Hi, apa kabar?
occasionally subtle

Love Begins
taylor price
Not today Justin
EXPECTATIONS
Cosimo Galluzzi
RMH
noise dept.

roma★

pixel skylines

Game Changer & Make Some Noise

oozey mess
KIROKAZE
Keni
YOU ARE THE REASON
No title available

No title available

#extradirty
Monterey Bay Aquarium

shark vs the universe
seen from Australia

seen from United States

seen from Spain
seen from Finland
seen from Malaysia
seen from Ecuador
seen from Saudi Arabia

seen from United States

seen from Spain
seen from United States
seen from Argentina

seen from Malaysia
seen from Spain
seen from Kenya
seen from Türkiye
seen from Chile
seen from United Kingdom

seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from Malaysia
@gustireza-blog
Hi, apa kabar?
Salah satu varian Ayam Bumbu Bali: Ayam Bumbu Jrakah ala chef @ay_asrorie 🐓🐔 #alabunda #hayumasak #ayam #homemaderasaresto (at Bintaro, Indonesia)
الحمد لى الله علا كل حال
Sabtu (8/7) lalu telah terselenggara walimatul ‘ursy kami, yang tentu tidak lepas dari dukungan serta doa terpanjat rekan2 sekalian. Kami sampaikan jazaakumullah khayr atas segala partisipasi, baik yang nampak di mata ataupun yang tersembunyi di lubuk hati terdalam. Semoga Allah membalas segala kebaikan dengan limpahan berkah-Nya teruntuk rekan2 sekalian.
Sebagaimana yang telah lalu, doa terpanjat yang tiada putus oleh kami ialah, “Rabbi, Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Menetapkan yang terbaik bagi tiap-tiap diri kami. Maka Ya Rabb, pertemukan dan persatukan kami dengan seseorang yang Engkau jodohkan pada kami, di waktu yang terbaik, juga di kondisi (diri yang) terbaik: kami maupun jodoh kami. Maka, jadikan kami ridha dengan segala ketetapan-Mu, Ya Allah, Ya Rabbal 'Aalamin.”
Pula, kini tak luput kami dengungkan kembali kepada diri ini, pernyataan penguat diri:
“Bahwa dalam perjalanan yang perlu kita hadirkan adalah keberanian dan iman. Berani, akan membawa kita memulai langkah pertama. Iman, memandu kita tetap pada jalan-Nya.” -Reza
“…pula, dalam perjalanan, yang perlu kita siapkan jualah sahabat. Sahabat yang saling bekerja sama, dalam definisi perjuangan yang benar. Juga sahabat yang senantiasa berdampingan, menuju navigasi yang satu, yakni ridhallah, hingga ketetapan akhir-Nya.” -Ayu
May Allah bless us 🙏
Menemukan Cara
Aku hanya belum menemukan cara bagaimana untuk bisa mengenalmu. Boleh beri sedikit waktu? Karena barangkali bukan hari ini.
Aku hanya belum menemukan cara untuk memenuhi setiap kriteriamu. Barangkali kamu mengizinkanku untuk mempelajarinya? Karena ada hal-hal yang bisa aku usahakan untuk memenuhinya.
Aku hanya belum menemukan caranya. Termasuk menemukan cara agar sabar tidak selalu aku ukur dengan batasan waktu.
Yogyakarta, 4 Juli 2017 | ©kurniawangunadi
Seorang anak yang mengalami defisit pengasuhan semasa kecil, akan melakukan pemenuhan ketika kelak membangun keluarga
Irawan Rinaldi, Kajian YISC Al Azhar
Tulisan : Sebenarnya laki-laki
anak laki-laki itu meskipun terlihat tegar,tapi sebenarnya gampang merasa kesepian dan rapuh hatinya suatu waktu.( kuncir kecil,2011 )
Hal ini terjadi pada sekian banyak pemuda yang konon begitu bahagia menjalani hidupnya disiang hari,tapi begitu rapuh malam harinya.Memandangi atap rumah dengan tatapan kosong atau memeluk guling erat-erat.
Kau pernah lihat ayahmu yang ternyata begitu rapuh ketika ketiadaan ibumu, atau kepada seorang pecinta yang begitu gundah kehilangan kekasih hatinya.
Laki-laki diciptakan untuk kesepian,kesepian sejak lahir.Sejak pertama kali ia mengenal perempuan,ibunya.Ia tidak pernah ingin berpisah.Keberadaan perempuan itu dimana-mana jauh lebih menenangkan dari pada kehadiran laki-laki.Ayahnya.
Sejak pertama kali mengenal kehangatan perempuan tersebut,hingga sedewasa ini laki-laki sulit menghilangkan bayang-bayangnya.Sejak tahu bagaimana lembutnya tangan ibunya mengelus kepalanya atau bagaimana perhatianya ibunya ketika ia sakit.
