Beberapa hari yang lalu habis diskusi sama temen. Inti diskusinya adalah kayaknya kita harus sering-sering deh nguji nyali dengan ngirim email penting yang udah berbulan-bulan secara sadar kita tunda. Entah itu email minta evaluasi mid-year ke atasan, email negosiasi minta naik gaji, atau email-email penting lainnya yang punya chance ngubah hidup kita. Tapi membuat diri sendiri yakin bahwa kita pantas meminta evaluasi, negosiasi gaji, atau kesempatan—itu yang butuh energi mental luar biasa. Kami sadar, karena mental loads-nya gede jadi sering kami tunda-tunda buat eksekusi. Padahal hanya butuh tindakan kecil yang menakutkan, dan tombol “send” bisa jadi salah satunya. Makanya kayaknya akhir tahun ini kami sepakat buat ngirim email itu meskipun habis pencet tombol "send" pasti kami bakal lari terbirit-birit, ga berani buka email beberapa hari. Tapi kami sepakat menganggapnya seperti latihan mental, biar tahun depan bakal lebih sering tombol "send" itu yang berani kami pencet. Semakin sering dikirim, semakin ringan tekanan emosinya. Seperti yang kami percayai juga kalau kami berhasil ngirim email-email ini bisa jadi pintu baru buat kami, kesempatan besar seperti dapet feed back untuk self improvement dari mentors atau kenaikan gaji setelah bertahun-tahun kerja. Kadang yang memisahkan kita dari hidup yang kita inginkan hanyalah satu klik yang akhirnya kita berani lakukan. Menekan tombol “send” bukan tentang emailnya, tapi tentang siapa kita sedang berusaha menjadi.
Banyak pintu hidup tidak terbuka karena kita tidak pernah mengetuk.










