Kolong Langit Durian Raksasa
Durian, siapa yang tidak kenal dengan buah yang satu ini? Dengan fisik penuh duri seperti layaknya seekor landak yang baru potong rambut, ukurannya yang cukup bahkan sangat besar jika dibandingkan dengan buah lainnya, bau khas yang menyengat, serta rasanya yang kadang manis; kadang pahit; kadang hambar; tergantung dari mantan pacar mana yang kita ingat ketika sedang memakannya, membuat buah ini sangat dikenal di seluruh pelosok negeri bahkan dunia. Tidak heran, banyak orang sengaja melancong ke daerah-daerah dengan kualitas durian nomor satu, seperti Sumatera, untuk hanya sekedar mencicipinya.
Begitu pun untuk para bule-bule di negara ini. Beberapa dari mereka ada yang menggemari durian, sebagian lagi tidak, bahkan cenderung membencinya. Terutama di Ibukota, Jakarta, kota dengan jumlah turis dan ekspatriat paling besar di Indonesia. Karena terlalu sering melihat durian di Jakarta, mereka sampai rela mengingat karakteristik buah tersebut hingga akhirnya mengaitkannya dengan kondisi kota tempat mereka singgah. Maka tak heran, jika pada akhirnya muncul slogan: The Big Durian, yang sengaja mereka sematkan untuk mengibaratkan kota bernama Jakarta.
Hari ini, kurang lebih sudah hampir tiga bulan saya menjadi warga Jakarta. Atau mungkin, bukan, bukan warga, tapi pendatang, mengingat kartu tanda penduduk saya yang bertitel Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung.
Sudah hampir tiga bulan juga, saya bekerja di salah satu perusahaan otomotif terbesar di negara ini. Menjalani masa training dengan berbagai macam tantangan serta sensasi yang berbeda dibandingkan masa kuliah dulu. Menjalani rutinitas sehari-hari, pergi pagi - pulang malam hanya untuk mencari rezeki #np Armada - Pergi Pagi Pulang Pagi , lalu berulang di hari berikutnya. Mungkin untuk saat ini, ritmenya masih sama, namun jika nanti sudah berada pada pekerjaan sesungguhnya, akan lebih banyak lagi tantangan, lebih banyak lagi pelajaran yang bisa didapat, lebih banyak lagi waktu yang harus dikorbankan.
Bagi saya, Jakarta bukan kota yang asing. Saya lahir di kota ini. Pun dengan keluarga besar saya, semua berasal dari kota ini. Takdir yang akhirnya mengantarkan saya untuk merantau ke kota-kota lain, bersama keluarga saya. Hingga akhirnya suatu hari, takdir pulalah yang mempersatukan saya dan Jakarta. Untuk bekerja, menyusun rencana di kemudian hari.
Dalam waktu singkat ini, sudah banyak hal yang saya dapatkan. Dari mulai kejadian yang membahagiakan, hingga yang menyedihkan. Kehidupan saya di Jakarta hingga saat ini masih cukup stabil. Mungkin karena saya masih berada dalam lingkup zona nyaman. Kehidupan saya sampai saat ini kayak bilangan biner, 1 dan 0. Cuma dua tempat yang intens saya singgahi, kantor dan kost-an. Sesekali di akhir pekan agak sedikit floating, bukan 1 atau 0. Karena biasanya saya mampir ke rumah nenek atau mbah, sekedar silaturrahim, lalu numpang makan gratis. Begitu pula dengan kehidupan sosial saya. Di sini, saya menemui banyak teman baru. Banyak nasihat yang sangat berguna saya dapatkan sejauh ini. Dari rekan-rekan kantor yang usianya jauh lebih tua dari saya. Memberikan saran, khas orang tua kepada seorang anaknya. Mereka semua sangat baik, dan Alhamdulillah menerima saya dengan sangat hangat. Mungkin karena beberapa dari mereka juga merupakan pendatang, punya nasib yang sama, yang singgah di Jakarta untuk memperjuangkan sesuatu, cinta contohnya. Ketika tulisan ini dibuat, saya baru aja pulang dari salah satu Mall di Jakarta, bareng teman kantor.
Bicara tentang kestabilan hidup bukan berarti saya nggak merasakan peurih geutih-nya kehidupan di sini. Kerasnya kehidupan di Jakarta, membuat sebagian orang menjadi buta hati dan pikiran.
