Dunia ini menjadi keras dan lunak, jika bersama ibu.
Tidak banyak memori mengharukan bersama ibu. Lebih tepatnya, mungkin aku sudah tidak ingat. Yang kuingat dari ibuku adalah, ibu sangat senang jika anaknya rajin. Rajin membantu urusan rumah tangga di rumah, dan rajin bekerja. Bagi ibuku, perempuan harus bangun pagi. Lalu mengurus rumah. Urusan rumah harus selesai pada pagi hari, baru setelah itu pergi bekerja. Ibu adalah orang yang pekerja keras, rela ribet-ribet mengurusi pekerjaan sampai beres. Terkadang Sabtu dan Minggu masih bekerja, mungkin karena senang, dan menikmati pekerjaannya. Sedikit momen mengharukan yang tercipta bersama ibu, mungkin juga karena ibu sangat tidak melankolis. Tegas cenderung tidak mau kalah.
Banyak konflik yang sudah kulalui bersama ibuku dari kecil hingga dewasa. Namanya juga orang tua dan anak. Pasti mengalami masalah. Akan tetapi, itu tidak membuat aku membencinya. Jika sedang marah-marahan, aku memilih menjauh. Soalnya, ibuku orangnya keras, sulit diubah pendiriannya.
Tidak melulu momen-momen tegang, kok. Banyak juga momen-momen lucu yang kami lalui. Menurutku, ibu termasuk orang yang humoris. Ada salah satu cerita yang menurutku lucu, begini….
Ibu : “Ibu lagi di pasar mau beli seprai. Kamu mau warna apa?”
Lalu aku menunggu ibu pulang dengan hati gembira. Yeayy, seprai baru!
Sampai di rumah, aku mendapatkan seprai baruku dengan merasa serba salah. Haruskah aku bahagia? Atau sedih, atau prihatin, atau bagaimana?
Aku : “Kok motifnya spider-man?”
Ibu : “Ya orang yang ada warna biru cuma itu. Kamu bilangnya warna biru, ya sudah ibu belikan yang biru.”
Ya, iya, sih. Birunya benar, tapi mohon maaf. Aku ini kan perempuan. Mana lagi spider-man-nya sedang terbang-terbang sambil ngangkang. Lihat saja bajunya ketat begitu, melebihi ketat baju renang. Bagaimana aku tidur dengan background seprai seperti itu? Namun ku coba. Ternyata tidak terlalu buruk, yang aku butuhkan adalah berpikir positif, ya anggap saja itu hanya sebuah gambar.
Ibuku juga kalau pergi dari rumah sering tidak bilang-bilang. Tahu-tahu dari mana, lewat depan rumah pakai motor. Sliwar-sliwer. Kalau lewat depan rumah, tidak berusaha klakson. Yang ada aku cuma liatin belio bolak-balik habis sit in ke rumah tetangga sebelah mana. Hobinya memang mengurus masyarakat.
Ada juga cerita tentang masakan. Ceritanya ibuku mau masak tumis putren (jagung sayur yang masih muda). Aku ikut membantu belio. Tiba-tiba, belio tambahkan kuah bakso ke tumis itu. Lumayan banyak. Aku kan khawatir, “memang nggak kebanyakan?” tanyaku. “Sudah, yakin aja sama ibu” kata belio. Nah, kalau sudah begini, menyadari ibuku yang susah diubah pendiriannya, aku hanya nurut. Benar saja dong, tumisnya keasinan, lalu oleh belio ditambah air. Makin banyaklah kuahnya. Akhirnya belio memutuskan, “kita buat oncom saja (oncom di Jawa=tumis yang kuahnya banyak).” Heh, jadi, nggak jadi numis?....Hikmah: perubahan rencana dibutuhkan ketika situasi sudah tidak mendukung. Karena kuahnya kebanyakan, akhirnya, ditambah lagi irisan putren dan wortel. Makin banyaklah masakannya. “Siapa yang mau ngabisin?” tanyaku khawatir lagi. “Tenang aja, nanti abis.” Nah, lagi-lagi, melihat keyakinan ibu. Aku hanya bisa nurut. Hikmah: Keyakinan terhadap diri sendiri itu memang penting ya teman-teman, tapi lihat-lihat situasinya.
Begitulah sedikit cerita tentang ibuku. Semoga orang tuaku selalu sehat. Aamiin ya Rabb.