Laki-laki sejak itu pula ditakdirkan mudah tersentuh hatinya jika ada perempuan mana saja yang lemah dan butuh pertolongan.Ia bisa merasa menjadi laki-laki ketika ada seseorang yang bisa ia lindungi.
Sejak itu pula,dia membuka diri untuk siapa saja yang bersedia ia lindungi,nyatanya tidak semua perempuan dunia ini percaya begitu saja.
Kasihan sekali … . .
Dan sekalinya ada seseorang yang dengan senang hati bersedia memberikan seluruh jaminan keamanannya kepadanya, betapa bahagianya laki-laki tersebut.
Lengkap sudah hidupnya,ia menjadi berguna,ia dipercaya.
Bukankah sangat sulit memberikan kepercayaan kita kepada orang lain sampai sejauh itu? apalagi untuk seorang perempuan.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Bandung , 29 Oktober 2012
?
Dahulu waktu SD ada soal 'rumit'
A: Mah, tadi dapet soal, kalau yatim siapa yang jadi tulang punggung keluarga ya mah?
B: Ya kakak pertama bang, apalagi laki-laki
A: Ooh gitu ya mah..
Melepas Ramadan
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Pertanyaan dari penyair kesayangan kita semua itu, Sapardi Djoko Damono, adalah juga pertanyaan saya di penghujung Ramadan ini. Hari-hari Ramadan setiap tahunnya mengalir lebih cepat dari yang kita duga. Tanpa sadar kita hampir tiba di Syawal. Dan tentu saja pada di bulan Syawal kita akan, lagi-lagi, hanya mampir untuk kemudian tiba-tiba sudah berada di momen Hari Raya Kurban. Jikalau benar kita menjalani hari-hari sebagaimana yang dikemukakan Pak Sapardi di puisi yang sama,
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
Sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa
alangkah malangnya hidup kita.
Demi tak terlalu se-woles itu dalam menjalani hidup, saya memungut beberapa hal yang saya dapatkan dari Ramadan. Siapa tahu hal-hal itu juga adalah hal-hal yang kamu dapatkan dari Ramadan kali ini. Jika pun tak sama, tak apa, toh tidak terlalu rugi menambah-nambah hal-hal yang kamu pungut untuk masuk dalam keranjang perjalanan hidupmu, bukan?
Berikut adalah tiga hal yang sering terabaikan ketika Ramadan.
1. Tarawih
Salat yang jika dilihat dari makna asalnya berarti mengambil waktu untuk beristirahat atau santai, tentu adalah jenis ibadah yang paling sesuai dengan stereotipe bangsa kita, syantai. Mungkin karena itulah, jamaah salah tarawih selalu membludak. Hal ini terutama di awal-awal Ramadan. Tak jarang kita melihat ayah yang membawa anak-anak mereka ke masjid. Atau jamaah ibu-ibu yang lebih banyak dari biasanya sehingga membuat tabir pembatas harus digeser. Tentu pemandangan ini, bagi seorang muslim adalah fenomena yang menyenangkan.
Akan tetapi, sebagaimana waktu, keramaian masjid itu pun fana. Ia akan sedikit-demi-sedikit menipis, hilang, entah ke mana. Jika dipikir-pikir, siklus seperti ini, adalah urutan yang aneh, jika tak mau dibilang menyedihkan. Bukan apa-apa, hal ini terjadi tak cuman setahun-dua-tahun, tetapi sepanjang pengamatan saya, sejak bisa memahami haus dan lapar kala Ramadan. Tentu kita harus memikirkan dan mengusahakan di tahun-tahun ke depan agar siklus yang sama sekali tak lucu ini, tidak berlanjut. Dan di sini kabar baiknya. Di beberapa masjid yang memang memiliki kajian rutin setiap minggu atau malah beberapa hari dalam satu minggu, penurunan jamaah seiring bertambahnya jumlah bilangan Ramadan tak begitu drastis.
2. Ngaji
Saya, di luar Ramadan, butuh satu pekan untuk membaca satu juz Al Quran. Itu juga udah paling banter. Beda hal ketika Ramadan, satu juz bisa habis tuntas dalam dua puluh empat jam. Tentu frase “gak tahu deh entah setan apa yang bikin gw bisa ngelakui itu” tak tepat digunakan. Pertama, bukankah setan dibelenggu ketika Ramadan. Kedua, kalau pun masih ada setan yang berkeliaran, mosok setan malah manas-manasin kita untuk beribadah.