Pernah suatu hari, saya yang waktu itu masih dalam tahap rekruitasi pekerjaan, hampir dijambret oleh seseorang. Ceritanya, hari itu adalah hari kedua saya di Jakarta, setelah pada hari sebelumnya setelah menjalani proses interview. Saya, yang menginap di rumah nenek, berangkat keesokan paginya menggunakan kereta api. Karena jarak dari rumah nenek dan stasiun cukup jauh, maka saya putuskan untuk menggunakan transportasi Go-Jek. Saya berinisiatif untuk memesan Go-Jek dari depan jalan kecil. Tentu aja, dengan basis pemesanan online mengharuskan saya mengeluarkan handphone dan mulai mengotak-atik aplikasinya. Tiba-tiba, di saat sedang asyik memesan, tiba-tiba dari arah jalan kecil muncul sebuah motor dengan kecepatan tinggi dan langsung mengarahkan tangannya ke handphone saya, bermaksud merampas. Syukurlah, dengan refleks saya langsung menahan handphone dengan keras dan penjambret tersebut kabur. Refleks mungkin, serta-merta saya langsung teriak, “Anj*** loe!!!” , dan semua orang di sekitar saya hening. Bego? Iya. Kenapa harus umpatan kesal, kenapa saya nggak teriak: ‘Jambret!!!’ aja, supaya orangnya ditangkap? Ah! Tapi syukurlah, masih rezeki saya, handphone saya selamat, dan akhirnya saya memilih naik TransJakarta untuk berangkat ke stasiun.
Kejadian perang urat syaraf juga kembali terjadi di kemudian hari. Waktu itu, saya yang kebingungan mau-makan-apa, memutuskan untuk makan di tempat-agak-elit di dekat kost-an, Kiefsi. Setelahnya, seperti biasa, ketika akan membayar parkir, uang lima-ribuan saya nggak ada kembaliannya. Dengan santainya tukang parkir itu bilang,”Nih, nggak ada seribuan,” sembari memberikan kembalian dengan uang dua-ribuan. Seharusnya, dengan lima-ribuan, saya mendapat kembalian tiga ribu. Maklum, tarif parkir motor di Jakarta flat dua ribu. Dengan sabar akhirnya saya tunggu, sampai ada orang lain yang memberikan uang dua-ribu-pas ke tukang parkir. “Nah bang udah ada dua-ribuan tuh, nih saya ada seribu, abang kasih saya dua-ribuannya,” Dengan wajah kesal, tukang parkir langsung bilang,”Maksudnya gimana sih ini?”
“Gini bang, tadi kan kurang seribu, nah, abang sekarang punya dua-ribuan, saya ada seribu. Saya kasih seribu, abang kasih saya dua ribu-nya,” saya coba jelaskan dengan pelan.
“Eh gimana sih?!!”
“Iya, kan abang tadi masih kurang seribu ke saya, kan uang saya yang tadi lima ribu,”
“Gini kali, ini saya kasih dua ribu, seribuan lo ke sini,”
“Iya kan maksudnya gitu bang dari tadi,” saya coba bersabar, tarik napas, dan saya berharap, saya bisa Kamehameha pada saat itu.
Akhirnya saya pergi, dan sebelum pergi, tukang parkir tersebut datang lagi.
“Uang parkirnya,”
“Lah kan udah tadi yang lima-ribuan,”
“Eh, iya,”
Kali ini, saya berharap, saya bisa menjadi Super Saiyan God, atau minimal, fusion sama Bezita, kemudian melakukan Genki-Dama.
Kejadian paling parah justru terjadi di kost-an saya. Tempat saya tinggal, notabene, bukan tempat yang rentan dengan tindak kriminal. Di samping karena lingkup warga-nya yang guyub, kondisi rumah kost-an saya juga cukup aman. Pagar yang tinggi, kamera CCTV di sana-sini, serta pengamanan berlapis di jalan depan kost, sepintas membuat orang beranggapan,”Ini sih aman banget.”
Tapi bukan untuk malam itu. Sekitar pukul 10 malam, saya mulai mengantuk, dan memutuskan untuk tidur. Dengan kondisi pintu kamar terkunci, serta pintu teras lantai dua yang berlapis pintu besi juga terkunci, lalu pintu pagar yang tergembok rapat, meyakinkan diri saya semua sudah aman. Pada malam itu kost-an saya sedang sepi. Ada yang lembur, ada yang menginap di tempat temannya.
