat barang-barang lucu dan sedang diskon. Nah agar terhindar dari godaan belanja saat kamu melewati toko-toko di jalan, baiknya kamu hanya membawa uang tunai secukupnya. Jangan bawa kartu kredit atau ATM jika dirasa kamu tidak memerlukannya untuk kebutuhan penting saat bekerja atau bepergian.
Selain itu, ketika kamu mendapat e-mail promosi dari toko-toko online, berpikir dahulu sebelum membeli. Ingatlah untuk selalu memprioritaskan kebutuhan ketimbang keinginan!
Cara Hidup Sehat yang Wajib Diketahui Para Anak Kos
Tinggal di rumah sendiri dan kos akan terasa begitu berbeda. Saat di rumah, apa-apa hanya perlu bilang ke orangtua. Sementara ketika kos situasinya sangatlah berbeda. Kamu dipaksa untuk hidup mandiri mengurus segala keperluan sendiri. Karena tidak mau repot, seringkali anak kos terlena dengan berbagai hal yang serba praktis. Bahkan pola hidup yang diterapkan jauh dari kata sehat. Padahal di mana pun kita tinggal, kesehatan adalah prioritas yang perlu kita perhatikan.
Tinggal di kos memang membuat beberapa hal menjadi terbatas. Namun bukan berarti anak kos tidak bisa hidup sehat. Menerapkan pola hidup sehat saat tinggal di kos sebetulnya tidak begitu sulit. Setidaknya berusahalah untuk merubah kebiasaan-kebiasaan yang tidak sehat secara perlahan, dan berikut cara-cara hidup sehat yang bisa kamu terapkan:
Memilih tempat kos yang ideal
Kamar kos yang sehat idealnya memiliki jendela cukup besar guna mendukung sinar matahari masuk secara maksimal dan sirkulasi udara lancar. Dan pastikan tempatnya tidak kumuh dengan kamar mandi yang terawat. Ada baiknya jika pemilik kos menyediakan dapur bersama sehingga kamu bisa memasak makanan sendiri.
Usahakan pula untuk mencari tempat kos yang memiliki sumber air dari sumur dan PDAM untuk antisipasi jika salah satu ada gangguan. Selain itu, pastikan tempat kos yang dipilih memiliki saluran pembuangan air yang baik dan tidak menggenang agar tidak menimbulkan bau dan menjadi sarang bibit penyakit. Tak lupa periksa pula apakah sisetem pembuangan sampah di sana berjalan baik atau tidak.
Menjaga kebersihan tempat kos
Tinggal di kos seringkali membuat kita malam bersih-bersih. Padahal kamar kos yang kotor bisa menjadi sarang bibit penyakit berbahaya. Semalas-malasnya, usahakan untuk menjadwalkan aktivitas bersih-bersih kamar kos secara rutin. Agar tidak terlalu melelahkan, biasakan untuk meletakkan barang-barang kembali ke tempatnya setelah digunakan. Lalu rutinlah untuk menyapu dan mengepel lantai setiap hari.
Selain itu, jangan menumpuk sampah dan pakaian kotor. Segera buang isi tempat sampah yang penuh ke tempat penampungan, dan tumpukan pakaian kotor harus segera dicuci agar tidak menjadi sarang bakteri.
Menjaga asupan makanan
Anak kos sulit sepenuhnya untuk menghindari makanan instan. Terutama mie instan. Harganya yang murah, cara memasak yang mudah, dan rasanya yang enak membuat mie instan menjadi penolong para anak kos ketika belum mendapatkan kiriman uang dari orangtua. Bahkan jadi menu makan sehari-hari.
Tapi makanan instan bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Pengawet, gula rafinasi, dan bahan kimia lain di dalamnya bisa memicu kanker, obesitas, hipertensi, diabetes, penyakit jantung hingga stroke. Usahakan untuk mengurangi konsumsi makanan instan. Tak hanya mie, makanan instan lainya yang perlu kamu antara lain bubur instan, pizza, kentang goreng, burger, dan ayam goreng dari kedai cepat saji.
Mulai sekarang, perbanyaklah konsumsi buah dan sayur. Kurangi membeli makanan siap santap dari luar. Lebih baik kamu belanja bahan makanan segar ke pasar atau supermarket, dan memasaknya sendiri supaya lebih sehat, higienis, dan hemat. Bonusnya, kemampuan memasakmu juga akan meningkat!
Berolahraga secara teratur
Berolahraga tak harus pergi ke gym dan mengeluarkan biaya besar. Rutinitas olahraga bisa dilakukan dengan cara yang lebih sederhana. Biasakan bangun pagi setiap hari, lalu minumlah air putih. Jika beragama Islam, setelah shalat subuh, kamu bisa melakukan olahraga sederhana seperti jalan santai atau jogging sekitar lingkungan kos. Udara pagi yang masih bersih minim polusi bermanfaat baik untuk kesehatan dan membuatmu lebih semangat memulai hari.
Jangan begadang
Karena hidup tanpa pengawasan langsung dari orangtua, anak kos kerap berperilaku sesuka hati. Misalnya menyalakan musik keras-keras, main game online atau plasytation, dan kumpul bersama teman sambil tertawa kencang. Hal-hal semacam itu sering dilakukan hingga larut malam.
Meski tinggal di kos yang bebas, tetap ada batasan yang seharusnya tidak dilampaui guna menjaga kekondusifan lingkungan sekitar. Ingatlah ada tetangga atau penghuni kos lain yang berhak mendapatkan waktu istirahat yang tenang. Selain itu, kebiasaan tidur larut karena aktivitas yang kurang bermanfaat harus dihentikan. Pasalnya, hal itu bisa berdampak buruk pada kesehatan dan kualitas hidup.
Hindari rokok, minuman keras, narkoba, dan pergaulan bebas
Ada banyak godaan yang harus dihadapi ketika hidup di tempat kos jauh dari orangtua. Misalnya rokok, minuman keras, narkoba, hingga pergaulan bebas. Hal-hal negatif seperti itu harus dihindari karena bisa menghancurkan masa depan. Dampak buruknya begitu besar bagi kesehatan fisik maupun psikologis. Seperti penyakit jantung, hati, kanker serviks, HIV/AIDS, kehamilan di luar nikah, hingga depresi akibat sanksi sosial dari orang-orang di lingkungan tempat tinggal.