Weitsss, jangan salah, usia (baca: pengetahuan tentang manusia) setan jauuuuuuh lebih tua dibanding maha guru marketing Philip Kotler. Tak usah heran, ikhtiarnya untuk memasarkan keburukan tidak hanya menggunakan pendekatan hard selling¸ tetapi bisa menggunakan pendekatan seasonal marketing. Jadi, jika memang lagi musim orang-orang beribadah, ya blio ini tak akan menghempang kecenderungan itu terang-terangan. Ia malah mendorong kita untuk melakukan itu, tetapi di akhir cerita, ia melakukan twist yang membuat kita tak mendapatkan apa-apa dari ibadah kita itu. Tentu hadits dari Rasulullah yang berbunyi, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut, melainkan rasa lapar dan dahaga.” menjadi relevan dalam perkara ini.
So, jika dia gak bisa bikin kita bodo amat tentang hal-ihwal mengaji, dia bikin kita supaya gak tertarik untuk memahami arti yang kita baca. Jika pada fase ini kita masih on fire (walah, ironis ya, api kan asal muasal you know who yang sedang kita omongin ini), ia akan mencegah kita untuk merenungi makna dari arti yang kita baca tadi. Jika kita belum juga mau berhenti dan terus move on, ya dia bakalan ngalang-ngalangin kita agar tak terlalu yakin untuk ngejalanin ajaran-ajaran Al Quran tadi dalam peri-kehidupan kita sehari-hari. Nah, lalu kalau kita masih on the track, gimana?
Sabar. Itu untuk bagian berikutnya, biar ini tulisan bisa dikasih tagline “3 hal-hal yang sering kita abaikan”. Kalau “2 hal-hal yang sering kita abaikan…” terlalu sedikit dan kurang catchy.
3. Ujub
Ih, padahal masih muda, kok bulan Ramadan gini malah gak puasa ya. Mana makannya di pinggir jalan gitu lagi. Gw juga capek juga kerja, tapi gw bela-belain puasa.
Gimana sih nih abang satpam. Pas gw masuk masjid dia masih aja sibuk ngurusin orang markirin mobil di depan masjid. Eh pas gw pulang, dia masih sibuk juga ngurusin orang ngeluarin mobil. Gak salat apa?
Bulan puasa gini di kereta bukannya bukan aplikasi Al Quran malah main game. Saya tuh ngebuang-buang waktu.
Akrab dengan suara-suara seperti itu? Suara hati yang macam beginilah yang membuat segala amalan kepala jadi kaki, kaki jadi kepala yang telah kita lakukan, kering menjadi debu, tertiup angin, tak tersisa lagi. Merasa diri lebih baik dari yang lain. Merasa lebih alim dan rajin ibadah ketimbang yang lain. Merasa punya kesempatan masuk surga dan menghindari neraka yang lebih besar dari orang lain. Merasa probabilitas mendapatkan rida Allah yang lebih tinggi dibanding yang lain. Bukankah perasaan ini yang membuat Iblis terlempar dari kasih sayang Allah di surga?
Semoga kita bisa terus-menerus berjuang untuk tak memelihara suara-suara itu di hati kita. Semoga kita selalu diberi kekuatan sehingga ketika suara itu berkumandang, kita bisa menyahutinya dengan, “yaelah tong, ibadah elu tuh gak ada apa-apanya dibanding rahmat yang dikasih Allah ke elu. Kagak usah deh elu bandingin ibadah elu dengan ibadah orang lain. Mending lu bandingin kasih sayang Allah sama ibadah lu. Kagak malu apa lu.”
—-
Masih kuat?
Tenang.
Gak cuman Marvel aja yang bisa bikin postcript scene, saya juga bisa kok. Nih tambahan untuk ketiga hal di atas.
Iktikaf
Iktikaf sebagaimana yang saya sebutkan di tulisan sebelumnya, adalah salah satu budaya baru di kalangan muslim urban. Bahkan, belakangan ada kabar viral tentang masjid yang menyediakan ini-itu untuk jamaah iktikafnya. Mulai dari beragam makanan ringan hingga berat, minuman segar hingga hangat, sampai-sampai tersedia pula Wi-fi gratis, tersedia di sepuluh malam terakhir Ramadan, cakeeeppp. Motif sebagian besar yang melakukan iktikaf tentu saja adalah mencari Lailatul qadar, malam yang keberkahannya melampaui seribu bulan itu (FYI, penyebutan “malam lailatul qadar” tidak terlalu tepat karena “lail” itu sudah berarti malam. Lailatul qadar juga tak tepat disebut “malam seribu bulan” karena merujuk surat Al Qadar ayat ke-3, “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. Jadi lebih, bukannya (pas) seribu.) Motif inilah yang membuat masjid-masjid yang menyediakan iktikaf lebih sepi ketika malam genap tiba (berbagai riwayat yang bersumber kepada Nabi, menyatakan bahwa malam mulia itu hadir pada malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadan). Tentu saja iktikaf hanya di malam ganjil lebih baik dibanding tak iktikaf sama sekali, hehehe.