Keesokan paginya, sewaktu akan menyetrika baju seragam, saya nggak menemukan setrika sama sekali. Feeling saya,”Mungkin karena lagi musim hujan, setrikaannya dibawa masuk ke dalam oleh teman. Tapi lagi-lagi, dasar saya yang rentan baper, feeling saya bermain lagi, saya coba cek satu-satu apakah ada yang hilang lagi atau nggak.
Pas setelahnya, setelah saya sampai di kantor, grup WhatsApp berbunyi, dan benar saja, ada beberapa teman yang kehilangan barang-barangnya, sepatu terutama. Hingga pada akhirnya, setelah dilakukan investigasi melalui cctv diketahui seorang anak muda-ingusan-yang-keliatan-mabok memanjat pagar rumah yang tingginya hampir dua meter, dan berhasil membawa kabur setrika beserta beberapa sepatu. Syukurlah, lagi-lagi Allah masih melindungi. Pintu besi masih dalam kondisi aman, hingga barang-barang elektronik lainnya nggak ikut digondol juga.
Ada. Ada. Aja. Ya. Hmm.
Uniknya, setiap orang punya cerita yang serupa-tapi-tak-sama dengan saya. Terutama bagi mereka, pendatang dari kota dengan culture yang jauh berbeda. Teman saya pernah cerita, kisahnya ketika sedang menjemput temannya di salah satu terminal di Jakarta. Hampir ribut, karena dipaksa naik bus oleh preman ber-kondektur looking. “Coba aja, Pis, kamu kesana. Bayangin, saya hampir ribut, dipaksa naik bus sama kenek, padahal cuma mau jemput temen,”
“Buset, sampe segitunya mas? Gile bener,”
Oke. Ini baru hampir tiga bulan.
Enggak, saya nggak ciut sama sekali. Saya yakin, semua kejadian yang telah saya alami, merupakan pelajaran yang telah Allah tuliskan untuk saya. Ketika saya menandatangani kontrak kerja pada hari itu, berarti semuanya sudah dalam kondisi direstui. Restu orang tua, restu keluarga, restu teman-teman, restu semesta, dan restu dari Yang Maha Kuasa. Kalau sudah seperti ini, apakah pantas saya masih mengeluh? Dengan segala macam rizki yang Dia berikan, apakah cobaan tadi menciutkan saya? Enggak, Insya Allah enggak.
Bicara tentang rutinitas kehidupan di Jakarta, akhirnya membuat saya terinspirasi untuk melahirkan tulisan ini. Begitu pula untuk judul yang saya pilih, Kolong Langit. Masih ingat dengan tagline: ‘Ke Jakarta aku kan kembali, walaupun apa yang kan terjadi’ dari Koes Plus? Saya rasa kita semua masih mengingatnya dengan jelas. Namun, apakah benar syair tersebut masih relevan dengan kehidupan di Jakarta saat ini. Mungkin bagi sebagian orang yang sudah tumbuh besar di Jakarta akan meng-iya-kannya, namun sebagian lainnya apakah sama keadaannya? Apakah Jakarta yang akan menjadi tempat kembali untuk menetap, atau hanya sekedar singgah sementara dan bertahan hidup dari kerasnya dunia?
Lalu dengan Durian Raksasa, seperti orang bule bilang, durian itu unik, banyak yang suka, banyak yang juga membencinya. Penuh duri, butuh perjuangan untuk menikmatinya, itupun kalau tidak tertusuk oleh durinya. Sama, Jakarta pun begitu. Perlu perjuangan, agar bisa dinikmati. Penuh rintangan, sakit dahulu, untuk hidup, atau mati ditelan bumi. Siapa saja bisa melakukan hal di luar nalar di kota ini. Yang terpenting, bisa hidup, bisa makan, bisa bernapas, dan berharap untuk keesokan harinya. Sebagian yang beruntung mendapatkan kesempatan di kota ini, sebagian lagi menderita, hingga akhirnya buta.
Sekarang, mari sejenak nikmati senja-senja bahagia di kota Jakarta. Bersama dengan hangatnya tanah tempat diri ini dilahirkan dengan segala harapan dan doa. Kemanakah akan kembali? Entahlah. Cinta mana yang akan bersemi untuk dihidupi? Iya, di sana.
