Selain ingin mengejar Lailatul qadar, sebagian peserta iktikaf juga ingin meneladani Nabi, dengan melakukan perenungan terkait hal-hal yang sudah dilakukan selama setahun terakhir. Sehingga meminta ampun terhadap kesalahan-kesalahan di masa lalu adalah ibadah yang sangat dianjurkan ketika melakukan iktikaf. Di titik ini, bisa jadi orang-orang yang tak beriktikaf, tetapi berjaga sepanjang malam untuk beribadah di rumahnya, bisa jadi lebih mendapat manfaat ketimbang yang iktikaf tetapi bercanda-ria, ngobrol sana-sini, dan ber-haha-hihi di masjid.
Akan tetapi lagi-lagi kita harus berhati-hati. Setan bisa kembali bekerja di sini. Jangan sampai yang iktikafnya full merasa lebih saleh ketimbang yang beriktikaf di malam ganjil. Sementara yang iktikafnya di malam ganjil merasa lebih kece di hadapan Allah ketimbang yang sedang tak beriktikaf karena sibuk dengan kue lebaran, baju baru, hingga mengepak barang untuk siap-siap berangkat mudik ke kampung halaman. Berabe kalau sudah begini.
Oh iya, ini adalah hal terakhir terkait iktikaf yang perlu kamu camkan baik-baik!
Kredit desain: @anugrahilham-blog
Yah kok udah pergi?
Pernikahan bukan mesin ajaib yang bisa merubah watak dan karakter kedua insan secara instan. Ada waktu, ada proses, ada sabar...
Adam Mujahidin, ketika bareng menghadiri pernikahan teman
Berjuang
Terkadang dalam hidup, pilihan yang tersedia hanya terus lakukan dan jalani, melewati batas suka-tak suka, nyaman-tak-nyaman, dan batas-batas imajiner dualisme yang kita buat. Jika pada nantinya di akhir sebuah episode proses menghasilkan apa-apa yang tak masuk dalam daftar harap kita, setidaknya kita pernah mengenal sebuah proses bernama perjuangan. Kita bukan orang yang memilih untuk berdiam diri, kan?
Kalau kau perlu tahu, aku hanya punya satu macam mimpi. Aku ingin tinggal di rumah sederhana dengan satu orang yang benar-benar tepat. Bila memang aku harus mencurahkan seluruh perhatianku, kepada satu orang itulah hal itu akan kulakukan.
Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya (via gustireza)
I tell young people, holding forth a book: “This is your biography. Each day is a page. Live each day, sure. But feel the connectedness. How you’re dealing with the past, and what you’re doing today, have profound effect on the future.
Christopher Smith
Noted.
Ayah selalu khawatir akan laki-laki yang hadir kepada anak perempuannya, apakah kelak dia bisa menjaga sebaik dia menjaga putri kecilnya. Dan Ibu akan was-was atas perempuan pilihan anak laki-lakinya, apakah kelak dia bisa merawat sebaik ia merawat jagoan kecilnya
Penguin motivation of the day: keep failing if it means you’ll keep trying. We get punished for failing, when honestly, the best ways to grow are by taking risks and trying new things. Right now, I suck at hand-lettering and calligraphy! But I’m so happy I tried, and I’m going to keep practicing. :D
Complimentary or Supplementary ?
Cakra : "kalau saya..." cakra terdiam lama. " kalau saya , saya gak akan mencari perempuan yang melengkapi saya."
Ayu : "Loh kenapa? bukannya memang seperti itu yang benar? melengkapi ?"
Cakra : "saya gak, ya. gak kayak gitu." Cakra menggeleng."
Ayu : "Kenapa?"
Cakra : "kata Bapak saya.. dan dia dapat ini dari orang lain. Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. yang sama-sama kuat. bukan yang saling mengisi kelemahan, Yu"
Ayu : "..."
Cakra : " Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing. Bukan tanggung jawab orang lain."
Ayu : "..."
Cakra : " Tiga dikurang Tiga berapa, Yu?"
Ayu :" Nol!"
Cakra : " Nah, misal, saya gak kuat agamanya. lantas saya cari pasangan yang kuat agamanya. Pernikahan kami akan habis waktunya dengan si kuat melengkapi yang lemah."
Ayu : "..."
Cakra : "padahal setiap orang sebenarnya wajib menguatkan agama , terlepas dari siapapun jodohnya."
Ayu :"...."
Cakra : "Tiga kali tiga berapa, Yu?"
ayu mengangguk, mengerti. Find someone complimentary, not supplementary. Dia jadi teringat perkataan Salman. Bahwa mereka bisa saling mengisi kekurangan. Hmmm.. Berkebalikan dengan prinsip Cakra